Share

BAB 71

last update publish date: 2026-03-13 22:16:44

Satria mengendarai motor bebeknya membelah angin malam. Semakin dekat motor itu ke arah perumahan Menteng, kecepatan lajunya justru makin pelan. Otaknya terus berdebat sengit.

Masuk ke rumah itu sekarang sama saja menyerahkan lehernya ke kandang singa bernama Kiki. Tapi kalau dia tidak pulang, besok pagi dia pasti bakal habis disidang oleh Nona Vera. Belum lagi urusan laporannya tentang rencana penculikan Bastian yang sangat mendesak.

Tapi membayangkan Kiki sudah menunggunya di kamar dengan sen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 137

    Begitu pesanan datang, Satria langsung makan dengan sangat lahap. Dia berusaha menahan diri untuk tidak makan berantakan karena sadar sedang memakai jas mahal, tapi kelaparannya jelas tidak bisa disembunyikan.Vera menyesap kopinya pelan sambil terus memperhatikan asistennya itu. Otak bisnis sang CEO mulai menyusun sebuah rencana baru di kepalanya. Dia butuh Satria untuk lebih dari sekadar berdiri di belakangnya. Dia butuh pengawal yang mobilitasnya tinggi."Satria," panggil Vera dengan nada serius setelah asistennya itu menghabiskan suapan terakhir nasi uduknya."Iya, Non?" Satria menenggak air putihnya sampai tandas lalu menatap bosnya. "Ada tugas berantem di acara amal nanti? Nona tenang aja, tenaga saya udah full seratus persen sekarang.""Bukan berantem," potong Vera cepat. Wanita itu meletakkan cangkir kopinya dan melipat kedua tangan di atas meja. Sorot matanya mengunci pandangan Satria. "Mulai besok pagi, saya minta kamu mulai belajar nyetir mobil."Uhuk! Satria yang baru saja

  • Satria Idaman Wanita   BAB 136

    Sepuluh menit yang diberikan Nona Vera benar benar dimanfaatkan Satria dengan kecepatan kilat. Pemuda itu keluar dari paviliun belakang dengan napas sedikit memburu. Jaket kulit kusamnya sudah berganti dengan setelan jas berwarna biru malam yang jahitannya sangat pas memeluk tubuh besarnya. Kemeja putih di dalamnya tampak rapi tanpa dasi, dengan dua kancing atas sengaja dibiarkan terbuka supaya dia masih bisa bernapas.Bagi Satria, memakai jas mahal ini rasanya seperti dibungkus pakai karung goni basah yang super ketat. Gerakannya jadi kaku. Dia berjalan menuju mobil Alphard dengan langkah hati hati, takut kalau kalau celana kain mahalnya robek di bagian jahitan tengah.Pak Maman dengan sigap membukakan pintu penumpang. Satria masuk dan duduk di sebelah Vera yang sedang sibuk mengecek tablet kerjanya. Wangi parfum mewah langsung menyambut hidung Satria, menenggelamkan wangi nasi goreng udang yang masih terbayang bayang di kepalanya.Vera melirik sekilas dari balik layar tabletnya. Mat

  • Satria Idaman Wanita   BAB 135

    Baru saja Satria mau menyuap sendok kelimanya, suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dan berirama cepat terdengar mendekat dari arah tangga utama. Suara itu terdengar sangat tidak sabar, memecah suasana tenang dan manis yang sedang dibangun susah payah oleh Kiki di ruang makan.Nona Vera muncul dengan penampilan yang luar biasa memukau. Dia memakai gaun malam formal berwarna biru dongker yang elegan dengan potongan kerah tinggi. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan anting berlian yang berkilauan di telinganya. Wajahnya cantik, tapi ada guratan kesal yang sangat jelas terlihat di dahinya.Vera berhenti tepat di samping meja makan. Matanya melirik sinis ke arah nasi goreng udang di piring Satria, lalu beralih menatap tajam ke arah Kiki yang masih memakai celemek bunga-bunganya."Bagus ya. Pagi-pagi bukannya langsung siap-siap, malah main masak-masakan di sini," sindir Vera dengan nada dingin yang menusuk.Kiki yang tadi sedang tersenyum manis langsung cemberut. Bahunya merosot sek

