LOGINShanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya.
Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua orang yang sedang berperang dengan isi kepala masing-masing. “Kenalin ini Prana.” Fadil memulai pembicaraan sambil menyesap kopi yang baru saja disiapkan Shanum. “Dia rekan bisnis sekaligus teman lamaku. Dia baru saja pindah tugas ke rumah sakit dekat sini sebagai dokter SPOG. Kebetulan dia sedang mencari tempat tinggal yang deket rumah sakit sama klinik barunya, jadi aku sewain lantai dua rumah kita.” Shanum meremas jemarinya di atas pangkuan. Dadanya sesak. “Lantai dua? Mas, kenapa baru bilang sekarang?” bisiknya sedikit bergetar. “Maksudku, kenapa gak ngomong dulu berdua sama aku?” Fadil tertawa renyah, terdengar meremehkan di telinga Shanum. “Lantai dua itu kan gak pernah kita pakai. Daripada berdebu dan kosong, lebih baik disewakan pada orang yang kukenal baik. Lagian aku kepala rumah tangga di sini. Aku yang memutuskan apa yang terbaik untuk rumah ini.” Shanum menelan ludah, ia melirik ke arah Prana yang sedari tadi hanya menatap lurus ke arah meja, tapi Shanum tahu pria itu memperhatikan setiap detail interaksi mereka. “Mas, bisa kita bicara sebentar? Di dalam?” bujuk Shanum pelan penuh hormat. Matanya menyiratkan permohonan agar Fadil memberinya ruang untuk protes secara pribadi. Fadil mengibaskan tangannya dengan kasar, tidak menghiraukan tatapan istrinya. “Gak perlu. Semuanya sudah beres. Prana sudah membayar sewa dan kuncinya pun sudah dia pegang. Tidak ada yang perlu dirundingkan lagi.” “Tapi Mas…” Fadil memajukan tubuhnya, menatap Shanum lekat-lekat. “Kamu itu jangan berlebihan! Cuma gara-gara urusan sepele gini, kamu membuatku malu di depan temanku,” potong Fadil ketus. “Lagipula, aku sudah mengatur semuanya. Tangga ke lantai dua kan ada dua akses. Prana akan menggunakan akses tangga dari taman samping. Dia tidak akan menyentuh area utamamu. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk merengek seolah-olah dunia mau kiamat.” “Tapi… ini rumah kita, aku juga tinggal di sini!” timpal Shanum suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. “Cukup! Jangan banyak membantah lagi.” Fadil memutus kalimat Shanum dengan otoritas mutlak. “Keputusanku sudah bulat. Tidak perlu ikut campur urusan yang bukan kapasitasmu. Kamu cukup duduk manis, nurut sama suami, urus rumah, dan toh nanti kamu juga seneng terima uangnya.” Melihat ketegangan itu, Prana akhirnya berdehem, memecah keangkuhan Fadil. Suaranya baritonnya terdengar dalam dan profesional, sangat berbeda dengan sosok yang dulu Shanum cintai. “Maafkan menyela,” ujar Prana. “Saya minta maaf karena datang sepagi ini dan mungkin mengejutkan penghuni rumah. Maksud saya tadi hanya ingin meminta ijin untuk menaruh koper dan barang-barang saya di atas sebelum saya berangkat ke rumah sakit.” Prana kemudian berdiri, hendak mengambil tas bahunya, “Saya tidak tahu kalau kehadiran saya akan menimbulkan perdebatan. Kalau keberatan, saya bisa membata...” “Ah, jangan didengar, Pran!” potong Fadil cepat sambil ikut berdiri dan menepuk bahu Prana dengan akrab. “Gak usah dipikirin. Istriku ini emang gitu orangnya, hal sepele sering dibesar-besarkan. Namanya juga perempuan, mulutnya ada dua, jadi sering mendramatisir keadaan.” Shanum hanya bisa mematung. Kata-kata Fadil barusan seperti tamparan. Ia bisa merasakan tatapan Prana yang kini tertuju padanya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. “Tetap saja, Dil,” suara Prana terdengar lebih rendah dan tegas. “Ah sudahlah, Pran. Kamu ini terlalu sungkan,” potong Fadil sambil menyeringai. “Di rumah ini, kalau aku bilang kamu boleh masuk, ya boleh. Istriku tidak punya hak untuk keberatan, apalagi sampai membuatmu merasa tidak nyaman.” “Lebih baik kita ke atas sekarang saja,” ajak Fadil bersemangat, membantu Prana mengambil kopernya “Ayo kita simpan