Share

Satu Kali Lagi, Mas
Satu Kali Lagi, Mas
Author: QueenShe

Bab 1

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-04-01 08:22:29

“Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…”

Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya.

“Sudah, Mas?” tanya Shanum getir.

Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi Shanum.

Ia berguling ke samping, memunggungi Shanum seakan-akan istrinya hanyalah benda mati yang baru saja selesai digunakan. Dalam hitungan detik, dengkur halusnya mulai terdengar.

“Sudahlah. Memangnya mau kamu gimana lagi?” sahut Fadil ketus.

Alih-alih merasakan lega, Shanum malah merasa gamang dan tidak nyaman, sisa dari sebuah 'kewajiban' yang baru saja ia tunaikan. Ada kebutuhan biologis yang menggantung dan tak pernah menemukan muaranya selama lima tahun pernikahan mereka.

“Selalu saja begini,” gumam Shanum lirih, menatap hampa punggung suaminya yang sudah tertidur. “Abis selesai, langsung tidur. Gak peduli aku sudah sampai atau enggak.”

Jemari Shanum meremas sprei di bawah jemarinya, mengingat sejak malam pertama pernikahan mereka hingga detik ini, ia tak pernah tahu rasanya “puas” di tangan suaminya.

Hubungan intim bagi Fadil hanyalah jalan searah. Ia adalah penguasa, dan Shanum hanyalah pelayan yang harus selalu siap sedia.

“Egois,” batinnya berteriak penuh rasa frustrasi. “Hanya aku yang harus melayani, gak pernah nanya apa aku mau!”

Ironisnya, di balik balutan daster dan sikap santunnya, Shanum sebenarnya memiliki gairah yang membara. Tapi ia terlahir dari produk didikan patriarki yang kaku sejak kecil.

Ia selalu teringat pesan ibunya dulu, “Tugas istri itu hanya menyenangkan suami, Shanum. Jangan banyak membantah, nanti kualat.”

Sebuah doktrin yang mengajarkan bahwa ekspresi hasrat bagi seorang perempuan adalah aib yang tabu.

“Tapi aku manusia, Bu,” gumamnya pedih. “Aku juga punya ingin merasakan nyaman.”

Sebagai penganut paham yang sama. Di mata Fadil, Shanum tidak punya hak untuk menginginkan lebih, apalagi menuntut kepuasan yang setara.

Ia mengunci rapat pintu kebebasan Shanum, menempatkan istrinya hanya sebagai pelayan ranjang yang patuh, mesin untuk melahirkan anak, dan pengurus rumah yang bisu.

Shanum menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang menghimpit dadanya. Ia menyibak selimut perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Tapi tetap saja gerakannya cukup untuk mengusik tidur pria di sampingnya.

“Mau ke mana kamu?” tanya Fadil berat dan serak, terdengar penuh otoritas meski matanya masih terpejam.

Gerakan Shanum tertahan di tepi ranjang. “Mau ke dapur, Mas. Haus, pengen minum.”

Fadil mengubah posisinya, membuka mata sedikit hanya menatap tajam punggung istrinya yang terbalut lingerie sutra tipis dengan potongan dada rendah.

Outer yang dikenakan Shanum pun tak membantu banyak. Bahannya transparan dan sangat pendek, memperlihatkan paha mulusnya yang terekspos jelas.

“Sekalian bawain aku minum juga. Jangan lama-lama,” perintah Fadil, kembali memunggungi istrinya.

“Iya, Mas,” jawab Shanum lirih.

Kakinya melangkah keluar kamar. Tepat saat ia hendak menuangkan air ke gelas di dapur, suara bel pintu depan berdenting nyaring.

Ting... tong...

“Siapa pagi-pagi begini?” gumamnya heran.

Pikirannya yang masih kacau dan setengah mengantuk membuatnya lupa diri. Tanpa mengganti pakaiannya yang sangat terbuka, ia melangkah menuju pintu depan. Ia hanya ingin tahu siapa yang bertamu di jam sepagi ini.

Tanpa pikir panjang Shanum menarik daun pintu perlahan, dan detik itu juga, dunianya seakan berhenti berputar. Seluruh ototnya mendadak kaku.

Seorang pria berdiri di sana. Sosok tegap dengan rahang tegas yang sangat ia kenali. Pria yang lima tahun lalu ia tinggalkan tanpa kata, , terkubur dalam luka masa lalu yang paling dalam.

“Mas... Prana?” bisik Shanum, suaranya nyaris hilang.

