LOGIN“Iya, Sar. Pastikan laporan pasien sudah ada di meja saya besok pagi sebelum jam visit pasien,” ujar Prana tegas melalui sambungan teleponnya pada Sarah—dokter residen.Pintu lift apartemen berdenting terbuka di lantai dua puluh. Prana melangkah keluar sembari menempelkan ponsel di telinga kirinya, sementara tangan kanannya bergerak memijat kening yang terasa pening sejak sore tadi.Selepas menyelesaikan diskusi panjang yang menguras pikiran di kantor Hendra, ia memang tak punya waktu untuk beristirahat sedikit pun.Ia harus langsung bergegas menuju rumah sakit untuk membuka praktik klinik hingga pukul delapan malam. Fisiknya benar-benar lelah, ditambah lagi beban pikiran mengenai teror foto yang belum terungkap dalangnya.“Baik, terima kasih, dokter Sarah. Selamat malam,” lanjut Prana, dan menurunkan ponselnya begitu panggilan terputus.Prana menyusuri koridor apartemen dengan cepat, sisa-sisa keletihan yang hebat menggelayuti pundaknya. Begitu jaraknya tinggal beberapa meter dari un
“Kamu harus bisa melakukannya, Pran. Ini buat kebaikan Shanum,” saran Hendra lagi, memastikan Prana benar-benar paham batasan yang harus dijaga selama masa krusial ini. “Dan satu lagi, pastikan Shanum gak tahu soal teror foto ini. Aku takut dia berubah pikiran karena takut kamu akan terkena imbas perceraiannya!”Prana yang tadinya sudah meletakkan ibu jari di atas layar ponsel, menunda gerakannya. Ia menatap benda pipih itu sejenak sebelum mendongak. “Tapi Shanum berhak tahu kalau dia sedang diawasi, Hen. Aku curiga Shanum juga mendapatkan teror yang sama.”“Nggak untuk yang satu ini, Pran. Aku sudah menghubungi Malik, pengacara Shanum yang sebelumnya. Katanya ancaman model begini memang hanya ditujukan pada kuasa hukum saja. Mereka sengaja menyerangku agar aku merasa terancam, lalu mundur seperti yang dilakukan Malik tempo hari,” potong Hendra cepat.Hendra kembali meraih salah satu cetakan foto yang tersebar di meja, mengamati detail gambar yang diambil secara sembunyi-sembunyi itu.
“Kamu benar-benar susah di kasih tahu, Pran!” semprot Hendra—pengacara Shanum—langsung pada Prana yang baru saja masuk ke ruang kerjanya tanpa membiarkan sahabatnya duduk terlebih dahulu. Kekesalan jelas membayangi wajahnya.Prana melangkah mendekat santai, sambil duduk di sofa tamu. Dahinya berkerut melihat reaksi Hendra. “Ada apa nyuruh kesini?”“Pran, berkali-kali aku ingatkan, jangan pernah terlihat jalan berdua atau berhubungan langsung dengan Shanum selama proses gugatan belum resmi masuk ke pengadilan! Kenapa kalian gak bisa tunggu sampai semuanya selesai dulu?!” bentak Hendra, telunjuknya menunjuk tepat ke arah map di atas meja.Prana tetap tenang, tangannya meraih map plastik tersebut, membuka klip penguncinya, dan mengeluarkan isinya.Di dalam map itu, terdapat tumpukan kertas cetak foto digital dengan kualitas tinggi. Mata Prana menyusuri setiap lembar gambar tersebut.Foto-foto itu merekam kegiatannya bersama Shanum di pasar loak minggu lalu, obrolan mereka di meja sudut L
"Tapi Fadil itu jahat, Yah! Dia kasar sama aku!" Shanum mulai membela diri, matanya memanas menahan air mata yang hendak tumpah.Tangannya bergerak cepat merogoh tas selempang yang tergeletak di samping kursi, mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru. Digeser folder galeri, khusus menyimpan bukti foto kekerasan yang dilakukan Fadil.Shanum menyodorkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Bobby. Ia memperlihatkan foto saat wajahnya babak belur.Di sana, jelas terlihat sudut bibirnya yang pecah mengeluarkan darah kering, serta lebam keunguan yang kontras di sekitar tulang pipi dan kelopak mata kirinya akibat hantaman benda tumpul."Lihat, Ayah. Lihat ini!" seru Shanum bercampur frustrasi yang mendalam. "Ini yang aku lalui di rumah itu selama lima tahun ini! Aku bertahan demi berbakti sama Ayah. Tapi Fadil memperlakukan aku lebih rendah dari binatang?"Bobby menatap foto gambar luka-luka Shanum. Namun, tak ada keterkejutan di wajah tua itu. Alih-alih merengkuh putrinya atau mengutuk p
"Shanum, Ayah minta kamu ke rumah sekarang!" Suara Ani—ibu kandungnya—langsung menyergap begitu Shanum menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Nada bicaranya tak sedingin kemarin di taman rumah sakit, melainkan terdengar buru-buru sekaligus tegas."Ayah udah gak marah?" tanya Shanum memastikan, tak percaya dengan pendengarannya sendiri."Dia mau bicara. Cepat ke sini, jangan pakai lama," ketus Ani sebelum langsung memutuskan sambungan sepihak.Shanum menurunkan ponsel dari telinga dengan perasaan yang mendadak dipenuhi kelegaan. Setelah berhari-hari ia dirundung kecemasan karena diusir oleh ibunya di taman rumah sakit, akhirnya ada kabar baik. Ayahnya yang meminta bertemu secara langsung.Sesampainya di sana, suasana rumah terasa begitu sepi. Pintu utama tak terkunci. Shanum melangkah masuk dengan dada yang berdegup kencang. Ia melewati ruang tamu yang lengang hingga tiba di depan kamar utama di lantai bawah. Pintu kamar itu sedikit terbuka."Ayah ada di kamarnya, masuk saja. Dia s
Ponsel di atas pangkuan Shanum kembali menyala terang. Getaran panjang menyertai kemunculan foto profil Prana yang memenuhi layar, menandakan pria itu sedang mencoba menghubunginya kembali melalui panggilan video.Shanum hanya menatap ponselnya dengan pandangan kosong. Layar itu terus berkedip, menampilkan opsi hijau untuk menerima dan merah untuk menolak. Tapi taka da sedikitpun niatan Shanum untuk menjawabnya.Detik berikutnya, sebuah pesan singkat masuk. Sebuah getaran pendek terdengar. “Udah tidur ya? Aku kaget kok teleponnya mati tiba-tiba.”Shanum menatap baris kalimat itu. Rasa sesak di dadanya kian menghimpit, menyisakan ruang yang teramat sempit untuk sekadar bernapas secara normal. Ia menyentuh papan ketik virtual, mengetikkan kebohongan kecil untuk mengakhiri malam yang melelahkan ini.“Baterai ponselku habis, Mas. Ini baru aku cas. Besok lagi aja ya teleponnya, Mas juga harus istirahat, udah malam.”Setelah menekan tombol kirim, Shanum langsung membalikkan ponselnya dengan
Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata
“Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu
Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana
Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p