dulu barang-barangmu keatas.” Prana hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun matanya sempat tertuju pada Shanum untuk terakhir kalinya sebelum berbalik mengikuti langkah besar Fadil. Shanum masih terpaku di sofa, jemarinya meremas kain daster katunnya hingga kusut harga dirinya yang baru saja dilumat habis oleh kata-kata suaminya sendiri. Suara tawa Fadil yang menggelegar dari lantai atas terdengar menyebalkan. “Bagaimana ini?” bisiknya parau. Pikirannya kalut. Bayangan Prana berdiri di ambang pintu beberapa menit lalu terus berputar seperti kaset rusak. Ini pertama kalinya Shanum bertemu Prana, setelah ia meninggalkan kekasihnya itu untuk menuruti sistem patriarki dan ambisi keluarga. Kini, pria itu kembali, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai orang yang akan tinggal tepat di atas tempat tidurnya. “Satu atap dengan Mas Prana?” Shanum menutup wajah dengan kedua tangannya, mencoba meredam jeritan batinnya. “Apa yang harus aku lakukan kalau nanti berpapasan? Bagaimana jika Fadil sedang bekerja dan ia hanya berdua dengan Prana di rumah ini?” tanyanya pada diri sendiri. Suara langkah kaki menuruni tangga membuat Shanum tersentak. Ia segera menghapus sudut matanya yang basah dan berdiri dengan kaku. Fadil turun dengan wajah cerah, sementara Prana berjalan di belakangnya berekspresi datar yang sulit dibaca. Pria itu sudah menyampirkan tas dokternya, siap untuk bertugas. “Shanum, dengar ya,” ujar Fadil sambil merangkul bahu istrinya penuh kepemilikan, tapi tanpa kehangatan. “Prana akan mulai tinggal diatas. Jangan sampai aku dengar ada keluhan lagi. Perlakukan dia sebagai tamu istimewa. Kalau dia butuh apa-apa, kamu harus bantu. Mengerti?” “Iya, Mas,” jawab Shanum patuh, suaranya tercekat di tenggorokan.Shanum melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis klinik dengan tangan kanan menenteng makanan.Putranya yang kini sudah menginjak usia tujuh tahun baru saja selesai les matematika di ruko seberang jalan dan dijemput oleh sopir keluarga untuk langsung pulang ke rumah bersama kakeknya.Di balik meja pendaftaran, Siska dan Mira langsung mendongak begitu bel pintu berbunyi. Dua perawat yang sudah sangat akrab dengan Shanum itu langsung melemparkan senyuman lebar.“Eh, Bu Shanum! Baru selesai nganterin Mas Prasha, ya?” sapa Siska ramah sambil berdiri dan merapikan tumpukan berkas rekam medis.Shanum mengusap pelan perut buncitnya yang menyimpan kehamilan anak kedua mereka. “Alhamdulillah sehat, Siska, Mbak Mira. Ramai banget kelihatannya hari ini? Kursi tunggu hampir penuh semua.”Mira mengangguk sambil menunjuk papan jadwal praktik di dinding.“Iya, Mbak. Antrean pasien dr. Prana masih panjang banget di dalam. Ja
Suasana makan siang yang terhidang di meja makan terasa begitu kaku. Meskipun Ralin berulang kali melempar senyum dan mengajak mengobrol, kecanggungan tetap menyelimuti ruangan tersebut.Begitu mereka beralih ke ruang keluarga untuk menemani Prasha bermain mobil-mobilan. Canda tawa balita dua tahun itu gagal mencairkan atmosfer yang tegang.Ani tampak duduk kaku di sofa pojok, gerak-geriknya serba salah setiap kali tatapannya beradu dengan Ralin.Shanum yang duduk di sebelah Prana pun ikut merasakan sesaknya, terus-menerus meremas jemari suaminya karena khawatir pembicaraan masa lalu akan mendadak meledak.Setelah dua jam terjebak dalam kecanggungan yang melelahkan, Ani tiba-tiba berdiri dari duduknya. Wanita paruh baya itu menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah Ralin dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Ani, kita bicara sekarang ke taman belakang?” ajak Ralin datar.Permintaan itu kontan membuat seluruh orang di r
