LOGIN"Lucian..." Sienna akhirnya memecah keheningan, suaranya sedikit ragu. "Aku pikir kau akan langsung menuju ruang dansa."Lucian melangkah perlahan mendekati istrinya. Rahangnya terlihat kaku, raut wajahnya merupakan perpaduan antara rasa frustasi dan ego yang menolak untuk dikalahkan oleh perang dingin mereka."Kau pikir aku akan membiarkanmu berjalan memasuki aula dansa sebesar itu sendirian, Sienna?" balas Lucian, nadanya kaku namun sarat akan kepemilikan. "Malam ini adalah pertama kalinya para serigala bangsawan itu berkumpul di bawah atapku atas nama Pesta Dansa. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat sedikit pun keretakan di antara kita."Pria itu berhenti tepat di hadapan Sienna. Meski matanya masih memancarkan luka akibat penghindaran istrinya selama beberapa hari terakhir, Lucian perlahan mengangkat tangan kanannya yang terbalut sarung tangan putih, mengulurkannya ke arah Sienna."Aku masih berstatus sebagai suamimu." ucap Lucian pelan, suaranya sedikit melunak di ujung kal
Pagi itu, istana kekaisaran jauh lebih sibuk dari biasanya. Suara langkah kaki para pelayan yang berlarian membawa gulungan kain sutra, bunga-bunga segar, dan perabotan menggema di setiap lorong.Malam ini bukanlah malam biasa. Istana akan menggelar pesta dansa untuk acara amal, sebuah perayaan besar yang sekaligus menjadi pesta dansa pertama sejak Lucian merebut takhta dari pamannya melalui pertumpahan darah. Bagi para bangsawan, ini adalah panggung politik. Bagi Sienna, ini adalah medan perang baru yang harus ia hadapi dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.Di dalam kamar utama kekaisaran, udara terasa kaku. Sienna duduk diam di depan cermin rias raksasanya, membiarkan ketiga dayangnya membantu bersiap-siap di sekelilingnya."Apakah Yang Mulia lebih memilih set kalung safir atau mutiara untuk malam ini?" tanya Lady Elizabeth, memecah keheningan sambil mengangkat dua kotak beludru dengan hati-hati."Safir." jawab Sienna datar, suaranya terdengar lelah. “Semoga itu tidak membuat waj
"Berhentilah bermain pahlawan, Rowan." potong Elizabeth, sengaja menekankan setiap suku katanya.Ia mendongak, membalas tatapan gelap pria itu dengan sorot mata yang dipaksakan untuk terlihat angkuh dan meremehkan."Ayahku memang mengangkat derajatmu dan menjadikanmu seorang ksatria di kediaman kami. Tapi ingatlah tempatmu... itu bukan berarti kau adalah seorang pahlawan yang bisa menyelamatkanku dari takdirku."Kata-kata tajam itu meluncur begitu saja, mengiris udara di antara mereka.Tangan Rowan yang sempat terangkat seketika jatuh kembali ke sisi tubuhnya. Rahang pria itu mengeras, dan kilat kekecewaan yang mendalam melintas di mata gelapnya.Status sosial mereka kembali menjadi jurang pemisah yang tak bisa pria itu tembus, tidak peduli bagaimanapun pria itu mencoba melawannya."Urus saja tugas pengawalanmu, dan biarkan aku mengurus urusan keluargaku." ucap Elizabeth final.Tanpa memberikan kesempatan bagi Rowan untuk membalas, Elizabeth memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi menyus
