Share

Bab 2

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-04-01 08:22:48

Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya.

Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua orang yang sedang berperang dengan isi kepala masing-masing.

“Kenalin ini Prana.” Fadil memulai pembicaraan sambil menyesap kopi yang baru saja disiapkan Shanum.

“Dia rekan bisnis sekaligus teman lamaku. Dia baru saja pindah tugas ke rumah sakit dekat sini sebagai dokter SPOG. Kebetulan dia sedang mencari tempat tinggal yang deket rumah sakit sama klinik barunya, jadi aku sewain lantai dua rumah kita.”

Shanum meremas jemarinya di atas pangkuan. Dadanya sesak.

“Lantai dua? Mas, kenapa baru bilang sekarang?” bisiknya sedikit bergetar. “Maksudku, kenapa gak ngomong dulu berdua sama aku?”

Fadil tertawa renyah, terdengar meremehkan di telinga Shanum.

“Lantai dua itu kan gak pernah kita pakai. Daripada berdebu dan kosong, lebih baik disewakan pada orang yang kukenal baik. Lagian aku kepala rumah tangga di sini. Aku yang memutuskan apa yang terbaik untuk rumah ini.”

Shanum menelan ludah, ia melirik ke arah Prana yang sedari tadi hanya menatap lurus ke arah meja, tapi Shanum tahu pria itu memperhatikan setiap detail interaksi mereka.

“Mas, bisa kita bicara sebentar? Di dalam?” bujuk Shanum pelan penuh hormat. Matanya menyiratkan permohonan agar Fadil memberinya ruang untuk protes secara pribadi.

Fadil mengibaskan tangannya dengan kasar, tidak menghiraukan tatapan istrinya.

“Gak perlu. Semuanya sudah beres. Prana sudah membayar sewa dan kuncinya pun sudah dia pegang. Tidak ada yang perlu dirundingkan lagi.”

“Tapi Mas…”

Fadil memajukan tubuhnya, menatap Shanum lekat-lekat.

“Kamu itu jangan berlebihan! Cuma gara-gara urusan sepele gini, kamu membuatku malu di depan temanku,” potong Fadil ketus.

“Lagipula, aku sudah mengatur semuanya. Tangga ke lantai dua kan ada dua akses. Prana akan menggunakan akses tangga dari taman samping. Dia tidak akan menyentuh area utamamu. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk merengek seolah-olah dunia mau kiamat.”

“Tapi… ini rumah kita, aku juga tinggal di sini!” timpal Shanum suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

“Cukup! Jangan banyak membantah lagi.” Fadil memutus kalimat Shanum dengan otoritas mutlak.

“Keputusanku sudah bulat. Tidak perlu ikut campur urusan yang bukan kapasitasmu. Kamu cukup duduk manis, nurut sama suami, urus rumah, dan toh nanti kamu juga seneng terima uangnya.”

Melihat ketegangan itu, Prana akhirnya berdehem, memecah keangkuhan Fadil. Suaranya baritonnya terdengar dalam dan profesional, sangat berbeda dengan sosok yang dulu Shanum cintai.

“Maafkan menyela,” ujar Prana. “Saya minta maaf karena datang sepagi ini dan mungkin mengejutkan penghuni rumah. Maksud saya tadi hanya ingin meminta ijin untuk menaruh koper dan barang-barang saya di atas sebelum saya berangkat ke rumah sakit.”

Prana kemudian berdiri, hendak mengambil tas bahunya, “Saya tidak tahu kalau kehadiran saya akan menimbulkan perdebatan. Kalau keberatan, saya bisa membata...”

“Ah, jangan didengar, Pran!” potong Fadil cepat sambil ikut berdiri dan menepuk bahu Prana dengan akrab.

“Gak usah dipikirin. Istriku ini emang gitu orangnya, hal sepele sering dibesar-besarkan. Namanya juga perempuan, mulutnya ada dua, jadi sering mendramatisir keadaan.”

Shanum hanya bisa mematung. Kata-kata Fadil barusan seperti tamparan. Ia bisa merasakan tatapan Prana yang kini tertuju padanya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

“Tetap saja, Dil,” suara Prana terdengar lebih rendah dan tegas.

