Share

Bab 3

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-04-01 08:23:12

“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?”

Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tatapan Prana yang duduk tepat di seberangnya.

Prana tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. “Sangat nyaman, Fadil. Terima kasih sudah mengijinkanku tinggal disini”

Sesekali mata Prana mengikuti setiap gerakan Shanum yang tengah meletakkan piring atau menuangkan air.

“Jangan sungkan, kita ini kan kawan lama,” Fadil menepuk meja dengan keras, suaranya menggelegar bangga. “Anggap seperti di rumah sendiri.”

Ia kemudian beralih ke topik yang sejak tadi ingin ia pamerkan.

“Oh ya, pesananmu dari Jerman buat klinik barumu itu sudah tiba di gudangku tadi sore. Sekarang dalam perjalanan dikirim ke klinik barumu.”

Sebagai pengusaha importir Alat Kesehatan, Fadil memang memiliki jaringan yang luas dengan para dokter, termasuk Prana. Kedekatan mereka berawal dari urusan bisnis, dari pemesanan alat-alat bedah hingga pameran alkes di luar negeri.

Mata Prana berkilat. “Cepat juga ya.”

“Siapa dulu importirnya,” Fadil terkekeh pongah, dadanya membusung. “Nah, mumpung alatnya canggih dan ada ahlinya di sini, aku mau minta tolong secara pribadi sama kamu, Pran.”

“Apa itu?”

Gerakan sendok Shanum terhenti di udara. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan itu membuatnya merasa mual karena malu.

“Tolong periksa istriku ini. Pakai alat-alat terbaru itu,” lanjut Fadil tanpa beban. “Aku curiga dia ini mandul. Bayangkan, lima tahun, Pran! Rahimnya mungkin bermasalah.”

Wajah Shanum seketika memanas. Rasa malu yang luar biasa kini bercampur dengan penghinaan yang menembus tulang. Fadil menuduhnya mandul pada pria yang tujuh tahun lalu memujanya penuh cinta. Kini ia merasa seperti barang rusak yang sedang dipertontonkan.

“Mas, sebaiknya nanti aja bahas itunya?” sela Shanum lirih, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. “Masa alat baru datang dari Jerman langsung disuruh dipakai buat meriksa aku. Kita kan bukan pasien special.”

“Ngapain nunggu nanti? Prana ada di sini. Alatnya ada. Aku mau pemeriksaan ini dipercepat,” jawab Fadil acuh tanpa menoleh pada istrinya. “Aku dan keluargaku udah nggak sabar pengen punya pewaris, Shanum. Kalau kamu bermasalah, kita harus tahu secepatnya biar bisa 'diperbaiki'.”

“Tapi Mas—”

“Jangan banyak bantah. Ini buat kepentingan kamu sendiri juga!” potong Fadil tak menerima bantahan. Nadanya tersirat akan ada “hukuman” jika Shanum berani bersuara lagi.

“Prana ini dokter terbaik, kamu harusnya bersyukur bisa diperiksa sama dia tanpa perlu antre berbulan-bulan.”

Shanum terdiam, jemarinya meremas serbet di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia tak berani mendongak, namun ia bisa merasakan panasnya tatapan Prana yang terpakunya.

Prana sendiri sedari tadi hanya menyimak dengan ketenangan yang luar biasa. Ia mengamati bagaimana Fadil memperlakukan Shanum bukan sebagai pendamping hidup, melainkan sebagai aset yang gagal berfungsi.

Prana menyesap tehnya perlahan, matanya yang tajam seakan-akan sedang menelanjangi ketidakberdayaan Shanum.

“Gimana, Pran? Bisa kan? Sebagai teman, aku minta tolong cari tahu kenapa dia nggak hamil-hamil,” desak Fadil. Lagi-lagi tak menerima penolakan.

Prana meletakkan cangkirnya dengan tenang.

“Tentu, Fadil. Sebagai dokter, aku bisa memeriksanya. Kalau begitu istrimu bisa diperiksa lusa, setelah alat-alatnya di install di klinik. Kita akan cari tahu di mana letak ‘masalahnya’.”

Kalimat Prana terdengar profesional di telinga Fadil. Berbeda dengan Shanum, setiap kata seakan-akan menelanjanginya. Shanum merapatkan kedua pahanya di bawah meja. Ia membayangkan lusa mantan kekasihnya ini akan memiliki akses legal untuk menyentuh tubuhnya.

“Bagus kalau begitu,” Fadil tertawa puas, tidak menyadari ketegangan yang hampir meledak di antara istri dan temannya. “Makan yang banyak, Pran! Jangan sungkan.”

