Share

81: Kecurigaan

Penulis: BlackDiamond
last update Tanggal publikasi: 2026-09-30 20:55:03

Suara musik pengiring bergema cukup keras memenuhi balai pertunjukan yang setengah gelap.

Di panggung utama, puluhan anak berdiri rapi memantulkan siluet cahaya lampu sorot.

Aku duduk di barisan kursi penonton bagian depan bersama Mas Yudha, memperhatikan gerak-gerik Chloe yang sedang melatih koreografinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kertas jadwal acara di genggamanku mulai agak kusut karena sejak tadi kuremas pelan. Aku tidak pernah menghadiri acara seperti ini sebelumnya, ju
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Boss!   86: Kapan Menikah?

    “Malam ini tidur di mana?” sebuah pesan singkat dari Pak Jeremy masuk tepat setelah pemakaman usai.Aku membaca kalimat itu berulang kali di layar ponselku. Layarnya yang terang terasa menembus mata, menyemburkan dingin yang bertolak belakang dengan hawa panas tempat pemakaman umum ini.Aku memicingkan mata, menoleh ke arah Yudha yang berdiri tak jauh dariku, masih dengan setelan kemeja rapinya yang tampak mencolok di antara tanah merah yang baru ditimbun.“Pak Jeremy pasti bingung nggak ada Mas Yudha... balik aja setelah ini, makasih sudah dibantu,” ucapku pelan.“Okay... aku antar kamu pulang dulu...” ucapnya kemudian. Pandangannya mengarah ke Ibu dan Tiara yang sedang dituntun berjalan pelan oleh keluarga Pak RT. “Biarin mereka sama keluarga Mas Rian.”Yudha mengangguk pelan, paham betul kalau kehadiranku di dekat Ibu saat ini cuma akan memancing amarahnya pecah lagi.Baru saja aku hendak melangkah mengikutinya, ponsel di genggamanku bergetar lagi. Pesan kedua masuk dari Pak Jeremy

  • Satu Kali Lagi, Boss!   85: Kepergian Bapak

    “Rian! Bawa Siena keluar dari sini! Saya tidak mau lihat muka dia!” bentak Ibu dengan suara parau. Tangan Ibu yang gemetar masih menunjuk tajam ke arahku sebelum akhirnya ditarik pelan oleh Tiara.“Bu…jangan begini…” aku masih berusaha bicara. Mas Rian menghela napas panjang. Sebagai seorang polisi yang biasa menghadapi situasi krisis, wajahnya tetap berusaha tenang walau matanya menyimpan rasa prihatin yang mendalam. Tanpa berbantah perintah Ibuku, ia merangkul bahuku pelan, menarik tubuhku yang gemetar mundur dari jangkauan pandangan Ibu.Yudha yang berdiri tak jauh di ujung koridor bergerak cepat menghampiri. Dengan sigap ia mengambil posisi di sisiku, memberi jarak antara aku dan emosi Ibu tanpa bersuara.“Siena, duduk di sini dulu,” bisik Yudha halus, menunjuk deretan kursi besi di dekat jendela koridor.Aku menurut seperti boneka tanpa nyawa. Aku duduk terhenyak, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan. Mas Rian menyusul, berlutut di depanku agar posisinya sejajar denganku ya

  • Satu Kali Lagi, Boss!   84: Kematian Bapak

    Paginya, saat aku perlahan membuka mata, sisi kasur di sampingku sudah kosong. Pak Jeremy sudah tidak ada di sana, menyisakan kerutan halus di seprai dan kehangatan samar yang mulai memudar.Aku mengusap wajah, lalu beranjak duduk di tepi tempat tidur sambil berusaha mengumpulkan kesadaran.Di atas nakas, ponselku bergetar. Suaranya memecah keheningan pagi yang tenang. Aku melirik layarnya, melihat deretan angka dari nomor tak dikenal. Tanpa prasangka apa pun, aku menggeser tombol hijau lalu menempelkannya ke telinga."Selamat pagi. Betul ini dengan Mbak Siena?" suara berat seorang pria terdengar asing di seberang sana."Iya, betul. Ini siapa ya?""Saya Bripka Hendra dari Polsek. Kami ingin mengabarkan situasi terkait Ayah Mbak Siena..."Lidahku mendadak kelu mendengarnya, ada firasat buruk yang menyusup di kepalaku. "Bapak? Ada apa dengan Bapak, Pak?""Pagi ini, saat pemeriksaan sel, petugas menemukan Ayah Mbak Siena sudah tidak sadarkan diri akibat pengeroyokan oleh tahanan lain. Ka