Elizabeth tersentak keras. Tangannya refleks menyentuh dada saat ia berputar dengan cepat, menatap ke arah bayangan pilar di belakangnya.Di sana, berdiri seorang ksatria jangkung berseragam zirah yang mengenakan jubah dengan lambang keluarga Duke Mountford.Itu adalah Rowan. Pria itu sama sekali tidak memiliki darah biru di nadinya. Ia hanyalah putra dari seorang pelayan wanita di kediaman Mountford. Namun, kemampuan berpedangnya yang luar biasa dan insting bertarungnya yang tajam tidak sengaja ditemukan oleh ayah Elizabeth bertahun-tahun yang lalu. Bakat murni itu berhasil mengangkat derajat Rowan dari seorang rakyat jelata biasa menjadi ksatria tangguh yang kini ditugaskan mengawal Elizabeth ke istana.Melihat siapa yang mengagetkannya, ketegangan di bahu Elizabeth sedikit mengendur, digantikan oleh raut kesal."Jangan menggangguku, Rowan." tegur Elizabeth dengan suara berbisik tajam.Pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, bersandar santai pada pilar batu seolah mer
Tuduhan itu bagaikan tamparan keras yang mendarat telak di wajah Sienna. Kulitnya yang pucat seketika memerah karena campuran rasa malu, marah, dan keputusasaan."Itu tidak benar." bantah Sienna dengan suara bergetar. Ia memaksakan diri untuk mengangkat dagunya dan menatap mata mertuanya, menolak untuk terlihat hancur. "Aku sama sekali tidak seperti itu, Ibu Suri. Aku tahu persis apa tugasku dan apa yang dipertaruhkan. Aku membawa mereka ke istana ini murni demi masa depan takhta kekaisaran, bukan untuk mempermainkan mereka maupun Yang Mulia Kaisar."Sienna mengatakan kejujurannya, meski itu adalah kejujuran yang menorehkan luka menganga di dadanya sendiri. Ia telah mencoba mengorbankan hatinya, menahan perih membayangkan suaminya menyentuh wanita lain, tetapi Lucian yang terus merobek dan menghancurkan semua rencananya secara brutal.Namun, Beatrice sama sekali tidak tersentuh oleh pembelaan rapuh tersebut. Wanita paruh baya itu justru mendengus meremehkan. Sebuah senyuman dingin t
Sementara Elizabeth berkutat dengan pertanyaan yang membingungkan, suasana di dalam rumah kaca sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah yang tak tertembus.Keheningan yang ditinggalkan oleh para dayang kini hanya diisi oleh suara napas yang saling memburu dan gemerisik pakaian yang bergesekan.Sienna memejamkan matanya erat-erat saat bibir Lucian menjelajahi lehernya. Angin senja yang menyusup masuk melalui celah jendela kaca terasa dingin menerpa kulit kakinya yang terbuka."Buka matamu, Sienna." perintah Lucian dengan suara serak, ciumannya terhenti sejenak di perpotongan rahang istrinya.Perlahan, kelopak mata yang basah itu terbuka. Hal pertama yang Sienna lihat adalah sepasang mata merah menyala yang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. "Jangan pernah lagi…" bisik Lucian parau, menyatukan kening mereka. Napasnya yang hangat dan berat berpadu dengan napas Sienna yang tersengal. "Jangan pernah lagi mencoba menyodorkan wanita lain padaku. Jika kau melakukannya lagi... aku bersum
Di tengah ruang kerja Lucian, Marta berdiri dengan kepala tertunduk dalam. Bahu pelayan setia itu bergetar, bukan hanya karena takut berhadapan dengan aura membunuh yang dipancarkan tuannya, melainkan juga karena amarah yang ia pendam demi nonanya.Lucian duduk di balik meja kerjanya yang besar, ja
Sienna memaksakan kakinya untuk melangkah menaiki anak tangga gazebo, langkahnya begitu berat seolah ada beban besar di kakinya. Di hadapannya, dua wanita paling berkuasa di kediaman itu menatapnya seperti seekor serangga yang tersasar.Dengan tangan gemetar yang ia sembunyikan di balik lipatan gau
"Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta
Sienna, yang didorong oleh rasa penasaran yang membuncah, mencondongkan tubuhnya ke depan. Lebih dekat pada Marta yang hendak berbisik padanya. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin tahu kebenaran tentang perasaan Lucian pada Alexandria. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari mulut Marta, pintu