LOGIN“Mas, gimana Mama Ralin?” tanya Hania mendekati Prana yang kini tengah berada di teras vila.Pria itu terlihat gelisah, matanya tak lepas menatap layar ponsel di genggamannya. Ibu jarinya berulang kali menekan tombol kunci, membuka baris obrolan, lalu menutupnya kembali tanpa hasil.“Mama udah baikan. Tadi udah mau makan sedikit,” jawab Prana pendek. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, mencoba mengalihkan pandangan pada kabut malam yang mulai menipis di halaman depan.Hania ikut berdiri di sisi pagar pembatas teras, merapatkan cardigan rajutnya untuk menghalau angin malam. “Baguslah kalau udah baikan.”Prana hanya mengangguk pelan. Pikirannya sama sekali tak berada di teras ini. Gelisah di dadanya kian menjadi karena sejak tiga jam lalu, Shanum tak kunjung menjawab telepon ataupun membalas satu pun pesan singkatnya. Panggilan terakhirnya bahkan langsung dialihkan ke kotak suara.Kegelisahan Prana tak luput dari perhatian Hania. Wanita itu terus memperhatikan Prana yan
“Kalau Mas nikah sama dia, Mas bisa nyakitin Mam Ralin lebih dalam.” Hania menatap Prana begitu dalam.Rahang Prana kembali mengetat. “Tapi Shanum gak terlibat dalam masalah masa lalu itu. Dia gak tahu apa-apa, Han.”“Tapi dia bagian dari masa lalu itu, Mas Prana!” sanggah Hania sedikit meninggi, matanya menatap Prana penuh kekecewaan yang mendalam. “Setiap kali Mama Ralin melihat wajah Shanum, memori buruk itu pasti akan berputar lagi di kepalanya. Apa Mas gak memikirkan dampak psikologisnya bagi Mama Ralin?”Prana mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca yang menampilkan pekatnya malam Puncak.“Nanti aku akan menjelaskan pelan-pelan sama Mama. Tapi aku gak bisa membatalkan rencana aku dan Shanum hanya karena masalah masa lalu yang terus dipelihara.”Hania mengembuskan napas pendek, lalu bangkit dari duduknya. Ia membetulkan posisi pakaiannya sebelum menatap Prana untuk terakhir kalinya malam itu.“Mas boleh merasa paling kuat untuk melindungi semua orang. Tapi ingat, Mas, strok
Mata Prana terus memperhatikan mobil yang membawa Shanum pergi. Kendaraan itu perlahan bergerak menjauh. Prana meraba ponsel di saku celananya, memastikan benda itu aktif agar bisa segera menerima kabar dari Shanum.Setelah memastikan kepergian Shanum, ia membalikkan badan, hendak kembali masuk ke area kafe untuk menghadapi meja Ralin. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu kaca. Ralin, Hania, dan Lastri ternyata sudah berjalan keluar secara beriringan.Hania memapah lengan Ralin di sebelah kanan, sementara Lastri berjalan di sisi kiri dengan wajah masam yang kentara.“Kenapa keluar?”Hania mendongak, mendapati Prana yang berdiri kaku di depan mereka. “Mas, Mama Ralin pusing. Kita mau kembali ke vila sekarang,” jawab Hania cepat.Prana langsung menatap wajah ibunya. Detik itu juga, rasa khawatir langsung menyergap dada. Wajah Ralin tampak sangat pucat, dengan kelopak mata yang terpejam setengah dan sudut bibirnya yang tampak kaku menahan sakit.Prana tahu betul riwayat medis ibunya
“Mas, apa maksud Tante Ralin?” tanya Shanum, matanya menatap punggung tegap Prana, menuntut penjelasan yang selama tiga tahun ini tak pernah ia ketahui. “Siapa yang menghancurkan kalian? Mereka siapa?”Prana tak langsung berbalik, bahunya menegang kaku. Ketika akhirnya memutar tubuh, tatapannya menyiratkan kepanikan pekat.“Gak ada apa-apa, Num. Jangan didengerin,” potong Prana cepat, memegang kedua lengan Shanum erat, mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini cuma salah paham. Kita pulang sekarang, ya?”“Salah paham, kamu bilang, Pran?!” Ralin menyambar menyakitkan. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berdiri tepat di samping putranya, menghadap Shanum sepenuhnya. “Kamu sebut seluruh air mata Mama selama ini cuma salah paham?”“Sebenarnya ada apa, Tan?” tanya Shanum, berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.Dilepaskannya cengkeraman Prana di lengannya. Kepalanya mulai berdenyut. Tatapan benci Ralin jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang ibu yang anaknya didekati seorang jand