Di seberang pintu, Prana terpaku. Ia mematung dengan kunci di tangan dan tas di bahu juga dua koper besar disisinya. Matanya yang tajam melebar terkejut melihat sosok wanita di depannya.

Semalam ia hanya dikirimi pesan oleh pemilik rumah kalau ia boleh datang pagi ini sebelum jam kerja. Tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang membukakan pintu adalah Shanum, mantan kekasih.

“Shanum,” panggil Prana yang juga berbisik.

Pandangan Prana tak bisa berpaling. Ia terpana, menelan ludah saat matanya menyapu penampilan Shanum dengan lingeri tipis yang ia kenakan.

Kain transparan itu tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh Shanum, memperlihatkan paha putih yang terekspos dan belahan dada yang mengintip jelas di balik outer yang terbuka.

“Shanum?” tanya Prana dipenuhi ketidakpercayaan. “Kenapa kamu ada di sini?”

Prana mendadak menegang. Ia melihat Shanum bukan lagi sebagai kenangan, melainkan sebagai wanita dewasa yang tampak begitu menggoda sekaligus rapuh dalam balutan pakaian minim itu.

“Mas Prana, kenapa...” Shanum tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Sadar dari keterkejutan, tangan Shanum refleks merapatkan outer tipisnya, meskipun percuma, karena Prana sudah melihatnya. Kebingungan menyergap keduanya.

Prana hanya tahu bahwa rumah yang ia sewa itu adalah milik Fadil. Ia tidak tahu kalau Shanum adalah istri dari pria yang menjadi rekan bisnis sekaligus temannya.

“Shanum! Mana air minumnya? Lama sekali!” teriakan Fadil dari dalam kamar memecah suasana mencekam di ambang pintu, membuat wajah Shanum seketika pucat pasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Andoko Cokro
suka sekali
goodnovel comment avatar
Deemardani
Kaget ya ampun Shanuuum
goodnovel comment avatar
Zetha Salvatore
Baru baca bab 1 aja udah seseru itu. siap-siap kau Fadil, punya saingan khi khi khi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 376

    “Kita pulang sekarang, Mas,” pinta Shanum dengan suara rendah begitu matanya mengenali rombongan orang yang baru saja melangkah masuk ke dalam restoran.Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, Prana sudah tahu siapa saja orang-orang yang berdiri tak jauh dari meja mereka.Adik-adik kandung mantan suaminya—Gandi dan Topan—datang bersama para istri mereka, Mega dan Putri.Namun, hal yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran Alea, wanita yang dulu sempat menjadi salah satu selingkuhan Fadil, kini berdiri tepat di tengah-tengah mereka tanpa rasa bersalah.“Mbak Shanum?” panggil Mega sambil mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, sengaja mengeraskan suara agar menarik perhatian pengunjung restoran lain.Topan tampak tak peduli, melangkah santai menuju salah satu meja kosong yang berada tak jauh dari posisi Shanum dan Prana duduk sebelumnya.Di sisi lain, Gandi berdiri sambil menatap tajam ke arah perut Shanum yang sudah jelas membuncit di balik balutan pakaian hamilnya. Alea hanya ber

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 375

    “Kenapa harus bohong kalau mau ketemu ibu kamu?”Prana mengajukan pertanyaan itu di sela-sela jam makan malam mereka. Restoran elit yang tadinya terasa tenang mendadak diisi oleh ketegangan kecil di meja sudut ruangan.Shanum menunduk, memainkan jemarinya di atas piring dessert yang sudah kosong.“Maaf, Mas. Tapi aku beneran pengen nyelesaiin ini semua biar baik-baik aja. Aku pengen hubungan keluarga kita berjalan tanpa halangan. Tapi sepertinya urusan sama Ibu memang udah gak bakalan bisa diperbaiki.”Prana menghela napas pelan melihat ekspresi bersalah di wajah istrinya. Pria itu meraih tangan Shanum di atas meja, mengusap punggung tangan itu lembut untuk meredakan ketegangan.“Apa pun yang ibumu lakukan, jangan diambil hati,” ucap Prana lembut. “Kamu fokus aja buat kesehatan kamu dan anak kita.”Shanum mengangguk kecil, merasakan kehangatan menjalar dari genggaman tangan suaminya. “Iya, Mas.”“Sekarang, ada satu hal lagi yang harus kita bahas,” lanjut Prana dengan nada berubah tega

