Share

BAB 4

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-06 23:45:16

Saat sudah sampai di rumah Laras, wanita pertama yang dilihat Satria adalah Vera, kakak sulung Laras yang penampilannya sungguh aduhai.

Vera mengenakan piyama sutra berwarna biru dongker yang terlihat sangat licin. Kain sutra itu menempel ketat di tubuhnya yang ramping dan mencetak lekuk pinggangnya dengan sempurna.

Vera duduk dengan posisi kaki disilangkan angkuh di atas sofa. Posisi itu membuat belahan piyama bagian bawahnya tersingkap lebar hingga menampilkan paha putih mulusnya yang jenjang.

"Gila bener janda kaya ini, kalau di rumah nggak pakai daleman," batin Satria liar.

Di sebelahnya, ada gadis muda berusia sembilan belas tahun yang sedang asyik bermain ponsel. Itu Kiki, adik bungsu Laras yang terkenal manja. Penampilannya sangat kontras dengan kakaknya. Kiki memakai celana hotpants denim super pendek yang nyaris tidak menutupi pangkal pahanya.

Atasannya hanya berupa tanktop longgar berwarna putih yang bahannya sangat tipis. Tali tanktop itu melorot sedikit di bahu kirinya dan memperlihatkan kulit bahu yang mulus.

"Ini satpam semalam yang kamu maksud itu, Ras?" tanya Vera tiba-tiba dengan suara sinis.

"Iya, Kak Vera, ini Satria yang dibicarakan Kakek tadi," jawab Laras cepat.

"Badan kurus kering begini mau jadi satpam?" cibir Vera pedas.

Vera berhenti tepat di depan Satria dan melipat tangan di depan dada. Posisi itu membuat belahan dadanya sedikit terlihat dari kerah piyama yang longgar.

"Bajunya kucel dan sepatu dekil banget kayak pemulung. Kamu yakin dia bisa jaga rumah kita, Ras? Jangan-jangan malah dia yang minta tolong dijagain kalau ada maling masuk nanti!"

Satria tersenyum sopan menahan gejolak panas di dadanya. Dia sudah biasa diremehkan orang kaya sombong seperti ini. Namun dihina oleh wanita seksi di depannya ini rasanya memancing adrenalin yang berbeda.

"Selamat malam, Nona, saya Satria yang ditugaskan Pak Abimanyu," ucap Satria datar.

"Saya tidak peduli apa kata Kakek soal kamu," potong Vera ketus. "Di mata saya kamu tidak lebih dari preman pasar yang dipungut Kakek karena kasihan."

"Kak Vera, jangan ngomong gitu dong," bela Laras dengan suara meninggi. "Satria ini yang nyelamatin aku tadi dari Kevin di kafe itu. Dia kuat kok dan tadi dia nendang pintu toilet sampai jebol."

Vera tertawa meremehkan sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Halah, paling kebetulan doang engsel pintunya sudah karatan dan rapuh. Orang kayak gini paling cuma mau cari duit gampang dari kita."

Vera menunjuk lantai marmer dengan dagunya yang lancip dan angkuh.

"Eh kamu, siapa namanya tadi? Satria? Duduk di lantai saja ya sekarang. Sofa ini mahal dan kulit asli impor dari Italia. Harganya lebih mahal dari harga diri kamu seumur hidup. Nanti sofa saya kotor atau bau apek kalau kena celana jins murahmu itu."

Kata-kata itu menusuk harga diri Satria tepat di ulu hati. Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya menahan emosi. Ingin rasanya dia membungkam mulut sombong itu dengan cara yang kasar. Namun bayangan uang dua juta rupiah menari-nari di pelupuk matanya.

"Baik, Nona, terima kasih sudah diizinkan duduk," jawab Satria sopan. Dia menurut lalu duduk bersila di atas karpet bulu tebal di bawah sofa. Posisi duduk di bawah ini justru memberikan keuntungan visual yang tak terduga bagi Satria.

Dari sudut pandang bawah ini dia bisa melihat kaki jenjang Vera dengan sangat jelas.