“Mama gak akan kasih restu sampai kapanpun,” ucap Ralin tegas. “Kamu bakal tetap menikah?”Prana terdiam beberapa saat. Genggaman tangannya pada jemari Shanum semakin mengunci kuat, seolah memberikan tanda bahwa ia tak akan pernah melepaskan wanita itu apa pun yang terjadi.“Aku bakal tetap menikahi Shanum, Ma. Dengan atau tanpa restu dari siapa pun,” jawab Prana, mutlak tanpa keraguan sedikit pun.Shanum tersentak mendengar kalimat nekat kekasihnya. Ia menarik tangannya dari kuncian Prana dengan sekali sentakan kuat. “Mas, jangan bicara begitu sama Tante Ralin! Gak boleh!”Mata Shanum menatap Ralin dengan pandangan penuh rasa hormat sekaligus penyesalan yang mendalam. “Tante, maafkan atas semua kesalahan aku di masa lalu yang sudah membuat Tante dan Mas Prana sedih. Aku gak ada niat sedikit pun untuk mengganggu Tante dengan Mas Prana.”Ralin sama sekali tak bergeming. Ia mengabaikan posisi berdiri Shanum, bahkan tak melirik wanita itu sedikit pun. Fokusnya tetap terkunci pada Prana,
“Apa yang mau dibicarakan sama Mama, Pran?” tanya Ralin datar.Sudah sepuluh menit mereka duduk bersama bertiga di meja sudut kafe yang agak terpisah dari meja Hania dan Lastri.Tak sedikit pun Ralin menganggap kehadiran Shanum di sana. Tatapannya tertuju lurus pada Prana, mengabaikan keberadaan wanita di sebelah putranya yang kini meremas ujung kardigan di bawah meja.Prana memajukan posisi duduknya, menaruh kedua tangannya di atas meja. Ia melirik Shanum sekilas, memberikan ketenangan lewat sorot matanya sebelum kembali menatap sang ibu.“Aku sudah melamar Shanum, Ma. Rencananya kami mau menikah dalam waktu dekat,” ucap Prana tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu tenang, kokoh, dan terdengar sangat bulat.Ralin tidak langsung merespons. Ia meraih cangkir teh kamomil hangat yang baru saja disajikan pelayan, menyesapnya sedikit dengan gerakan teratur. Setelah menaruh kembali cangkir itu ke tatakan piring kecil, barulah ia menatap Prana dengan sepasang mata yang menyipit.“Menikah?”
“Kamu harus bisa melakukannya, Pran. Ini buat kebaikan Shanum,” saran Hendra lagi, memastikan Prana benar-benar paham batasan yang harus dijaga selama masa krusial ini. “Dan satu lagi, pastikan Shanum gak tahu soal teror foto ini. Aku takut dia berubah pikiran karena takut kamu akan terkena imbas p
"Tapi Fadil itu jahat, Yah! Dia kasar sama aku!" Shanum mulai membela diri, matanya memanas menahan air mata yang hendak tumpah.Tangannya bergerak cepat merogoh tas selempang yang tergeletak di samping kursi, mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru. Digeser folder galeri, khusus menyimpan bukti
Setelah telepon dimatikan sepihak, Shanum masih terpaku menatap layar gelap ponselnya. Kemarahan tadi yang melonjak, kini perlahan meluruh. Ia mulai mempertanyakan gejolak emosi yang baru saja ia tumpahkan.“Apa aku sudah keterlaluan, ya?” bisik Shanum merenung di tepi ranjang.Ia memijat pelipisny
“Selama lima tahun ini, Mas pernah punya hubungan serius?” tanyanya, tak lagi berniat menutupi rasa penasaran yang sedari tadi menguasai isi kepalanya. “Mungkin sampai berencana menikah atau bertunangan? Atau jangan-jangan... Mas malah sudah menikah?”Prana menurunkan cangkirnya perlahan. Ia terdia







