LOGINSaat sudah sampai di rumah Laras, wanita pertama yang dilihat Satria adalah Vera, kakak sulung Laras yang penampilannya sungguh aduhai.
Vera mengenakan piyama sutra berwarna biru dongker yang terlihat sangat licin. Kain sutra itu menempel ketat di tubuhnya yang ramping dan mencetak lekuk pinggangnya dengan sempurna.
Vera duduk dengan posisi kaki disilangkan angkuh di atas sofa. Posisi itu membuat belahan piyama bagian bawahnya tersingkap lebar hingga menampilkan paha putih mulusnya yang jenjang.
"Gila bener janda kaya ini, kalau di rumah nggak pakai daleman," batin Satria liar.
Di sebelahnya, ada gadis muda berusia sembilan belas tahun yang sedang asyik bermain ponsel. Itu Kiki, adik bungsu Laras yang terkenal manja. Penampilannya sangat kontras dengan kakaknya. Kiki memakai celana hotpants denim super pendek yang nyaris tidak menutupi pangkal pahanya.
Atasannya hanya berupa tanktop longgar berwarna putih yang bahannya sangat tipis. Tali tanktop itu melorot sedikit di bahu kirinya dan memperlihatkan kulit bahu yang mulus.
"Ini satpam semalam yang kamu maksud itu, Ras?" tanya Vera tiba-tiba dengan suara sinis.
"Iya, Kak Vera, ini Satria yang dibicarakan Kakek tadi," jawab Laras cepat.
"Badan kurus kering begini mau jadi satpam?" cibir Vera pedas.
Vera berhenti tepat di depan Satria dan melipat tangan di depan dada. Posisi itu membuat belahan dadanya sedikit terlihat dari kerah piyama yang longgar.
"Bajunya kucel dan sepatu dekil banget kayak pemulung. Kamu yakin dia bisa jaga rumah kita, Ras? Jangan-jangan malah dia yang minta tolong dijagain kalau ada maling masuk nanti!"
Satria tersenyum sopan menahan gejolak panas di dadanya. Dia sudah biasa diremehkan orang kaya sombong seperti ini. Namun dihina oleh wanita seksi di depannya ini rasanya memancing adrenalin yang berbeda.
"Selamat malam, Nona, saya Satria yang ditugaskan Pak Abimanyu," ucap Satria datar.
"Saya tidak peduli apa kata Kakek soal kamu," potong Vera ketus. "Di mata saya kamu tidak lebih dari preman pasar yang dipungut Kakek karena kasihan."
"Kak Vera, jangan ngomong gitu dong," bela Laras dengan suara meninggi. "Satria ini yang nyelamatin aku tadi dari Kevin di kafe itu. Dia kuat kok dan tadi dia nendang pintu toilet sampai jebol."
Vera tertawa meremehkan sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Halah, paling kebetulan doang engsel pintunya sudah karatan dan rapuh. Orang kayak gini paling cuma mau cari duit gampang dari kita."
Vera menunjuk lantai marmer dengan dagunya yang lancip dan angkuh.
"Eh kamu, siapa namanya tadi? Satria? Duduk di lantai saja ya sekarang. Sofa ini mahal dan kulit asli impor dari Italia. Harganya lebih mahal dari harga diri kamu seumur hidup. Nanti sofa saya kotor atau bau apek kalau kena celana jins murahmu itu."
Kata-kata itu menusuk harga diri Satria tepat di ulu hati. Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya menahan emosi. Ingin rasanya dia membungkam mulut sombong itu dengan cara yang kasar. Namun bayangan uang dua juta rupiah menari-nari di pelupuk matanya.
"Baik, Nona, terima kasih sudah diizinkan duduk," jawab Satria sopan. Dia menurut lalu duduk bersila di atas karpet bulu tebal di bawah sofa. Posisi duduk di bawah ini justru memberikan keuntungan visual yang tak terduga bagi Satria.
Dari sudut pandang bawah ini dia bisa melihat kaki jenjang Vera dengan sangat jelas.
