로그인Satria merebahkan tubuh besarnya di atas kasur empuk paviliun... (lanjutan sesuai cerita asli)Kiki menatap Satria dengan mata yang sudah berkabut gairah. Tanpa memberi kesempatan pria itu berpikir panjang, gadis itu menarik tengkuk Satria dan menempelkan bibirnya yang lembut dan hangat ke bibir Satria. Ciuman pertama itu lembut, hampir malu-malu, tapi penuh tekad. Bibir sutra Kiki bergerak pelan, menggoda, seolah ingin mencicipi setiap inci dari mulut pria yang selama ini selalu menjaga jarak darinya.Satria membeku sesaat. Bau harum tubuh Kiki yang manis bercampur wangi sabun mandi malam itu menyerbu indranya. Akal sehatnya berteriak bahaya, tapi darahnya sudah mendidih. Tak tahan lagi, Satria membalas ciuman itu dengan rakus. Tangannya langsung memeluk pinggang ramping Kiki, menarik gadis itu lebih rapat hingga dada mereka saling menempel. Ciuman mereka semakin panas, lidah saling menari, saling menjilat, saling menghisap. Suara kecupan basah dan napas memburu memenuhi kamar pavili
Satria merebahkan tubuh besarnya di atas kasur empuk paviliun. Jas hitam mahal pemberian Vera sudah dia lempar sembarangan ke atas kursi kayu di pojok kamar. Kemeja putihnya dibiarkan sedikit terbuka di bagian kerah supaya tidak gerah.Rasa capek akhirnya mulai terasa merayapi otot ototnya. Tapi ini bukan capek karena habis menghajar puluhan preman atau menghindari peluru, melainkan capek mental menghadapi omelan panjang dari bosnya di ruang tamu tadi.Pemuda itu menarik selimut tebalnya sebatas dada. Baru saja dia mau memejamkan mata dan menikmati kasur yang empuk, tiba tiba terdengar bunyi dari arah luar.Tok tok tok.Satria langsung membuka sebelah matanya. Dia mendengus kesal sampai membuang napas kasar. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan lewat dari pukul satu pagi. Siapa lagi yang kurang kerjaan mengganggunya jam segini?"Siapa sih? Orang mau tidur juga," gerutu Satria pelan.Dengan langkah malas dan wajah ditekuk rapat, Satria berjalan gontai ke arah pintu. Dia memutar ke
Jalanan sepi itu ditinggalkan begitu saja oleh Satria. Dia sama sekali tidak peduli dengan nasib empat pembunuh bayaran elit yang sedang pingsan menumpuk di aspal. Biar saja mereka diurus oleh warga besok pagi.Alih-alih mencari taksi atau menelepon bala bantuan, Satria malah memilih berjalan kaki. Jarak dari lokasi kejadian ke rumah mewah Vera di Menteng sebenarnya lumayan jauh. Tapi bagi pendekar gunung yang terbiasa mendaki tebing curam setiap hari, berjalan di atas trotoar aspal ini rasanya hanya seperti jalan-jalan santai di taman.Satria berjalan sambil bersiul pelan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sesekali dia berhenti sebentar untuk melihat-lihat lampu jalanan kota yang masih menyala terang. Perjalanannya memakan waktu cukup lama, hingga jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan lewat tengah malam.Begitu sampai di depan gerbang rumah keluarga Vera, Satria melihat pemandangan yang tidak biasa. Lampu ruang tamu dan teras depan menyala sangat terang bender
Rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu di dalam dada Elang Hitam. Sebagai pembunuh bayaran dengan reputasi tanpa cacat, dikalahkan tanpa perlawanan seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau.Dengan sisa tenaga dan raungan marah, Elang Hitam memaksakan dirinya untuk berdiri. Dia mengabaikan rasa kebas di kakinya dan memaksakan satu serangan terakhir. Pria itu melompat maju, mengumpulkan seluruh sisa tenaganya ke dalam satu pukulan mematikan yang mengarah tepat ke wajah Satria.Satria hanya menghela napas panjang melihat kekerasan kepala pria di depannya ini."Masih ngeyel aja," ucap Satria datar.Bukannya menghindar, Satria menyambut pukulan itu. Dia menangkap kepalan tangan Elang Hitam dengan telapak tangan kirinya. Bunyi benturan keras terdengar, tapi Satria tidak bergeser satu sentimeter pun.Sebelum Elang Hitam menyadari apa yang terjadi, tangan kanan Satria melesat cepat seperti kilat dan menghantam telak ulu hati pria tersebut. Pukulan itu tidak terlihat keras
Satria menoleh ke arah Elang Hitam, masih dengan Kobra yang meronta ronta kehabisan napas di cengkeraman tangan kanannya."Gimana, Bos? Mau lanjut main tembak tembakan, atau mau kita selesaikan pakai cara sehat dan berolahraga tangan kosong?" tawar Satria sambil menyeringai tipis.Melihat temannya tumbang dengan begitu memalukan, wajah Elang Hitam berubah menjadi merah padam. Harga dirinya sebagai pembunuh bayaran nomor satu di dunia bawah tanah Jakarta terasa diinjak injak oleh pemuda yang kini tersenyum mengejek di depannya.Satria melepaskan cengkeramannya. Tubuh Kobra langsung jatuh membentur aspal. Pria bertato itu batuk batuk keras meraup oksigen sebanyak mungkin sambil memegangi lehernya yang memar parah."Sialan kamu, anak muda!" geram Elang Hitam dengan suara yang bergetar menahan amarah.Bukannya mundur atau melarikan diri, Elang Hitam malah melemparkan senapan laras pendeknya ke tanah. Bunyi logam beradu dengan aspal terdengar nyaring. Dia sadar kalau senjata api tidak akan
DOR! DOR! DOR!Suara letusan pistol otomatis Kobra memecah keheningan malam. Tiga butir peluru tajam melesat dari moncong senjata dengan kecepatan mematikan, mengincar tepat ke arah dada dan kepala Satria dari jarak yang sangat dekat.Bagi manusia biasa, jarak sedekat itu adalah vonis mati yang tidak bisa dihindari. Namun bagi seorang pendekar tingkat tinggi yang terbiasa menangkap nyamuk terbang dengan sumpit di tengah kegelapan hutan, kecepatan peluru pistol hanyalah sebuah lelucon.Di mata Satria, lintasan ketiga peluru itu terlihat melambat drastis.Dengan wajah datar, Satria memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Peluru pertama mendesing lewat hanya beberapa milimeter dari telinganya, membelah angin malam. Tanpa membuang waktu, pemuda itu memutar bahu kirinya ke belakang. Peluru kedua dan ketiga melesat melewati ruang kosong di depan dadanya, sama sekali tidak menyentuh kain jas hitamnya.Kobra melebarkan matanya. Mulut pembunuh bertato kalajengking itu terbuka lebar. Dia tidak
Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin
Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlo
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya







