Home / Romansa / Satu Malam Bersama Dosen Tampan / Bab 10 Dalam Sunyi yang Tak Diinginkan

Share

Bab 10 Dalam Sunyi yang Tak Diinginkan

Author: Merah
last update Last Updated: 2025-12-24 22:30:00

Sore itu, halaman fakultas masih ramai: beberapa kelompok mahasiswa duduk berserakan di taman, berdiskusi sambil menatap layar laptop. Suara obrolan bercampur dengan deru angin dan tawa yang sesekali pecah di antara mereka.

Di pojok selatan, dekat gedung fakultas FISIP, kelompok Aira duduk melingkar di bawah pohon besar. Di atas meja bundar kecil, berserakan kertas survei, laptop, pena, dan buku catatan yang terbuka di sembarang halaman.

“Bima, kamu udah kumpulin data dari kelas paralel?” tanya Nita tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

“Udah, tapi kayaknya masih kurang tiga responden,” jawab Bima sambil mengetuk-ngetuk ponselnya. “Adit, tolong lo bantu nyari, ya.”

Adit mengangkat tangan malas. “Santai aja, gue udah janjian sama anak organisasi. Bentar lagi mereka kirim data.”

Ratna yang duduk di sebelah Aira ikut bersuara, “Jangan lupa validasinya, Dit. Kemarin kita hampir kejebak d

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 11 Gosip-gosip Liar

    Koridor fakultas sore itu dipenuhi mahasiswa yang baru bubar kuliah. Suara langkah kaki bercampur dengan tawa, panggilan, dan denting pintu kelas yang bergantian terbuka. Aira berjalan cepat sambil memeluk buku catatan di dadanya. Nafasnya sedikit terburu, bukan karena lelah, tapi karena ingin segera keluar dari gedung itu.Ia baru saja menyerahkan data observasi lanjutan kelompoknya kepada Adrian. Pertemuan mereka singkat—hanya beberapa menit. Adrian menerima map itu tanpa banyak bicara, hanya menatap sekilas dan berkata datar“Baik. Minggu depan kita diskusikan hasilnya.” Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi, hanya nada tegas yang biasa ia dengar dalam ruang kelas. Tapi entah kenapa, setiap kali berhadapan langsung dengannya, dada Aira selalu saja terasa berat.Langkahnya baru sampai di tangga ketika suara bisik-bisik dari dua mahasiswi terdengar.“Aira keluar dari ruang Pak Adrian, ya?”“Iya, kok sering bange

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 10 Dalam Sunyi yang Tak Diinginkan

    Sore itu, halaman fakultas masih ramai: beberapa kelompok mahasiswa duduk berserakan di taman, berdiskusi sambil menatap layar laptop. Suara obrolan bercampur dengan deru angin dan tawa yang sesekali pecah di antara mereka.Di pojok selatan, dekat gedung fakultas FISIP, kelompok Aira duduk melingkar di bawah pohon besar. Di atas meja bundar kecil, berserakan kertas survei, laptop, pena, dan buku catatan yang terbuka di sembarang halaman.“Bima, kamu udah kumpulin data dari kelas paralel?” tanya Nita tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.“Udah, tapi kayaknya masih kurang tiga responden,” jawab Bima sambil mengetuk-ngetuk ponselnya. “Adit, tolong lo bantu nyari, ya.”Adit mengangkat tangan malas. “Santai aja, gue udah janjian sama anak organisasi. Bentar lagi mereka kirim data.”Ratna yang duduk di sebelah Aira ikut bersuara, “Jangan lupa validasinya, Dit. Kemarin kita hampir kejebak d

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 9 Gugup yang Masih Menempel