Piyama sutra Vera tersingkap hingga ke paha atas saat wanita itu kembali duduk menyilangkan kaki. Kulit paha bagian dalamnya terlihat sangat putih dan mulus tanpa cela sedikit pun.
Satria menelan ludah kasar melihat pemandangan surga dunia di depannya.
"Maaf ya, Satria," bisik Laras pelan dengan wajah memerah malu.
Satria hanya mengedipkan sebelah mata ke arah Laras sambil tersenyum tipis. Berbeda dengan kakaknya yang dingin, Kiki justru meletakkan ponselnya. Dia turun dari sofa lalu berjalan mengelilingi Satria seolah sedang memeriksa barang dagangan.
Langkah kaki Kiki pelan dan sengaja dibuat menggoda. Gadis muda itu berhenti tepat di samping Satria lalu membungkuk sedikit ke arahnya.
"Kak Vera jahat banget sih sama tamu," komentar Kiki dengan nada manja.
Posisi membungkuk Kiki membuat belahan dadanya yang tertutup tanktop longgar terlihat sangat jelas oleh Satria. Satria bisa melihat belahan yang dalam dan kulit putih susu yang menggoda iman.
"Hai, Kak Satria," sapa Kiki dengan senyum nakal. "Urat tangannya bagus juga ya, Kak, kelihatan maco banget dan kuat."
Kiki memberanikan diri mencolek lengan Satria dengan telunjuknya yang lentik. Dia menekan otot lengan Satria dengan gemas.
"Keras juga ternyata, padahal kelihatannya kurus dari jauh."
"Eh anu, biasa aja kok, Non," jawab Satria gugup. "Ini cuma efek angkat galon tiap hari di kafe."
Kiki terkikik geli melihat reaksi Satria yang polos dan grogi. Dia semakin mendekatkan tubuhnya hingga aroma parfum manisnya tercium jelas oleh Satria. Paha mulus Kiki yang terekspos hotpants berada tepat di depan wajah Satria.
"Panggil Kiki aja nggak usah pakai Non segala. Eh, Kak Satria punya pacar nggak sih?" tanya Kiki genit.
"KIKI!" bentak Vera keras dari sofa. "Jangan genit sama preman pasar dekil itu! Masuk kamar sana sekarang juga! Dan kamu Satria, tugasmu jaga keamanan bukan tebar pesona sama adik saya."
Vera berdiri dan menunjuk ke arah pintu depan dengan jari telunjuknya.
"Sana jaga di teras depan sekarang juga! Jangan masuk ke dalam kalau nggak dipanggil sama orang rumah. Risih saya lihat orang asing dekil di dalam rumah mewah ini."
Satria langsung berdiri tegak dengan sigap. Dia merasa lega bisa keluar dari situasi panas yang menyiksa ini.
"Siap, Nona, saya permisi ke depan," ucap Satria.
Tanpa banyak bicara lagi, Satria melangkah keluar menuju teras depan yang luas. Dia menghirup udara malam yang segar dalam-dalam untuk mendinginkan kepalanya. Berada di dalam ruangan itu dengan dua wanita seksi yang menggoda membuatnya pusing tujuh keliling.
Di teras suasana sangat sepi dan tenang. Satria duduk di anak tangga teras menatap gerbang yang tertutup rapat.
"Orang kaya emang aneh-aneh seleranya," gerutu Satria pelan. "Yang satu galak kayak macan betina yang satu genit kayak kucing garong."
Waktu berlalu lambat. Jarum jam tangan Satria menunjukkan pukul dua belas malam lewat. Udara semakin dingin menusuk tulang. Rasa kantuk mulai menyerang ditambah rasa bosan yang luar biasa.
Satria berdiri lalu meregangkan badannya yang kaku. Otot-ototnya terasa pegal dan butuh peregangan yang serius.
"Daripada ngantuk mending manasin mesin badan," pikir Satria.
