Share

Merasa kotor

Author: Hitam_Putih
last update publish date: 2026-05-08 21:22:47

Setelah beberapa menit duduk membeku di pinggir tempat tidur, tubuh Dinda masih bergetar hebat. Tangannya memeluk lutut yang ditarik ke dada, berusaha menenangkan diri meski sia-sia. Rasa dingin menyusup lewat pori-pori kulitnya, tapi bukan hanya tubuhnya yang menggigil, hatinya jauh lebih beku. Ketakutan, kebingungan, dan rasa malu menyatu menjadi kabut pekat yang menyelimuti pikirannya.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir kilasan-kilasan semalam yang terus terulang di kepalanya. Suara napas berat. Sentuhan asing. Wajah laki-laki itu, wajah yang bahkan tak sempat ia lihat jelas saat matanya berat karena kelelahan dan kebingungan. Ia menggigit bibir hingga nyaris berdarah.

Pelan, dengan lutut yang terasa lemas, Dinda akhirnya beranjak dari ranjang. Kakinya terasa begitu berat, seolah dipasung rasa malu yang membelenggunya. Setiap langkah terasa seperti hukuman. Ia menyeret langkah ke kamar mandi, satu-satunya tempat yang terasa cukup tertutup untuk melindungi sisa-sisa harga dirinya.

Ketika jari-jarinya menyentuh gagang pintu kamar mandi, ia menyadari tangannya gemetar hebat. Pintu dibuka perlahan, dan uap lembab dari ruangan sempit itu menyambutnya seperti selimut tak kasat mata. Di hadapannya, sebuah cermin tua tergantung miring, dengan retakan kecil di ujung kanannya. Ia menatap bayangannya sendiri di dalam cermin, dan untuk sesaat, ia tak mengenali wajah yang memandang balik.

Mata sembab. Pipi pucat. Rambut acak-acakan. Tapi yang paling menyakitkan adalah ekspresi kosong di matanya. Tak ada Dinda yang ceria, kuat, penuh semangat seperti biasanya. Yang ada hanya seorang gadis muda dengan tatapan hampa, seperti boneka rusak yang dibuang begitu saja.

Dengan helaan napas berat, ia berjalan ke pancuran dan memutar keran. Air deras mengalir, menghantam lantai keramik dengan suara keras. Ia mulai melepas pakaian satu demi satu, dan tiap helaian kain yang jatuh ke lantai terasa seperti beban berat yang menelanjangi luka-luka batinnya. Saat akhirnya ia berdiri telanjang di bawah guyuran air, tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, tapi karena rasa jijik yang mengendap di dalam dirinya.

Ia mengambil sabun, menuangkannya ke tangan, lalu mulai menggosok kulitnya. Keras. Kasar. Tanpa ampun. Ia menyikat lengan, bahu, perut, leher, bahkan bagian-bagian tubuh yang paling rapuh dengan rasa marah yang tak tertahan.

“Aku kotor…” gumamnya, nyaris tak terdengar. “Aku kotor… aku jijik…”

Air mata mulai bercucuran, menyatu dengan air pancuran yang mengalir deras dari kepala hingga ke ujung kaki. Ia menggosok lebih keras, hingga kulitnya memerah, tapi rasa kotor itu tetap tertinggal. Ia memukul dada dengan kepalan tangan lemah, lalu jatuh bersimpuh di lantai kamar mandi sambil menangis terisak-isak.

“Ibu…” suaranya serak dan parau. “Ibu, maafin Dinda… Aku cuma mau kerja. Aku cuma mau bantu keluarga… Kenapa malah begini, Bu…?”

Tubuhnya membungkuk, menyandarkan kening ke lutut yang ditekuk, dan air mata tak berhenti mengalir. Suara tangisnya teredam oleh derasnya air, seolah dunia pun tak ingin mendengar kesedihannya.

“Aku nggak minta apa-apa… cuma pengen hidup tenang. Cuma pengen kerja jujur… Kenapa malah jadi begini?” isaknya lagi, dengan suara lirih yang membuat udara kamar mandi seakan membeku.

