LOGIN“Kalau aku milih lari sama Mas Prana... gimana?” tanya Shanum. Matanya beralih menatap Tiara, mencari secercah pembenaran atas pikiran nekat yang mendadak melintas di kepalanya.Tiara tertegun sejenak, menatap kakaknya dengan pandangan meneliti. Bukannya terkejut, anak perempuan itu justru mengangguk cepat. “Lebih baik gitu, Mbak. Cari kehidupan kalian sendiri, jangan lihat ke belakang lagi.”Shanum mengerutkan kening, agak terkejut dengan jawaban lugas adiknya. “Tapi... Ayah sama Ibu gimana, Ra? Ibu pasti bakal ngamuk, dan kondisi Ayah sekarang lagi gini. Apa aku gak egois?”“Gak usah mikirin mereka, Mbak,” tukas Tiara ketus. Ada nada kekecewaan yang mendalam saat membahas orang tua mereka.“Kalau Mbak tetap mikirin mereka, selamanya Mbak gak bakalan bahagia. Mbak udah ngalah menuruti kemauan Ayah dan Ibu dengan menikah. Sekarang lihat hasilnya?”Shanum menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Tiara menghantam logikanya.“Mereka yang menanam benih masalah ini di masa lalu, Mbak. Mereka be
“Fadil? Buat apa dia bahas Mama?” Mendengar nama Fadil, Prana melepaskan pelukannya. Kedua matanya berubah lebih tajam. “Apa yang dia bicarakan?”Shanum menyeka pipinya dengan punggung tangan. “Sebenarnya dulu ceweknya Fadil pernah datang ke rumah, ngasih flashdisk. Di sana ada bukti Fadil selingkuh, terus ada rekaman obrolan dia sama teman dia bahas soal Ayah.”Prana mendengarkan dengan seksama, alisnya bertaut rapat.“Di rekaman itu,” Shanum menelan ludah, dadanya naik turun mengumpulkan keberanian. “Fadil bilang kalau Ayah selama ini sebenarnya miskin sama mendompleng hidup.”“Terus?”“Ayah katanya merebut warisan wanita lain. Makanya Ayah bisa jadi seperti sekarang. Ini juga yang jadi alasan kenapa Ayah gak bisa lepas dari keluarga mereka, soalnya yang membantu Ayah dan Ibu mengambil harta warisan itu ayah Fadil.”Shanum menatap Prana dengan pandangan memohon, menuntut kebenaran yang selama ini tertimbun rapi. “Apa benar, Mas? Warisan wanita lain yang dimaksud itu... milik Tante R
“Maksud Mas gimana?” tanya Shanum mencari kepastian, begitu makanan yang mereka pesan sudah habis dilahap.Tadi sebelum menjelaskan, Prana memang bersikeras ingin Shanum menghabiskan makanannya dulu. Kalau tak, ia mengancam tak akan membuka suara. Terpaksa Shanum menuruti perintah itu meski setiap suapan terasa mengganjal di tenggorokannya.“Kalau Mas anak Ayah, berarti kita adik kakak, Mas,” cecar Shanum lagi, menuntut jawaban yang sejak tadi menggantung di udara.“Sayangnya… aku memang anak Pak Tua.” Prana menyandarkan punggungnya di kursi besi kantin rumah sakit. “Tapi kamu bukan.”“Maksudnya?” Wajah Shanum seketika pucat. Tangannya yang dingin terasa semakin dingin. Ia tahu penjelasan Prana selanjutnya pasti akan jauh lebih mencengangkan dan menjungkirbalikkan sisa kewarasannya.“Kita bukan saudara kandung, Sayang. Kamu bukan adik aku,” ucap Prana, sepasang matanya menatap Shanum lurus.“Jadi maksud Mas... Ayah bukan ayah kandung aku?”Prana melihat perubahan wajah Shanum yang san
