Share

BAB 3

last update publish date: 2026-02-06 23:44:54

Satria menghembuskan napas panjang setelah selesai merekatkan ujung perban di kaki Laras. Betis putih mulus gadis itu kini terbungkus rapi oleh kain cokelat elastis. Satria masih bisa merasakan sisa kehalusan kulit Laras yang menempel di ujung jari-jarinya yang kasar.

"Sudah beres nih, Mbak Laras, coba gerakkan jarinya pelan-pelan," ucap Satria sambil menyeka keringat di dahinya.

Laras menurut dan menggerakkan jari kakinya perlahan. Rasa nyeri itu masih ada namun sudah jauh berkurang berkat pijatan Satria.

"Sudah mendingan banget rasanya, makasih banyak ya, Mas Satria," ucap Laras tulus.

Dinda yang duduk di ujung sofa mendengus kasar melihat adegan itu. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada hingga seragam ketatnya semakin menonjolkan bentuk buah dadanya. Matanya menyipit tajam mengawasi gerak-gerik Satria agar tidak melenceng lagi ke area paha Laras.

Pintu belakang ruang istirahat tiba-tiba terbuka lebar dan seorang pria tua masuk dengan langkah tenang ke dalam ruangan.

Satria dan Dinda sontak berdiri waspada melihat orang asing masuk sembarangan. Satria bahkan refleks menggeser tubuh tegapnya untuk menutupi tubuh Laras yang masih berantakan di sofa.

"Maaf, Pak, Bapak ini siapa? Ini area karyawan dilarang masuk," tegur Satria tegas.

Pria tua itu tersenyum tipis melihat sikap protektif Satria. Laras yang berada di balik punggung Satria tiba-tiba berseru kaget melihat wajah pria itu.

"Kakek? Kakek ngapain ke sini pakai baju jelek begitu?" tanya Laras bingung.

Ternyata orang itu adalah Abimanyu, kakek kandung Laras yang kaya raya. Dia sengaja menyamar gembel untuk mengawasi cucunya tanpa menarik perhatian musuh bisnisnya. Abimanyu berjalan mendekat ke arah sofa tempat Laras duduk.

"Sstt, pelankan suaramu itu, Laras," ujar Abimanyu sambil mengangkat telunjuknya.

Abimanyu menatap kaki Laras yang diperban sekilas lalu beralih menatap Satria dengan penilaian mendalam. Mata tuanya meneliti tubuh tegap Satria dari ujung kaki sampai kepala.

"Jadi kamu pemuda yang tadi menendang pintu toilet sampai rusak itu?" tanya Abimanyu.

Satria mengangguk ragu sambil menggaruk belakang kepalanya. "Iya, Pak, maaf kalau pintunya rusak parah tadi, itu darurat."

"Saya tidak peduli sama pintu itu," potong Abimanyu cepat. "Saya butuh orang laki-laki yang bisa diandalkan malam ini juga. Kevin mengancam akan mendatangi rumah Laras dan di sana cuma ada perempuan."

Abimanyu merogoh saku celananya yang kedodoran itu dengan santai. Dia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat yang terlihat padat berisi.

"Saya ingin menyewa jasamu malam ini saja untuk menjaga rumah Laras. Tugasmu hanya satu yaitu pastikan tidak ada laki-laki bernama Kevin yang mengganggu cucu saya."

Abimanyu meletakkan amplop itu di telapak tangan Satria dengan mantap.

"Di situ ada uang tunai dua juta rupiah buat kamu. Itu bayaranmu untuk satu malam ini saja menjaga rumah Laras."

Mata Satria langsung membelalak lebar melihat amplop tebal di tangannya. Dua juta rupiah tunai di depan mata hanya untuk kerja satu malam. Otak Satria langsung berhitung cepat layaknya kalkulator berjalan. Dua juta itu setara dengan gajinya sebulan penuh di kafe ini.

"Dua juta, Pak, cuma buat jaga rumah semalam doang?" tanya Satria memastikan dengan suara bergetar.

"Betul sekali, kamu mau ambil tawaran ini?" tantang Abimanyu.

"Siap, Pak, saya bersedia banget!" jawab Satria cepat tanpa pikir panjang. "Bapak tenang saja karena saya akan jaga Mbak Laras. Nyamuk pun nggak bakal saya izinkan gigit Mbak Laras apalagi si Kevin."

Laras tersenyum manis melihat semangat Satria yang berapi-api. Namun Dinda di pojokan justru cemberut sambil menggigit bibir bawahnya karena kesal. Abimanyu menyerahkan kartu nama berisi alamat rumah di kawasan elite Menteng.

