Share

Bab 95

Author: QueenShe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-11 18:06:47

“Kenapa belum tidur?” tanya Prana melihat Shanum yang masih membuka mata sayunya dalam pelukannya, lalu menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahu Shanum yang terbuka.

Shanum menggeser posisinya, mendongak menatap wajah Prana. Ia menemukan pria itu juga masih terjaga. Sambil menghela napas panjang, jemarinya bergerak menelusuri garis rahang Prana yang tegas.

“Sebenarnya aku cuma takut kalau aku tidur, pas bangun nanti semua ini ternyata mimpiku saja. Aku takut bangun di kamar itu, disampi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 236

    “Mas Prana?” gumam Shanum hampir tak percaya melihat pria itu kini berdiri di depannya.Pria itu mengenakan kemeja kasual yang sudah tak terlalu rapi. Wajah pria itu tak memancarkan kehangatan yang biasa ia tunjukkan pada Shanum hari ini. Pandangannya lurus, menusuk, dan rahangnya mengeras kokoh menatap kedua netra Shanum yang masih berdiri kaku.Tadi pagi Prana mewanti-wanti Shanum agar tak pergi kemana pun, karena Prana khawatir keluarga Fadil masih mencari keberadaan Shanum, begitu pun orang tua Shanum sendiri. Tapi ternyata Shanum malah menemui adik dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya sendiri.“Sudah aku bilang, kalau mau kemana-mana bilang!” Suaranya begitu tegas penuh peringatan.Gandi memutar tubuhnya jadi berhadapan dengan Prana. Ia sempat terlihat sedikit terkejut, tapi langsung ia tepis dengan berdiri menghalangi Shanum dari Prana. “Siapa Anda?”Prana tak memedulikan pertanyaan Gandi. Ia melangkah maju melewati tubuh Gandi, dan memosisikan tubuhnya tepat di depan Sha

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 235

    “Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 235

    “Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 233

    “Num, ada sesuatu yang selama ini gak pernah aku ceritakan ke siapa pun. Tolong kasih aku waktu sebentar besok, kali ini aku gak akan memaksa.”Di dalam kamar, sambil duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa penuh. Beberapa kali ia membaca pesan yang dikirimkan Gandi. Menimbang apa yang sebenarnya ingin dikatakan Gandi. Ada penasaran yang mendadak muncul.Di satu sisi, ia sangat mencurigai motif Gandi. Di sisi lain, kalimat 'ada sesuatu yang gak pernah aku ceritakan' membuat rasa penasarannya terusik. Apakah ini ada hubungannya dengan Fadil? Atau justru tentang foto yang diambil Mega?Shanum meletakkan ponselnya di atas nakas, memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu demi mengusir penat yang menumpuk.Dua jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika ponsel di atas nakas berdering nyaring. Shanum segera menyambar ponselnya. Nama Prana tertera di layar. Baru saja tombol hijau digeser.“Kenapa tadi gak telepon aku? Kamu dimana sekarang? Udah di apartemen?” Pra

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 232

    "Lihat saja, aku akan melaporkannya ke Mama!" teriak Mega sambil mengangkat ponsel tingginya. Jarinya bergerak lincah mengetik. "Biar Mama tahu kelakuan perempuan yang sok suci ini!"Sebelum Mega sempat mengirim, Gandi mengulurkan tangan dan merebut ponsel itu dengan cepat."Mas! Apa-apaan sih?" protes Mega, melengking. Ia berusaha meraih kembali. "Kenapa dilarang? Biar Mama tahu kalau Mas Fadil itu gak salah sepenuhnya!"“Cukup, Mega. Hentikan,” kata Gandi berat dan tegas. Ia mengunci layar ponsel, lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, mengabaikan tatapan protes dari Mega. “Jangan bikin keributan lagi di sini. Malu dilihat orang.”Shanum yang menyaksikan perdebatan sepasang suami istri itu diam-diam merasakan embusan kelegaan yang amat besar di dalam dadanya. Ketegangan yang sempat memuncak perlahan mulai mengendur.Sejujurnya, ia belum siap jika harus menghadapi konfrontasi baru malam ini, apalagi jika hal itu sampai menyeret nama Prana dan membahayakan posisi pria itu s

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 231

    “Dia dokter teman Mas Fadil kan?” tanya Gandi penuh penekanan. Mata pria itu menatap tajam, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Shanum. “Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan dia?”Shanum memundurkan langkahnya, mencoba memberi jarak. Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan nama Prana yang memanggil untuk kesekian kalinya. Getaran di telapak tangannya terasa begitu mengganggu, tetapi ia sengaja memasukan ponselnya ke dalam tas agar Gandi tak bisa membaca nama yang tertera di sana.“Aku gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, Gandi. Tolong minggir, ini sudah malam. Aku harus pulang,” jawab Shanum terdengar tegas meski detak jantungnya kian berkejaran.Gandi maju satu langkah, kembali mempersempit jarak di antara mereka. “Pulang ke mana? Ke rumah ayahmu? Jawab, Shanum! Dimana kamu tinggal sekarang?”“Mau pulang kemana saja juga bukan urusan kamu, Gan!” jawab Shanum mulai terpancing emosinya.Gandi tak goyah, tatapannya tetap menuntut Shanum untuk mejjaw

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 170

    “Bu, aku juga disini lagi nemenin Mbak Num. Kasian Mbak Num sendirian dari kemaren!” bentak Tiara—adik Shanum—pada ibunya yang mengatakan kalau Tiara ikut-ikutan seperti Shanum tak menurut pada orang tua. “Iya… Iya ini aku pulang!”Shanum mengernyitkan dahi, melangkah mendekati adiknya. “Kenapa, Ra

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 169

    “M-Mbak Num…” Mbok Yah terlonjak pelan, buru-buru bangkit melangkah mendekat, mengabaikan pecahan keramik yang berserakan di dekat kaki majikannya, menatap wajah Shanum yang pias. “Hati-hati Mbak, nanti keinjek pecahannya—”“Dari kapan, Mbok?” potong Shanum. Suaranya bergetar hebat, nyaris tenggela

  • Satu Kali Lagi, Mas   BAb 168

    “Aa… ada apa, Mbok?” tanya Shanum tergagap.Dia langsung berdiri, melangkah cepat menghampiri wanita tua itu sambil mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. Jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini karena rasa takut tertangkap basah.“Pak Fadil telepon, Mbak. Katanya nelepon M

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 167

    “Keluar dari rumahku sekarang!” Shanum mendorong dada Prana sekuat mungkin. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dia punya untuk menyingkirkan pria itu dari hadapannya. Tetapi tubuh Prana sama sekali tak bergeser.Alih-alih mundur, Prana justru mengambil langkah besar ke depan, mendesak Shanum m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status