Share

Bab 148

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-28 08:07:53

“Buat apa kamu ke sana?” tanya Prana, terdengar tak menyukai Shanum mendatangi rumah orang tuanya. Dahinya berkerut dalam, garis-garis ketegangan di wajahnya yang lelah kembali tercetak jelas. “Ada apa Ayahmu memanggil? Kenapa mendadak sekali?”

Shanum menatap gelas di hadapannya, agak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ada jeda yang cukup panjang sebelum ia akhirnya memberanikan diri untuk menatap lurus ke dalam manik mata Prana.

“Tadi siang Ibu menelepon. Katanya Ayah mendadak ingin bertemu,”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 297

    “Fadil? Buat apa dia bahas Mama?” Mendengar nama Fadil, Prana melepaskan pelukannya. Kedua matanya berubah lebih tajam. “Apa yang dia bicarakan?”Shanum menyeka pipinya dengan punggung tangan. “Sebenarnya dulu ceweknya Fadil pernah datang ke rumah, ngasih flashdisk. Di sana ada bukti Fadil selingkuh, terus ada rekaman obrolan dia sama teman dia bahas soal Ayah.”Prana mendengarkan dengan seksama, alisnya bertaut rapat.“Di rekaman itu,” Shanum menelan ludah, dadanya naik turun mengumpulkan keberanian. “Fadil bilang kalau Ayah selama ini sebenarnya miskin sama mendompleng hidup.”“Terus?”“Ayah katanya merebut warisan wanita lain. Makanya Ayah bisa jadi seperti sekarang. Ini juga yang jadi alasan kenapa Ayah gak bisa lepas dari keluarga mereka, soalnya yang membantu Ayah dan Ibu mengambil harta warisan itu ayah Fadil.”Shanum menatap Prana dengan pandangan memohon, menuntut kebenaran yang selama ini tertimbun rapi. “Apa benar, Mas? Warisan wanita lain yang dimaksud itu... milik Tante R

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 296

    “Maksud Mas gimana?” tanya Shanum mencari kepastian, begitu makanan yang mereka pesan sudah habis dilahap.Tadi sebelum menjelaskan, Prana memang bersikeras ingin Shanum menghabiskan makanannya dulu. Kalau tak, ia mengancam tak akan membuka suara. Terpaksa Shanum menuruti perintah itu meski setiap suapan terasa mengganjal di tenggorokannya.“Kalau Mas anak Ayah, berarti kita adik kakak, Mas,” cecar Shanum lagi, menuntut jawaban yang sejak tadi menggantung di udara.“Sayangnya… aku memang anak Pak Tua.” Prana menyandarkan punggungnya di kursi besi kantin rumah sakit. “Tapi kamu bukan.”“Maksudnya?” Wajah Shanum seketika pucat. Tangannya yang dingin terasa semakin dingin. Ia tahu penjelasan Prana selanjutnya pasti akan jauh lebih mencengangkan dan menjungkirbalikkan sisa kewarasannya.“Kita bukan saudara kandung, Sayang. Kamu bukan adik aku,” ucap Prana, sepasang matanya menatap Shanum lurus.“Jadi maksud Mas... Ayah bukan ayah kandung aku?”Prana melihat perubahan wajah Shanum yang san

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 295

    “Semua yang Mbak dengar itu salah paham,” ucap Tiara begitu mereka berada di sudut lorong sepi yang tak dilewati siapa pun.Shanum menatap Tiara dengan pandangan tak percaya. “Apanya yang salah paham, Ra? Jelas-jelas aku dengar apa yangTante Ralin bilang tadi.”Tiara menarik napas dalam, memantapkan diri sebelum berbicara. “Memang benar Mas Prana, putra dari ayah kita. Mas Prana itu anak kandung Ayah.”Kata-kata Tiara barusan menjadi pukulan telak yang menghantam telinga Shanum. Rasa jijik yang tadinya sempat mereda kini kembali menyelimuti seluruh tubuhnya, bahkan terasa berkali-kali lipat lebih pekat. Kepalanya mendadak pening, membayangkan hubungan yang selama ini ia jalani bersama Prana.“Kamu... kamu sudah tahu soal itu dari kapan, Tiara?” tanya Shanum menuntut, dan ada kemarahan mulai menyelinap di antara rasa syoknya.“Waktu Mbak Num mau nikah sama Mas Fadil,” jawab Tiara, menundukkan pandangannya. “Mas Prana datang ke rumah. Aku curi dengar pas Ayah sama Mas Prana berantem heb

