Compartilhar

Bab 261

Autor: QueenShe
last update Data de publicação: 2026-07-06 13:25:16

“Kenapa aku harus disuruh bersembunyi?” gumamnya pada diri sendiri.

Shanum tak membantah, dan segera bangkit dari sofa, setengah berlari masuk ke dalam kamar tidur utama dan menutup pintunya rapat. Di dalam kamar yang sepi, Shanum duduk di tepi ranjang.

Pikirannya mendadak kalut. “Memangnya siapa yang datang?”

Shanum menunggu hampir satu menit. Tak ada yang terjadi. Rasa penasaran justru semakin menjadi. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap lurus ke arah pintu kayu yang tertutup. Akhirnya ia ba
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
karma dari masa lalu apakah itu, kk? ah, rahasia skalee..hehe. Semangat..!
goodnovel comment avatar
Kris yoyo
ya ampun smoga gak ada lg penghalang hubungan prana sama shanum, kasihan bgt prana sama shanum...smoga shanum hamil lg wkwk...makasih up nya thor
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 279

    “Mas, gimana Mama Ralin?” tanya Hania mendekati Prana yang kini tengah berada di teras vila.Pria itu terlihat gelisah, matanya tak lepas menatap layar ponsel di genggamannya. Ibu jarinya berulang kali menekan tombol kunci, membuka baris obrolan, lalu menutupnya kembali tanpa hasil.“Mama udah baikan. Tadi udah mau makan sedikit,” jawab Prana pendek. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, mencoba mengalihkan pandangan pada kabut malam yang mulai menipis di halaman depan.Hania ikut berdiri di sisi pagar pembatas teras, merapatkan cardigan rajutnya untuk menghalau angin malam. “Baguslah kalau udah baikan.”Prana hanya mengangguk pelan. Pikirannya sama sekali tak berada di teras ini. Gelisah di dadanya kian menjadi karena sejak tiga jam lalu, Shanum tak kunjung menjawab telepon ataupun membalas satu pun pesan singkatnya. Panggilan terakhirnya bahkan langsung dialihkan ke kotak suara.Kegelisahan Prana tak luput dari perhatian Hania. Wanita itu terus memperhatikan Prana yan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 278

    “Kalau Mas nikah sama dia, Mas bisa nyakitin Mam Ralin lebih dalam.” Hania menatap Prana begitu dalam.Rahang Prana kembali mengetat. “Tapi Shanum gak terlibat dalam masalah masa lalu itu. Dia gak tahu apa-apa, Han.”“Tapi dia bagian dari masa lalu itu, Mas Prana!” sanggah Hania sedikit meninggi, matanya menatap Prana penuh kekecewaan yang mendalam. “Setiap kali Mama Ralin melihat wajah Shanum, memori buruk itu pasti akan berputar lagi di kepalanya. Apa Mas gak memikirkan dampak psikologisnya bagi Mama Ralin?”Prana mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca yang menampilkan pekatnya malam Puncak.“Nanti aku akan menjelaskan pelan-pelan sama Mama. Tapi aku gak bisa membatalkan rencana aku dan Shanum hanya karena masalah masa lalu yang terus dipelihara.”Hania mengembuskan napas pendek, lalu bangkit dari duduknya. Ia membetulkan posisi pakaiannya sebelum menatap Prana untuk terakhir kalinya malam itu.“Mas boleh merasa paling kuat untuk melindungi semua orang. Tapi ingat, Mas, strok

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 277

    Mata Prana terus memperhatikan mobil yang membawa Shanum pergi. Kendaraan itu perlahan bergerak menjauh. Prana meraba ponsel di saku celananya, memastikan benda itu aktif agar bisa segera menerima kabar dari Shanum.Setelah memastikan kepergian Shanum, ia membalikkan badan, hendak kembali masuk ke area kafe untuk menghadapi meja Ralin. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu kaca. Ralin, Hania, dan Lastri ternyata sudah berjalan keluar secara beriringan.Hania memapah lengan Ralin di sebelah kanan, sementara Lastri berjalan di sisi kiri dengan wajah masam yang kentara.“Kenapa keluar?”Hania mendongak, mendapati Prana yang berdiri kaku di depan mereka. “Mas, Mama Ralin pusing. Kita mau kembali ke vila sekarang,” jawab Hania cepat.Prana langsung menatap wajah ibunya. Detik itu juga, rasa khawatir langsung menyergap dada. Wajah Ralin tampak sangat pucat, dengan kelopak mata yang terpejam setengah dan sudut bibirnya yang tampak kaku menahan sakit.Prana tahu betul riwayat medis ibunya

