Mag-log in“Kamu harus bisa melakukannya, Pran. Ini buat kebaikan Shanum,” saran Hendra lagi, memastikan Prana benar-benar paham batasan yang harus dijaga selama masa krusial ini. “Dan satu lagi, pastikan Shanum gak tahu soal teror foto ini. Aku takut dia berubah pikiran karena takut kamu akan terkena imbas perceraiannya!”Prana yang tadinya sudah meletakkan ibu jari di atas layar ponsel, menunda gerakannya. Ia menatap benda pipih itu sejenak sebelum mendongak. “Tapi Shanum berhak tahu kalau dia sedang diawasi, Hen. Aku curiga Shanum juga mendapatkan teror yang sama.”“Nggak untuk yang satu ini, Pran. Aku sudah menghubungi Malik, pengacara Shanum yang sebelumnya. Katanya ancaman model begini memang hanya ditujukan pada kuasa hukum saja. Mereka sengaja menyerangku agar aku merasa terancam, lalu mundur seperti yang dilakukan Malik tempo hari,” potong Hendra cepat.Hendra kembali meraih salah satu cetakan foto yang tersebar di meja, mengamati detail gambar yang diambil secara sembunyi-sembunyi itu.
“Kamu benar-benar susah di kasih tahu, Pran!” semprot Hendra—pengacara Shanum—langsung pada Prana yang baru saja masuk ke ruang kerjanya tanpa membiarkan sahabatnya duduk terlebih dahulu. Kekesalan jelas membayangi wajahnya.Prana melangkah mendekat santai, sambil duduk di sofa tamu. Dahinya berkerut melihat reaksi Hendra. “Ada apa nyuruh kesini?”“Pran, berkali-kali aku ingatkan, jangan pernah terlihat jalan berdua atau berhubungan langsung dengan Shanum selama proses gugatan belum resmi masuk ke pengadilan! Kenapa kalian gak bisa tunggu sampai semuanya selesai dulu?!” bentak Hendra, telunjuknya menunjuk tepat ke arah map di atas meja.Prana tetap tenang, tangannya meraih map plastik tersebut, membuka klip penguncinya, dan mengeluarkan isinya.Di dalam map itu, terdapat tumpukan kertas cetak foto digital dengan kualitas tinggi. Mata Prana menyusuri setiap lembar gambar tersebut.Foto-foto itu merekam kegiatannya bersama Shanum di pasar loak minggu lalu, obrolan mereka di meja sudut L
"Tapi Fadil itu jahat, Yah! Dia kasar sama aku!" Shanum mulai membela diri, matanya memanas menahan air mata yang hendak tumpah.Tangannya bergerak cepat merogoh tas selempang yang tergeletak di samping kursi, mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru. Digeser folder galeri, khusus menyimpan bukti foto kekerasan yang dilakukan Fadil.Shanum menyodorkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Bobby. Ia memperlihatkan foto saat wajahnya babak belur.Di sana, jelas terlihat sudut bibirnya yang pecah mengeluarkan darah kering, serta lebam keunguan yang kontras di sekitar tulang pipi dan kelopak mata kirinya akibat hantaman benda tumpul."Lihat, Ayah. Lihat ini!" seru Shanum bercampur frustrasi yang mendalam. "Ini yang aku lalui di rumah itu selama lima tahun ini! Aku bertahan demi berbakti sama Ayah. Tapi Fadil memperlakukan aku lebih rendah dari binatang?"Bobby menatap foto gambar luka-luka Shanum. Namun, tak ada keterkejutan di wajah tua itu. Alih-alih merengkuh putrinya atau mengutuk p
"Shanum, Ayah minta kamu ke rumah sekarang!" Suara Ani—ibu kandungnya—langsung menyergap begitu Shanum menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Nada bicaranya tak sedingin kemarin di taman rumah sakit, melainkan terdengar buru-buru sekaligus tegas."Ayah udah gak marah?" tanya Shanum memastikan, tak percaya dengan pendengarannya sendiri."Dia mau bicara. Cepat ke sini, jangan pakai lama," ketus Ani sebelum langsung memutuskan sambungan sepihak.Shanum menurunkan ponsel dari telinga dengan perasaan yang mendadak dipenuhi kelegaan. Setelah berhari-hari ia dirundung kecemasan karena diusir oleh ibunya di taman rumah sakit, akhirnya ada kabar baik. Ayahnya yang meminta bertemu secara langsung.Sesampainya di sana, suasana rumah terasa begitu sepi. Pintu utama tak terkunci. Shanum melangkah masuk dengan dada yang berdegup kencang. Ia melewati ruang tamu yang lengang hingga tiba di depan kamar utama di lantai bawah. Pintu kamar itu sedikit terbuka."Ayah ada di kamarnya, masuk saja. Dia s
Ponsel di atas pangkuan Shanum kembali menyala terang. Getaran panjang menyertai kemunculan foto profil Prana yang memenuhi layar, menandakan pria itu sedang mencoba menghubunginya kembali melalui panggilan video.Shanum hanya menatap ponselnya dengan pandangan kosong. Layar itu terus berkedip, menampilkan opsi hijau untuk menerima dan merah untuk menolak. Tapi taka da sedikitpun niatan Shanum untuk menjawabnya.Detik berikutnya, sebuah pesan singkat masuk. Sebuah getaran pendek terdengar. “Udah tidur ya? Aku kaget kok teleponnya mati tiba-tiba.”Shanum menatap baris kalimat itu. Rasa sesak di dadanya kian menghimpit, menyisakan ruang yang teramat sempit untuk sekadar bernapas secara normal. Ia menyentuh papan ketik virtual, mengetikkan kebohongan kecil untuk mengakhiri malam yang melelahkan ini.“Baterai ponselku habis, Mas. Ini baru aku cas. Besok lagi aja ya teleponnya, Mas juga harus istirahat, udah malam.”Setelah menekan tombol kirim, Shanum langsung membalikkan ponselnya dengan
“Hari ini rasanya aku ingin marah sama semua orang!” ucap Prana melalui layar kaca. Wajahnya terlihat sedikit lelah namun senyumnya tetap terkembang hangat. Tak lama ia menarik napas panjang dan menghembuskannya, lalu wajah mulai melunak. “Lagi apa, Sayang?”Shanum yang sudah bersandar di ranjangnya tersenyum tipis. Wajahnya sudah bersih dari sisa-sisa riasan. “Baru mau siap-siap tidur. Ada masalah? Mas baru pulang dari klinik kan?”Enam hari telah berlalu sejak momen kencan penuh ketegangan mereka di Leanor Cafe. Sejak hari itu, hubungan Shanum dan Prana berjalan sangat lancar tanpa kendala berarti.Meskipun mereka belum sempat bertatap muka lagi secara langsung karena jadwalPrana yang mendadak sangat padat, komunikasi mereka tak pernah putus. Melalui panggilan video tengah malam seperti inilah cara mereka saling melepas rindu.Dan ada yang membuat Shanum lega, yaitu Fadil mengabarinya lewat pesan singkat kalau urusannya di Thailand diperpanjang hingga minggu depan. Sebuah fakta yang







