FAZER LOGIN"Empat puluh, lima puluh, enam puluh," Kiki menghitung dalam hati.
Napas Kiki ikut tertahan melihat pemandangan itu. Wajahnya memerah dan tubuhnya terasa panas melihat pemandangan maskulin itu. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan desahan kagum.
Satria berhenti sejenak di posisi atas untuk variasi gerakan. Dia menahan berat badannya dengan satu tangan saja sambil menyeka keringat di dahi. Otot lengan tricep-nya menegang keras menahan beban tubuhnya yang berat.
"Astaga itu manusia apa robot sih?" batin Kiki kagum. "Kak Vera buta banget bilang dia kurus kering tadi. Itu body goal banget buat dipeluk. Ahhh, jadi pengen pegang ototnya yang basah itu, mmphh!"
Tangan Kiki tanpa sadar meraba kaca jendela yang dingin. Dia membayangkan sedang menyentuh punggung Satria yang keras dan basah oleh keringat.
Namun, kekagumannya buyar seketika karena gangguan dari luar. Sorot lampu mobil yang menyilaukan tiba-tiba menembus gerbang depan. Sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di depan gerbang dengan suara ban berdecit keras.
"KYAAAAA!"
Jeritan histeris Kiki memecah keheningan malam itu. Suaranya menembus dinding-dinding tebal rumah mewah itu hingga ke lantai atas.
Satria yang sedang push-up langsung melompat berdiri dalam posisi siaga tempur. Urat-urat di leher dan tangannya menegang siap menghadapi bahaya.
Vera yang tertidur di sofa langsung terbangun dengan jantung berdegup kencang karena kaget.
Laras di kamarnya nyaris jatuh dari tempat tidur saking kagetnya mendengar teriakan adiknya.
"Ada apa, Kiki?" tanya Vera dengan suara tertahan.
Kiki tidak sanggup menjawab karena mulutnya terkunci rapat oleh rasa takut. Dia hanya menunjuk ke arah jendela depan dengan jari gemetar.
DUG!
Suara hantaman benda keras pada pagar besi terdengar nyaring dan memekakkan telinga.
"Keluar kau sekarang, Laras!"
Itu suara Kevin. Berat, parau, dan jelas dalam pengaruh alkohol.
"Buka pintunya atau kami bakar rumah ini! Cepat!"
Vera langsung mengintip dari balik tirai. Matanya membelalak ngeri. Dugaan Laras benar, Kevin datang menepati janji busuknya.
Kevin tidak sendiri. Di bawah sorot lampu taman, berdiri lima pria berbadan besar. Penampilan mereka mengintimidasi dengan tato di lengan dan leher, menggenggam balok kayu serta pipa besi.
Di dalam rumah, topeng ketenangan Vera runtuh. Kakinya lemas hingga harus berpegangan pada pinggiran jendela.
"Itu preman beneran. Kevin gila," desis Vera dengan napas memburu. Keringat dingin mulai membasahi lehernya. "Telepon polisi, Laras! Cepat!"
"HP aku mati, Kak! Charger di atas, aku nggak bisa naik tangga," jawab Laras panik sambil mencengkeram kursi rodanya.
Kiki menangis di pojokan sofa sambil memeluk bantal erat-erat. "Kak Vera, aku takut. Kalau mereka masuk gimana?"
TRANG!
Pagar kembali dipukul, kali ini dengan pipa besi.
"Woi, jangan ngumpet! Aku tahu kalian di dalam!" teriak Kevin lagi. "Satu menit nggak keluar, kami dobrak pagar ini!"
Kepanikan melanda ruangan itu. Namun tiba-tiba, pintu kaca menuju teras depan terbuka. Angin malam berhembus masuk. Satria melangkah masuk sebentar, menatap ketiga wanita itu dengan tenang.
Dia hanya mengenakan kaos singlet putih yang mencetak otot tubuhnya.
"Tetap di dalam. Jangan ada yang keluar," perintah Satria datar.
Lalu dia berjalan santai menuju pintu gerbang kecil di samping pagar utama.
"Satria, jangan keluar! Mereka banyak!" seru Laras.
"Masuk, Bodoh! Mau mati konyol?!" bentak Vera histeris.
