Mag-log in(Warning 21+)
Jam digital menunjukkan pukul dua belas malam. Konser sudah selesai beberapa jam lalu, tapi kendaraan kami baru bisa keluar karena macet.Di luar hujan. Musim dingin sepertinya akan tiba, aku memandang keluar jendela. Setelah keramaian konser, sepinya mobil membuat suasana entah bagaimana terasa canggung.Nata sebenarnya memintaku untuk tidur, tetapi anehnya mataku justru terang, sama sekali tidak mengantuk.Nata berkonsentrasi menyetir, keti(Warning 21+)Jam digital menunjukkan pukul dua belas malam. Konser sudah selesai beberapa jam lalu, tapi kendaraan kami baru bisa keluar karena macet.Di luar hujan. Musim dingin sepertinya akan tiba, aku memandang keluar jendela. Setelah keramaian konser, sepinya mobil membuat suasana entah bagaimana terasa canggung.Nata sebenarnya memintaku untuk tidur, tetapi anehnya mataku justru terang, sama sekali tidak mengantuk. Nata berkonsentrasi menyetir, ketika aku meliriknya, Nata pun sedang melirikku, lalu aku buru-buru menunduk. Menatap layar ponsel, berpura-pura mengecek sesuatu untuk mengatasi gugup.Jantungku berdentum keras.Aku menarik botol minum di dasbor, di saat yang sama, Nata pun menariknya. Tangan kami bersentuhan, aku segera menarik jemariku, seakan sentuhan singkat itu membuat kulitku terbakar.Nata tetap mengambilnya, membuka tutupnya kemudian dioper padaku. Kenapa aku bertingkah layaknya anak r
Pernikahan kami baru saja dilaksanakan sesuai jadwal. Di awal bulan Oktober setelah semua dokumen lengkap.Aku menggunakan gaun sederhana dengan potongan mermaid yang terbuat dari kain silk, sementara Nata menggunakan jas cokelat rapi.Ijab kabul begitu khidmat dihadiri oleh keluarga besar kami. Ada Mama, Papa, Salsa, Sus Dara, serta Tria dari pihakku, aku pun mengundang Bibi Elsi meskipun dia tidak hadir. Lalu Nata juga mengundang dua orang koleganya sebagai saksi. Total hanya ada sekitar sepuluh orang yang menyaksikan akad. Sudah termasuk saksi dan wali nikah.Setelah prosesi singkat yang khidmat itu, kami melanjutkan acara makan- makan di sebuah restoran. Kali ini, kami mengundang tamu lebih banyak. Kurang lebih ada sekitar lima puluh orang. Semuanya hanya keluarga inti, teman, dan sahabat yang benar-benar dekat.“Jangan tanya yang nggak ada,” cetus Nata ketika aku memanjangkan leher dan kedapatan mencari seseorang. Aku mendengkus kecil. “Aku s
Lula terjatuh dan mendesah.Sementara gue menempelkan tubuh kami, memastikan dia tahu seberapa besar gue menginginkannya saat ini.“Nata,” sebutnya mengerang, menyentuh kedua rahang gue, menahan gue supaya tidak menunduk dan melahapnya.“Sebentar Nata, Salsa di luar.”Pelipis gue berkedut.“Sus Dara juga nunggu kita,” bisiknya parau dengan napas terengah.Gue memandang Lula yang kini di bawah kurungan tubuh gue. Melihat bagaimana pakaiannya yang sudah tersingkap, memamerkan kulitnya yang pucat, BH-nya terlepas dan payudaranya tampak terpapar dengan puncaknya yang kemerah-merahan dan mencuat.Sementara itu, bibir Lula tampak membengkak akibat ulah gue, dan lipstiknya sudah berantakan.Lula menggigit bibir. “Aku... mau...” Dia mengakui dengan malu-malu. Namun tangannya perlahan mengaitkan kembali BH-nya kemudian menarik blusnya turun, menutup dirinya sendiri. Lula beringsut duduk, memaksa gue akhirnya untuk bangki
(Nata’s Pov)Istri gue cantik banget.Dia sedang dandan di meja rias ketika gue keluar dari kamar mandi. Aromanya harum sekali, menguar di udara, mengelilingi indera penciuman gue.Sambil berjalan mendekat, gue kemudian menunduk, mengendus-endus kepalanya, sebelum tenggelam di lehernya dan mengecupnya di sana.Brengsek, gue tegang.“Mau ke mana?” tanya gue serak.“Nganter Salsa sekolah,” jawabnya santai, menggeliat sedikit karena geli. Namun dia mengusap rahang gue sejenak sebelum menyimpan bedaknya ke dalam laci dan mengambil lipstik.Gue mendongak, wajah gue langsung defensif. “Kamu mau apa, La?” "Loh, kok mau apa sih, Nata?” sahutnya dramatis, memandang gue dari pantulan cermin. “Aku mau nganter Salsa masa nggak boleh? Kegiatan aku biasanya kalau di kosan juga gini.”Tapi gue tau ini bukan cuma sekadar dia ingin mengantar Salsa, melainkan tentang pembicaraan kami kemarin.Disadari atau engg
“Tanya apa Salsa?” Aku menggunakan nada suara paling lembut yang kubisa.Salsa bahkan tidak berpikir ketika menjawab. “Banyak Mama, Miss tanya Papa kapan nikahnya, Miss diundang nggak? Terus tanya Mama juga.”“Oh ya?”“Miss itu suka sama Papa loh, Mama.”Kepalaku berputar, benar-benar nyaris berbalik dengan mata melotot ke arah Nata. Pria itu mendelik. “Aku—”“Diam.” Aku segera menempelkan telunjuk di bibir, kemudian tersenyum dipaksakan dari balik gigi yang terkatup rapat pada Salsa dengan nada yang dilembut-lembutkan. “Gimana sayang?”"Iya, soalnya kalau mau pulang Miss suka nanya, Salsa dijemput siapa? Kalau sama Sus, Miss biasa aja. Tapi kalau dijemput Papa. Miss langsung pakai bedak kayak Mama kemarin, terus bibirnya dimerah-merahin.”Astaga.Ini terasa tidak benar.Aku menatap Nata dengan mata melotot meminta penjelasan, Nata mendesah. “Aku nggak tau,” katanya segera membela diri dan men
Verifikasi passcode pintu unit berhasil. Aku langsung mendorongnya kasar, melempar tas ke samping, kemudian berlari mencari Nata, menemukan pria itu di kitchen. Aku memeluk pinggangnya dari belakang. Lenganku yang mungil merengkuhnya, pipiku bersandar di punggungnya yang lebar.Nata terkesiap, langsung ingin membalikkan tubuh, namun saat sadar bahwa itu aku, dia bergeming.Ada kekeh pelan yang dia lemparkan.Oh, nyaman sekali. Tubuhnya yang berbalut sweater tebal sangat wangi. Aku sampai menggesekkan ujung hidungku ke tulang belikatnya, menghidu aromanya sambil memejamkan mata. “Lula?” panggilnya lembut. Meremas tanganku yang berada di pinggangnya. “Kamu kenapa? Ada masalah?”Hei, nggak setiap pelukan tandanya sedang ada masalah ya, Bapak. Aku hanya ingin bermanja-manja. Menikmati masa-masa tenang setelah semua badai yang berputar-putar tanpa henti.Kugelengkan kepala di punggungnya agar Nata bisa merasakan. “Empuk, nggak pa-pa