Waktu seolah berhenti di kamar mandi kecil itu. Di antara uap, suara air, dan tangisan yang sunyi, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun sedang mencoba bertahan. Bukan hanya dari trauma semalam, tapi dari kehancuran harga diri yang sedang ia rawat perlahan-lahan. Di balik pintu yang tertutup, ia mencoba menemukan kembali dirinya sendiri. Menyatukan serpihan-serpihan harapan yang sempat hilang di malam yang gelap.

Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia tak tahu bagaimana harus menghadapi orang-orang di luar sana, terutama keluarganya. Tapi untuk saat ini, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah bertahan. Bertahan dan berharap suatu hari, luka ini tak lagi terasa begitu menyakitkan.

---

Dinda duduk di pinggir ranjang dengan tubuh yang masih terasa lemas, rambutnya masih setengah basah, meneteskan sisa air dari mandi sebelumnya. Bajunya sudah rapi, tapi hatinya berantakan. Ia mengenakan kaus lengan panjang berwarna biru pudar dan celana jeans yang terasa sesak di pinggangnya. Rasanya seperti bersembunyi di balik lapisan kain itu, seolah pakaian bisa melindunginya dari dunia luar.

Tatapannya kosong menatap lantai, sebelum akhirnya ponsel tuanya bergetar di atas meja kecil samping ranjang. Layar menyala. Tertera nama: Pak Angga – Manajer Hotel.

Jantung Dinda berdegup lebih cepat. Matanya melebar, dan ia buru-buru menoleh ke arah pintu, seolah panggilan itu bisa membawa orang yang tak ingin ia lihat muncul di depan kamar. Ia menggigit bibirnya, menahan napas.

“Kenapa dia nelpon? Apa dia tahu? Apa pria itu mencari keberadaannya? Apa aku bakal dipecat?” pikirnya panik.

Ponsel terus berdering, bergetar pelan di meja hingga nyaris terjatuh. Namun Dinda hanya memandanginya, tak bergerak, tak berniat mengangkat. Rasanya seperti suara bom waktu, menunggu untuk meledak.

“Enggak… aku nggak bisa…” bisiknya lirih, lalu menutup kedua telinganya dengan tangan, seolah bisa membungkam suara dering itu.

Setelah beberapa saat, dering itu pun berhenti. Tapi belum sempat ia menarik napas lega, notifikasi pesan masuk muncul.

Pak Angga:

Dinda, kamu ada di mana? Tamu yang menempati kamar yang kamu bersihkan tadi malam, minta kamu untuk membersihkannya lagi. Dia puas dengan layanan kamu.

Dinda yang membaca pesan dari atasannya itu pun membeku.

Ia membaca pesan itu sekali… dua kali… tiga kali.

Jantungnya mencelos. Tenggorokannya tercekat.

Ia tahu betul siapa tamu itu. Dan ia tahu betul arti “puas” di kalimat itu bukan tentang kebersihan kamarnya atau lipatan selimut yang rapi.

Ia mundur perlahan, kembali duduk di tepi ranjang. Ponsel diletakkannya pelan, seperti benda najis. Jemarinya mencengkeram seprai erat-erat.

“Puas dengan layanan aku?” pikirnya pahit. “Apa mereka pikir aku ini apa? Pelayan? Mainan? Boneka tanpa suara yang bisa mereka perintah semau mereka?”

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Enggak… aku nggak akan balik. Aku nggak akan bersihin kamarnya. Aku nggak akan lihat dia lagi.” ucapnya lirih. Suaranya nyaris seperti bisikan angin.

“Apa pun yang dia mau dari aku… aku nggak peduli.”

Ia berdiri dengan gemetar, lalu berlutut di depan koper tuanya, koper yang sudah ia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dengan sejuta harapan. Resletingnya sudah sedikit rusak, warnanya mulai pudar. Tapi koper itu adalah satu-satunya saksi bisu perjuangannya.

Sesekali, tangannya terhenti. Matanya menatap kosong ke selembar pakaian hotel yang masih bersih. Seragam yang dulu ia banggakan.

“Pekerjaan ini…” ia menghela napas. “Kupikir ini langkah pertamaku buat hidup yang lebih baik. Tapi ternyata malah ngerusak semuanya…”

Suara ponsel kembali bergetar. Panggilan dari Pak Angga lagi. Dinda mengabaikannya. Ia meraih charger, menggulungnya, lalu memasukkannya juga ke dalam koper. Tak peduli lagi tentang gaji terakhir, tentang surat keluar, atau surat rekomendasi kerja. Yang ia pikirkan sekarang hanya satu: pergi sejauh mungkin dari pria itu.