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 276

    “Mas, apa maksud Tante Ralin?” tanya Shanum, matanya menatap punggung tegap Prana, menuntut penjelasan yang selama tiga tahun ini tak pernah ia ketahui. “Siapa yang menghancurkan kalian? Mereka siapa?”Prana tak langsung berbalik, bahunya menegang kaku. Ketika akhirnya memutar tubuh, tatapannya menyiratkan kepanikan pekat.“Gak ada apa-apa, Num. Jangan didengerin,” potong Prana cepat, memegang kedua lengan Shanum erat, mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini cuma salah paham. Kita pulang sekarang, ya?”“Salah paham, kamu bilang, Pran?!” Ralin menyambar menyakitkan. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berdiri tepat di samping putranya, menghadap Shanum sepenuhnya. “Kamu sebut seluruh air mata Mama selama ini cuma salah paham?”“Sebenarnya ada apa, Tan?” tanya Shanum, berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.Dilepaskannya cengkeraman Prana di lengannya. Kepalanya mulai berdenyut. Tatapan benci Ralin jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang ibu yang anaknya didekati seorang jand

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 275

    “Mama gak akan kasih restu sampai kapanpun,” ucap Ralin tegas. “Kamu bakal tetap menikah?”Prana terdiam beberapa saat. Genggaman tangannya pada jemari Shanum semakin mengunci kuat, seolah memberikan tanda bahwa ia tak akan pernah melepaskan wanita itu apa pun yang terjadi.“Aku bakal tetap menikahi Shanum, Ma. Dengan atau tanpa restu dari siapa pun,” jawab Prana, mutlak tanpa keraguan sedikit pun.Shanum tersentak mendengar kalimat nekat kekasihnya. Ia menarik tangannya dari kuncian Prana dengan sekali sentakan kuat. “Mas, jangan bicara begitu sama Tante Ralin! Gak boleh!”Mata Shanum menatap Ralin dengan pandangan penuh rasa hormat sekaligus penyesalan yang mendalam. “Tante, maafkan atas semua kesalahan aku di masa lalu yang sudah membuat Tante dan Mas Prana sedih. Aku gak ada niat sedikit pun untuk mengganggu Tante dengan Mas Prana.”Ralin sama sekali tak bergeming. Ia mengabaikan posisi berdiri Shanum, bahkan tak melirik wanita itu sedikit pun. Fokusnya tetap terkunci pada Prana,

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 274

    “Apa yang mau dibicarakan sama Mama, Pran?” tanya Ralin datar.Sudah sepuluh menit mereka duduk bersama bertiga di meja sudut kafe yang agak terpisah dari meja Hania dan Lastri.Tak sedikit pun Ralin menganggap kehadiran Shanum di sana. Tatapannya tertuju lurus pada Prana, mengabaikan keberadaan wanita di sebelah putranya yang kini meremas ujung kardigan di bawah meja.Prana memajukan posisi duduknya, menaruh kedua tangannya di atas meja. Ia melirik Shanum sekilas, memberikan ketenangan lewat sorot matanya sebelum kembali menatap sang ibu.“Aku sudah melamar Shanum, Ma. Rencananya kami mau menikah dalam waktu dekat,” ucap Prana tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu tenang, kokoh, dan terdengar sangat bulat.Ralin tidak langsung merespons. Ia meraih cangkir teh kamomil hangat yang baru saja disajikan pelayan, menyesapnya sedikit dengan gerakan teratur. Setelah menaruh kembali cangkir itu ke tatakan piring kecil, barulah ia menatap Prana dengan sepasang mata yang menyipit.“Menikah?”

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung w

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 2

    Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 1

    “Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status