LOGINKeesokan harinya, Aira berusaha tampil seperti biasa. Ia berjalan perlahan di antara kerumunan mahasiswa yang sibuk membicarakan tugas dan jadwal kuliah, mencoba meniru langkah mereka agar terlihat wajar dan agar tidak ada yang tahu bahwa pikirannya sedang penuh sesak.
Segalanya berjalan tampak normal—hingga pengumuman dari pihak kampus menggema melalui pengeras suara di aula fakultas.“Untuk mahasiswa semester tujuh, akan diadakan proyek penelitian bersamaCahaya temaram lampu meja kerja menerpa wajah Adrian yang diliputi keseriusan. Segelas kopi hitam di sampingnya membiarkan kepulan uap hilang perlahan, dingin tak tersentuh. Di atas permukaan meja kayu itu, tergeletak selembar kertas kecil—foto hasil USG yang tak sengaja jatuh dari dalam tas Aira saat ia menggendong tubuh mungil mahasiswinya itu ke kamar semalam. Adrian menatapnya lama. Bayangan samar di dalam gambar hitam-putih itu—sebuah titik kecil dengan baris keterangan medis yang sangat sederhana. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Detak di dadanya kian bergemuruh serasa tak beraturan. Sebuah gumaman lirih lolos dari bibirnya, menghilang ditelan sunyinya malam. “Itu anakku. Nyata… bukan sekadar kecurigaan atau ketakutan belaka.” Matanya terpejam sejenak. “Tapi… siapkah aku menjadi seorang ayah?” Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan helaan napas berat lolos menembus keheningan. Pikirannya terus berputar, terperangkap di antara dua b
Sedan hitam milik Adrian membelah jalanan malam Jakarta yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berpendar melewati kaca jendela, memantulkan bayangan samar di dalam kabin mobil yang hening. Aira duduk kaku di kursi penumpang depan, memeluk tasnya erat-erat, tak berani sedikit pun menoleh ke arah pria perkasa di sampingnya. Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal dan menekan. Aira menelan ludah dengan susah payah. Sebenarnya Pak Adrian mau ngapain, sih? Ketika mobil akhirnya melaju pelan menyusuri area apartemen elite dan berhenti di depan sebuah ruang kondominium mewah, kepanikan Aira kembali mencengkram. “Pak… kita… kita mau ke mana? Ini apartemen siapa?” Adrian mematikan mesin mobil, berbalik menatap Aira dengan wajah datar yang tak tertebak. “Ke tempat yang aman. Saya tidak ingin pembicaraan kita jadi tontonan orang luar.” Beberapa menit kemudian, Aira sudah berada di dalam ruang tamu rumah yang luas dan hening itu. Ia duduk kaku di ujung sofa kulit, merasa asing dan t
Langkah Aira ragu dan gemetar, namun dorongan rasa takut akan masa depannya yang hancur terus memaksanya maju. Di depan sana, di antara deretan bangunan tua yang catnya mengelupas, berdiri sebuah ruko dengan plang kusam bertuliskan “Klinik Kesehatan Wanita”. Dari luar, tempat itu tampak sunyi dan tertutup rapat. Tirai jendela yang kusam terpasang tanpa celah, menjaga rapat rahasia dan keputusan-keputusan gelap yang kerap terjadi di dalamnya. Jantung Aira berdegup kencang, menghantam dadanya hingga terasa sesak. Hanya masuk dan konsultasi sebentar. Kalau aku berubah pikiran, aku bisa keluar lagi, batinnya menenangkan diri, meski benaknya terus menjerit menolak. Jemarinya yang dingin dan bergetar hebat perlahan terangkat, hendak menyentuh gagang pintu yang berkarat. Namun, sebelum jemarinya sempat menempel pada besi dingin itu, sebuah suara bariton yang dalam, dingin, dan menekan terdengar tepat di belakangnya. “Beraninya kamu datang ke tempat seperti ini, Aira?” Aira membeku