“Mulai besok aku cari kerja lain. Jadi cleaning service pun nggak apa-apa. Asal aku nggak ketemu dia lagi,” gumamnya tegas, meski suaranya terdengar lelah.

Ia menatap ponselnya satu kali lagi sebelum akhirnya mematikan perangkat itu sepenuhnya. Layar hitam, sunyi.

Dinda menghela napas panjang. Lalu berdiri menatap bayangannya di kaca jendela kamar kontrakan kecilnya. Di luar sana, matahari mulai naik tinggi, pertanda hari baru telah dimulai. Tapi bagi Dinda, ini bukan hari baru. Ini hari pelarian.

Hari di mana ia harus membangun kembali hidupnya tanpa jejak hitam karena kejadian itu, dan tanpa luka yang terus menganga.

.

.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Tuan Muda   Merasa kotor

    Setelah beberapa menit duduk membeku di pinggir tempat tidur, tubuh Dinda masih bergetar hebat. Tangannya memeluk lutut yang ditarik ke dada, berusaha menenangkan diri meski sia-sia. Rasa dingin menyusup lewat pori-pori kulitnya, tapi bukan hanya tubuhnya yang menggigil, hatinya jauh lebih beku. Ketakutan, kebingungan, dan rasa malu menyatu menjadi kabut pekat yang menyelimuti pikirannya.Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir kilasan-kilasan semalam yang terus terulang di kepalanya. Suara napas berat. Sentuhan asing. Wajah laki-laki itu, wajah yang bahkan tak sempat ia lihat jelas saat matanya berat karena kelelahan dan kebingungan. Ia menggigit bibir hingga nyaris berdarah.Pelan, dengan lutut yang terasa lemas, Dinda akhirnya beranjak dari ranjang. Kakinya terasa begitu berat, seolah dipasung rasa malu yang membelenggunya. Setiap langkah terasa seperti hukuman. Ia menyeret langkah ke kamar mandi, satu-satunya tempat yang terasa cukup tertutup untuk melindungi sisa-sisa ha

  • Satu Malam Bersama Tuan Muda   Mencari

    Daniel masih berdiri di tempat yang sama sejak Mama Sinta pergi meninggalkannya. Matanya kosong menatap dinding, pikirannya terombang-ambing oleh rasa bersalah, kemarahan, dan kebingungan. Ia mencoba mengingat dengan detail kejadian semalam, berharap ada petunjuk sekecil apa pun yang bisa membantunya menemukan gadis itu. Ia tahu, waktu tidak berpihak padanya—semakin lama ia menunda, semakin sulit menemukan jejak sang gadis.Tiba-tiba, satu potongan memori menampar kesadarannya.“Tunggu dulu…” gumamnya lirih. “Bukannya semalam dia pakai seragam office girl, ya?” ucapnya lagi, yang baru teringat hal seperti itu.Daniel mengerutkan kening. Ia teringat dengan jelas—meski dalam kabut alkohol—bahwa gadis itu mengenakan seragam office girl putih dengan rok hitam ketat, . Ia juga ingat bahwa gadis itu membawa tas jinjing sederhana dan mengenakan sepatu pantofel hitam yang sedikit kusam di ujungnya. Semua detail itu kini kembali perlahan, dan membangkitkan dorongan untuk bertindak.Tanpa pikir

  • Satu Malam Bersama Tuan Muda   Jejak di seprai putih

    Daniel kini sudah mengenakan kembali pakaiannya. Kemeja putih yang sedikit kusut itu ia kenakan tergesa-gesa, sementara celananya tampak tidak terlalu rapi—ia bahkan belum sempat mengancingkan seluruh kancing bajunya dengan benar. Rambutnya masih berantakan, wajahnya kusut dan penuh kecemasan. Ia berdiri di hadapan sang ibu, seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri kue di dapur. Sedingin dan setegas apapun Daniel di hadapan orang lain, di hadapan ibunya, ia selalu luluh. Ada rasa takut, hormat, dan segan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Mama Sinta berdiri di depannya dengan kedua tangan bertolak pinggang, sorot matanya tajam seperti mata elang yang mengincar mangsa. Raut wajahnya bukan hanya marah—tetapi kecewa, sangat kecewa."Jelaskan apa yang terjadi!" suaranya terdengar tegas, dingin, dan menekan, membuat Daniel menunduk dengan gelisah.“Aku… aku nggak ingat, Ma,” gumam Daniel pelan, suaranya nyaris tak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat Mama Sinta meng