Satria membantu memapah Laras keluar lewat pintu belakang dengan hati-hati. Tangan Laras berpegangan erat pada lengan kekar Satria yang membantunya berjalan. Satria bisa merasakan dada Laras yang empuk menempel sekilas di lengan atasnya saat gadis itu masuk ke mobil. Sensasi itu membuat 'Si Pusaka' di dalam celananya berkedut pelan.

"Hati-hati ya, Mas Satria, nanti ketemu di rumah aku," ucap Laras lembut.

Mobil sedan mewah itu pun melaju pergi membawa Laras dan kakeknya. Satria masih berdiri sebentar sambil memandangi mobil itu menghilang di kegelapan.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam saat Kafe Kopi Senja tutup. Satria baru saja selesai mengganti seragamnya dengan kaos oblong putih ketat. Kaos oblong itu mencetak jelas otot dada dan perut Satria yang keras.

"Rezeki anak sholeh emang nggak ke mana," gumam Satria sambil bersiul kecil.

Baru saja kakinya melangkah keluar dari ruang ganti karyawan yang sepi, sebuah tangan mungil mencengkeram kerah jaketnya dengan kasar. Satria tersentak kaget karena tarikan itu cukup kencang.

"Eits, mau ke mana Bang Toyib enak aja mau kabur," suara Dinda terdengar tajam.

Satria menoleh dan melihat Dinda berdiri dengan tatapan marah bercampur nafsu. Seragam ketat Dinda terlihat semakin seksi di bawah lampu remang-remang lorong itu.

"Din, lepasin dong aku buru-buru nih mau kerja lagi," protes Satria.

Bukannya melepaskan, Dinda malah menarik Satria dengan tenaga penuh ke arah lain. Gadis itu membawanya masuk ke dalam gudang penyimpanan biji kopi di sebelah dapur. Dinda membanting pintu gudang dan menguncinya dari dalam dengan gerakan cepat.

Ruangan itu gelap gulita dan pengap oleh aroma kopi. Dinda langsung mendorong tubuh Satria kasar hingga punggung pemuda itu menabrak tumpukan karung.

"Tadi sore di pantry urusan kita belum selesai, Satria," bisik Dinda dengan suara berat.

Tubuh Dinda menempel rapat ke tubuh Satria tanpa menyisakan jarak sedikit pun. Dada gadis itu yang berisi menekan dada bidang Satria dengan agresif. Satria bisa merasakan kedua gundukan kenyal itu menghimpit dadanya dengan kuat.

"Hah, yang man... hmph!"

Belum sempat Satria menyelesaikan kalimatnya bibir Dinda sudah menyambar bibirnya dengan kasar. Dinda melumat bibir Satria dengan penuh nafsu seolah ingin menelannya hidup-hidup.

Satria membelalak kaget tangannya melayang di udara karena bingung. Namun aroma tubuh Dinda yang manis dan gesekan tubuh gadis itu memabukkan. Pertahanan Satria goyah seketika merasakan agresivitas rekannya itu.

'Si Pusaka' Satria langsung bangun dari tidurnya dan menegang keras di dalam celana jins. Batang keras itu tertekan di antara perut Satria dan perut rata Dinda. Dinda yang merasakan tonjolan keras itu justru semakin menekan pinggulnya ke depan.

"Mhh, Din, tunggu dulu," Satria berusaha bicara di sela-sela serangan bibir Dinda.

Dinda tidak peduli sama sekali dan tangannya melingkar erat di leher Satria.

Lidah Dinda menerobos masuk ke dalam mulut Satria dan mengajak lidah pemuda itu beradu dengan panas. Mereka berciuman gila-gilaan di tengah kegelapan gudang yang sempit itu.

Setelah beberapa saat yang panas Dinda melepaskan tautan bibir mereka dengan napas tersengal. Wajahnya masih berada sangat dekat dan hidung mereka bersentuhan dalam gelap. Mata Dinda berkilat menatap Satria dengan tatapan posesif.

"Dengarkan aku baik-baik," bisik Dinda dengan suara serak yang seksi. "Kamu boleh pergi ke rumah cewek kaya itu malam ini dan terima duitnya. Tapi ingat satu hal ini baik-baik."

Dinda mendekatkan bibirnya ke telinga Satria dan menjilat cuping telinganya pelan. Lidahnya turun mencium rahang pemuda itu dengan gerakan yang lambat dan menggoda.