Satria hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis. "Tugas saya jaga rumah ini. Kalau saya di dalam, siapa yang jaga di luar?"
Tanpa peduli larangan Vera, Satria melangkah keluar. Dia menutup pintu gerbang kecil itu dari luar dan mengunci dirinya bersama keenam pria berbahaya itu di jalanan depan rumah.
Kevin yang bersiap memukul gembok pagar langsung berhenti. Dia menyeringai licik.
"Wah, lihat siapa yang keluar," ejek Kevin. "Pahlawan kesiangan. Babu kafe yang sok jagoan."
Lima preman di belakangnya tertawa meremehkan. Mereka menatap tubuh Satria yang terlihat kecil dibanding otot-otot mereka yang beringas.
"Siapa bocah ini, Bos? Kecil amat," tanya preman bertato naga sambil menepuk-nepuk balok kayu. "Sekali pukul juga patah tulang."
"Minggir, Cungkring! Mau mati?" bentak preman lain yang giginya ompong.
Kevin maju selangkah, menunjuk wajah Satria dengan telunjuk gemetar.
"Nah, ini dia. Baguslah kau nyerahin nyawa," kata Kevin penuh dendam. "Habisi dia dulu! Siapa yang bisa bikin dia cacat, aku kasih bonus lima puluh juta malam ini!"
Mendengar bonus itu, mata para preman langsung berbinar buas. Tanpa aba-aba, preman bertato naga menerjang sambil mengayunkan balok kayu.
"Mati kau!"
Di balik jendela, Vera menutup mata. Laras menahan napas. Kiki mengintip dari sela jari kakaknya.
Namun, Satria tidak mundur.
Dia justru maju setengah langkah menyambut serangan. Gerakannya cepat dan efisien. Satria menunduk sedikit menghindari ayunan balok, lalu melesatkan tinju kanan lurus ke depan.
Bugh!
KRAK!
Pukulan itu menghantam tepat di tengah hidung si preman.
"Aaargh!"
Darah segar muncrat. Preman itu terhuyung, menjatuhkan baloknya, lalu jatuh berlutut memegangi wajah yang berlumuran darah.
Suasana hening seketika. Kevin melongo tak percaya. Empat preman lainnya terdiam kaget melihat teman mereka tumbang satu pukulan.
Satria berdiri tegak, mengibas tangannya santai. Tatapannya dingin.
"Siapa lagi?" tanyanya datar.
"Sialan! Keroyok!" teriak preman ompong panik.
Dua orang sekaligus maju menyerang dari kiri dan kanan. Satu memukul, satu menendang.
Satria berputar seperti gasing. Kaki kanannya melayang melakukan tendangan memutar yang akurat. Ujung sepatunya menghantam telak selangkangan preman ompong.
DUG!
"Aduh, bijiku!"
Preman itu membelalak, wajahnya biru menahan sakit, lalu ambruk mencium aspal.
Preman satunya lagi mencoba memukul. Satria menangkap lengan itu, memelintirnya ke belakang punggung sampai berbunyi krak, lalu mendorongnya keras hingga menabrak temannya yang bertubuh paling besar.
Gedebuk!
"Bangsat! Minggir!" bentak preman berbadan raksasa itu sambil mendorong temannya jatuh.
Si raksasa maju dengan geraman marah. Dia merentangkan tangan lebar-lebar, berniat memeluk dan meremukkan tubuh Satria.
"Mati kau, Tikus!"
Satria tenang menunggu. Saat tangan raksasa itu hampir menangkapnya, dia merendahkan tubuh secepat kilat, menyusup ke bawah ketiak, lalu menyapu kedua kaki raksasa itu dengan tendangan bawah yang keras.
BRAK!
Tubuh besar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang menghantam aspal dengan suara dentuman keras. Tanah terasa bergetar.
"Ugh..." Si raksasa mengerang sesak.
Dalam waktu kurang dari lima menit, empat preman tumbang. Satu preman tersisa gemetar ketakutan, menjatuhkan rantai besinya, lalu mundur perlahan.
Kini tinggal Kevin yang berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi, mabuknya hilang seketika digantikan teror murni.
Satria melangkah mendekati Kevin.
"Mas Kevin, mau ngomong apa lagi?" panggil Satria pelan.