  • Satu Malam Bersama Tuan Muda   Bagun dalam duka

    Pagi perlahan merambat masuk ke sela-sela tirai yang sedikit terbuka, membawa serta sinar mentari yang hangat. Cahaya itu menembus masuk ke dalam kamar Royal Suite yang mewah, menyapu sisa-sisa kegelapan malam yang baru saja berlalu. Langit di luar sana sudah berubah warna, dari kelam menjadi biru muda yang cerah. Namun, keindahan pagi itu tak mampu menembus keheningan pekat yang masih menyelimuti kamar tersebut. Di atas ranjang besar dengan sprei putih yang kini berantakan, dua tubuh terbaring dalam keheningan. Seorang pria yang tampak masih terlelap dalam tidur pulasnya, sementara di bawahnya, seorang perempuan terbaring kaku dengan mata yang perlahan mulai terbuka, menyadari kenyataan pahit yang baru saja menimpanya. Dinda membelalakkan matanya. Seketika tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Kesadaran kembali menyergapnya dengan kejam, membangunkannya dari mimpi buruk yang ternyata bukan mimpi sama sekali. Pria itu masih di atas dirinya—masih menindihnya, bahkan tubuh mereka masi

  • Satu Malam Bersama Tuan Muda   Takdir Kelam Dibalik kamar mewah

    Daniel berjalan dengan langkah yang tidak stabil, tubuhnya sedikit limbung akibat alkohol yang telah membanjiri sistem sarafnya sejak beberapa jam terakhir. Dengan mata yang mulai mengabur dan kepala yang terasa berat, ia menatap lift di depannya sambil mengerutkan kening, berusaha fokus untuk menekan tombol lantai paling atas—lantai di mana kamar favoritnya berada. Hotel tempat mereka biasa berkumpul ini bukan sembarang tempat; hotel mewah itu milik pamannya, yang tak lain adalah ayah Damian, sahabat sekaligus partner mabuknya malam ini.Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka dengan suara khas logam yang bergesekan. Daniel masuk dan bersandar di dinding lift, menunggu sampai lantai yang dituju tercapai. Ketika pintu terbuka, ia langsung berjalan keluar dengan langkah gontai menuju salah satu kamar eksklusif di sudut koridor. Ia merogoh saku dan mengeluarkan kartu akses, lalu menempelkannya ke pemindai di sisi pintu. Bunyi bip terdengar, menandakan pintu telah terbuka, dan ia pun

  • Satu Malam Bersama Tuan Muda   Awal Dari Masalah Dinda

    Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan yang saling bergesekan — menciptakan suara lirih yang mampu membuat siapa pun merinding dalam kesunyian.Di tengah dinginnya malam, Dinda duduk termenung di sudut kamar kecilnya. Tatapannya tertuju pada layar ponsel, melihat notifikasi transfer yang baru saja terkirim ke rekening ibunya. Gaji bulan ini, hanya tinggal untuk makan dan membayar kontrakan. Sebagian besar sudah ia kirim untuk ibu dan adik-adik tercinta di kampung.Di usianya yang baru 23 tahun, Dinda telah memikul beban besar. Ayahnya pergi untuk selamanya dua tahun lalu, menyerah pada penyakit jantung yang merenggut nyawa sang kepala keluarga. Sejak saat itu, Dinda tak punya pilihan. Ia harus berdiri tegak, menjadi tulang punggung keluarga kecil mereka.Jauh dari rumah, tinggal di kota besar, berjuang dengan hanya bermodalkan ijazah SMA dan tekad yang tak pernah goyah — Dinda tahu, ia tak boleh lelah. Karena di belakang sana, ada ibu dan dua adik yang menunggu uluran t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status