  • Satu Kali Lagi, Boss!   83: Cinta Tak Mengenal Batasan

    Pak Jeremy tidak bertanya lagi, yang aku rasakan saat ini hanya perasaan yang aman dan nyaman.Pelukan hangatnya, aroma tubuhnya, wangi parfumnya membuatku tak ingin melepaskannya untuk beberapa menit kemudian sebelum akhirnya aku sadar kalau hubungan ini hanya akan bertahan maksimal tiga tahun.“Saya mandi dulu!” ucapku sedikit berlari, tangan Pak Jeremy mengurai perlahan.“Hati-hati, Siena! Jangan lari!” ucapnya mengingatkan.Saat bunyi klik terdengar dari kunci pintu, aku memegang dadaku. Hari ini aku melakukan sesuatu yang jujur saja di luar keberanianku. Tidak menahan diri untuk melakukan apa yang aku mau dan inginkan dan itu menambahkan rasa kepercayaan diriku.Aku merasa benar-benar hidup dan senyum ini bener-bener senyum yang keluar dari hati.Aku melepaskan pakaianku satu per satu sebelum akhirnya air hangat mengguyur tubuhku dan wangi floral dari sabun mandi ini membuatku lebih rilex, rasa lelah pun sedikit berkurang.Tidak lama aku keluar. Di kamar, Pak Jeremy ternyata belu

  • Satu Kali Lagi, Boss!   82: Rumah Tanpa Pintu

    Setelah acara rehearsal selesai, aku meminta Yudha mengantarkan Chloe sementara aku memilih naik taksi online. Sebenarnya Yudha ngotot ingin mengantarku setelah mengantar Chloe tapi gadis itu terlihat tidak suka saat tahu aku berjalan menuju mobilnya, karena aku merasa nggak enak akhirnya aku bilang kalau aku mau naik taksi saja, dan aku bilang kalau aku mau ke mini market dulu.Chloe menatapku dengan tatapan yang semakin dingin dan tidak suka. Aku yakin, sebelum acara tadi Bu Monika sempat menelponnya lagi, karena saat di kantor pagi tadi respons Chloe rasanya tidak seburuk ini. “Sudahlah…aku memang tidak ada pada posisi yang benar, sudah sewajarnya Bu Monika membenciku” desahku pelan saat mobil yang Yudha kemudikan semakin menjadu.Tak lama, taksi yang aku pesan datang.Aku menyandarkan kepala di kaca jendela taksi, menarik napas panjang dan mencoba memejamkan mata.Ponsel di genggamanku bergetar pendek. Sebuah pesan dari Tiara masuk.“Mbak, Ibu minta Mbak cabut laporan Bapak.”Ak

  • Satu Kali Lagi, Boss!   81: Kecurigaan

    Suara musik pengiring bergema cukup keras memenuhi balai pertunjukan yang setengah gelap. Di panggung utama, puluhan anak berdiri rapi memantulkan siluet cahaya lampu sorot. Aku duduk di barisan kursi penonton bagian depan bersama Mas Yudha, memperhatikan gerak-gerik Chloe yang sedang melatih koreografinya.Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kertas jadwal acara di genggamanku mulai agak kusut karena sejak tadi kuremas pelan. Aku tidak pernah menghadiri acara seperti ini sebelumnya, jujur aku tidak paham apapun. Hanya hadir."Siena," bisik Yudha pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung. "Habis ini Chloe ada jeda istirahat lima belas menit sebelum gladi bersih terakhir. Mau ditawari minum sekarang?""Boleh, Mas. Biar saya yang antarkan ke belakang panggung," jawabku seraya berdiri dari kursi empuk.Aku melangkah menyusuri lorong samping panggung yang agak remang, membawa botol air mineral dan handuk kecil yang sudah disiapkan sejak dari kantor. Di lorong belakang pan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status