LOGINElizabeth tersentak keras. Tangannya refleks menyentuh dada saat ia berputar dengan cepat, menatap ke arah bayangan pilar di belakangnya.Di sana, berdiri seorang ksatria jangkung berseragam zirah yang mengenakan jubah dengan lambang keluarga Duke Mountford.Itu adalah Rowan. Pria itu sama sekali tidak memiliki darah biru di nadinya. Ia hanyalah putra dari seorang pelayan wanita di kediaman Mountford. Namun, kemampuan berpedangnya yang luar biasa dan insting bertarungnya yang tajam tidak sengaja ditemukan oleh ayah Elizabeth bertahun-tahun yang lalu. Bakat murni itu berhasil mengangkat derajat Rowan dari seorang rakyat jelata biasa menjadi ksatria tangguh yang kini ditugaskan mengawal Elizabeth ke istana.Melihat siapa yang mengagetkannya, ketegangan di bahu Elizabeth sedikit mengendur, digantikan oleh raut kesal."Jangan menggangguku, Rowan." tegur Elizabeth dengan suara berbisik tajam.Pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, bersandar santai pada pilar batu seolah mer
Tuduhan itu bagaikan tamparan keras yang mendarat telak di wajah Sienna. Kulitnya yang pucat seketika memerah karena campuran rasa malu, marah, dan keputusasaan."Itu tidak benar." bantah Sienna dengan suara bergetar. Ia memaksakan diri untuk mengangkat dagunya dan menatap mata mertuanya, menolak untuk terlihat hancur. "Aku sama sekali tidak seperti itu, Ibu Suri. Aku tahu persis apa tugasku dan apa yang dipertaruhkan. Aku membawa mereka ke istana ini murni demi masa depan takhta kekaisaran, bukan untuk mempermainkan mereka maupun Yang Mulia Kaisar."Sienna mengatakan kejujurannya, meski itu adalah kejujuran yang menorehkan luka menganga di dadanya sendiri. Ia telah mencoba mengorbankan hatinya, menahan perih membayangkan suaminya menyentuh wanita lain, tetapi Lucian yang terus merobek dan menghancurkan semua rencananya secara brutal.Namun, Beatrice sama sekali tidak tersentuh oleh pembelaan rapuh tersebut. Wanita paruh baya itu justru mendengus meremehkan. Sebuah senyuman dingin t
Sementara Elizabeth berkutat dengan pertanyaan yang membingungkan, suasana di dalam rumah kaca sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah yang tak tertembus.Keheningan yang ditinggalkan oleh para dayang kini hanya diisi oleh suara napas yang saling memburu dan gemerisik pakaian yang bergesekan.Sienna memejamkan matanya erat-erat saat bibir Lucian menjelajahi lehernya. Angin senja yang menyusup masuk melalui celah jendela kaca terasa dingin menerpa kulit kakinya yang terbuka."Buka matamu, Sienna." perintah Lucian dengan suara serak, ciumannya terhenti sejenak di perpotongan rahang istrinya.Perlahan, kelopak mata yang basah itu terbuka. Hal pertama yang Sienna lihat adalah sepasang mata merah menyala yang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. "Jangan pernah lagi…" bisik Lucian parau, menyatukan kening mereka. Napasnya yang hangat dan berat berpadu dengan napas Sienna yang tersengal. "Jangan pernah lagi mencoba menyodorkan wanita lain padaku. Jika kau melakukannya lagi... aku bersum
Mata Sienna memancarkan kilat perlawanan yang keras kepala. Di balik napasnya yang tersengal dan wajahnya yang merah padam, ia memaksakan sebuah tawa kecil yang bergetar.Dia tidak mungkin berani, batin Sienna, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lucian adalah seorang Kaisar yang menjunjung tinggi wibawa dan harga dirinya di atas segalanya. Ini hanyalah gertakan kosong untuk menakutiku.Sienna mengangkat dagunya, menatap langsung ke dalam mata merah suaminya dengan sisa-sisa keberanian palsu yang ia miliki. "Kau tidak akan melakukannya, Lucian."Kilat di mata Lucian menggelap seketika. "Kau meragukanku, Istriku?" bisiknya.Tanpa peringatan, lengan kekar Lucian bergerak. Pria itu bangkit berdiri seraya mengangkat tubuh Sienna dengan mudahnya, seolah istrinya seringan bulu. Dengan satu ayunan kasar dari tangan bebasnya, Lucian menyapu bersih permukaan meja teh di hadapan mereka.Teko porselen mahal, cangkir-cangkir teh, dan piring berisi kue lemon hancur berserakan di atas lantai batu
