FAZER LOGINSatria menghembuskan napas panjang setelah selesai merekatkan ujung perban di kaki Laras. Betis putih mulus gadis itu kini terbungkus rapi oleh kain cokelat elastis. Satria masih bisa merasakan sisa kehalusan kulit Laras yang menempel di ujung jari-jarinya yang kasar.
"Sudah beres nih, Mbak Laras, coba gerakkan jarinya pelan-pelan," ucap Satria sambil menyeka keringat di dahinya.
Laras menurut dan menggerakkan jari kakinya perlahan. Rasa nyeri itu masih ada namun sudah jauh berkurang berkat pijatan Satria.
"Sudah mendingan banget rasanya, makasih banyak ya, Mas Satria," ucap Laras tulus.
Dinda yang duduk di ujung sofa mendengus kasar melihat adegan itu. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada hingga seragam ketatnya semakin menonjolkan bentuk buah dadanya. Matanya menyipit tajam mengawasi gerak-gerik Satria agar tidak melenceng lagi ke area paha Laras.
Pintu belakang ruang istirahat tiba-tiba terbuka lebar dan seorang pria tua masuk dengan langkah tenang ke dalam ruangan.
Satria dan Dinda sontak berdiri waspada melihat orang asing masuk sembarangan. Satria bahkan refleks menggeser tubuh tegapnya untuk menutupi tubuh Laras yang masih berantakan di sofa.
"Maaf, Pak, Bapak ini siapa? Ini area karyawan dilarang masuk," tegur Satria tegas.
Pria tua itu tersenyum tipis melihat sikap protektif Satria. Laras yang berada di balik punggung Satria tiba-tiba berseru kaget melihat wajah pria itu.
"Kakek? Kakek ngapain ke sini pakai baju jelek begitu?" tanya Laras bingung.
Ternyata orang itu adalah Abimanyu, kakek kandung Laras yang kaya raya. Dia sengaja menyamar gembel untuk mengawasi cucunya tanpa menarik perhatian musuh bisnisnya. Abimanyu berjalan mendekat ke arah sofa tempat Laras duduk.
"Sstt, pelankan suaramu itu, Laras," ujar Abimanyu sambil mengangkat telunjuknya.
Abimanyu menatap kaki Laras yang diperban sekilas lalu beralih menatap Satria dengan penilaian mendalam. Mata tuanya meneliti tubuh tegap Satria dari ujung kaki sampai kepala.
"Jadi kamu pemuda yang tadi menendang pintu toilet sampai rusak itu?" tanya Abimanyu.
Satria mengangguk ragu sambil menggaruk belakang kepalanya. "Iya, Pak, maaf kalau pintunya rusak parah tadi, itu darurat."
"Saya tidak peduli sama pintu itu," potong Abimanyu cepat. "Saya butuh orang laki-laki yang bisa diandalkan malam ini juga. Kevin mengancam akan mendatangi rumah Laras dan di sana cuma ada perempuan."
Abimanyu merogoh saku celananya yang kedodoran itu dengan santai. Dia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat yang terlihat padat berisi.
"Saya ingin menyewa jasamu malam ini saja untuk menjaga rumah Laras. Tugasmu hanya satu yaitu pastikan tidak ada laki-laki bernama Kevin yang mengganggu cucu saya."
Abimanyu meletakkan amplop itu di telapak tangan Satria dengan mantap.
"Di situ ada uang tunai dua juta rupiah buat kamu. Itu bayaranmu untuk satu malam ini saja menjaga rumah Laras."
Mata Satria langsung membelalak lebar melihat amplop tebal di tangannya. Dua juta rupiah tunai di depan mata hanya untuk kerja satu malam. Otak Satria langsung berhitung cepat layaknya kalkulator berjalan. Dua juta itu setara dengan gajinya sebulan penuh di kafe ini.
"Dua juta, Pak, cuma buat jaga rumah semalam doang?" tanya Satria memastikan dengan suara bergetar.
"Betul sekali, kamu mau ambil tawaran ini?" tantang Abimanyu.
"Siap, Pak, saya bersedia banget!" jawab Satria cepat tanpa pikir panjang. "Bapak tenang saja karena saya akan jaga Mbak Laras. Nyamuk pun nggak bakal saya izinkan gigit Mbak Laras apalagi si Kevin."