"J-jangan... jangan mendekat! Gue laporin polisi lo!" cicit Kevin, kakinya gemetar hebat sampai beradu.
Satria mengangkat tangan hanya untuk merapikan rambut. Tapi bagi Kevin, itu terlihat seperti ancaman maut.
"Ampun! Jangan bunuh aku!"
Kevin menjerit histeris. Dia berbalik ingin lari ke mobilnya, tapi kakinya lemas hingga tersandung dan jatuh tersungkur. Dia merangkak bangun dengan panik, lalu lari terbirit-birit meninggalkan mobil mewahnya dan teman-temannya yang masih teler.
"Tolong! Ada setan! Tolong!" teriaknya menjauh, hilang di kegelapan malam.
Satria hanya menggelengkan kepala melihatnya. "Baru segitu doang mentalnya."
Di dalam rumah, tiga wanita cantik itu masih berdiri mematung di balik jendela. Vera melongo tak percaya. Otak logisnya macet melihat sopir kurusnya meratakan lima preman sendirian.
Vera menatap punggung Satria yang basah keringat dengan tatapan berbeda. Ada rasa kagum yang menyelinap. Dada bidang Satria yang naik turun mengatur napas terlihat sangat seksi di matanya.
Kiki berhenti menangis, matanya berbinar. "Gila, keren banget Mas Rafli..."
Laras tersenyum bangga sambil menangis haru, menempelkan tangan ke kaca seolah ingin menyentuh sosok pelindungnya.
"Itu Satria, Kak. Itu Satria penolong kita."
Satria berbalik, menatap ke arah jendela, lalu tersenyum tipis sambil mengacungkan jempol. Senyum itu membuat jantung ketiga wanita di dalam rumah berdegup kencang bersamaan.
Satria merapikan kaos singletnya. Otot bisepnya menegang keras saat dia menyeka keringat di dahi. Gerakan sederhana itu terlihat sangat maskulin dan menggoda di mata para wanita yang menontonnya dengan tatapan lapar.
Sore itu, langit di atas ibu kota perlahan berubah warna menjadi gradasi jingga keemasan yang indah. Sinar matahari yang mulai condong ke barat menyinari halaman depan kediaman Vera, memantulkan bayangan pepohonan kamboja di atas rumput hijau yang tertata rapi.Vera duduk di kursi rotan teras depan, mengenakan sweater rajut tipis berwarna biru muda. Di tangannya, sebuah cangkir keramik berisi teh kamomil hangat mengepulkan uap tipis beraroma menenangkan. Matanya memandang ke luar gerbang, menikmati ketenangan suasana lingkungan perumahan yang sepi dari hiruk-pikuk kendaraan.Satria melangkah keluar dari pintu utama membawa nampan kecil berisi piring penganan ringan berupa kue lapis tradisional. Pria berkaus polos hitam itu meletakkan nampan di atas meja bundar kecil, lalu menarik kursi untuk duduk di sebelah Vera."Silakan dicicipi, kue lapisnya baru saja dikirim tadi siang oleh Bi Inah," ujar Satria sambil tersenyum tipis.Vera mengambil sepotong kue lapis berwarna hijau pastel, lalu
Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri dan menenangkan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantulkan warna jingga keemasan di atas permukaan kolam ikan kecil, sementara angin sepoi-sepoi berhembus pelan menggoyang dahan-dahan tanaman hias.Vera duduk santai di kursi rotan panjang, mengenakan sweater rajut tipis berwarna krem. Di pangkuannya, sebuah buku novel fiksi terbuka, namun perhatiannya lebih sering tertuju pada sosok Satria yang sedang merapikan tanaman pot di sudut halaman.Pria berkaus gelap itu tampak telaten menyiram tanah di sekitar tanaman bunga kamboja, memastikan semuanya tertata rapi. Gerakannya tenang, mencerminkan kedamaian jiwa yang telah ia temukan sepenuhnya setelah sekian lama hidup dalam ketegangan dunia luar.Vera menutup bukunya perlahan, lalu tersenyum tipis. "Sat, udah sore banget nih. Sini istirahat dulu, temenin saya nikmati teh hangat."Satria menghentikan kegiatannya, menaruh selang air pada tempatnya, lalu berjalan menghampi
