Share

41. Obsesi Zayn

Author: Hydragea
last update publish date: 2026-07-12 14:42:09

"Kau bisa bernapas di sini, Tuanku," ucap Zayn dengan suara yang teramat lembut, bergema lembut menembus dinding gelembung tipis tersebut.

Mendengar instruksi itu, Scarlett perlahan melepaskan tangannya dari mulut dan mencoba menghirup udara secara refleks.

Benar saja, oksigen murni yang sejuk mengalir lancar memenuhi rongga dadanya. Setelah memastikan dirinya aman dari bahaya tenggelam, ketakutan Scarlett seketika lenyap, digantikan oleh emosi dingin yang mutlak.

Scarlett memicingkan ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Villainess Yang Disayang   95. Ayah Zayn

    Sebelum Scarlett sempat melangkah lebih jauh ke tengah aula pesta yang bising, sebuah kekosongan magis kembali menarik tubuhnya. Sistem tidak membiarkannya berkeliaran tanpa arah. Dalam sekejap mata, sudut pandangnya bergeser. Scarlett mendapati dirinya kini duduk dengan anggun di sebuah kursi pertunjukan beludru merah yang empuk, berada di barisan penonton yang sedikit terpisah dari keriuhan lantai dansa. Namun, kali ini dia tidak sendiri. Scarlett sedikit tersentak saat menyadari bahwa tepat di sampingnya—berbagi baris kursi pertunjukan yang sama—duduk dua sosok yang sangat asing namun sekaligus familier. Ada seorang wanita dewasa yang anggun, dan di pelukan hangat wanita itu, duduk seorang anak kecil berusia sekitar empat atau lima tahun. Sorot mata Scarlett menajam saat menyadari satu detail fisik yang sangat mencolok: anak kecil itu memiliki rambut biru cerah yang sangat indah, sewarna dengan helai ra

  • Sang Villainess Yang Disayang   94. Dunia Batin Zayn

    Kereta kuda mewah yang membawa Scarlett dan Caspian memecah keheningan malam yang kian larut. Di dalam kabin kereta, suasana terasa begitu tenang. Sisa-sisa kehangatan dari makan malam dan ciuman penuh pengabdian tadi masih membekas di udara. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi kecanggungan. Hanya ada rasa saling percaya yang begitu pekat, khususnya dari sisi Caspian yang kini telah menyerahkan seluruh hidup dan jiwanya kepada wanita di hadapannya. Ketika roda kereta akhirnya berhenti berputar, mereka telah sampai di depan gerbang megah Gereja Suci. Caspian bergerak lebih dahulu, membuka pintu kereta dan turun dengan gerakan anggun seorang pendeta agung. Namun, sebelum dia benar-benar melangkah menjauh, dia membalikkan tubuhnya. Sepasang netranya yang keperakan menatap Scarlett yang masih duduk di dalam kabin dengan binar pemujaan yang tidak lagi disembunyikan. "Nona Besar, sampai jumpa besok," ucap Caspian lembut. Melihat perubahan drastis pria yang dulunya pemalu i

  • Sang Villainess Yang Disayang   93. Caspian Berciuman

    "Aku... seperti baru saja mimpi yang panjang."Scarlett menopang dagu dengan satu tangan, menatap pria itu dengan binar mata yang penuh rahasia sekaligus pesona yang memikat. "Sedang memikirkan apa?" tanyanya dengan suara sedikit menggoda. Scarlett menjeda kalimatnya sesaat, melengkungkan senyum tipis di bibirnya yang kemerahan sebelum melanjutkan. "Aku sedang di sini bersamamu, kamu malah memikirkan orang lain?"Scarlett menyipitkan matanya, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada dibuat sesedih dan terluka, "Caspian... kamu keterlaluan sekali!" Mendengar itu, Caspian bangkit berdiri. Meski tubuhnya masih terasa agak kaku setelah keluar dari ruang batin, dia menatap Scarlett dengan sangat intens. Tatapannya tidak lagi kosong, melainkan penuh dengan binar pemujaan yang mendalam. Iris mata abunya menatap lekat manik ungu Scarlett. "Bukan memikirkan orang lain... Orang yang paling penting sudah ada di sisiku." Suaranya berat namun lembut secara bersamaan. Seketika, rona me

  • Sang Villainess Yang Disayang   92. Sumpah Caspian

    "Daripada kamu berlutut menunggu keajaiban, lebih baik andalkan diri sendiri untuk melakukan semua yang bisa dilakukan!" Kalimat penuh otoritas dari Scarlett bergema di seluruh sudut ruangan, menghantam langsung ke dasar jiwa Caspian. Perlahan, bibir pria itu yang pucat mulai bergerak, mengulang kata-kata tersebut seperti mantra pembebas. Caspian bergumam lirih dengan suara parau. "Jangan bergantung dengan Tuhan, andalkan diri sendiri..." Riak di matanya kian membesar. Dia mengatakannya lagi, kali ini dengan penekanan yang lebih kuat. Scarlett tak tahu apa yang sedang Caspian lakukan, yang dia tahu—dia menginginkan Caspian sadar. Ku mohon sadarlah! "Jangan bergantung dengan Tuhan, andalkan diri sendiri." Pada hela napas ketiga, suaranya t

  • Sang Villainess Yang Disayang   91. Menyadarkan Caspian

    Scarlett melangkah mendekat, sepasang matanya bergetar melihat kondisi Caspian. "Caspian... bertahanlah. Aku akan melepaskanmu dari siksaan ini." Scarlett mengulurkan tangannya yang gemetar. Dia mencengkeram salah satu ranting mawar hitam yang paling besar dan tajam yang melilit dada Caspian. Dengan satu sentakan kuat, Scarlett mencabut satu duri besar dari ranting tersebut. Seketika, kilatan cahaya keperakan memancar dari bekas cabutan duri. Udara di sekeliling mereka mendadak bergemuruh, bergetar hebat. Suara-suara bisikan yang tumpang tindih mendadak menggema, beralih dari bisikan pelan menjadi teriakan memohon yang memekakkan telinga. "Tuhan, selamatkan anakku! Dia masih begitu kecil, aku memohon pada-Mu! Ambil saja nyawaku, tapi jangan anakku!" "Selamatkan istriku, dia hampir tak tahan lagi! Aku tak bisa hidup tanpanya... kumohon, dengarkan aku!" "Kumohon biarkan aku kaya raya! Biarkan aku bebas dari penyakit dan bencana! Biarkan hidupku lancar selamanya!" Scarl

  • Sang Villainess Yang Disayang   90. Menyelamatkan Caspian Dari Lukanya

    Akan membunuh Scarlett? Dia akan mati? Mimpi saja! Mendengar perintah eksekusi dari pemimpin mereka, para pendeta senior dan bawahan gereja yang berjumlah setidaknya tujuh orang langsung bergerak liar. Dengan wajah yang dipenuhi kegilaan dan rasa haus darah, mereka menyambar balok-balok kayu besar yang tergeletak di sudut alun-alun rahasia itu, lalu menerjang maju secara serentak ke arah Scarlett. Pendeta Agung: berteriak histeris, menunjuk Scarlett. "Maju! Bunuh dia!" Menghadapi kepungan tujuh pria dewasa yang membawa senjata, Scarlett sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Alih-alih mundur, dia dengan tenang mengambil posisi kuda-kuda yang kokoh, memosisikan pisau belati peraknya tepat di depan dada dengan tatapan mata ungu yang dingin mematikan. Menyaksikan keras kepalanya Scarlett, Caspian muda yang terikat di salib batu benar-benar dila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status