Laras tersenyum manis melihat semangat Satria yang berapi-api. Namun Dinda di pojokan justru cemberut sambil menggigit bibir bawahnya karena kesal. Abimanyu menyerahkan kartu nama berisi alamat rumah di kawasan elite Menteng.
Satria membantu memapah Laras keluar lewat pintu belakang dengan hati-hati. Tangan Laras berpegangan erat pada lengan kekar Satria yang membantunya berjalan. Satria bisa merasakan dada Laras yang empuk menempel sekilas di lengan atasnya saat gadis itu masuk ke mobil. Sensasi itu membuat 'Si Pusaka' di dalam celananya berkedut pelan.
"Hati-hati ya, Mas Satria, nanti ketemu di rumah aku," ucap Laras lembut.
Mobil sedan mewah itu pun melaju pergi membawa Laras dan kakeknya. Satria masih berdiri sebentar sambil memandangi mobil itu menghilang di kegelapan.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam saat Kafe Kopi Senja tutup. Satria baru saja selesai mengganti seragamnya dengan kaos oblong putih ketat. Kaos oblong itu mencetak jelas otot dada dan perut Satria yang keras.
"Rezeki anak sholeh emang nggak ke mana," gumam Satria sambil bersiul kecil.
Baru saja kakinya melangkah keluar dari ruang ganti karyawan yang sepi, sebuah tangan mungil mencengkeram kerah jaketnya dengan kasar. Satria tersentak kaget karena tarikan itu cukup kencang.
"Eits, mau ke mana Bang Toyib enak aja mau kabur," suara Dinda terdengar tajam.
Satria menoleh dan melihat Dinda berdiri dengan tatapan marah bercampur nafsu. Seragam ketat Dinda terlihat semakin seksi di bawah lampu remang-remang lorong itu.
"Din, lepasin dong aku buru-buru nih mau kerja lagi," protes Satria.
Bukannya melepaskan, Dinda malah menarik Satria dengan tenaga penuh ke arah lain. Gadis itu membawanya masuk ke dalam gudang penyimpanan biji kopi di sebelah dapur. Dinda membanting pintu gudang dan menguncinya dari dalam dengan gerakan cepat.
Ruangan itu gelap gulita dan pengap oleh aroma kopi. Dinda langsung mendorong tubuh Satria kasar hingga punggung pemuda itu menabrak tumpukan karung.
"Tadi sore di pantry urusan kita belum selesai, Satria," bisik Dinda dengan suara berat.
Tubuh Dinda menempel rapat ke tubuh Satria tanpa menyisakan jarak sedikit pun. Dada gadis itu yang berisi menekan dada bidang Satria dengan agresif. Satria bisa merasakan kedua gundukan kenyal itu menghimpit dadanya dengan kuat.
"Hah, yang man... hmph!"
Belum sempat Satria menyelesaikan kalimatnya bibir Dinda sudah menyambar bibirnya dengan kasar. Dinda melumat bibir Satria dengan penuh nafsu seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Satria membelalak kaget tangannya melayang di udara karena bingung. Namun aroma tubuh Dinda yang manis dan gesekan tubuh gadis itu memabukkan. Pertahanan Satria goyah seketika merasakan agresivitas rekannya itu.
'Si Pusaka' Satria langsung bangun dari tidurnya dan menegang keras di dalam celana jins. Batang keras itu tertekan di antara perut Satria dan perut rata Dinda. Dinda yang merasakan tonjolan keras itu justru semakin menekan pinggulnya ke depan.
"Mhh, Din, tunggu dulu," Satria berusaha bicara di sela-sela serangan bibir Dinda.
Dinda tidak peduli sama sekali dan tangannya melingkar erat di leher Satria.
Lidah Dinda menerobos masuk ke dalam mulut Satria dan mengajak lidah pemuda itu beradu dengan panas. Mereka berciuman gila-gilaan di tengah kegelapan gudang yang sempit itu.
Setelah beberapa saat yang panas Dinda melepaskan tautan bibir mereka dengan napas tersengal. Wajahnya masih berada sangat dekat dan hidung mereka bersentuhan dalam gelap. Mata Dinda berkilat menatap Satria dengan tatapan posesif.