Piyama sutra Vera tersingkap hingga ke paha atas saat wanita itu kembali duduk menyilangkan kaki. Kulit paha bagian dalamnya terlihat sangat putih dan mulus tanpa cela sedikit pun.

Satria menelan ludah kasar melihat pemandangan surga dunia di depannya.

"Maaf ya, Satria," bisik Laras pelan dengan wajah memerah malu.

Satria hanya mengedipkan sebelah mata ke arah Laras sambil tersenyum tipis. Berbeda dengan kakaknya yang dingin, Kiki justru meletakkan ponselnya. Dia turun dari sofa lalu berjalan mengelilingi Satria seolah sedang memeriksa barang dagangan.

Langkah kaki Kiki pelan dan sengaja dibuat menggoda. Gadis muda itu berhenti tepat di samping Satria lalu membungkuk sedikit ke arahnya.

"Kak Vera jahat banget sih sama tamu," komentar Kiki dengan nada manja.

Posisi membungkuk Kiki membuat belahan dadanya yang tertutup tanktop longgar terlihat sangat jelas oleh Satria. Satria bisa melihat belahan yang dalam dan kulit putih susu yang menggoda iman.

"Hai, Kak Satria," sapa Kiki dengan senyum nakal. "Urat tangannya bagus juga ya, Kak, kelihatan maco banget dan kuat."

Kiki memberanikan diri mencolek lengan Satria dengan telunjuknya yang lentik. Dia menekan otot lengan Satria dengan gemas.

"Keras juga ternyata, padahal kelihatannya kurus dari jauh."

"Eh anu, biasa aja kok, Non," jawab Satria gugup. "Ini cuma efek angkat galon tiap hari di kafe."

Kiki terkikik geli melihat reaksi Satria yang polos dan grogi. Dia semakin mendekatkan tubuhnya hingga aroma parfum manisnya tercium jelas oleh Satria. Paha mulus Kiki yang terekspos hotpants berada tepat di depan wajah Satria.

"Panggil Kiki aja nggak usah pakai Non segala. Eh, Kak Satria punya pacar nggak sih?" tanya Kiki genit.

"KIKI!" bentak Vera keras dari sofa. "Jangan genit sama preman pasar dekil itu! Masuk kamar sana sekarang juga! Dan kamu Satria, tugasmu jaga keamanan bukan tebar pesona sama adik saya."

Vera berdiri dan menunjuk ke arah pintu depan dengan jari telunjuknya.

"Sana jaga di teras depan sekarang juga! Jangan masuk ke dalam kalau nggak dipanggil sama orang rumah. Risih saya lihat orang asing dekil di dalam rumah mewah ini."

Satria langsung berdiri tegak dengan sigap. Dia merasa lega bisa keluar dari situasi panas yang menyiksa ini.

"Siap, Nona, saya permisi ke depan," ucap Satria.

Tanpa banyak bicara lagi, Satria melangkah keluar menuju teras depan yang luas. Dia menghirup udara malam yang segar dalam-dalam untuk mendinginkan kepalanya. Berada di dalam ruangan itu dengan dua wanita seksi yang menggoda membuatnya pusing tujuh keliling.

Di teras suasana sangat sepi dan tenang. Satria duduk di anak tangga teras menatap gerbang yang tertutup rapat.

"Orang kaya emang aneh-aneh seleranya," gerutu Satria pelan. "Yang satu galak kayak macan betina yang satu genit kayak kucing garong."

Waktu berlalu lambat. Jarum jam tangan Satria menunjukkan pukul dua belas malam lewat. Udara semakin dingin menusuk tulang. Rasa kantuk mulai menyerang ditambah rasa bosan yang luar biasa.

Satria berdiri lalu meregangkan badannya yang kaku. Otot-ototnya terasa pegal dan butuh peregangan yang serius.

"Daripada ngantuk mending manasin mesin badan," pikir Satria.

Dia melepas jaket jinsnya dan meletakkannya di lantai teras. Kini hanya tersisa kaos oblong putih tipis yang melekat pas di badannya. Kaos itu mencetak jelas bentuk otot dada dan perutnya yang keras.