Sindiran tajam yang meluncur dari bibir Lucian mengiris keheningan rumah kaca, namun Sienna sama sekali tidak membiarkan senyum di bibirnya goyah.Menghadapi tatapan permusuhan dari sang suami, Sienna justru meresponsnya dengan kelembutan. Ia mengangkat teko, menuangkan teh beraroma melati ke dalam cangkir Lucian dengan gerakan lambat dan gemulai. "Ramai?" Sienna mengulang kata itu dengan nada ringan, seolah ucapan Lucian hanyalah sebuah candaan. "Ini adalah standar istana, Lucian. Kehadiran dayang di acara seperti ini adalah hal yang sangat wajar."Sienna mencondongkan tubuhnya, mendekati suaminya. Dengan gerakan yang terlihat begitu natural dan penuh afeksi, Sienna meletakkan satu tangannya yang lentik di atas bahu kokoh sang Kaisar.Jemari Sienna mengusap pelan kain sutra kemeja Lucian, memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih sayang di hadapan para penontonnya."Seorang Permaisuri tidak pernah benar-benar sendirian. Mereka adalah tanganku, mataku, dan bayanganku." ucap Si
Keesokan sorenya, sinar matahari keemasan menyinari rumah kaca istana yang dipenuhi oleh hamparan bunga eksotis.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di jalur setapak. Lucian datang tepat waktu, berjalan melintasi deretan tanaman sesuai dengan permintaan istrinya.Sejujurnya, sang Kaisar sama sekali tidak sanggup menolak undangan dari Sienna. Ada letupan kecil kelegaan dan rasa senang di dadanya saat Damien menyampaikan pesan bahwa Permaisuri ingin minum teh bersama. Namun, Lucian memaksakan diri untuk menekan perasaan itu dalam-dalam. Wajahnya dipasang sedatar dan sedingin mungkin.Pria itu tidak bodoh. Ia sangat mengenal istrinya. Setelah konfrontasi panas mereka beberapa malam yang lalu dan penolakan kerasnya kemarin sore, Sienna tidak mungkin tiba-tiba mengundangnya hanya untuk menikmati aroma teh melati dan udara sore yang damai. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang baru.Dan benar saja. Tebakan Lucian terbukti tepat sasaran begitu ujung jubah\nya melewa
Mendengar permintaan Sienna, senyum hangat Marta semakin mengembang. Melihat Nonanya yang selama ini selalu terlihat murung kini tampak begitu bersemangat, membuat hati pelayan itu ikut merasa lega."Tentu saja, Nona. Dengan senang hati saya akan menemani Anda," jawab Marta lembut. Ia melirik sekil
Alexandria menggeram tertahan. Harga dirinya terkoyak habis. Menyadari bahwa ia tidak akan bisa memenangkan perdebatan ini tanpa merusak citranya sendiri di depan publik, ia akhirnya menyerah.Dengan napas memburu dan kaki yang dihentakkan keras ke tanah berbatu, Alexandria berbalik arah."Kita kem
"Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Alexandria dingin, membelah kebisingan jalanan di sore hari itu. Tatapannya menyapu gaun katun lusuh yang dikenakan Sienna dengan sorot mata penuh penghinaan.Sienna menelan ludah, berusaha mempertahankan ketenangannya di hadapan wanita bangsawan itu. Ia meneku
Sosok pria yang membelah kerumunan itu adalah Damien.Ajudan terpercaya Duke Lorraine itu berjalan tenang, namun auranya memancarkan ketegasan. Jubah hitam dengan lambang Duchy Lorraine yang melekat di bahunya menjadi bukti posisinya di Duchy.Damien berjalan lurus ke arah Sienna yang masih berlutu