"Dengarkan aku baik-baik," bisik Dinda dengan suara serak yang seksi. "Kamu boleh pergi ke rumah cewek kaya itu malam ini dan terima duitnya. Tapi ingat satu hal ini baik-baik."
Dinda mendekatkan bibirnya ke telinga Satria dan menjilat cuping telinganya pelan. Lidahnya turun mencium rahang pemuda itu dengan gerakan yang lambat dan menggoda.
"Aduh, Din, geli banget," Satria merinding hebat merasakan jilatan itu.
"Jangan macam-macam sama si Laras," lanjut Dinda dengan nada mengancam di leher Satria.
Bibir Dinda mengecup kulit leher Satria dengan sedikit gigitan kecil yang menyakitkan. Gigitan itu meninggalkan bekas merah yang cukup jelas di kulit leher Satria. Itu adalah tanda kepemilikan yang sengaja Dinda buat agar terlihat orang lain.
"Mata kamu boleh lihat kemewahannya tapi hati sama badan kamu tetap punya aku. Awas kalau kamu tergoda sama paha putih si Laras itu. Punya kamu ini cuma jatah aku seorang."
Tangan Dinda meraba bagian depan celana Satria dan meremas 'Si Pusaka' sekilas. Satria menelan ludah susah payah karena kaget dengan serangan tangan itu. Dia bisa merasakan tangan nakal Dinda meremas aset masa depannya dengan gemas.
"I-iya, Din, ampun janji deh," jawab Satria pasrah dengan napas tertahan. "Aku ke sana cuma kerja jadi satpam dadakan doang kok."
"Bagus kalau begitu," ucap Dinda puas.
Dia memberikan satu kecupan terakhir yang panjang di leher Satria sebagai penutup. Dinda melepaskan pelukannya perlahan dan mundur selangkah. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sambil tersenyum puas.
"Sana pergi sekarangl hati-hati di jalan!" ucap Dinda ceria.
Nada bicaranya tiba-tiba berubah manis seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Satria masih bersandar di tumpukan karung kopi dengan kaki lemas seperti jeli. Sensasi remasan tangan Dinda masih terasa nyata dan berdenyut di selangkangannya.
"Ganas bener cewek satu ini," gumam Satria sambil meraba lehernya yang perih.
Dia buru-buru mengeluarkan ponsel untuk dijadikan cermin darurat. Di layar yang gelap dia bisa melihat samar-samar ada noda merah muda bekas gigitan cinta Dinda.
"Waduh kalau ini kelihatan orang rumah Laras bisa gawat," panik Satria.
Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya, mundur selangkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Satria. Matanya menyalang penuh dendam. Dia tidak terima dipermalukan oleh seorang "kacung" berseragam rapi yang dia anggap hanya modal tampang."Berani sekali kau..." geram Bang Jago, ludahnya muncrat. Dia menoleh ke arah salah satu anak buahnya yang paling besar—seorang pria bertubuh tambun dengan lengan sebesar paha orang dewasa dan tato tengkorak di lehernya. Orang memanggilnya Si Sumo."Sumo! Hancurkan kepalanya! Bikin dia nyesel udah lahir!" teriak Bang Jago memberi perintah.Sumo menyeringai lebar, memamerkan gigi kuningnya yang jarang-jarang. Dia berdiri dari bangku kayu panjang, membuat bangku
Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya tetap cepat dan berirama, sepatu hak tingginya menapak tegas di atas tanah yang tidak rata, memancarkan aura dominasi yang membuat siapa pun menyingkir.Satria berjalan satu langkah di belakang sisi kanan Vera. Matanya yang tajam di balik kacamata hitam yang tadi dipaksa beli oleh Vera memindai setiap sudut. Dia melihat para pekerja proyek yang duduk bergerombol di atas tumpukan bata hebel menatap kedatangan mereka dengan ekspresi campur aduk: kaget, heran, dan takut.Mereka seperti melihat alien turun dari langit. Seorang wanita cantik berpenampilan eksekutif masuk ke area proyek yang kotor, diikuti seorang pria berbadan tegap yang terlihat seperti aktor film laga.Vera berhenti tepat di d
Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsleting jaketnya sampai dada untuk menutupi tubuh bertelanjang dadanya di balik jaket.Satria berjalan menuju ruang tengah dengan langkah ringan. Di sana, pemandangan pagi keluarga kaya raya tersaji di depan matanya.Kiki sudah siap berangkat kuliah. Gadis itu mengenakan outfit kekinian: rok plisket pendek di atas lutut, kemeja crop top yang modis, dan tas bermerek yang harganya mungkin bisa buat beli motor Satria. Dia sedang memoles lip gloss di depan cermin hias besar.Sementara itu, Laras duduk santai di kursi rodanya di dekat jendela yang bermandikan cahaya matahari pagi. Di pangkuannya ada sebuah buku tebal bersampul kulit. Dia terlihat anggun dan tenang, sangat kontras dengan adiknya yang pe
"Satria, sudah bangun?"Itu suara wanita. Bukan suara cempreng Kiki ataupun suara lembut Laras.Suara ini terdengar alto, sedikit serak khas orang baru bangun tidur namuntetap dominan.Satria tersentak kaget hingga langsung duduk tegak di kasur. Diamengucek matanya yang masih lengket karena kotoran mata. Nyawanya belumterkumpul sepenuhnya."I-iya! Sebentar!" seru Satria panik.Dia melihat ke bawah ke arah tubuhnya sendiri. Untungnya dia masihmemakai celana jinsnya meski kaosnya yang sobek sudah dia lepas semalam. Satriabertelanjang dada dan memamerkan otot-otot perut serta dadanya yang bidang.Satria buru-buru turun dari kasur empuk itu. Dia menyambar kaos sobeknyadari kursi untuk menutupi dada bidangnya. Satria berjalan sempoyongan menujupintu dengan langkah gontai.Cklek.Pintu terbuka lebar. Mata Satria yang tadinya sipit karena kantuklangsung terbuka lebar sebulat bola pingpong. Pemandangan di depannyabenar-benar menguji iman seorang perjaka di pagi buta.Vera hanya menge
"Ehem," deham Kiki keras. "Sudah, dong, dramanya. Lihat,tuh, es batunya sampai mencair gara-gara suasananya panas banget."Laras tersentak kaget. Dia buru-buru melepaskan tangan Satria danmenegakkan duduknya di kursi roda. Wajahnya merah padam karena malu ketahuanbermanja-manja di depan adiknya."Eh, maaf... aku... aku cuma..." Laras tergagap salah tingkah.Satria tertawa kecil melihat tingkah kakak beradik itu. "Iya, nih,Ki. Es batunya sudah jadi air sop."Kiki mencibir lucu, lalu kembali menatap Satria dengan tatapan tajam danpenuh arti yang seolah berkata, 'Nanti kita lanjutin lagi urusan kita dibawah bantal itu.'Tepat saat itu, Vera muncul dari arah dapur membawa nampan berisi tekoteh hangat. Aroma teh melati langsung memenuhi ruangan. Vera melihat wajahmerah Laras, wajah jahil Kiki, dan Satria yang masih memeluk bantal. Diamengernyitkan dahi, merasa ketinggalan sesuatu tapi memilih tidak bertanya."Minum dulu, Satria," kata Vera sambil menuangkan teh."Biar tenang saraf
Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlonjak.Tangan Kiki menyelinap masuk ke bawah bantal. Jari-jari lentiknya dengansengaja menekan pelan batang keras Satria yang terbungkus celana jins. Diameremasnya sekilas, merasakan ukuran dan kekerasannya, lalu mengusapnya pelandari pangkal ke ujung.Mata Kiki mengedip nakal ke arah Satria, memberikan sinyal rahasia bahwadia tahu 'rahasia besar' itu dan dia menyukainya."M-makasih, Kiki... kamu perhatian banget," jawab Satria kakudengan suara bergetar menahan desahan.Jantungnya serasa mau melompat keluar merasakan remasan tangan Kiki yang'mematikan' di area vitalnya."Sama-sama," jawab Kiki riang.Dia menarik tangannya kembali, lalu pura-pura sibuk mengompres pahaSatria lagi, meski