"Aduh, Din, geli banget," Satria merinding hebat merasakan jilatan itu.

"Jangan macam-macam sama si Laras," lanjut Dinda dengan nada mengancam di leher Satria.

Bibir Dinda mengecup kulit leher Satria dengan sedikit gigitan kecil yang menyakitkan. Gigitan itu meninggalkan bekas merah yang cukup jelas di kulit leher Satria. Itu adalah tanda kepemilikan yang sengaja Dinda buat agar terlihat orang lain.

"Mata kamu boleh lihat kemewahannya tapi hati sama badan kamu tetap punya aku. Awas kalau kamu tergoda sama paha putih si Laras itu. Punya kamu ini cuma jatah aku seorang."

Tangan Dinda meraba bagian depan celana Satria dan meremas 'Si Pusaka' sekilas. Satria menelan ludah susah payah karena kaget dengan serangan tangan itu. Dia bisa merasakan tangan nakal Dinda meremas aset masa depannya dengan gemas.

"I-iya, Din, ampun janji deh," jawab Satria pasrah dengan napas tertahan. "Aku ke sana cuma kerja jadi satpam dadakan doang kok."

"Bagus kalau begitu," ucap Dinda puas.

Dia memberikan satu kecupan terakhir yang panjang di leher Satria sebagai penutup. Dinda melepaskan pelukannya perlahan dan mundur selangkah. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sambil tersenyum puas.

"Sana pergi sekarangl hati-hati di jalan!" ucap Dinda ceria.

Nada bicaranya tiba-tiba berubah manis seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Satria masih bersandar di tumpukan karung kopi dengan kaki lemas seperti jeli. Sensasi remasan tangan Dinda masih terasa nyata dan berdenyut di selangkangannya.

"Ganas bener cewek satu ini," gumam Satria sambil meraba lehernya yang perih.

Dia buru-buru mengeluarkan ponsel untuk dijadikan cermin darurat. Di layar yang gelap dia bisa melihat samar-samar ada noda merah muda bekas gigitan cinta Dinda.

"Waduh kalau ini kelihatan orang rumah Laras bisa gawat," panik Satria.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 242

    Melihat aura permusuhan yang makin pekat di antara Vera dan Kiki, Satria langsung mengambil keputusan cepat. Berlama-lama di tempat ini hanya akan membuat dirinya terseret ke dalam pusaran drama keluarga yang sama sekali tidak menguntungkan baginya.Satria langsung mengambil helmnya yang sempat ditaruh di spion motor, lalu sedikit membungkuk sopan ke arah Vera."Non Vera, kalau urusan ini sudah jelas, saya izin ke kamar duluan untuk bersih-bersih dan istirahat," pamit Satria dengan nada yang sangat lempeng, berusaha memotong jalur sebelum Kiki kembali berulah.Vera mengalihkan pandangan tajamnya dari Kiki ke arah Satria. Dia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya yang sempat naik ke ubun-ubun akibat ulah manja adiknya."Ya sudah, kamu boleh ke kamar," jawab Vera, suaranya sudah kembali datar meskipun sisa-sisa kekesalan masih terlihat di matanya.Namun, baru saja Satria membalikkan badan dan melangkah dua kali menuju paviliun tempat kamarnya berada, suara Vera kembali terd

  • Satria Idaman Wanita   BAB 241

    Mendengar penjelasan Satria yang begitu tenang dan masuk akal, Vera tidak langsung merespons. Dia justru membalikkan badannya perlahan, mengalihkan pandangan tajamnya ke arah pilar besar yang berada di dekat pintu masuk teras rumah utama."Keluar, Kiki. Sampai kapan kamu mau sembunyi di situ?" panggil Vera dengan nada suara yang meninggi, memberi perintah tegas.Tidak lama kemudian, sosok Kiki perlahan muncul dari balik pilar tersebut. Gadis itu ternyata sejak tadi diam-diam berdiri di sana, menguping pembicaraan antara Vera dan Satria dengan wajah yang awalnya tegang.Begitu tatapan mata Vera mengunci posisinya dengan sangat tajam, Kiki tidak bisa mengelak lagi. Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat cerita bohong dan melebih-lebihkan keadaan, Kiki justru melangkah maju sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Gadis itu menatap Vera lalu beralih ke arah Satria sambil tersenyum kuda, sebuah cengiran canggung yang dipaksakan untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku."He

