MasukBahkan saat di rumah pun Lea masih setia mendiamkan Ardian. Kemana Ardian pergi dia akan selalu menghindar menjauh."Lea!" Ardian mencekal tangan Lea kala Lea hendak pergi kembali. "Aku mau pup, apa kamu mau menahannya lalu membuangnya jika sampai jatuh disini?" Ketus Lea. Seketika Ardian melepas tangan Lea. "Cepatlah"Lea berjalan dengan kesal, dia sebenarnya tidak hendak pup, namun bibirnya sudah keluar kata demikian dengan mudahnya. Sehingga dia tetap harus berpura-pura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tak berselang lama Lea keluar, namun baru saja dia membuka pintu sudah di kejutkan dengan Ardian yang berdiri melipat tangannya di dada tepat di depan pintu kamar mandi. "Sebelas menit empat puluh detik. Apa yang kamu keluarkan sampai selama ini?" Tegur Ardian sambil melihat jam tangannya. "Kurang kerjaan sampai hitungin orang pup?" Sindir Lea masih dengan ketus. Tanpa aba-aba, Ardian langsung mengangkat tubuh Lea dalam gendongannya layaknya anak kecil. Membawanya ke atas mej
Di perusahan Gama Buana. Kini Lea sedang harap-harap cemas, berkali-kali dia mengangkat tubuhnya, menunggu panggilan dari HRD. "Lo kenapa si Le? Pantat lo bisulan?" Heran Gisel karna melihat tingkah sahabatnya. "Gue lagi siap-siap angkat kaki Sel" "Iya iya.. Nyonya bos mau ongkang-ongkang kaki di rumah, duit ngalir" "Enak aja, gue kemarin udah bikin Ardian marah" Bisik Lea. "Lo cari masalah si Le, nggak tahu apa dia itu donatur utama lo, sumber duit Le" "Iya gue tahu, tapi gimana lagi." "Emang lo apain?" "Gue mau jitak dia" Lea berbisik kembali, satu kata saja sudah membuat Gisel menganga. "Trus gue suruh dia bikin nasi goreng cumi malam-malam, dia aja belum ganti baju. Tapi.. Gue malah tidur" Imbuh Lea. "Parah lo Le.. Parah" Gisel menggelengkan kepalanya. "Mana dia bilang kalo di kantor gue itu tetep karyawannya" "Udah, end lo. Buruan beresin barang-barang lo" Gisel justru membantu Lea mengemasi. "Gisel.. Kenapa lo malah bikin gue takut" Belum selesai apa yang me
"Sial..!" Kesal Tamara kala mendapat penolakan terang-terangan dari Ardian. Apalagi kala dia melewati kamar mereka terdengar suara lenguhan Lea yang membuat dirinya semakin terbakar. "Aku saja belum pernah merasakan tubuh Ardian, tapi kenapa justru gadis desa dan udik itu yang rasain" "Aku harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" Ia mulai merencanakan kembali untuk membuat Lea berpisah dengan Ardian. "Jika Ardian peduli sama kamu karna anak itu, maka aku akan buat anak itu lenyap. Kita lihat, apa Ardian masih mau dengan wanita yang membunuh anaknya sendiri?" Tamara kembali melengkungkan senyum kejahatan. Tamara mulai mengupas sebuah nanas muda, tanpa mencucinya bahkan langsung membuatnya menjadi jus. "Kita lihat Lea. Apa kamu bisa bertahan! Hanya aku yang boleh jadi ibu anak-anak Ardian. Kamu sama sekali tidak pantas!" Tamara mengangkat gelas itu tinggi tinggi. Dengan keterampilannya memasak, Tamara berhasil membuat jus nanas muda itu menjadi minuman yang sam
Uhuuk uhuukk... Suara Ardian yang terbatuk. "Kamu sakit?" Cemas Lea memandang pria tampan di depannya kini. Wajahnya benar-benar lelah dengan bibir pucat. "Pasti karna semalam kamu hujan-hujanan" Imbuh Lea memeriksa suhu tubuh Ardian dengan menempelkan telapak tangan di dahi Ardian. "Boleh aku tidur sebentar?" "Tidurlah" Lea mengangguk. "Tidak jadi" Ardian menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Bukannya kamu nggak enak badan?" "Pasti kamu nanti kabur lagi" Sindir Ardian. Lea membelalakkan matanya, tak menyangka dengan sisi unik Ardian. "Tergantung" "Ya udah, nggak usah tidur. Uhuuk uhuuuk" Kembali Ardian terbatuk. "Istirahat lah. Aku akan menjagamu disini" "Kamu... Anggap aku kayak tahanan!" Kesal Lea. Ardian hanya menghela nafas berat, dia sama sekali tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Lea. "Ngapain pake huufftt gitu? Kesel sama aku?" Cecar Lea. "Aku cuma nafas" "Nggak, jelas-jelas kamu tadi kesel sama aku" Ardian menggendong kembali Lea tanpa aba-aba, mele
Setelah di rasa lebih tenang, kini Lea kembali bisa duduk membuka ponselnya yang sejak semalam dia matikan. Banyak sekali panggilan dan chat dari Ardian. "Dia hanya khawatir sama anaknya, bukan sama gue" Gumam Lea kesal. "Sama aja Lea, dia juga khawatir sama elo sama bayi elo" Ujar Gisel menjadi penengah. "Dia itu mau ambil anak gue Sel" "Nggak akan bisa Lea, gue disini sama elo. Gue bisa call om gue yang pengacara, biar bantu hak asuh anak lo nanti kalo lahir" "Gisel.. Lo baik banget sama gue" Lea kembali memeluk sahabatnya itu. "Mendingan kalian selesain dulu deh, kasihan dia di depan semalaman" Lea mengangguk, perlahan dia berjalan keluar, memastikan Ardian masih ada di depan kontrakan Gisel. Benar saja Ardian berdiri dengan bersandar di mobil, menentang sinar matahari yang sudah mulai terik. Pandangannya masih fokus ke arah kontrakan Gisel. "Mas! Sejak semalam saya perhatiin disini? Mau ngintipin anak kost saya? Mau buat jahat?" Tuding ibu kost memarahi Ardian. "
"Kenapa dia keras kepala sekali?" Ardian benar-benar tidak bisa fokus untuk bekerja. Semua fikirannya terarah pada Lea dan calon anaknya. "Pak.. " Kevin datang dengan nafas tersengal-sengal. "Apa kau tidak bisa ketuk pintu!" "Maaf pak, tapi ini urgent" "Katakan! Jangan membuatku mengirimmu ke Afrika" "Bu Lea tidak ada di rumah sakit" "APA!" Ardian langsung saja berdiri. "Sial" Umpatnya menyambar ponsel juga jasnya dengan singkat. Ia berjalan cepat segera mencari keberadaan Lea dimana. Suasana malam yang gelap di temani dengan hujan yang mengguyur kota membuat Ardian semakin kelabakan. Fikirannya benar-benar kacau seakan di obrak-abrik oleh Lea. "Lea.. Kamu dimana?" Pandangan Ardian mengedar ke semua arah, samar-samar dalam guyuran hujan ia berharap melihat Lea. "Lea... " Gumamnya kembali memukul setir kemudi dengan kesal. Di saat inilah dia baru sadar jika dia tidak mengenal dekat Lea. Bahkan tempat-tempat yang biasa di datangi Lea saja dia tidak tahu, yang dia tahu hany