Satria mengambil posisi push-up di lantai marmer teras yang dingin. Dia menumpu berat badannya pada kedua tangannya yang kekar.

"Satu, dua, tiga, empat," hitung Satria dalam hati.

Satria mulai melakukan push-up dengan semangat. Gerakannya bukan gerakan asal-asalan. Dia melakukannya dengan tempo cepat namun rentang gerak penuh dan sempurna. Dada bidangnya hampir menyentuh lantai lalu dia mendorong ke atas dengan ledakan tenaga.

Tanpa Satria sadari ada sepasang mata yang mengintip dari dalam rumah. Di balik jendela kaca besar ruang tengah yang tertutup tirai tipis itu Kiki sedang berdiri.

Kiki belum tidur karena masih penasaran dengan satpam baru itu. Dia diam-diam mengamati Satria dari balik gorden dengan napas tertahan. Awalnya dia hanya iseng karena bosan. Namun matanya membelalak kagum saat melihat Satria mulai berolahraga.

"Gila badannya bagus banget," desis Kiki tanpa sadar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 409

    Tepat pukul satu siang, bunyi denting penutup laptop Vera terdengar mantap. Semua berkas validasi rantai pasok regional untuk hari ini berhasil dikirim ke server pusat tanpa hambatan sedikit pun.Vera meregangkan kedua lengannya ke atas sambil menghela napas panjang dan puas. "Pekerjaan hari ini beres total! Sekarang saatnya eksekusi menu makan siang kita, Sat."Satria yang sedang membaca majalah otomotif di kursi teras langsung menutup bacaannya dan bangkit berdiri. "Waktunya panen kemangi perdana."Mereka berdua berjalan menuju ambang jendela dapur. Vera mengambil gunting dapur kecil, lalu dengan hati-hati memotong pucuk-pucuk daun kemangi yang rimbun dan hijau tua dari dalam pot gerabah. Begitu batang daun terpotong, aroma harum khas kemangi yang segar langsung semerbak memenuhi area dapur."Wah, aromanya tajam dan segar banget, Sat! Beda memang kalau hasil tanaman sendiri yang dirawat pakai tanah subur," ujar Vera riang sambil mencuci seikat daun kemangi itu di bawah kucuran air b

  • Satria Idaman Wanita   BAB 408

    Sinar matahari pagi kembali membasahi halaman depan rumah, memantulkan kilau bersih di atas paving blok dan daun-daun pohon mangga yang masih basah oleh embun. Suasana pagi itu terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi ketergesaan atau langkah kaki terburu-buru yang menuruni tangga untuk mengejar jam rapat kantor.Vera turun ke lantai bawah dengan pakaian santai, mengenakan kemeja katun longgar dan celana kulot abu-abu. Senyum cerah tersungging di bibirnya saat melihat Satria sedang menata meja makan dengan dua mangkuk bubur havermut hangat bertabur irisan pisang raja dan madu alami."Selamat pagi, Sat! Wangi madu sama pisangnya langsung tercium sampai ke tangga," sapa Vera ceria sambil menarik kursi kayu di meja makan.Satria menoleh sambil menuangkan air putih hangat ke dalam dua gelas bening. "Selamat pagi, Vera. Karena hari ini kamu mulai masa transisi kerja sistem daring dari rumah, sarapannya kubikin yang ringan dan sehat biar fokus kerjamu tetap prima."Ve

  • Satria Idaman Wanita   BAB 407

    Pukul lima kurang seperempat, mobil SUV abu-abu gelap milik Satria sudah terparkir rapi di area penjemputan lobi kantor Vera. Mesin mobil tetap menyala halus dengan pendingin udara yang sejuk menyegarkan kabin. Satria melirik kaca spion samping, memperhatikan kerumunan karyawan yang mulai melangkah keluar dari pintu putar kaca gedung bertingkat itu.Tepat pada pukul lima lewat lima menit, sosok Vera muncul dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Begitu membuka pintu depan dan duduk di kursi samping kemudi, aroma parfum vanila lembut miliknya seketika memenuhi ruangan mobil."Selamat sore, Penjemput Andalan!" seru Vera dengan mata berbinar riang sambil melepas blazer biru dongkernya dan menaruhnya di pangkuan.Satria tersenyum hangat seraya menginjak pedal gas perlahan untuk membelah jalan keluar dari area lobi. "Selamat sore, Bintang Kantor. Mukanya kelihatan puas banget. Ceritanya sukses besar ya?""Bukan cuma sukses, Sat," kata Vera