    Perpustakaan sore itu ramai. Derit kursi, suara bisik-bisik mahasiswa, dan aroma kertas buku6 bercampur dengan hembusan pendingin ruangan.Di pojok ruangan, Aira duduk bersama Nita, Bima, Adit, dan Ratna. Di atas meja, buku-buku terbuka berserakan, beberapa penuh coretan, beberapa hanya berisi halaman kosong yang menunggu ide.“Kita harus nentuin topik sebelum ketemu Pak Adrian lagi,” kata Nita, matanya menatap layar laptop dengan serius. “Kalau enggak, minggu depan bisa-bisa kita zonk.”Bima mengangguk sambil menggulir halaman jurnal di ponselnya. Gue pikir topik tentang digital learning cocok buat jurusan kita. Relevan, dan banyak data.”“Masalahnya,” Ratna menimpali pelan, “itu topik sejuta umat. Hampir semua mahasiswa komunikasi nulis soal itu.”Adit yang sejak tadi bersandar di kursinya mengangkat alis. “Kalau gitu, kita tambahin sudut pandang baru. Misalnya, dikaitin sama ke

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 8 Kembali Dipermainkan Takdir

    Keesokan harinya, Aira berusaha tampil seperti biasa. Ia berjalan perlahan di antara kerumunan mahasiswa yang sibuk membicarakan tugas dan jadwal kuliah, mencoba meniru langkah mereka agar terlihat wajar dan agar tidak ada yang tahu bahwa pikirannya sedang penuh sesak. Segalanya berjalan tampak normal—hingga pengumuman dari pihak kampus menggema melalui pengeras suara di aula fakultas.“Untuk mahasiswa semester tujuh, akan diadakan proyek penelitian bersama dosen selama tiga bulan ke depan. Tujuannya mempermudah proses penyusunan proposal skripsi. Nama kelompok dan dosen pembimbing akan diumumkan minggu depan.” Bisik-bisik langsung menyebar ke seluruh mahasiswa. Sebagian besar terdengar antusias, ada juga yang gelisah membayangkan dosen yang terlalu tegas. Namun bagi Aira, hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya:Gimana kalau aku dapet dosen pembimbing Pak Adrian? Tuhan, semoga aja jangan

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 7 Pertemuan yang Tak Bisa Dihindari

    Senin pagi datang seolah begitu cepat, menyingkirkan sisa-sisa tidur yang bahkan belum sempat menyentuh Aira sejak beberapa hari terakhir ini. “Cuma ambil daftar hadir,” bisiknya, mencoba menenangkan diri. “Bukan sesuatu yang besar.” Namun dada tetap sesak. Ia tahu, bukan urusan daftar hadir yang membuatnya resah, tapi kenyataan bahwa di balik meja kayu besar di ruang dosen itu, ada seseorang yang ingin ia hindari tapi justru terus mendekat di pikirannya. Ia tiba di kampus lebih awal dari biasanya. Lorong masih sepi, tapi pintu ruang dosen sudah terbuka. Aira berhenti di ambang pintu, menelan ludah. Suara ketikan laptop terdengar pelan. Dan di sudut ruangan itu, pria itu sudah di sana—tegap, tenang, dan sama seperti dalam ingatan. Kemeja biru muda yang Adrian kenakan hari ini menggantikan warna putih senin sebelumnya, tapi tetap saja menampilkan kesan yang sama: rapi, berwibawa, dan terlalu memikat bagi seseorang yang berusaha ia lupakan. “Permisi, Pak…” suara Aira keluar s

  • Satu Malam Bersama Dosen Tampan    Bab 6 Tak Kunjung Mau Diam

    Pagi datang begitu cepat seolah tak memberi kesempatan bagi Aira untuk benar-benar beristirahat. Matanya terbuka bahkan sebelum alarm sempat berbunyi, dan sisa ingatan kemarin masih menggantung di benaknya, membuat dada Aira terasa sesak bahkan sebelum hari dimulai. Aira menatap langit-langit kamar yang remang, membiarkan keheningan menyelimutinya sejenak, berharap sesak di dadanya bisa sedikit reda. Namun semakin lama ia diam, semakin berat rasanya bernapas. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. “Udahlah, Ra… lupain,” gumamnya lirih. Namun nama itu selalu saja muncul di kepalanya—Adrian Wiratama. Nama yang kini bukan hanya melekat di daftar dosen pengajar, tapi juga di pikirannya yang tak pernah tenang sejak pria itu hadir di hidu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status