Startseite / Romansa / Satu Malam Bersama Dosen Tampan / Bab 9 Gugup yang Masih Menempel

Teilen

Bab 9 Gugup yang Masih Menempel

last update Zuletzt aktualisiert: 15.12.2025 22:00:08

Perpustakaan sore itu ramai. Derit kursi, suara bisik-bisik mahasiswa, dan aroma kertas buku6 bercampur dengan hembusan pendingin ruangan.

Di pojok ruangan, Aira duduk bersama Nita, Bima, Adit, dan Ratna. Di atas meja, buku-buku terbuka berserakan, beberapa penuh coretan, beberapa hanya berisi halaman kosong yang menunggu ide.

“Kita harus nentuin topik sebelum ketemu Pak Adrian lagi,” kata Nita, matanya menatap layar laptop dengan serius. “Kalau enggak, minggu depan bisa-bisa kita zonk.”

Bima mengangguk sambil menggulir halaman jurnal di ponselnya. Gue pikir topik tentang digital learning cocok buat jurusan kita. Relevan, dan banyak data.”

“Masalahnya,” Ratna menimpali pelan, “itu topik sejuta umat. Hampir semua mahasiswa komunikasi nulis soal itu.”

Adit yang sejak tadi bersandar di kursinya mengangkat alis. “Kalau gitu, kita tambahin sudut pandang baru. Misalnya, dikaitin sama ke

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 10 Dalam Sunyi yang Tak Diinginkan

    Sore itu, halaman fakultas masih ramai: beberapa kelompok mahasiswa duduk berserakan di taman, berdiskusi sambil menatap layar laptop. Suara obrolan bercampur dengan deru angin dan tawa yang sesekali pecah di antara mereka.Di pojok selatan, dekat gedung fakultas FISIP, kelompok Aira duduk melingkar di bawah pohon besar. Di atas meja bundar kecil, berserakan kertas survei, laptop, pena, dan buku catatan yang terbuka di sembarang halaman.“Bima, kamu udah kumpulin data dari kelas paralel?” tanya Nita tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.“Udah, tapi kayaknya masih kurang tiga responden,” jawab Bima sambil mengetuk-ngetuk ponselnya. “Adit, tolong lo bantu nyari, ya.”Adit mengangkat tangan malas. “Santai aja, gue udah janjian sama anak organisasi. Bentar lagi mereka kirim data.”Ratna yang duduk di sebelah Aira ikut bersuara, “Jangan lupa validasinya, Dit. Kemarin kita hampir kejebak d

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 9 Gugup yang Masih Menempel

    Perpustakaan sore itu ramai. Derit kursi, suara bisik-bisik mahasiswa, dan aroma kertas buku6 bercampur dengan hembusan pendingin ruangan.Di pojok ruangan, Aira duduk bersama Nita, Bima, Adit, dan Ratna. Di atas meja, buku-buku terbuka berserakan, beberapa penuh coretan, beberapa hanya berisi halaman kosong yang menunggu ide.“Kita harus nentuin topik sebelum ketemu Pak Adrian lagi,” kata Nita, matanya menatap layar laptop dengan serius. “Kalau enggak, minggu depan bisa-bisa kita zonk.”Bima mengangguk sambil menggulir halaman jurnal di ponselnya. Gue pikir topik tentang digital learning cocok buat jurusan kita. Relevan, dan banyak data.”“Masalahnya,” Ratna menimpali pelan, “itu topik sejuta umat. Hampir semua mahasiswa komunikasi nulis soal itu.”Adit yang sejak tadi bersandar di kursinya mengangkat alis. “Kalau gitu, kita tambahin sudut pandang baru. Misalnya, dikaitin sama ke

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 8 Kembali Dipermainkan Takdir

