Share

BAB 13

last update publish date: 2026-02-12 22:57:18

Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kembali mengepul ke udara, menandakan roda ekonomi di tanah sengketa itu berputar lagi.

Namun, bagi Satria, dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Fokusnya hanya satu: piring plastik oranye di dep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 170

    Tantangan Satria menjadi pemicu ledakan di ruangan tersebut. Puluhan berandalan itu menggeram marah. Gelombang pertama yang terdiri dari enam orang langsung menerjang maju secara serempak. Balok kayu dan pipa besi diayunkan dari berbagai arah, mengincar kepala dan rusuk pemuda berjas kemeja putih itu.Satria tidak mundur satu sentimeter pun. Matanya menatap tajam, merekam setiap pergerakan senjata yang datang ke arahnya dengan sangat lambat.Sebuah balok kayu tebal mengayun ganas ke arah kepala Satria. Pemuda itu hanya menunduk sedikit. Balok itu meleset membelah udara dengan bunyi WUSSS yang nyaring. Di detik yang sama, kepalan tangan kanan Satria melesat secepat peluru lurus ke arah ulu hati si penyerang.BUAGH!Suara hantaman daging terdengar sangat padat. Preman pertama itu membelalakkan mata. Mulutnya terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar. Angin di paru parunya terkuras habis. Dia langsung jatuh berlutut sambil memegangi perutnya yang serasa hancur, memuntahkan cairan l

  • Satria Idaman Wanita   BAB 169

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat VIP itu. Ancaman mengerikan Satria soal mematahkan jari membuat napas Pak Haryo seakan berhenti. Pria paruh baya itu sudah gemetar di kursinya, takut ikut terseret dalam pertumpahan darah di kantornya sendiri.Namun, di luar dugaan, reaksi Kevin justru berbanding terbalik dengan kejadian di parkiran semalam.Pria berambut klimis itu memang sempat menelan ludah dan wajahnya pucat sedetik, tapi kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat keras dan penuh dengan kelicikan."Hahaha! Lu pikir gue bego, hah?!" ejek Kevin sambil menunjuk wajah Satria. Keberaniannya meroket tajam. "Gue tahu lu jago berantem. Preman bayaran gue semalam emang ampas semua karena cuma modal tangan kosong. Lu pikir gue bakal datang ke sini nemuin bos lu tanpa persiapan?"Satria mengerutkan dahi, matanya memicing di balik kacamata hitam yang baru saja dia letakkan di atas meja.Tanpa membuang waktu, Kevin mengambil ponselnya dan menekan satu tombol pan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 168

    Tepat pukul sepuluh pagi, mobil Alphard hitam yang membawa Vera dan Satria tiba di sebuah kantor proyek konstruksi besar di kawasan strategis Jakarta Selatan. Vera turun dengan sangat percaya diri. Setelan blazer kerjanya terlihat sangat elegan dan profesional. Modal dua puluh lima miliar dari penjualan kayu Kinam sudah siap dia putar untuk mengambil alih proyek pembangunan mal mewah ini.Satria berjalan tepat di belakang Vera. Kacamata hitam bertengger santai di hidungnya. Jas birunya sudah diganti dengan setelan jas hitam pekat yang baru, membuat auranya semakin terlihat seperti bos mafia daripada sekadar asisten.Mereka berdua dikawal oleh resepsionis menuju ruang rapat VIP di lantai dua. Vera sudah menyiapkan draf kontrak di tangannya. Proyek ini adalah kunci untuk membangkitkan kembali kejayaan perusahaannya.Klek.Pintu ruang rapat terbuka. Vera melangkah masuk dengan senyum bisnis andalannya. Namun, senyum di bibir CEO muda itu langsung membeku seketika.Ruangan itu tidak hanya

  • Satria Idaman Wanita   BAB 167

    Tepat pukul tujuh pagi, Satria sudah berdiri tegak di dalam ruang kerja Vera yang sangat luas. Pemuda itu memakai kemeja putih rapi, rambutnya basah sehabis mandi, dan wajahnya disetel sepolos mungkin. Padahal di dalam hatinya, dia sedang sibuk menyusun seribu alasan.Vera duduk di balik meja kerja kebesarannya. Wanita cantik itu memakai setelan blazer kerja yang elegan. Di tangannya ada secangkir kopi hitam. Tatapannya lurus menembus bola mata Satria, tajam dan penuh selidik bagaikan detektif yang sedang menginterogasi tersangka perampokan bank."Duduk," perintah Vera singkat.Satria menarik kursi di depan meja itu dan duduk dengan sikap tegak. "Pagi, Non. Gimana tidurnya? Nyenyak?" sapanya basa basi, mencoba mencairkan suasana yang kaku."Gak usah basa basi," potong Vera cepat. Dia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. "Saya mau langsung ke intinya saja. Tadi malam di mobil kamu belum jawab pertanyaan saya dengan benar. Sekarang saya tanya sekali lagi, dan saya mau jawaban yang m

  • Satria Idaman Wanita   BAB 166

    Bi Inah memegang lengan Kiki dan mencoba menariknya menjauh dari Satria. Tapi Kiki malah memberontak. Tenaga orang mabuk terkadang memang tidak bisa ditebak. Gadis itu menghentakkan tangannya dan kembali merangkul erat lengan Satria."Gak mau!" rengek Kiki keras keras, suaranya menggema di ruang tamu. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah Bi Inah. "Kiki mau di sini aja sama Kak Satria! Kak Satria anget badannya, wangi lagi. Bi Inah sana pergi!"Satria memutar bola matanya malas. Dia melirik ke arah Vera yang rahangnya sudah mengeras menahan malu melihat kelakuan murahan adiknya sendiri di depan para pegawai."Ki, udah sana lu tidur di atas," bujuk Satria sambil berusaha melepaskan tangan Kiki dari jasnya satu per satu. "Kasur lu di atas jauh lebih empuk daripada berdiri di sini. Lagian gue juga mau mandi, lengket banget ini badan.""Mandi bareng!" racau Kiki ngawur sambil tersenyum lebar dan matanya merem melek.Mata Vera melotot mau keluar mendengarnya. Urat kesabarannya benar bena

  • Satria Idaman Wanita   BAB 165

    Namun, begitu kaki Satria dan Kiki melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang terang benderang, hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada angin malam langsung menyambut mereka.Di tengah ruangan yang luas itu, Vera berdiri tegak bagaikan patung dewi keadilan yang bersiap menjatuhkan hukuman mati. Wajah cantiknya terlihat sangat kaku dan dingin. Kedua tangannya bertolak pinggang, menatap lurus menembus adiknya yang sedang bergelendotan manja di lengan asistennya.Melihat pemandangan di depan matanya itu, urat di dahi Vera langsung menonjol. Napasnya memburu menahan amarah yang sudah naik sampai ke ubun ubun. Adiknya yang seharusnya belajar menjadi wanita elegan malah pulang nyaris tengah malam dalam kondisi setengah sadar, bau alkohol yang menyengat sampai ke jarak dua meter, dan menempel pada seorang pria seperti tidak punya harga diri."KIKI!" bentak Vera dengan suara melengking yang menggema ke seluruh penjuru rumah besar itu.Suaranya terdengar sangat keras dan penuh tekanan, samp

  • Satria Idaman Wanita   BAB 11

    Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 10

    Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Satria Idaman Wanita   BAB 7

    Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlo

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Satria Idaman Wanita   BAB 37

    Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status