Shanum tetap menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Di bawah meja, dalam keadaan gugup, ia tak sengaja menyenggol kaki Prana. Shanum hendak menarik kakinya dengan cepat, namun Prana justru menahan kaki Shanum dengan kakinya sendiri.

Prana tidak menjauh, ia justru memberikan tekanan halus yang disengaja, sebuah sentuhan kulit ke kulit yang membuat napas Shanum tersendat dan area bawahnya terasa berkedut hebat.

“Lusa kamu bisa datang ke klinik. Kita bisa memulai pemeriksaannya.”

“Bagus kalau begitu. Lebih cepat lebih baik.”

Fadil tertawa senang sambil menoleh pada istrinya.

“Kamu dengar kan? Lusa kamu bisa langsung program kehamilan,” ujar Fadil. Nadanya terdengar menyalahkan Shanum karena belum memiliki momongan.

Shanum menatap Prana dengan mata yang berkaca-kaca karena panik. Kedua mata mereka terkunci sejenak. Ada kilat gelap di matanya yang sulit di artikan.

Sementara di bawah meja, kaki Prana terus mengunci kaki Shanum, memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh Shanum. Sebuah tindakan provokatif yang sangat kontras dengan ekspresi wajahnya yang tetap tenang dan berwibawa di depan Fadil.

“Iya Mas, dengar,” jawab Shanum akhirnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Zetha Salvatore
Jangan nyesel ya kau Fadil wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Lily Aislin
salah satu contoh patriarki yang paling aku benci, dia yang salah tapi nggak sadar dan malah nyalain yang lain. Isshh, amit2.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 115

    “Keluyuran terus gak bilang-bilang,” sindir Fadil tanpa menoleh.Shanum langsung menangkap sosok Fadil yang sedang duduk santai di sofa panjang sembari menonton televisi, begitu dirinya memasuki rumah.Fadil hanya melirik Shanum sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali memfokuskan perhatian pada layar besar di depannya. Wajahnya tampak mendung, ada gurat kekesalan disana.Shanum menghentikan langkah sejenak, tapi ia tak berniat mendekat. “Dari rumah Ayah,” jawabnya datar.Shanum bisa merasakan bahwa Fadil sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Biasanya, Shanum akan merasa cemas atau berusaha mencairkan suasana agar tak terjadi keributan.Sekarang, ia enggan berpura-pura peduli. Ia tak ingin membuang energi untuk berkomunikasi lebih jauh dengan pria itu. Tanpa menunggu balasan, Shanum langsung nyelonong pergi, berniat masuk ke dalam kamar dan mengunci diri.“Shanum,” panggil Fadil tepat saat tangan Shanum menyentuh gagang pintu. “Besok bereskan lantai dua.”Langkah Shanum terh

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 114

    Shanum bersiap untuk pulang dari rumah orang tuanya. Langkahnya baru mencapai pintu utama saat lengan atasnya dicengkram dengan kuat dari belakang. Ia menoleh, mendapati wajah ibunya, Ani, yang tampak tegang dengan guratan kecemasan yang dalam di dahinya.“Ada apa, Bu?” tanya Shanum heran, melepaskan cengkeraman tangan ibunya dengan halus. “Shanum harus pulang sekarang, keburu malam.”Tanpa berkata-kata, Ani menarik tubuh Shanum menjauh dari pintu, membawanya masuk kembali ke area dapur yang lebih tertutup.“Ibu perhatikan sejak tadi kamu gelisah terus. Sekarang jawab jujur, kamu gak ada niatan untuk melayangkan gugatan perceraian lagi sama Fadil, kan?” cetus Ani penuh penekanan.Shanum menatap ibunya datar, lelah mendengar topik yang sama terus-menerus diulang. “Memangnya kenapa kalau Shanum gugat cerai Mas Fadil lagi, Bu? Hidup Shanum yang hancur, bukan hidup Ibu.”“Jangan gila kamu!” Ani menaikkan nada bicaranya, matanya melebar panik. “Ibu mewanti-wanti ya, jangan pernah lagi kam

