ログインKeesokan paginya, matahari baru saja muncul ketika Satria sudah bersiap di area teras. Dia mengenakan pakaian taktis yang rapi namun tetap kasual, siap untuk mengawal Vera ke lokasi bantaran sungai. Setelah merenung sepanjang malam, tekad Satria sudah bulat. Dia harus segera menyampaikan keputusannya untuk pindah sebelum situasi di dalam rumah ini makin tidak terkendali.Tidak lama kemudian, Vera keluar dari pintu utama. Penampilannya tampak kasual namun tetap berwibawa dengan kemeja putih dan celana panjang jeans, bersiap untuk turun langsung ke lapangan."Pagi, Satria. Mobil sudah siap?" tanya Vera sambil merapikan jam tangannya."Pagi, Non. Sudah siap semua," jawab Satria dengan tenang. Namun, bukannya langsung membukakan pintu mobil, Satria tetap berdiri di posisinya. "Non Vera, kalau boleh, ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan sebelum kita berangkat."Vera menghentikan gerakannya. Dia menatap Satria dengan dahi mengernyit, menyadari nada suara pengawal pribadinya itu te
Melihat aura permusuhan yang makin pekat di antara Vera dan Kiki, Satria langsung mengambil keputusan cepat. Berlama-lama di tempat ini hanya akan membuat dirinya terseret ke dalam pusaran drama keluarga yang sama sekali tidak menguntungkan baginya.Satria langsung mengambil helmnya yang sempat ditaruh di spion motor, lalu sedikit membungkuk sopan ke arah Vera."Non Vera, kalau urusan ini sudah jelas, saya izin ke kamar duluan untuk bersih-bersih dan istirahat," pamit Satria dengan nada yang sangat lempeng, berusaha memotong jalur sebelum Kiki kembali berulah.Vera mengalihkan pandangan tajamnya dari Kiki ke arah Satria. Dia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya yang sempat naik ke ubun-ubun akibat ulah manja adiknya."Ya sudah, kamu boleh ke kamar," jawab Vera, suaranya sudah kembali datar meskipun sisa-sisa kekesalan masih terlihat di matanya.Namun, baru saja Satria membalikkan badan dan melangkah dua kali menuju paviliun tempat kamarnya berada, suara Vera kembali terd
Mendengar penjelasan Satria yang begitu tenang dan masuk akal, Vera tidak langsung merespons. Dia justru membalikkan badannya perlahan, mengalihkan pandangan tajamnya ke arah pilar besar yang berada di dekat pintu masuk teras rumah utama."Keluar, Kiki. Sampai kapan kamu mau sembunyi di situ?" panggil Vera dengan nada suara yang meninggi, memberi perintah tegas.Tidak lama kemudian, sosok Kiki perlahan muncul dari balik pilar tersebut. Gadis itu ternyata sejak tadi diam-diam berdiri di sana, menguping pembicaraan antara Vera dan Satria dengan wajah yang awalnya tegang.Begitu tatapan mata Vera mengunci posisinya dengan sangat tajam, Kiki tidak bisa mengelak lagi. Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat cerita bohong dan melebih-lebihkan keadaan, Kiki justru melangkah maju sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Gadis itu menatap Vera lalu beralih ke arah Satria sambil tersenyum kuda, sebuah cengiran canggung yang dipaksakan untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku."He
Satria merasa urusannya di gang buntu itu sudah benar-benar selesai. Hari juga sudah semakin sore, langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Dia harus segera kembali ke rumah utama sebelum Nona Vera atau Laras menyadari bahwa dia pergi terlalu lama."Ya sudah, Rani. Berhubung semua sudah aman, aku pamit duluan ya. Kamu sebaiknya langsung pulang dan lewat jalan raya yang ramai saja," kata Satria sambil bersiap memakai kembali helmnya.Namun, Rani tidak membiarkan pemuda itu pergi begitu saja. Gadis itu langsung melangkah maju, menghalangi pergerakan Satria yang hendak naik ke atas jok motor trailnya."Tunggu dulu, Mas Satria! Jangan buru-buru pergi dong," seru Rani cepat. Dia buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar, lalu menyodorkannya ke arah Satria. "Boleh minta nomor teleponmu tidak? Ya buat jaga-jaga saja, siapa tahu gerombolan si gondrong tadi masih penasaran dan mencariku lagi."Satria menatap layar ponsel di hadapannya, lalu berali
Si gondrong yang menjadi pemimpin gerombolan itu berusaha keras untuk bangkit. Sambil memegangi ulu hatinya yang masih terasa sangat nyeri dan sesak, dia menatap Satria dengan tatapan penuh ketakutan. Nyalinya sudah benar-benar ciut setelah melihat semua anak buahnya tumbang tanpa bisa menyentuh ujung baju pemuda di depannya.Satria hanya berdiri tegak sambil memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit. Pandangan matanya yang dingin seolah memberi isyarat bahwa kesabarannya sudah habis."Tunggu apa lagi? Mau merasakan pukulan yang lebih keras?" tanya Satria dengan nada suara yang sangat tenang, namun terdengar begitu mengancam.Mendengar ucapan itu, si gondrong langsung panik setengah mati. "Cepat bangun! Kabur! Kabur sekarang!" teriaknya dengan suara serak kepada anak buahnya yang lain.Mendengar perintah sang ketua, empat preman lainnya langsung bergerak serabutan. Mereka bangun dengan tubuh yang gemetaran dan menahan rasa sakit di sekujur badan. Ada yang memegangi
Satria malah tertawa lepas mendengar perintah dari pria berambut gondrong itu. Suara tawanya terdengar sangat santai dan menggema di dalam gang buntu, membuat sisa preman yang ada di sana merasa makin dihina.Satria menyunggingkan senyum sinis lalu menjibir ke arah mereka."Maju bertiga saja?" cibir Satria sambil menggerakkan jari telunjuknya, memberi isyarat agar mereka mendekat. "Tanggung amat. Mending kamu yang gondrong juga ikutan maju sekalian berempat. Biar cepat selesai dan aku bisa langsung pulang buat mandi sore."Tantangan terbuka dari Satria benar-benar meruntuhkan sisa-sisa logika gerombolan motor tersebut. Mereka tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang senekat ini, yang justru minta dikeroyok saat posisinya sedang terpojok di dalam gang."Bocah sombong! Jangan menyesal kalau pulang tinggal nama ya!" teriak si gondrong yang akhirnya ikut meledak emosinya. Dia langsung mencabut sebilah balok kayu dari motornya sendiri dan ikut bersiap maju."Habisi dia sekarang!"E