Dia melepas jaket jinsnya dan meletakkannya di lantai teras. Kini hanya tersisa kaos oblong putih tipis yang melekat pas di badannya. Kaos itu mencetak jelas bentuk otot dada dan perutnya yang keras.
Satria mengambil posisi push-up di lantai marmer teras yang dingin. Dia menumpu berat badannya pada kedua tangannya yang kekar.
"Satu, dua, tiga, empat," hitung Satria dalam hati.
Satria mulai melakukan push-up dengan semangat. Gerakannya bukan gerakan asal-asalan. Dia melakukannya dengan tempo cepat namun rentang gerak penuh dan sempurna. Dada bidangnya hampir menyentuh lantai lalu dia mendorong ke atas dengan ledakan tenaga.
Tanpa Satria sadari ada sepasang mata yang mengintip dari dalam rumah. Di balik jendela kaca besar ruang tengah yang tertutup tirai tipis itu Kiki sedang berdiri.
Kiki belum tidur karena masih penasaran dengan satpam baru itu. Dia diam-diam mengamati Satria dari balik gorden dengan napas tertahan. Awalnya dia hanya iseng karena bosan. Namun matanya membelalak kagum saat melihat Satria mulai berolahraga.
"Gila badannya bagus banget," desis Kiki tanpa sadar.
Melihat aura permusuhan yang makin pekat di antara Vera dan Kiki, Satria langsung mengambil keputusan cepat. Berlama-lama di tempat ini hanya akan membuat dirinya terseret ke dalam pusaran drama keluarga yang sama sekali tidak menguntungkan baginya.Satria langsung mengambil helmnya yang sempat ditaruh di spion motor, lalu sedikit membungkuk sopan ke arah Vera."Non Vera, kalau urusan ini sudah jelas, saya izin ke kamar duluan untuk bersih-bersih dan istirahat," pamit Satria dengan nada yang sangat lempeng, berusaha memotong jalur sebelum Kiki kembali berulah.Vera mengalihkan pandangan tajamnya dari Kiki ke arah Satria. Dia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya yang sempat naik ke ubun-ubun akibat ulah manja adiknya."Ya sudah, kamu boleh ke kamar," jawab Vera, suaranya sudah kembali datar meskipun sisa-sisa kekesalan masih terlihat di matanya.Namun, baru saja Satria membalikkan badan dan melangkah dua kali menuju paviliun tempat kamarnya berada, suara Vera kembali terd
Mendengar penjelasan Satria yang begitu tenang dan masuk akal, Vera tidak langsung merespons. Dia justru membalikkan badannya perlahan, mengalihkan pandangan tajamnya ke arah pilar besar yang berada di dekat pintu masuk teras rumah utama."Keluar, Kiki. Sampai kapan kamu mau sembunyi di situ?" panggil Vera dengan nada suara yang meninggi, memberi perintah tegas.Tidak lama kemudian, sosok Kiki perlahan muncul dari balik pilar tersebut. Gadis itu ternyata sejak tadi diam-diam berdiri di sana, menguping pembicaraan antara Vera dan Satria dengan wajah yang awalnya tegang.Begitu tatapan mata Vera mengunci posisinya dengan sangat tajam, Kiki tidak bisa mengelak lagi. Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat cerita bohong dan melebih-lebihkan keadaan, Kiki justru melangkah maju sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Gadis itu menatap Vera lalu beralih ke arah Satria sambil tersenyum kuda, sebuah cengiran canggung yang dipaksakan untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku."He