Lampu gantung dengan pendar kuning hangat menyinari seluruh sudut ruang keluarga rumah Vera. Di luar, malam Minggu berjalan dalam keheningan yang menyenangkan, ditemani gerimis tipis yang sesekali mengetuk kaca jendela dengan lembut.Vera duduk berselonjor santai di atas sofa abu-abu yang empuk, mengenakan piyama katun bermotif lembut. Di atas meja kayu di hadapannya, semangkuk besar berisikan keripik singkong keju dan dua kaleng soda dingin tersaji rapi, menemani layar televisi yang sedang menayangkan film dokumenter alam liar.Satria duduk di ujung sofa sebelah kiri, sedang merapikan beberapa perkakas pertukangan kecil di dalam kotak kayu miliknya. Gerakannya tenang dan terukur, menunjukkan ketelatenan yang selalu berhasil membuat Vera kagum.Vera mengambil sepotong keripik, lalu menoleh ke arah Satria. "Sat, filmnya lagi seru nih. Kamu beneran nggak mau nonton sebentar? Dari tadi sibuk mulu sama kotak perkakas."Satria mendongak, tersenyum tipis melihat ekspresi iseng di wajah atas
Sinar matahari pagi menyinari pekarangan rumah Vera dengan kehangatan yang menenangkan. Burung-burung berkicau riang di dahan pohon mangga, menyambut hari baru yang bersih tanpa ada sisa awan mendung di langit ibu kota.Di ruang makan, aroma kopi hitam pekat bercampur dengan harumnya roti panggang mentega memenuhi udara. Vera melangkah turun dari tangga dengan mengenakan pakaian santai rumahan, rambut panjangnya diikat longgar ke belakang.Satria sudah berdiri di dekat meja dapur, menuangkan sisa air panas ke dalam cangkir keramik putih. Pria itu mengenakan kaus abu-abu polos yang membuatnya tampak santai dan jauh dari kesan kaku seorang pengawal profesional.Mendengar langkah kaki mendekat, Satria menoleh dan tersenyum tipis. "Pagi, Vera. Kopinya baru saja siap, pas banget sama kamu yang turun jam segini."Vera menarik kursi lalu duduk, menyambut cangkir hangat yang disodorkan Satria dengan senyuman lebar. "Pagi, Sat. Wah, kamu kayaknya punya jam alarm internal ya, selalu pas banget
Sinar matahari pagi Minggu itu memantul cerah di atas permukaan air kolam ikan kecil yang terletak di sudut halaman belakang rumah Vera. Airnya yang jernih memperlihatkan beberapa ekor ikan koi berenang tenang ke sana ke mari, menciptakan riak kecil yang memecah keheningan pagi.Vera duduk di kursi rotan teras belakang sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat yang baru saja diseduh. Ia mengenakan pakaian santai rumahan berwarna putih polos, dengan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai natural diterpa angin sepoi-sepoi.Satria melangkah keluar dari arah dapur membawa nampan kecil berisi piring penganan tradisional—beberapa potong pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan. Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas meja bundar di hadapan Vera, lalu menarik kursi untuk duduk di seberangnya."Wah, kebetulan banget lagi pengen yang manis-manis," ucap Vera antusias sambil mengambil sepotong pisang goreng yang masih mengepulkan uap tipis.Satria tersenyum tipis, lalu menuangka
Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyinari barisan pot tanaman hias dan rumput hijau yang tertata rapi. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa kesejukan yang menenangkan setelah seharian cuaca cukup terik.Vera duduk di kursi teras kayu sambil mengenakan kardigan rajut tipis berwarna krem. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil terbuka, tapi perhatiannya justru lebih banyak tertuju pada sosok Satria yang sedang menyiram deretan tanaman anggrek di sudut halaman.Pria berkaus gelap itu tampak telaten mengarahkan selang air kecil, memastikan setiap akar tanaman mendapat pasokan air yang cukup. Gerakannya tenang dan penuh konsentrasi, seolah merawat tanaman adalah misi paling penting yang harus diselesaikannya hari ini.Vera tersenyum tipis melihat keseriusan pengawalnya itu. "Sat, kayaknya tanaman anggrek di situ udah kebanyakan air deh. Nanti malah busuk akarnya kalau disiram terus."Satria menghentikan aliran ai