  • Satria Idaman Wanita   BAB 134

    Matahari pagi menyinari garasi dan paviliun belakang rumah mewah di Menteng itu. Satria terbangun dengan perasaan yang luar biasa segar. Tidurnya semalam benar benar pulas tanpa ada gangguan sama sekali. Pintu kamarnya kini juga sudah dipasangi gembok besar dari dalam, membuatnya merasa seaman pejabat negara di dalam bungker.Setelah mandi dan memakai seragam asistennya yang rapi, kemeja rapi dan celana bahan, Satria melangkah keluar paviliun menuju rumah utama. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Biasanya jam segini Laras atau Bi Inah sudah menyiapkan sarapan di meja makan.Begitu pintu dapur kotor didorong, hidung Satria langsung disambut aroma harum bawang putih dan mentega yang ditumis. Wanginya sangat menggugah selera. Satria berjalan santai melewati dapur bersih menuju ruang makan.Langkah Satria mendadak berhenti kaku tepat di ambang pintu ruang makan. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan kalau dia tidak sedang berhalusinasi atau masih tertidur.Di depan meja

  • Satria Idaman Wanita   BAB 133

    Kamar paviliun belakang itu terasa sangat sejuk dan damai. Satria melempar ransel bututnya ke atas meja kecil di sudut ruangan, lalu merebahkan tubuh besarnya ke atas kasur dengan gerakan serampangan.Pemuda itu merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar lebar. Helaan napas panjang yang sarat akan kelegaan lolos dari bibirnya. Matanya menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong tapi penuh kemenangan.Rasanya seperti baru saja lolos dari lubang jarum. Kemarin dia diusir, luntang lantung kepanasan di jalanan, terjebak di kamar kos yang penuh godaan aroma vanilla, lalu diculik paksa di minimarket. Dan sekarang, dia sudah kembali lagi berbaring di atas kasur empuk ini dengan status aman terkendali berkat selembar kertas bermaterai sepuluh ribu."Ternyata hidup gue lebih dramatis daripada sinetron azab," gumam Satria sendirian sambil terkekeh pelan. Dia memejamkan matanya, berniat membalas dendam untuk tidur siang yang tertunda.Baru saja kesadarannya mulai melayang ke alam mimpi, s

  • Satria Idaman Wanita   BAB 132

    Satria menatap kertas folio di tangannya bagaikan memegang jimat sakti penolak bala. Helaan napas panjang dan lega akhirnya keluar dari mulut pemuda itu. Pundaknya yang sejak tadi menegang kaku sekarang mulai rileks.Vera yang masih duduk di hadapannya tersenyum tipis. "Sekarang kamu udah aman, Satria. Bawa barang barang kamu ke paviliun belakang. Istirahatlah yang tenang. Besok pagi baru kamu mulai kerja lagi seperti biasa. Soal pintu besi dan gembok pesanan kamu, besok pagi tukang las langganan kantor bakal langsung datang buat masang.""Siap, Non. Makasih banyak," jawab Satria sambil mengangguk hormat.Tanpa membuang waktu lagi, Satria menyandang ransel bututnya. Langkah kakinya menyusuri lorong menuju halaman belakang terasa seringan kapas. Bagaikan narapidana yang baru saja mendapat surat bebas bersyarat dari pengadilan tingkat tinggi, Satria akhirnya bisa kembali menghirup udara kebebasan di kamarnya sendiri.Sepeninggal Satria, suasana ruang tengah kembali sepi. Vera memijat pe

  • Satria Idaman Wanita   BAB 12

    Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 14

    "Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 11

    Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 10

    Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status