Mag-log inCaspian terhenyak, bibirnya membisu mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut pendeta junior di sampingnya. Kata-kata Alden bagai seberkas cahaya menembus kegelapan labirin pikirannya, memaksanya untuk merenungkan kembali strategi baru yang jauh lebih taktis tanpa harus mengorbankan perasaan ataupun rakyatnya. Alden tidak mendesak Caspian untuk memberikan jawaban cepat, dia juga tidak mencoba untuk meyakinkan atau memengaruhi keputusan sang pemimpin lebih jauh lagi. Dia tahu, seluruh keputusan penentu masa depan tatanan suci ini berada sepenuhnya di dalam genggaman tangan Caspian sendiri. Perlahan seulas senyum lembut yang tulus merekah di bibir Caspian yang pucat, dia menatap Alden dengan binar mata penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak, Alden. Kamu... kamu benar-benar telah berhasil membuka mata batinku yang sempat buta oleh kecemburuan." Alden tersenyum tulus, tak menjawab, namun kepalanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Namun, tepat di saat kelegaan ter
Keheningan malam yang sunyi membungkus Altar Gereja Suci dengan atmosfer yang sakral. Cahaya temaram dari puluhan lilin putih raksasa yang menyala di sepanjang altar memantulkan bayangan pilar-pilar batu yang tinggi melengkung. Di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah patung simbol ketuhanan yang agung, Caspian tampak sedang bersujud di atas kedua lututnya. Pemuda itu menundukkan kepala, merajut jemarinya di depan dada dalam posisi berdoa yang kaku, mencoba mencari jawaban atas dilema terbesar yang sedang meretakkan batinnya. Caspian mengembuskan napas pendek yang terasa sesak di dadanya. Sepasang mata abu-peraknya menatap sayu ke arah lilin yang bergoyang ditiup angin malam. "Tuhan... Tolong berikan hamba-Mu ini petunjuk yang jernih. Apa yang sebenarnya harus kulakukan saat ini?" gumamnya dengan nada lirih dan parau. "Bagaimana caranya agar aku tetap bisa mengikat kontrak pengaktifan totem dengan Scarlett sebagai suaminya... namun di saat yang sama, rumah suci in
"Kalau begitu, minumlah tehnya sampai habis, Tuan... Dan setelah itu, biarkan aku membantu merilekskanmu." Mendengar bisikan sensual tepat di telinganya, Scarlett perlahan membuka kelopak mata ungunya. Sentuhan jari-jari putih pucat Zayn di bahunya, berpadu dengan kehangatan tubuh pria duyung itu yang menempel di punggungnya, perlahan-lahan mengikis tumpukan kepenatan yang menggelayuti benaknya sejak pagi. "Kau selalu tahu cara memanfaatkan situasi, Zayn," ucap Scarlett dengan nada suara yang rendah dan rileks. Zayn terkekeh rendah, sama sekali tidak tersinggung ucapan Scarlett. "Benarkah aku seperti itu... di matamu?" "Ya." Scarlett mendongak, menatap Zayn dari bawah. "Bisa dibilang, kau pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan." Zayn menunduk, dan terkekeh kembali, kali ini sedikit lebih keras. Matanya berkedip sebelah–gestur menggoda genit. "Ku anggap itu pujian, Nona Besar." Tawa Scarlett pecah, Zayn pun ikut tertawa bersamanya. "Lalu dengan cara apa k
Pintu ruang kerja Penguasa Kota yang baru telah ditutup rapat. Scarlett duduk bersandar di balik meja mahakarya kayu ek yang kokoh, menopang dagunya dengan satu tangan. Manik mata ungunya yang jernih menatap kosong ke arah deretan dokumen pemerintahan yang menumpuk di hadapannya. Pikirannya benar-benar sedang bercabang hebat, berputar-putar di antara dua masalah besar yang mendadak melanda hatinya. Scarlett mengembuskan napas panjang, memijit pelan pelipisnya yang berdenyut halus. "Caspian... ku mohon jangan gegabah. Dan Killain... ku harap kau bisa membantu Valerian di lembah tengkorak." Scarlett memejamkan matanya rapat-rapat. Dua masalah ini benar-benar sukses membuat kepalanya hampir pecah karena khawatir. TOK! TOK! TOK! Suara ketukan pintu yang mendadak memutus lamunan panjang Scarlett. Daun pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok pelayan pribadinya yang melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa sepucuk surat yang entah siapa pengirimnya. "Maaf, Nona Besa
Suasana ruang kerja yang megah namun sunyi. Lilin-lilin besar menerangi meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peta wilayah. Pintu ruang ganda terbuka. Scarlett melangkah masuk dengan gaun berwarna ungu lilac–ciri khasnya, yang sedikit berdebu, kelelahan setelah melewati hari panjang dengan berdebat bersama Caspian. "Sialan. Caspian benar-benar sudah gila." batinnya menggerutu sepanjang perjalanan. Killain berjalan satu langkah di belakangnya, tangan kanannya secara refleks selalu berada di dekat gagang pedangnya. Scarlett menghela napas panjang. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja, lalu mendudukkan diri. Baru saja punggung Scarlett menyentuh sandaran kursi, mencoba mencari ketenangan— BRAKK!!! Pintu ruang kerja dibuka paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras. Killain langsung melesat ke depan Scarlett, menghunuskan separuh pedangnya dari sarung dengan bunyi desingan logam yang tajam. Prajurit Garth, utusan setia Valeria
Mendengar tuduhan polos yang mengarah pada Scarlett, detak jantung Caspian seolah berhenti.Rasa ketakutan yang teramat besar langsung menyerang dadanya—bukan takut akan takdir hukum gereja, melainkan ketakutan jika nama baik Scarlett kembali dicap jelek, kejam, dan jahat oleh seluruh lapisan masyarakat setelah semua usaha pembersihan nama yang mereka lakukan.Caspian mempererat genggaman tangannya pada jemari sang anak, menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru dan panik."Tidak, Sayang! Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu! Nona Penguasa Kota Scarlett sama sekali bukan orang yang jahat!"Caspian menoleh menatap Scarlett dari samping sesaat, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada anak kecil di depannya."Penguasa Kota... dia adalah wanita yang sangat mulia, bahkan jauh lebih suci dari siapa pun di kekaisaran ini!"Anak kecil itu mengerjapkan matanya yang masih basah oleh air mata, menatap bingung."Benarkah, Pendeta Agung? Tapi kata para pendeta senior yang lain, Nona