“Semua yang Mbak dengar itu salah paham,” ucap Tiara begitu mereka berada di sudut lorong sepi yang tak dilewati siapa pun.Shanum menatap Tiara dengan pandangan tak percaya. “Apanya yang salah paham, Ra? Jelas-jelas aku dengar apa yangTante Ralin bilang tadi.”Tiara menarik napas dalam, memantapkan diri sebelum berbicara. “Memang benar Mas Prana, putra dari ayah kita. Mas Prana itu anak kandung Ayah.”Kata-kata Tiara barusan menjadi pukulan telak yang menghantam telinga Shanum. Rasa jijik yang tadinya sempat mereda kini kembali menyelimuti seluruh tubuhnya, bahkan terasa berkali-kali lipat lebih pekat. Kepalanya mendadak pening, membayangkan hubungan yang selama ini ia jalani bersama Prana.“Kamu... kamu sudah tahu soal itu dari kapan, Tiara?” tanya Shanum menuntut, dan ada kemarahan mulai menyelinap di antara rasa syoknya.“Waktu Mbak Num mau nikah sama Mas Fadil,” jawab Tiara, menundukkan pandangannya. “Mas Prana datang ke rumah. Aku curi dengar pas Ayah sama Mas Prana berantem heb
“Henti jantung?” gumam Shanum. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, memicu langkah kakinya untuk berlari lebih cepat menyusuri lorong panjang menuju ruang intensif. Di ujung selasar, tepat di depan pintu kaca besar bertuliskan 'ICU', ia melihat Tiara terduduk di kursi panjang dengan bahu yang naik turun, menangis sesenggukan.“Tolong bertahan, Ayah,” bisik Shanum dalam hati, mempercepat langkahnya.Shanum langsung menghampiri adiknya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tanpa memedulikan penampilannya. Ia memegang kedua lengan Tiara dengan erat. “Tiara! Ayah mana, Ra? Sekarang Ayah gimana?”Tiara mendongak, wajahnya sudah basah kuyup oleh air mata. Menatap sang kakak, ia mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. “Mbak Num... Ayah sempat gagal napas di rumah. Untung ada Mas Prana yang langsung ambil tindakan, Mbak. Kalau gak ada dia, mungkin Ayah...”Kalimat Tiara terputus oleh tangisnya yang kembali pecah. Sebelum Shanum sempat menanyakan kronologi lebih jauh, sebuah s
“Kamu lari dari rumah, Num?”Suara Hendra ringan, seperti bercanda. Tapi sorot matanya mengamati dua koper besar dan sebuah ransel berjajar di samping kaki Shanum.Shanum mengembuskan napas pelan, tak membalas tebakan itu. Ia mendudukkan diri di sofa depan Hendra, badannya remuk setelah melewati drama panjang sejak kemarin sore di Puncak.“Benar surat cerai aku udah keluar, Mas?” tanya Shanum, langsung menagih inti persoalan.Hendra bersandar ke kursi kerjanya yang berlapis kulit hitam. Matanya melirik lagi ke arah barang bawaan Shanum sebelum membuka laci meja, mengeluarkan map jinjing biru tua, meletakkannya di hadapan Shanum.“Iya,” kata Hendra, membuka map itu. “Akta ceraimu dengan Fadil udah terbit resmi dari pengadilan agama hari ini. Salinannya ada di dalam.”Shanum menatap map biru itu. Seharusnya kabar ini jadi akhir dari penderitaannya bersama Fadil. Tapi rasa lega yang ia bayangkan berbulan-bulan lalu menguap begitu saja, digantikan rasa hambar. Pikirannya telanjur penuh ol
“Kenapa datang-datang muka udah kayak baju kagak disetrika?” tanya Hendra—sahabat Prana sekaligus pengacara Shanum—sambil menyimpan dua gelas kopi di atas meja tamu kantornya.Prana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan lelah. Ia baru sampai beberapa menit yang lalu setelah menemui Ralin
“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata
Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua
“Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S