    Keesokan harinya, Aira berusaha tampil seperti biasa. Ia berjalan perlahan di antara kerumunan mahasiswa yang sibuk membicarakan tugas dan jadwal kuliah, mencoba meniru langkah mereka agar terlihat wajar dan agar tidak ada yang tahu bahwa pikirannya sedang penuh sesak. Segalanya berjalan tampak normal—hingga pengumuman dari pihak kampus menggema melalui pengeras suara di aula fakultas.“Untuk mahasiswa semester tujuh, akan diadakan proyek penelitian bersama dosen selama tiga bulan ke depan. Tujuannya mempermudah proses penyusunan proposal skripsi. Nama kelompok dan dosen pembimbing akan diumumkan minggu depan.” Bisik-bisik langsung menyebar ke seluruh mahasiswa. Sebagian besar terdengar antusias, ada juga yang gelisah membayangkan dosen yang terlalu tegas. Namun bagi Aira, hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya:Gimana kalau aku dapet dosen pembimbing Pak Adrian? Tuhan, semoga aja jangan

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 7 Pertemuan yang Tak Bisa Dihindari

    Senin pagi datang seolah begitu cepat, menyingkirkan sisa-sisa tidur yang bahkan belum sempat menyentuh Aira sejak beberapa hari terakhir ini. “Cuma ambil daftar hadir,” bisiknya, mencoba menenangkan diri. “Bukan sesuatu yang besar.” Namun dada tetap sesak. Ia tahu, bukan urusan daftar hadir yang membuatnya resah, tapi kenyataan bahwa di balik meja kayu besar di ruang dosen itu, ada seseorang yang ingin ia hindari tapi justru terus mendekat di pikirannya. Ia tiba di kampus lebih awal dari biasanya. Lorong masih sepi, tapi pintu ruang dosen sudah terbuka. Aira berhenti di ambang pintu, menelan ludah. Suara ketikan laptop terdengar pelan. Dan di sudut ruangan itu, pria itu sudah di sana—tegap, tenang, dan sama seperti dalam ingatan. Kemeja biru muda yang Adrian kenakan hari ini menggantikan warna putih senin sebelumnya, tapi tetap saja menampilkan kesan yang sama: rapi, berwibawa, dan terlalu memikat bagi seseorang yang berusaha ia lupakan. “Permisi, Pak…” suara Aira keluar s

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 6 Tak Kunjung Mau Diam

    Pagi datang begitu cepat seolah tak memberi kesempatan bagi Aira untuk benar-benar beristirahat. Matanya terbuka bahkan sebelum alarm sempat berbunyi, dan sisa ingatan kemarin masih menggantung di benaknya, membuat dada Aira terasa sesak bahkan sebelum hari dimulai. Aira menatap langit-langit kamar yang remang, membiarkan keheningan menyelimutinya sejenak, berharap sesak di dadanya bisa sedikit reda. Namun semakin lama ia diam, semakin berat rasanya bernapas. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. “Udahlah, Ra… lupain,” gumamnya lirih. Namun nama itu selalu saja muncul di kepalanya—Adrian Wiratama. Nama yang kini bukan hanya melekat di daftar dosen pengajar, tapi juga di pikirannya yang tak pernah tenang sejak pria itu hadir di hidu

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 5 Bayang yang Kembali Datang

    Udara kampus memang terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari belum terlalu tinggi, menembus kaca jendela koridor fakultas dengan cahaya lembut. Namun bagi Aira, langkah-langkahnya justru terasa dingin dan berat.Sejak undian itu berakhir, dadanya seolah dipenuhi belati yang menusuki. Ia sudah berusaha menolak, tapi keputusan undian bersifat mutlak. Mau tak mau, hari ini ia harus menunaikan tanggung jawabnya sebagai penanggung jawab mata kuliah yang di ampu oleh Adrian Wiratama.Lorong menuju ruang dosen terasa begitu panjang. Setiap langkah menimbulkan gema yang memantul di dinding, seolah menandai ketegangan yang menumpuk di dadanya. Aira menggenggam buku catatan terlalu erat, sampai ujung jarinya memutih. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus kembali berhadapan dengan pria itu.Ketika sampai di ruang dosen, pintu ruangan sudah terbuka. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantung yang tak juga stabil. Deretan meja kayu tampak tersusun rapi, penuh tumpukan berkas dan

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status