  • Satria Idaman Wanita   BAB 240

    Satria merasa urusannya di gang buntu itu sudah benar-benar selesai. Hari juga sudah semakin sore, langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Dia harus segera kembali ke rumah utama sebelum Nona Vera atau Laras menyadari bahwa dia pergi terlalu lama."Ya sudah, Rani. Berhubung semua sudah aman, aku pamit duluan ya. Kamu sebaiknya langsung pulang dan lewat jalan raya yang ramai saja," kata Satria sambil bersiap memakai kembali helmnya.Namun, Rani tidak membiarkan pemuda itu pergi begitu saja. Gadis itu langsung melangkah maju, menghalangi pergerakan Satria yang hendak naik ke atas jok motor trailnya."Tunggu dulu, Mas Satria! Jangan buru-buru pergi dong," seru Rani cepat. Dia buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar, lalu menyodorkannya ke arah Satria. "Boleh minta nomor teleponmu tidak? Ya buat jaga-jaga saja, siapa tahu gerombolan si gondrong tadi masih penasaran dan mencariku lagi."Satria menatap layar ponsel di hadapannya, lalu berali

  • Satria Idaman Wanita   BAB 239

    Si gondrong yang menjadi pemimpin gerombolan itu berusaha keras untuk bangkit. Sambil memegangi ulu hatinya yang masih terasa sangat nyeri dan sesak, dia menatap Satria dengan tatapan penuh ketakutan. Nyalinya sudah benar-benar ciut setelah melihat semua anak buahnya tumbang tanpa bisa menyentuh ujung baju pemuda di depannya.Satria hanya berdiri tegak sambil memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit. Pandangan matanya yang dingin seolah memberi isyarat bahwa kesabarannya sudah habis."Tunggu apa lagi? Mau merasakan pukulan yang lebih keras?" tanya Satria dengan nada suara yang sangat tenang, namun terdengar begitu mengancam.Mendengar ucapan itu, si gondrong langsung panik setengah mati. "Cepat bangun! Kabur! Kabur sekarang!" teriaknya dengan suara serak kepada anak buahnya yang lain.Mendengar perintah sang ketua, empat preman lainnya langsung bergerak serabutan. Mereka bangun dengan tubuh yang gemetaran dan menahan rasa sakit di sekujur badan. Ada yang memegangi

  • Satria Idaman Wanita   BAB 238

    Satria malah tertawa lepas mendengar perintah dari pria berambut gondrong itu. Suara tawanya terdengar sangat santai dan menggema di dalam gang buntu, membuat sisa preman yang ada di sana merasa makin dihina.Satria menyunggingkan senyum sinis lalu menjibir ke arah mereka."Maju bertiga saja?" cibir Satria sambil menggerakkan jari telunjuknya, memberi isyarat agar mereka mendekat. "Tanggung amat. Mending kamu yang gondrong juga ikutan maju sekalian berempat. Biar cepat selesai dan aku bisa langsung pulang buat mandi sore."Tantangan terbuka dari Satria benar-benar meruntuhkan sisa-sisa logika gerombolan motor tersebut. Mereka tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang senekat ini, yang justru minta dikeroyok saat posisinya sedang terpojok di dalam gang."Bocah sombong! Jangan menyesal kalau pulang tinggal nama ya!" teriak si gondrong yang akhirnya ikut meledak emosinya. Dia langsung mencabut sebilah balok kayu dari motornya sendiri dan ikut bersiap maju."Habisi dia sekarang!"E

  • Satria Idaman Wanita   BAB 237

    Pria berambut gondrong itu mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar dua temannya menahan diri sebentar. Dia tersenyum sinis, merasa tidak ada salahnya membeberkan "dosa" targetnya sebelum mereka benar-benar menghajar Satria."Kamu mau penjelasan? Oke, biar kamu paham seberapa busuknya dua orang di ujung gang itu," kata pria gondrong itu sambil menunjuk kasar ke arah si wanita. "Perempuan sialan ini baru saja menang balapan di sirkuit pinggiran dengan cara curang! Dia bermain kotor, lalu langsung membawa pergi uang taruhannya begitu saja tanpa mau menyelesaikan urusan dengan bos kami!"Mendengar tuduhan sepihak itu, wajah wanita di ujung gang langsung memerah karena campur aduk antara marah dan takut. Dia tidak terima namanya difitnah di depan orang yang berniat menolongnya."Mereka bohong, Mas! Jangan percaya!" teriak wanita itu dengan lantang, suaranya bergetar hebat menahan emosi. "Mereka semua bohong! Mereka sengaja mau menjebakku karena tidak terima kelompok mereka kalah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status