  • Satria Idaman Wanita   BAB 406

    Sinar matahari pagi menyinari kaca depan mobil SUV abu-abu gelap yang terparkir di depan garasi. Hasil kerja keras Satria dan Vera mencuci mobil kemarin sore terlihat sangat nyata. Permukaan bodi mobil tampak begitu mengilap, memantulkan bayangan langit biru cerah tanpa ada setitik pun noda debu.Pukul tujuh pagi, pintu depan rumah terbuka. Vera melangkah keluar dengan setelan blazer biru dongker yang elegan dan celana bahan senada. Sepatu pantofel hitamnya berbunyi teratur di atas paving blok. Di tangannya, sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat dipegang erat bersama tas jinjing kerjanya.Satria yang sudah berdiri di samping pintu kemudi dengan kemeja kasual rapi langsung membukakan pintu untuk Vera."Selamat pagi, Bu Manajer. Mobil dinas VIP hari ini siap meluncur," goda Satria sambil tersenyum ramah.Vera tertawa renyah sambil melangkah masuk ke kursi penumpang depan. "Gaya banget sih pakai sebutan mobil dinas VIP segala! Tapi beneran ya, Sat, mobil ini kelihatan kayak baru kelu

  • Satria Idaman Wanita   BAB 405

    Pukul tiga lewat lima belas sore, udara panas perlahan mereda tertutup bayang-bayang pohon mangga yang rimbun di pekarangan depan. Satria sudah mengeluarkan mobil SUV abu-abu gelap dan motor matik hitamnya ke bagian tengah halaman paving blok yang luas.Ia menyambungkan selang air panjang ke keran utama, lalu mengisi dua ember besar dengan air bersih yang dicampur sampo khusus kendaraan beraroma lemon segar. Busa putih tebal seketika membumbung tinggi menutupi permukaan ember saat diaduk.Pintu depan terbuka, dan Vera melangkah keluar dengan penampilan yang sangat santai. Ia mengenakan kaus oblong abu-abu tua, celana pendek katun longgar, dan sandal jepit karet. Rambutnya dicepol rapi ke atas agar tidak basah terkena cipratan air."Pasukan pencuci mobil siap bertugas, Komandan!" seru Vera riang sambil mengambil salah satu spons busa berukuran besar dari tangan Satria.Satria terkekeh geli melihat semangat wanita itu. "Siap, prajurit. Kita mulai dari basahi seluruh bodi mobil dulu biar

  • Satria Idaman Wanita   BAB 404

    Udara Minggu pagi terasa sangat sejuk dan bebas dari deru knalpot kendaraan bermotor. Kabut tipis yang sempat turun saat subuh perlahan menghilang, tergantikan hangatnya sinar matahari pagi yang menerobos rimbunnya pohon-pohon peneduh di sepanjang jalan perumahan.Satria dan Vera sudah melangkah keluar dari pagar rumah sejak pukul enam pagi. Keduanya mengenakan pakaian olahraga santai. Vera mengenakan jaket parasut biru muda dan sepatu lari putih, sedangkan Satria memakai kaus olahraga abu-abu serta celana pendek training hitam.Langkah kaki mereka berirama santai, menyusuri trotoar bersih yang mengelilingi taman utama kompleks."Segar banget udaranya, Sat. Jarang-jarang bisa jalan pagi tanpa mikirin jam masuk kantor begini," kata Vera sambil mengayunkan kedua lengannya ke depan dan belakang untuk meregangkan otot bahu.Satria menoleh dan tersenyum melihat raut wajah Vera yang tampak riang. "Makanya hari Minggu itu paling pas dipakai buat gerak santai kayak gini. Otot badan jadi nggak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status