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 294

    “Henti jantung?” gumam Shanum. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, memicu langkah kakinya untuk berlari lebih cepat menyusuri lorong panjang menuju ruang intensif. Di ujung selasar, tepat di depan pintu kaca besar bertuliskan 'ICU', ia melihat Tiara terduduk di kursi panjang dengan bahu yang naik turun, menangis sesenggukan.“Tolong bertahan, Ayah,” bisik Shanum dalam hati, mempercepat langkahnya.Shanum langsung menghampiri adiknya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tanpa memedulikan penampilannya. Ia memegang kedua lengan Tiara dengan erat. “Tiara! Ayah mana, Ra? Sekarang Ayah gimana?”Tiara mendongak, wajahnya sudah basah kuyup oleh air mata. Menatap sang kakak, ia mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. “Mbak Num... Ayah sempat gagal napas di rumah. Untung ada Mas Prana yang langsung ambil tindakan, Mbak. Kalau gak ada dia, mungkin Ayah...”Kalimat Tiara terputus oleh tangisnya yang kembali pecah. Sebelum Shanum sempat menanyakan kronologi lebih jauh, sebuah s

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 293

    “Kamu lari dari rumah, Num?”Suara Hendra ringan, seperti bercanda. Tapi sorot matanya mengamati dua koper besar dan sebuah ransel berjajar di samping kaki Shanum.Shanum mengembuskan napas pelan, tak membalas tebakan itu. Ia mendudukkan diri di sofa depan Hendra, badannya remuk setelah melewati drama panjang sejak kemarin sore di Puncak.“Benar surat cerai aku udah keluar, Mas?” tanya Shanum, langsung menagih inti persoalan.Hendra bersandar ke kursi kerjanya yang berlapis kulit hitam. Matanya melirik lagi ke arah barang bawaan Shanum sebelum membuka laci meja, mengeluarkan map jinjing biru tua, meletakkannya di hadapan Shanum.“Iya,” kata Hendra, membuka map itu. “Akta ceraimu dengan Fadil udah terbit resmi dari pengadilan agama hari ini. Salinannya ada di dalam.”Shanum menatap map biru itu. Seharusnya kabar ini jadi akhir dari penderitaannya bersama Fadil. Tapi rasa lega yang ia bayangkan berbulan-bulan lalu menguap begitu saja, digantikan rasa hambar. Pikirannya telanjur penuh ol

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 292

    "Di mana Shanum?" tanya Prana tanpa basa-basi. Matanya menyapu seisi ruangan, mencari tanda-tanda keberadaan wanita itu. “Kalian pasti menyembunyikan Shanum.”Sebelum kembali mendatangi kediaman Bobby, Prana sudah terlebih dahulu ke apartemennya, tapi di sana sudah tidak ada jejak Shanum. Wanita itu sudah pergi membawa seluruh pakaiannya dari apartemen Prana.Bobby mengerutkan keningnya, menatap Prana dengan pandangan tidak mengerti. "Shanum? Bukannya kamu sendiri yang tadi membawa pergi adikmu dari sini? Kenapa sekarang kamu balik lagi dan mencari dia di rumah ini?"Mata Prana terhunus penuh permusuhan, menatap langsung ke sepasang mata Bobby. "Berhenti menyebut Shanum adikku.”Suasana ruang tamu seketika membeku. Bobby membuka mulut hendak membalas, tetapi Prana lebih dulu memotongnya. "Sampai kapan pun Shanum gak akan pernah jadi adikku."Wajah Bobby langsung menegang. Pria tua itu tertegun, wajahnya yang memerah mendadak terkunci oleh kalimat Prana. "Tapi kamu darah daging Papa, P

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 44

    “Mas, seharusnya tadi aku bawa mobil sendiri saja,” gerutu Shanum sambil terus meremas jemarinya yang dingin. “Kalau Mas Fadil lihat kita datang bersama, gimana?”Setelah perjuangan singkat melawan kantuk dan guncangan hebat mendengar kabar ayahnya, Shanum akhirnya menyerah duduk di kursi penumpang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 42

    Shanum menutup pintu kamar mandi dengan sentakan keras. Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. Di dalam ruangan kedap suara ini, ia merasa seperti dikurung bersama bayangan-bayangan mengerikan yang baru saja ia tumpahkan di depan Prana.“Apa yang sudah kula

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 41

    “Kamu nggak pakai pengaman lagi, Mas?!” seru Shanum naik satu oktav. Seluruh sarafnya yang baru saja rileks kini menegang seketika.Ia terduduk di tengah ranjang dengan napas yang kembali memburu, tak memedulikan rambutnya yang berantakan atau tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Mat

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 40

    Prana membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Shanum, mencium dan menghisap leher Shanum. Tangan Prana yang besar bergerak perlahan, mengusap leher, turun ke bahu, hingga menjelajahi lekukan tubuh lain.“Dalam mimpimu, apa aku melakukan ini?” tanya Prana penuh godaan. Bibirnya menyapu l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status