“Ah sudahlah, Pran. Kamu ini terlalu sungkan,” potong Fadil sambil menyeringai. “Di rumah ini, kalau aku bilang kamu boleh masuk, ya boleh. Istriku tidak punya hak untuk keberatan, apalagi sampai membuatmu merasa tidak nyaman.”

“Lebih baik kita ke atas sekarang saja,” ajak Fadil bersemangat, membantu Prana mengambil kopernya “Ayo kita simpan dulu barang-barangmu keatas.”

Prana hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun matanya sempat tertuju pada Shanum untuk terakhir kalinya sebelum berbalik mengikuti langkah besar Fadil.

Shanum masih terpaku di sofa, jemarinya meremas kain daster katunnya hingga kusut harga dirinya yang baru saja dilumat habis oleh kata-kata suaminya sendiri. Suara tawa Fadil yang menggelegar dari lantai atas terdengar menyebalkan.

“Bagaimana ini?” bisiknya parau.

Pikirannya kalut. Bayangan Prana berdiri di ambang pintu beberapa menit lalu terus berputar seperti kaset rusak. Ini pertama kalinya Shanum bertemu Prana, setelah ia meninggalkan kekasihnya itu untuk menuruti sistem patriarki dan ambisi keluarga.

Kini, pria itu kembali, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai orang yang akan tinggal tepat di atas tempat tidurnya.

“Satu atap dengan Mas Prana?” Shanum menutup wajah dengan kedua tangannya, mencoba meredam jeritan batinnya.

“Apa yang harus aku lakukan kalau nanti berpapasan? Bagaimana jika Fadil sedang bekerja dan ia hanya berdua dengan Prana di rumah ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Suara langkah kaki menuruni tangga membuat Shanum tersentak. Ia segera menghapus sudut matanya yang basah dan berdiri dengan kaku.

Fadil turun dengan wajah cerah, sementara Prana berjalan di belakangnya berekspresi datar yang sulit dibaca. Pria itu sudah menyampirkan tas dokternya, siap untuk bertugas.

“Shanum, dengar ya,” ujar Fadil sambil merangkul bahu istrinya penuh kepemilikan, tapi tanpa kehangatan. “Prana akan mulai tinggal diatas. Jangan sampai aku dengar ada keluhan lagi. Perlakukan dia sebagai tamu istimewa. Kalau dia butuh apa-apa, kamu harus bantu. Mengerti?”

“Iya, Mas,” jawab Shanum patuh, suaranya tercekat di tenggorokan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 7

    “Gimana hasil pemeriksaannya? Mandul?” tanya Fadil bertubi-tubi.Ia langsung menghempaskan tubuh di kursi tepat di sisi Shanum, tanpa menyapa apalagi menanyakan kabar istrinya terlebih dahulu.Prana tidak segera menjawab. Dokter spesialis kandungan itu sengaja merapikan beberapa lembar kertas rekam medis, sebelum akhirnya mendongak.“Secara visual melalui USG, kondisi rahim Shanum tampak normal. Tidak ada kista atau miom yang mengkhawatirkan,” ujar Prana tenang, tapi matanya menatap Fadil dingin dan menusuk.“Tapi, aku menemukan masalah yang cukup serius di area serviks dan dinding intimnya,” lanjutnya lebih serius.Fadil mengernyitkan dahi. Matanya beralih mendelik pada Shanum yang sedang menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas terbakar saking malunya.“Masalah apa? Dia sakit? Kanker serviks? Infeksi menular?” cecar Fadil tanpa perasaan.“Bukan itu. Ada peradangan hebat dan luka lecet yang cukup serius, Fadil,” jawab Prana lugas.“Lecet?” Fadil membeo, tamp

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 6

    Jari Prana menekan titik paling sensitif Shanum dengan ritme yang mematikan, sebuah stimulasi yang begitu teratur hingga memaksa wanita itu mengakui kebutuhan biologisnya yang selama ini terabaikan.“Inilah yang seharusnya dilakukan suamimu sebelum menyentuhmu,” bisik Prana parau.Setiap gerakan jari itu memicu gelombang panas yang menjalar ke seluruh perut bawahnya. Otot-otot paha Shanum menegang dan mengendur secara bergantian, tubuhnya tengah mengkhianati akal sehatnya dengan memohon lebih banyak sentuhan.“Mas… jangan,” pinta Shanum dengan suara yang nyaris hilang. “Nanti Mas Fadil…”Ucapannya terpotong oleh reaksi tubuhnya sendiri. Kini ia tidak bisa lagi membedakan antara rasa malu dan nikmat. Pinggulnya justru bergerak kecil, mencari lebih banyak tekanan dari jari Prana.Tepat saat Shanum mulai kehilangan kendali dan melengkungkan punggungnya, Prana seketika menarik tangannya cepat. Meninggalkan Shanum dalam kekosongan dan kebingungan yang menggulungnya.“Ingat cara dan sensasi