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 113

    “Jadi sebelum mereka memaksa mengajak lagi Shanum ke Dokter Tio, aku minta bagaimanapun caranya bikin Shanum hamil. Pokoknya kalau bisa dua bulan ini Shanum udah hamil.”Kalimat yang meluncur mulus dari bibir Fadil membuat atmosfer di dalam ruangan mendadak membeku. Prana tak langsung merespons. Pandangannya terkunci pada wajah Fadil yang masih tampak tak berdosa, seolah-olah permintaan barusan hanyalah perkara menitip barang belanjaan.“Bikin Shanum hamil?” Prana mengulangnya dengan menekan setiap suku kata agar terdengar tetap profesional di luar, meski isi kepalanya sudah mendidih.“Kamu baru saja mengakui kalau kualitas spermamu buruk, Dil. Berdasarkan ilmu medis, kehamilan itu gak bisa terjadi secara magis tanpa ada sel sperma yang sehat untuk membuahi,” terang Prana.Fadil berdecak, sedikit tak sabar menghadapi penjelasan teoritis temannya. Ia memajukan badannya lagi, menepuk permukaan meja kayu beberapa kali.“Makanya aku datang ke kamu, kamu kan ahlinya! Kamu pasti punya banya

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 112

    “Nggak ada paksaan, dok,” jawab Aresta akhirnya. Suaranya sangat pelan, tanpa emosi. “Ini murni keputusan saya.”Riko di sebelah kanan tampak gelisah, bokongnya bergeser beberapa kali di atas kursi empuk. Ia ingin memotong, tetapi tatapan tajam Prana yang menghunus beberapa saat, dan sukses mengunci bibirnya rapat-rapat.Prana mencatat jawaban itu pada lembar rekam medis di hadapannya tanpa banyak bertanya lagi. “Baik. Sesuai permintaan, kita akan memasang kontrasepsi IUD atau KB spiral malam ini. Suster Mira, tolong siapkan ruang tindakan dan peralatan.”“Baik, Dok,” sahut Mira cekatan, langsung melangkah menuju bilik pemeriksaan di sebelah dalam dan menyiapkan segala keperluan medis.Saat Aresta bangkit berdiri untuk menuju ruang tindakan, langkah kakinya tampak sangat berat. Riko tak ikut masuk, ia memilih menunggu di kursi luar dengan ponsel menempel di telinga, kembali sibuk mengurus jadwal artisnya yang padat.Di dalam ruang tindakan, tirai ditutup rapat. Mira membantu Aresta un

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 111

    “Sus Mira, pasien terakhir sudah pulang ya?” tanya Prana dari balik meja kerjanya.“Sudah, Dok.” Mira meletakkan peralatan pemeriksaan di tempatnya. “Hari ini lumayan padat.”Prana mengangguk sambil menandatangani satu lembar rekam medis terakhir. Ia sudah melepas jas putihnya, menggantinya dengan kemeja biru tua yang lengan panjang. Tinggal beberapa berkas, ia berencana pulang lebih awal dari biasanya.Rencananya sederhana. Beli makanan dekat kompleks. Naik ke lantai dua, mengawasi Shanum dari balkonnya. Seharian wanita itu tak memberi kabar apa-apa setelah di antar ke rumah ayahnya.Tapi rencana itu buyar ketika Sisca bagian resepsionis mengetuk. “Dok, ada pasien. Katanya sudah langganan kesini.”Prana melirik Mira sambil menaikan sebelah alisnya. Mira sendiri segera berjalan keluar kamar periksa. Di ruang tunggu, ada dua sosok. Yang pertama adalah pria— meski berpakaian seperti perempuan Mira langsung mengenali siluet tubuhnya.Yang kedua adalah wanita muda. Usianya mungkin awal dua

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 110

    “Akhirnya keluar juga,” gumam Prana santai duduk di balik kemudi.Langkah Shanum langsung terhenti di ambang teras, beberapa detik ia keluar dari rumah. Sebuah SUV hitam mengkilap terparkir tepat di depan. Pagi ini berniat mengunjungi ayahnya. Sudah beberapa hari ia tak menengok ke sana, sementara pikirannya terasa terlalu penuh dan sesak jika terus berdiam diri di rumah sendirian.Alis Shanum terangkat heran. “Mas?”Prana menyapu penampilan Shanum dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu sudut bibirnya tertarik ke atas. “Masuk.”“Kok Mas masih di sini?” Shanum menuruni anak tangga teras dengan langkah ragu. “Bukannya ada jadwal di rumah sakit pagi ini?”“Seharian ini aku di klinik, gak ada jadwal di rumah sakit.” Prana membuka kunci pintu penumpang dari dalam. “Sekalian lewat arah klinik, aku antar kamu dulu.”Shanum refleks menoleh ke sekeliling halaman, waspada. “Bagaimana kalau Mas Fadil lihat?”Prana ikut melirik halaman rumah yang lengang, lalu kembali menatap Shanum dengan soro

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 11

    Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 10

    “Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 13

    Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 12

    Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status