Share

Bab 10

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-04-05 11:36:52

“Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.

Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.

“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciumannya. Tangannya mencoba mendorong dada tegap Prana, tapi jari-jarinya justru mencengkeram kemeja pria itu. “Kita di klinik... Gimana kalau Mas Fadil...”

“Aku tak dengan Fadil!” geram Prana sambil be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 150

    “Teruskan, Sayang,” bisik Prana. Menekan tubuh polos Shanum ke dinding kaca kamar mandi yang kini buram oleh embun air hangat. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Shanum, mengangkatnya sedikit untuk menyelaraskan posisi mereka.Napas Prana yang memburu terasa panas di ceruk leher belakang Shanum, sementara miliknya yang sudah menegang sempurna menempel ketat di antara lipatan paha wanita itu.“Mas... cepat,” lirih Shanum, kepalanya mendongak dengan mata terpejam, menyerah pada desakan rasa lapar yang dibangun Prana sejak tadi. Kedua telapak tangannya menempel pada permukaan kaca yang basah, mencari tumpuan kekuatan.Tanpa menunggu lebih lama, Prana memberikan satu dorongan kuat yang langsung menghunjamkan seluruh miliknya ke dalam inti kebebasan Shanum.“Ahhh! Mas!” Shanum memekik keras. Suaranya bergema di dalam ruangan yang tertutup. Rasa penuh, ketat, dan sensasi panas yang luar biasa seketika menyergap seluruh kesadarannya.Dinding intim Shanum yang sensitif langsung menjepit keh

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 149

    “Mas…” protes Shanum lemah, tangannya yang semula berniat mendorong dada Prana justru mencengkeram erat kemeja pria itu untuk mencari pegangan.“Hmm?” sahut Prana pelan, bibirnya kini mulai merayap turun menyusuri garis rahang Shanum, mengabaikan penolakan setengah hati wanita itu. “Masih mau bilang kamu enggak bau asem?”Mendengar kata asem, bibir Shanum kembali mengerucut sebal. “Lepas, Mas... Aku beneran mau mandi,” bisik Shanum, berusaha memalingkan wajah saat belahan bibir Prana mulai berpindah mengecup lehernya dengan intensitas yang makin dalam.Sentuhan konstan itu mengirimkan sengatan halus yang langsung melumpuhkan sisa tenaganya. Prana terkekeh rendah, embusan napasnya terasa panas di permukaan kulit Shanum.“Ini juga mau mandi, Sayang. Tapi bajunya harus dilepas dulu, kan?”Tanpa menunggu persetujuan, tangan Prana bergerak ke arah ritsleting pakaian Shanum. Menurunkankannya melalui pundak Shanum, membiarkannya merosot begitu saja. Kini, menyisakan bra merah yang kontras de

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 148

    “Buat apa kamu ke sana?” tanya Prana, terdengar tak menyukai Shanum mendatangi rumah orang tuanya. Dahinya berkerut dalam, garis-garis ketegangan di wajahnya yang lelah kembali tercetak jelas. “Ada apa Ayahmu memanggil? Kenapa mendadak sekali?”Shanum menatap gelas di hadapannya, agak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ada jeda yang cukup panjang sebelum ia akhirnya memberanikan diri untuk menatap lurus ke dalam manik mata Prana.“Tadi siang Ibu menelepon. Katanya Ayah mendadak ingin bertemu,” tutur Shanum pelan.“Apa yang dibicarakan sampai kamu kelihatan sepucat ini?” desak Prana lagi sambil menggeser duduknya hingga lutut mereka saling bersentuhan.Shanum menarik napas dalam-dalam untuk menata hatinya yang kembali mencelos jika mengingat kejadian beberapa jam lalu.Prana menahan napas, firasat buruknya yang sejak siang tadi tertahan di kantor Hendra mendadak mencuat ke permukaan.“Ayah menunjukkan foto-foto kita, Mas,” lanjut Shanum lemah. “Foto saat kita berjalan-jalan di pasar lo