Satria merasa urusannya di gang buntu itu sudah benar-benar selesai. Hari juga sudah semakin sore, langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Dia harus segera kembali ke rumah utama sebelum Nona Vera atau Laras menyadari bahwa dia pergi terlalu lama."Ya sudah, Rani. Berhubung semua sudah aman, aku pamit duluan ya. Kamu sebaiknya langsung pulang dan lewat jalan raya yang ramai saja," kata Satria sambil bersiap memakai kembali helmnya.Namun, Rani tidak membiarkan pemuda itu pergi begitu saja. Gadis itu langsung melangkah maju, menghalangi pergerakan Satria yang hendak naik ke atas jok motor trailnya."Tunggu dulu, Mas Satria! Jangan buru-buru pergi dong," seru Rani cepat. Dia buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar, lalu menyodorkannya ke arah Satria. "Boleh minta nomor teleponmu tidak? Ya buat jaga-jaga saja, siapa tahu gerombolan si gondrong tadi masih penasaran dan mencariku lagi."Satria menatap layar ponsel di hadapannya, lalu berali
Si gondrong yang menjadi pemimpin gerombolan itu berusaha keras untuk bangkit. Sambil memegangi ulu hatinya yang masih terasa sangat nyeri dan sesak, dia menatap Satria dengan tatapan penuh ketakutan. Nyalinya sudah benar-benar ciut setelah melihat semua anak buahnya tumbang tanpa bisa menyentuh ujung baju pemuda di depannya.Satria hanya berdiri tegak sambil memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit. Pandangan matanya yang dingin seolah memberi isyarat bahwa kesabarannya sudah habis."Tunggu apa lagi? Mau merasakan pukulan yang lebih keras?" tanya Satria dengan nada suara yang sangat tenang, namun terdengar begitu mengancam.Mendengar ucapan itu, si gondrong langsung panik setengah mati. "Cepat bangun! Kabur! Kabur sekarang!" teriaknya dengan suara serak kepada anak buahnya yang lain.Mendengar perintah sang ketua, empat preman lainnya langsung bergerak serabutan. Mereka bangun dengan tubuh yang gemetaran dan menahan rasa sakit di sekujur badan. Ada yang memegangi
Satria malah tertawa lepas mendengar perintah dari pria berambut gondrong itu. Suara tawanya terdengar sangat santai dan menggema di dalam gang buntu, membuat sisa preman yang ada di sana merasa makin dihina.Satria menyunggingkan senyum sinis lalu menjibir ke arah mereka."Maju bertiga saja?" cibir Satria sambil menggerakkan jari telunjuknya, memberi isyarat agar mereka mendekat. "Tanggung amat. Mending kamu yang gondrong juga ikutan maju sekalian berempat. Biar cepat selesai dan aku bisa langsung pulang buat mandi sore."Tantangan terbuka dari Satria benar-benar meruntuhkan sisa-sisa logika gerombolan motor tersebut. Mereka tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang senekat ini, yang justru minta dikeroyok saat posisinya sedang terpojok di dalam gang."Bocah sombong! Jangan menyesal kalau pulang tinggal nama ya!" teriak si gondrong yang akhirnya ikut meledak emosinya. Dia langsung mencabut sebilah balok kayu dari motornya sendiri dan ikut bersiap maju."Habisi dia sekarang!"E
Pria berambut gondrong itu mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar dua temannya menahan diri sebentar. Dia tersenyum sinis, merasa tidak ada salahnya membeberkan "dosa" targetnya sebelum mereka benar-benar menghajar Satria."Kamu mau penjelasan? Oke, biar kamu paham seberapa busuknya dua orang di ujung gang itu," kata pria gondrong itu sambil menunjuk kasar ke arah si wanita. "Perempuan sialan ini baru saja menang balapan di sirkuit pinggiran dengan cara curang! Dia bermain kotor, lalu langsung membawa pergi uang taruhannya begitu saja tanpa mau menyelesaikan urusan dengan bos kami!"Mendengar tuduhan sepihak itu, wajah wanita di ujung gang langsung memerah karena campur aduk antara marah dan takut. Dia tidak terima namanya difitnah di depan orang yang berniat menolongnya."Mereka bohong, Mas! Jangan percaya!" teriak wanita itu dengan lantang, suaranya bergetar hebat menahan emosi. "Mereka semua bohong! Mereka sengaja mau menjebakku karena tidak terima kelompok mereka kalah







