Beranda / Fantasi / Sang Villainess Yang Disayang / 70. Janji Dan Hasrat Zayn

Share

70. Janji Dan Hasrat Zayn

Penulis: Hydragea
last update Tanggal publikasi: 2026-07-26 13:00:36

Suara langkah kaki Caspian perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kayu ek yang tebal.

Suasana di dalam ruang pemandian kembali sunyi, menyisakan keheningan yang menenangkan.

Scarlett menghela napas panjang. Dia menggeser tubuhnya, menyandarkan bagian belakang kepalanya di tepian marmer kolam yang hangat.

Tubuhnya terendam sepenuhnya di dalam air yang nyaman, menyisakan leher dan sebagian bahu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Villainess Yang Disayang   175. Keputusan Sulit Elian (2)

    “Bagaimana jika kau kehilangan takhta?” “Kalau begitu, aku akan menghadapi akibatnya!” “Bagaimana jika kau menyesal?” “Aku bilang aku tidak akan menyesal!” “ELIAN—” Scarlett belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Elian tiba-tiba menunduk dan mencium bibirnya. Gerakannya begitu mendadak hingga Scarlett tidak sempat bereaksi. Kedua matanya membelalak. Tangannya yang semula berada di sisi tubuh terangkat sedikit, tetapi dia tidak mendorong Elian menjauh. Elian menciumnya dengan tergesa, seolah-olah sedang berusaha menghentikan setiap kata tentang perpisahan yang mungkin keluar dari bibir wanita itu. Genggamannya pada tangan Scarlett mengendur, sementara tangannya yang lain bergerak menahan sisi wajahnya. Namun, ciuman itu tidak membuat semua masalah mereka menghilang. Scarlett tidak membalasnya. Dia hanya berdiri diam, membiarkan Elian menempelkan bibirnya pada bibirnya, sementara dadanya terasa begitu sesak hingga sulit bernapas. Dia mencintai pria itu. It

  • Sang Villainess Yang Disayang   174. Keputusan Sulit Elian

    Elian masih terdiam. Pengakuan Kaisar mengenai keberadaan putra lainnya telah mengguncang pikirannya. Namun, yang paling membuatnya sulit bernapas adalah pilihan yang kini diletakkan di hadapannya. Kedudukan sebagai Putra Mahkota atau Scarlett. Dia belum mampu memberikan jawaban. Bukan karena perasaannya terhadap Scarlett berubah, melainkan karena dia membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya sedang direncanakan ayahnya. Elian mengembuskan napas perlahan, lalu mengangkat wajahnya. “Untuk saat ini, aku belum bisa memberikan jawaban, Ayah.” Kaisar mengangkat sebelah alisnya. “Jadi, kau membutuhkan waktu untuk berpikir?” “Aku akan menemui Ayah lagi setelah mengantar Scarlett pulang.” Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Elian menggenggam tangan Scarlett dan mengarahkannya menuju pintu. Scarlett sempat menoleh ke belakang. Dia menundukkan kepala dengan hormat kepada Kaisar, berusaha mempertahankan sikap tenangnya meskipun pikirannya masih dipenuhi kekhawatir

  • Sang Villainess Yang Disayang   173. Anak Lain?

    “Aku akan tetap melaksanakan pernikahan pengikat kontrak totem itu,” lanjut Elian. “Dengan atau tanpa restu Ayah.” “Pikirkan baik-baik apa yang baru saja kau katakan.” “Aku sudah memikirkannya.” “Kalau begitu, kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu!” “Mungkin menurut Ayah aku bodoh karena memilih Scarlett. Namun, aku lebih memilih menjadi pria bodoh yang hidup bersama wanita yang kucintai daripada menghabiskan seluruh hidupku menyesali keputusan yang tidak pernah berani kuambil.” Wajah Kaisar semakin gelap. Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara. Scarlett menatap Elian dengan dada sesak. Dia tidak pernah meragukan perasaan pria itu, tetapi melihatnya secara langsung seperti ini membuatnya menyadari betapa besar hal yang bersedia Elian pertaruhkan demi dirinya. Kedudukan.

  • Sang Villainess Yang Disayang   172. Ketegangan Di Istana

    Elian tidak menunggu jawaban ayahnya. Begitu melihat Scarlett berdiri di dekat meja kerja Kaisar, dia langsung melangkah tergesa ke arah wanita itu. Napasnya masih memburu setelah berlari menyusuri koridor istana, tetapi dia sama sekali tidak memedulikannya. Tatapannya menyapu wajah Scarlett, turun ke kedua tangannya, lalu kembali menelusuri sosok wanita itu, seolah-olah sedang memastikan tidak ada luka yang tersembunyi. “Scarlett, apa kau baik-baik saja?” tanyanya cepat. “Apa dia melakukan sesuatu kepadamu? Apa yang dikatakannya? Apa dia mengancammu?” Scarlett masih terkejut dengan kedatangan Elian yang begitu tiba-tiba. Dia bahkan belum sempat menjawab ketika pria itu sudah menggenggam tangannya, menatapnya dengan sepasang mata merah yang dipenuhi kecemasan. “Elian ….” Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya. Elian terdiam sesaat. Mendengar namanya di

  • Sang Villainess Yang Disayang   171. Kedatangan Tak Terduga

    "Apakah Scarlett datang untuk menemui Kaisar?" Pelayan itu tersentak. Meski hanya berlangsung sesaat, reaksi tersebut sudah cukup untuk memberikan jawaban kepada Elian. Wanita itu menelan ludah, kemudian mengangguk kecil. "Y-ya, Yang Mulia." Dunia seolah berhenti berputar. Elian membeku. Matanya membelalak, dan untuk beberapa saat, dia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal. Scarlett datang untuk menemui ayahnya? Malam ini? Secara pribadi? Tanpa memberitahunya sedikit pun? "Sejak kapan?" tanyanya cepat. "Sejak beberapa waktu lalu, Yang Mulia. Saya hanya ditugaskan untuk mengantar Nona Scarlett sampai ke gerbang istana. Setelah itu, seorang pengawal pribadi Kaisar membawanya masuk." Elian mengepalkan tangan. "Pengawal pribadi Kaisar?"

  • Sang Villainess Yang Disayang   170. Kecurigaan Elian

    Malam semakin larut ketika Elian akhirnya menyelesaikan sesi latihan bersama para prajuritnya. Keringat membasahi pelipis dan lehernya. Seragam militernya sedikit kusut setelah berulang kali memperagakan gerakan pedang, sementara rambut merah kecokelatannya tampak berantakan akibat angin malam. "Latihan hari ini selesai! Kalian boleh beristirahat. Besok pagi, aku ingin melihat peningkatan yang lebih baik dari kalian!" Kemudian menyerahkan pedangnya kepada salah seorang pengawal sebelum melangkah meninggalkan lapangan latihan. Sebenarnya, dia ingin segera kembali ke kediaman Penguasa Kota. Namun, setelah mengingat kembali percakapannya dengan Scarlett sore tadi, langkahnya justru mengarah ke kamar pribadinya di istana. 'Besok pagi aku harus menemuinya,' batinnya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Wanita itu memang selalu memiliki alasan untuk menolak permintaannya. Akan tetapi, Elian tidak pernah benar-benar bisa marah kepadanya. Bagaimanapun, Scarlett adalah Scarl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status