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 147

    “Iya, Sar. Pastikan laporan pasien sudah ada di meja saya besok pagi sebelum jam visit pasien,” ujar Prana tegas melalui sambungan teleponnya pada Sarah—dokter residen.Pintu lift apartemen berdenting terbuka di lantai dua puluh. Prana melangkah keluar sembari menempelkan ponsel di telinga kirinya, sementara tangan kanannya bergerak memijat kening yang terasa pening sejak sore tadi.Selepas menyelesaikan diskusi panjang yang menguras pikiran di kantor Hendra, ia memang tak punya waktu untuk beristirahat sedikit pun.Ia harus langsung bergegas menuju rumah sakit untuk membuka praktik klinik hingga pukul delapan malam. Fisiknya benar-benar lelah, ditambah lagi beban pikiran mengenai teror foto yang belum terungkap dalangnya.“Baik, terima kasih, dokter Sarah. Selamat malam,” lanjut Prana, dan menurunkan ponselnya begitu panggilan terputus.Prana menyusuri koridor apartemen dengan cepat, sisa-sisa keletihan yang hebat menggelayuti pundaknya. Begitu jaraknya tinggal beberapa meter dari un

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 146

    “Kamu harus bisa melakukannya, Pran. Ini buat kebaikan Shanum,” saran Hendra lagi, memastikan Prana benar-benar paham batasan yang harus dijaga selama masa krusial ini. “Dan satu lagi, pastikan Shanum gak tahu soal teror foto ini. Aku takut dia berubah pikiran karena takut kamu akan terkena imbas perceraiannya!”Prana yang tadinya sudah meletakkan ibu jari di atas layar ponsel, menunda gerakannya. Ia menatap benda pipih itu sejenak sebelum mendongak. “Tapi Shanum berhak tahu kalau dia sedang diawasi, Hen. Aku curiga Shanum juga mendapatkan teror yang sama.”“Nggak untuk yang satu ini, Pran. Aku sudah menghubungi Malik, pengacara Shanum yang sebelumnya. Katanya ancaman model begini memang hanya ditujukan pada kuasa hukum saja. Mereka sengaja menyerangku agar aku merasa terancam, lalu mundur seperti yang dilakukan Malik tempo hari,” potong Hendra cepat.Hendra kembali meraih salah satu cetakan foto yang tersebar di meja, mengamati detail gambar yang diambil secara sembunyi-sembunyi itu.

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 145

    “Kamu benar-benar susah di kasih tahu, Pran!” semprot Hendra—pengacara Shanum—langsung pada Prana yang baru saja masuk ke ruang kerjanya tanpa membiarkan sahabatnya duduk terlebih dahulu. Kekesalan jelas membayangi wajahnya.Prana melangkah mendekat santai, sambil duduk di sofa tamu. Dahinya berkerut melihat reaksi Hendra. “Ada apa nyuruh kesini?”“Pran, berkali-kali aku ingatkan, jangan pernah terlihat jalan berdua atau berhubungan langsung dengan Shanum selama proses gugatan belum resmi masuk ke pengadilan! Kenapa kalian gak bisa tunggu sampai semuanya selesai dulu?!” bentak Hendra, telunjuknya menunjuk tepat ke arah map di atas meja.Prana tetap tenang, tangannya meraih map plastik tersebut, membuka klip penguncinya, dan mengeluarkan isinya.Di dalam map itu, terdapat tumpukan kertas cetak foto digital dengan kualitas tinggi. Mata Prana menyusuri setiap lembar gambar tersebut.Foto-foto itu merekam kegiatannya bersama Shanum di pasar loak minggu lalu, obrolan mereka di meja sudut L

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 13

    Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 12

    Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 11

    Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 8

    Begitu pintu tertutup rapat, ketegangan yang sedari tadi ditahan Prana runtuh seketika. Ia menghempaskan punggungnya ke kursi kerja, sambil mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan yang masih terasa dinginBayangan kulit Shanum yang merona, getar tubuhnya, dan ketegangan yang tersisa di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status