Dua hari setelah insiden yang meruntuhkan kesadarannya di ruang bimbingan Adrian, Aira duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan wajah yang masih pucat pasi. Nita, yang setia menemani di sampingnya, meletakkan nampan berisi bubur hambar yang nyaris tak tersentuh. “Ra, please kali ini aja, dengerin saran dokter dan aku. Fokus istirahat dulu, minimal seminggu sampai kamu benar-benar pulih total. Ra,” bujuk Nita dengan suara serak karena kurang tidur. Aira menggeleng pelan, tangannya meremas selimut rumah sakit yang kasar. “Aku enggak bisa, Nit. Ujian tengah semester udah deket, belum lagi revisi proposal kita. Kalau aku absen lebih lama, aku takut bakal ketinggalan jauh.” “Tapi sekarang yang lebih penting itu kesehatan kamu, Ra! Dan...” Nita menggantung kalimatnya, melirik ke pintu yang tertutup, takut ada yang mendengar rahasia mereka. “...dan juga kandungan kamu.” “Aku bakal istirahat di rumah dan minum obat, aku janji, Nita. Tapi aku harus mulai masuk besok,” potong Aira dengan na
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Aira. Di depan cermin kamar kos apartemen kecilnya, Aira menatap pantulan wajahnya yang masih tampak pucat pasi seperti kemarin. Ia berkali-kali memulas sedikit perona pipi dan lipstik agar tidak terlihat seperti mayat hidup, namun gurat rasa sakit bercampur lelah itu seolah tetap saja mampu menembus lapisan riasannya.“Ra, aku mohon, sekali ini saja dengerin aku. Kamu enggak usah berangkat,” suara Nita terdengar dari ambang pintu. Sahabatnya itu sudah berdiri di sana sejak sepuluh menit yang lalu dengan tangan bersedekap dan wajah penuh kekhawatiran.Aira menghela napas, tangannya masih sibuk merapikan kerah kemejanya yang terasa sedikit longgar dengantangan yang gemetar. “Aku enggak bisa, Nit. Hari ini bagianku yang presentasi. Kalau aku absen, takut berpengaruh sama penelitian kelompok kita.”“Tapi Pak Adrian sendiri yang bilang kemarin, kalau kamu butuh istirahat, kamu enggak perlu datan
Sejak subuh tadi, Aira merasa perutnya menegang tanpa alasan. Bukan sakit, tapi ada tekanan halus yang membuat langkahnya berat sejak ia bangun. Ketika membuka mata, kamar terasa lebih gelap dari biasanya, meski tirai jendela belum sepenuhnya tertutup. Udara kamar pun terasa lebih pengap, seolah dunia enggan memberi ruang baginya untuk bernapas lega.Ia bangkit pelan dan merasakan pusing menyambar begitu telapak kakinya menyentuh lantai. Tubuhnya menolak untuk tegak, namun ia memaksakan diri.Di kampus, Aira mencoba mengubur Perasaan tak nyaman di tubuhnya. Saat duduk di kelas, ia merasa pusing datang menyergap. Senyum Nita muncul sekilas di tepi penglihatannya, lalu menghilang saat Aira memejamkan mata.“Aira?” bisik Nita pelan. “Kamu sakit?”Aira menggeleng. “Cuma pusing… sedikit.”Nita tidak percaya, tapi ia menahan diri. Ia menggeser botol air ke arah Aira, lalu kembali menatap papan tulis.Aira meminum air itu perlahan, meski mual kemba
Udara kampus memang terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari belum terlalu tinggi, menembus kaca jendela koridor fakultas dengan cahaya lembut. Namun bagi Aira, langkah-langkahnya justru terasa dingin dan berat.Sejak undian itu berakhir, dadanya seolah dipenuhi belati yang menusuki. Ia sudah be
Jam berjalan lambat. Setiap menit di kelas hari ini terasa seperti hukuman bagi Aira.Suara Adrian yang menjelaskan teori dan konsep dasar, entah mengapa terasa terlalu dekat, terlalu familiar. Kadang, Aira bahkan bisa mendengar gema napas berat Adrian di telinganya sendiri, seolah ingatan malam it
Aira menghela napas panjang di depan cermin kamarnya. Wajahnya tampak pucat, seolah seluruh darah dalam tubuhnya tersedot keluar bersama rasa sesal yang tak kunjung surut.Matanya sembab, tatapannya kosong, dan kantung hitam menggantung di bawah kelopak—bukti dari malam-malam tanpa tidur yang dihan
Setelah beberapa waktu berlalu, tetapi tangan lelaki itu masih melingkari pinggangnya, kuat namun goyah, seolah pria itu tampak berjuang keras untuk tetap sadar. Hangat tubuhnya berpadu dengan dinginnya udara malam, menimbulkan sensasi aneh yang membuat Aira sulit membedakan antara takut dan pasrah