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 5

    “Buka kakimu sedikit lagi, Shanum.”Tangan Prana memisahkan paha Shanum yang refleks hendak merapat, menahannya agar tetap terbuka.Shanum bisa merasakan deru napas hangat Prana menerpa kulit pahanya yang terekspos, mengirimkan kejutan listrik yang menyengat setiap saraf tubuhnya.“Apa setiap kali berhubungan kamu selalu merasa sakit?” tanya Prana serius.Matanya fokus memeriksa area paling sensitif Shanum yang kini terekspos sepenuhnya di bawah lampu periksa yang terang. Melihat sejauh mana area itu meradang.Shanum hanya bisa menggigit bibir, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Seluruh tubuhnya membeku, terjepit di antara rasa malu dan sensasi asing yang mulai merayap.“Peradangannya lumayan parah,” gumam Prana, terdengar lebih seperti geraman tertahan. “Ini berarti luka lama belum sembuh, tapi suamimu sudah menhantamnya lagi dengan luka baru. Jika begini terus, rahimmu tidak akan pernah bisa menerima benih yang masuk.”“Memangnya, ada hubungannya dengan aku yang tak kunjung ha

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini telah disulap menjadi ruang periksa sementara. “Mas, bisa gak kita melakukannya nanti?” bujuk Shanum mencoba mengubah keputusan suaminya. “Jangan ditunda lagi, Shanum. Kita harus segera mengetahui masalahmu apa,” jawab Fadil sambil membuka pintu kamar pemeriksaan. Disana Prana sudah menunggu sambil merapikan beberapa alat USG yang masih berkilau baru. Wajahnya datar, seolah-olah Shanum hanya pasien biasa yang tidak memiliki sejarah panjang dengannya. “Ini dia pasienmu, Pran,” ujar Fadil sambil mendorong pelan bahu Shanum agar mendekat ke arah Prana. “Silakan masuk.” Prana hanya mengangguk tipis, terlihat tidak peduli. “Mas… kamu mau ke mana?” Shanum menoleh cepat, panik melihat suaminya h

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tatapan Prana yang duduk tepat di seberangnya. Prana tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. “Sangat nyaman, Fadil. Terima kasih sudah mengijinkanku tinggal disini” Sesekali mata Prana mengikuti setiap gerakan Shanum yang tengah meletakkan piring atau menuangkan air. “Jangan sungkan, kita ini kan kawan lama,” Fadil menepuk meja dengan keras, suaranya menggelegar bangga. “Anggap seperti di rumah sendiri.” Ia kemudian beralih ke topik yang sejak tadi ingin ia pamerkan. “Oh ya, pesananmu dari Jerman buat klinik barumu itu sudah tiba di gudangku tadi sore. Sekarang dalam perjalanan dikirim ke klinik barumu.” Sebagai pengusaha importir Alat Kesehatan, Fadil memang memiliki jar

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 2

    Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua orang yang sedang berperang dengan isi kepala masing-masing. “Kenalin ini Prana.” Fadil memulai pembicaraan sambil menyesap kopi yang baru saja disiapkan Shanum. “Dia rekan bisnis sekaligus teman lamaku. Dia baru saja pindah tugas ke rumah sakit dekat sini sebagai dokter SPOG. Kebetulan dia sedang mencari tempat tinggal yang deket rumah sakit sama klinik barunya, jadi aku sewain lantai dua rumah kita.” Shanum meremas jemarinya di atas pangkuan. Dadanya sesak. “Lantai dua? Mas, kenapa baru bilang sekarang?” bisiknya sedikit bergetar. “Maksudku, kenapa gak ngomong dulu berdua sama aku?” Fadil tertawa renyah, terdengar meremehkan di telinga Shanum. “Lantai dua itu kan gak pernah k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status