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 374

    Shanum dan Ani duduk saling berhadapan di rumah Bobby. Ani melipat tangan di dada, membuang muka ke arah lain tak menunjukkan sedikit pun kepedulian terhadap putrinya.Sebaliknya, Shanum memilih menegakkan punggungnya, terlalu gengsi untuk membuka suara lebih dulu kepada wanita yang melahirkannya itu.Beberapa menit sebelumnya, Tiara dan Bobby sempat menemani mereka di ruangan yang sama. Namun, Bobby memutuskan mengajak Tiara keluar menuju teras belakang guna memberi ruang privasi bagi Shanum dan Ani.Kebuntuan itu akhirnya pecah saat Ani melirik tajam ke arah putrinya dengan nada bicara ketus.“Kalau gak ada hal penting yang mau kamu sampaikan, lebih baik pulang saja sana.”“Bu...” panggil Shanum tertahan.Ani mendengus sinis. “Masih ingat kamu menganggap aku ibu?”“Sampai mati pun aku tetap anak Ibu,” jawab Shanum tegas tanpa ragu.“Kalau kamu masih menganggap aku ibu, gak bakalan mungkin kamu nekat nikah sama anak Ralin!” sentak Ani, matanya menyalang penuh amarah yang dipendam sej

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 373

    “Kenapa kamu mau menemui aku?” tembak Shanum langsung pada intinya, tidak memberi kesempatan bagi Hania untuk berbasa-basi.Hania tidak langsung menjawab. Wanita itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi, mengangkat dagu tinggi-tinggi dengan gestur angkuh, lalu melipat tangan di dada.“Hebat juga keberanian kamu datang sendirian,” sindir Hania tajam.“Aku tanya sekali lagi, ada apa kamu minta ketemuan?” ulang Shanum dengan nada dingin yang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. “Langsung saja, aku gak punya banyak waktu. Setelah ini aku ada janji mengantarkan makan malam untuk suamiku.”Shanum sengaja menekankan kata 'suami' di hadapan Hania, berniat mengingatkan batas posisi mereka yang sebenarnya.Mendengar penekanan kata itu, rahang Hania langsung mengeras. Sifat angkuhnya sempat goyah sedetik sebelum ia kembali memasang tampang meremehkan.“Aku tahu semuanya soal Mas Prana,” desis Hania sengit. “Dan asal kamu tahu, pernikahan kalian itu terjadi karena dia cuma mau penasaran

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 372

    “Sini, Sayang.”Prana menepuk matras di sebelah kirinya. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, sementara Shanum berdiri sejenak di dekat meja rias untuk melepas ikatan rambutnya.Shanum berjalan mendekat, lalu merebahkan diri di samping suaminya. Prana langsung menyambut tubuh istrinya, membawa Shanum ke dalam dekapan hangat dengan satu tangan menjadi bantal.“Tadi sore kaget banget pas Ayah datang tiba-tiba,” ucap Shanum membuka obrolan, kepalanya bersandar pas di dada bidang Prana.Prana mengecup puncak kepala istrinya sekilas. “Aku juga kaget. Tapi syukurlah semuanya berjalan baik. Mama benar-benar di luar dugaan kita.”“Iya, Mama hebat banget bisa berdarmai sama masa lalu,” balas Shanum tersenyum tipis. “Aku jadi ngerasa beban di pundak aku hilang separuh.”“Sekarang tugas kamu cuma satu,” bisik Prana sambil turunkan tangan kanannya mengusap perut Shanum yang terbalut piama tidur. “Fokus sama kesehatan kamu dan bayi kita.”Baru saja Prana menyelesaikan kalimatnya, tela

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 371

    “Ada keperluan apa datang ke sini?” tanya Prana dingin, terdengar kaku dan penuh penolakan.Bobby menarik napas dalam-dalam, menghadapi sorot mata tajam anak kandungnya tanpa gentar.“Papa datang buat jenguk kalian berdua,” jawab Bobby tenang. “Papa tahu alamat rumah ini dari Mama kamu.”Mendengar pengakuan itu, kedua bola mata Prana membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku di tempat.“Dari Mama?” ulang Prana dengan nada tak percaya. “Gak mungkin Mama kasih alamat ini.”“Kami gak sengaja ketemu. Mamamu mengajak Ayah bicara sebentar.”Shanum yang berdiri tepat di balik punggung suaminya ikut terkejut bukan main. Ia mencengkeram ujung kemeja Prana erat-erat. Jujur ia takut suaminya akan emosi.Ralin yang selama ini dikenal paling membenci masa lalu dan keluarga Bobby, justru berinisiatif membuka komunikasi dengan mantan suaminya sendiri.Melihat kebingungan dan ketegangan di wajah ayah dan anak di depannya, Shanum memberanikan diri melangkah keluar dari balik perlindungan tubuh suaminya

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 33

    “Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berb

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 2

    Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status