“Ani...”Ralin menyebut nama perempuan yang menghancurkan rumah tangganya dulu dengan nada datar namun terdengar begitu menusuk di telinga.Mendengar suara keributan kecil di pintu depan, langkah kaki Prana dan Bobby terdengar mendekat dari arah taman belakang.Prana yang tadinya sedang mengobrol santai dengan ayah mertuanya seketika menghentikan langkah begitu melihat sosok sang ibu berdiri di ambang pintu utama.“Mama?” ucap Prana kaget, mempercepat langkahnya bersama Shanum menghampiri pintu depan.Prana dan Shanum segera merapat ke dekat pintu, berdiri berdampingan untuk mencairkan ketegangan yang mendadak menyergap ruangan.Di belakang mereka, Bobby berdiri kaku dengan napas tertahan, tak berani melangkah lebih dekat.Meskipun Bobby dan Ralin sudah lama berdamai dan menjalin hubungan silaturahmi yang baik demi anak-anak mereka, pertemuan langsung antara Ralin dan Ani di tempat privat seperti ini adalah yang pertama kalinya terjad
“Shanum, kapan ibu mertuamu datang kesini?” tanya Ani memecah keheningan di ruang tamu yang sejuk.Hari ini Ani dan Bobby tengah berkunjung ke kediaman Shanum dan Prana. Meskipun interaksi antara Ani dan menantunya itu masih tampak kaku dan berjarak,Bobby tak pernah kehabisan akal untuk mencairkan suasana. Pria paruh baya itu sering mengajak istrinya berkunjung dengan dalih menengok cucu kesayangan mereka, Prasha.Saat ini, Prasha baru saja terlelap siang di kamarnya, memberikan waktu bagi Shanum dan Ani untuk duduk berdua di ruang tamu. Sementara itu, Bobby dan Prana tampak berada di area taman belakang, larut dalam obrolan santai.“Mama masih di Bali, Bu. Katanya masih belum bisa ke sini dalam waktu dekat. Rencananya malah keluarga kecil kami yang mau ke sana minggu depan,” jawab Shanum jujur.Ani mengangguk-angguk kecil, namun raut wajahnya seketika berubah mengeras. Garis-garis ketegangan tampak jelas di sekitar bibirnya yang terkatup rapat.
“Maafin, Shanum ya, Bu.”Suara Shanum terdengar lirih, air mata yang sempat tertahan kembali mendesak ingin keluar.“Selama ini Shanum jarang datang ke sini karena takut bikin Ibu marah. Sebenarnya Shanum kangen sama Ibu.”Ani menoleh menatap anak sulungnya dengan helaan napas berat. Gengsi yang selama bertahun-tahun dipelihara wanita paruh baya itu masih tampak jelas dari cara rahangnya mengeras dan bibirnya terkatup rapat.Ia memalingkan wajah ke arah jendela samping, enggan langsung memberikan respons atas kejujuran yang baru saja dilontarkan anak sulungnya.Melihat kebisuan sang ibu, Shanum tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Tanpa ragu, wanita itu beranjak dari kursinya, berjalan mendekati kursi Ani, lalu berlutut dan bersimpuh tepat di hadapan ibunya.Shanum meraih kedua tangan wanita paruh baya itu, menggenggamnya erat dengan tangan yang sedikit bergetar.“Maafin Shanum ya, Bu,&rdqu
Dua bulan penuh berlalu dengan ritme yang jauh lebih tenang. Prasha semakin sering menghabiskan waktu di rumah kakek dan neneknya, bahkan sesekali menginap atas izin Shanum dan Prana.Hubungan di dalam keluarga besar itu perlahan mencair, meski dinding pembatas antara Shanum dan Ani belum sepenuhnya runtuh.Hingga suatu sore menjelang petang, ponsel di tas Shanum berdering nyaring. Nama Tiara tertera di layar.“Mbak Num, nanti malam bisa kesini?” suara Tiara terdengar dari seberang sambungan telepon. “Jemput Prasha sekalian makan malam di sini ya. Ayah pesan makanan banyak.”“Tapi Mas Prana lagi ada tindakan operasi di rumah sakit, Ra. Mungkin pulangnya malam banget,” jawab Shanum seraya merapikan dokumen di meja kerjanya. “Jadi aku kesana sendiri aja.”“Oke Mbak, pokoknya datang ya,” pinta Tiara sebelum langsung menutup sambungan telepon.Tiga puluh menit kemudian, taksi online yang ditumpangi Shanum berhenti di depan halaman rumah Bobby.Begitu pintu utama dibuka, aroma harum masaka
Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel
“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata
“Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S
“Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berb







