Mag-log inAku juga sangat merindukannya.
Merindukan kami.Tapi kami tidak mungkin pelukan di sini. Tubuhku menegang, leherku memanjang memastikan Salsa tidak tiba-tiba nongol. Atau mungkin Mama... atau Papa.“Sorry.” Ia kembali menggumam.Sementara tanganku yang kaku berada di samping tubuh sepertinya disalah artikan oleh Nata sebagai penolakan karena pelukannya mengerat.“Nata...” Aku tidak bisa napas.Kurasakan bibirnya menempel di ceruk leherku,Aku juga sangat merindukannya.Merindukan kami.Tapi kami tidak mungkin pelukan di sini. Tubuhku menegang, leherku memanjang memastikan Salsa tidak tiba-tiba nongol. Atau mungkin Mama... atau Papa.“Sorry.” Ia kembali menggumam.Sementara tanganku yang kaku berada di samping tubuh sepertinya disalah artikan oleh Nata sebagai penolakan karena pelukannya mengerat.“Nata...” Aku tidak bisa napas.Kurasakan bibirnya menempel di ceruk leherku, dingin, lalu ia menggumam di kulitku tanpa melepas pelukan.“Sudah dimakan cokelatnya?”Tengkukku seketika meremang, aku menahan diri untuk tidak gemetar dan mengalihkan percakapan kami ke nada yang lebih ringan. “Belum, memangnya kamu kasih apa di dalam cokelatnya? Ada peletnya atau racun, Nata?”Tubuh Nata seperti melemas, ia menerima upayaku untuk mencarikan suasana tegang di antara kami selama beberapa hari terakhir ini. Lalu kurasakan bibirnya mengecup lembut.
Cokelat? Memangnya aku anak-anak yang dikasih cokelat jadi gembira? Tidak menangis lagi? Tidak sedih lagi?Aku tidak mengerti jalan pikiran Nata. Namun, aku tetap menerimanya.Itu cokelet yang zaman pengantin baru dulu sering kami beli, bukan cokelat mahal dan brand ternama, hanya cokelat yang biasanya dijual di walmart.Ketika aku mendongak Mama tampak mesam-mesem. “Lucu banget Nata, mungkin dianggapnya kamu masih kecil, bisa dihibur pakai cokelat. Dia memang manis gitu kalau sama kamu ya.”Nata memang selalu manis, tapi kalau dia tidak mau mengajakku berbicara. Dia tampak menakutkan, aku merasa serba salah dan mendadak kesepian.“Dulu waktu kecil, Nata juga gitu, sering tiba-tiba ngasih Mama cokelat, bunga, permen. Biasanya kalau begitu, berarti tandanya dia mau minta maaf setelah ngelakuin kesalahan atau kenakalan di luar biar nggak dimarahin,” terangnya.Aku sontak terkekeh.“Nata abis bikin salah apa sama kamu?”
“Lula, kenapa repot-repot? Mama kan, udah bilang kalau ke sini nggak usah bawa apa-apa cukup bawa badan. Anak Mama jauh lebih penting dari buah tangan.”Aku meringis. “Nggak repot sama sekali Ma. Halo Salsa, lagi ngapain?”“Mama, Salsa lagi mau mancing sama Opa, ini pancingan Salsa kecil.” Lantas anak itu cekikikan, memamerkan alat pancingnya yang mini, yang sepertinya sudah disesuaikan oleh Papa.“Ah, itu mau mancing di belakang La, di kolam. Papa nggak berani kalau ngajak Salsa ke pemancingan. Bapak-Bapak gitulah, banyak alasan. Takut Salsa jatuh lah, takut kepleset lah, takut ikannya dicekik lah. Bilang aja sebenarnya Papa pengen senang-sendiri sama teman- temannya,” sahut Mama julid.Aku tertawa.“Tapi pinter juga Papa ada akal buat bikin kolam pemancingan sendiri.”Salsa bahkan menggunakan vest dan topi bundar, seolah dia benar-benar akan memancing di tengah laut.Menggemaskan.“Sini La,” ajak Mama ke dapur
Tubuhku seperti rontok.Aku tidak tahu berapa lama tepatnya ketiduran di kamar Salsa. Namun, saat terbangun hari sudah terang benderang.Kurasa aku melewatkan banyak hal.Begitu akan bangkit pandanganku berkunang-kunang, dan aku kesulitan untuk menstabilkan tubuh. Saat berdiri aku langsung sempoyongan.Aku berpegangan erat di nakas, sebisa mungkin tidak ambruk dan akhirnya kembali jatuh di atas tempat tidur.Suhu tubuhku sangat panas, aku merasa menggigil sekalipun ini masih pagi.Tenggorokanku tercekat saat akan memanggil suamiku. “Nat...”Hanya sunyi yang menjawab.Sepertinya dia tidak ada di rumah, keadaan sangat hening, saat aku meraba-raba tas di samping tempat tidur lalu membuka ponsel, di jadwal hari ini ada meeting untuk penentuan opening Joyday di lantai dua.Oke, Nata pasti sangat sibuk.Sambil berusaha untuk kembali memejamkan mata, aku teringat dengan pertengkaran kemarin. Wajah Nat
Kemarahan Nata membuatku lemas.Dengan bahu terkulai aku membuka pintu kamar. Menemukan Queen masih di posisi yang sama sejak kutinggalkan. Ia menggenggam toples cookies erat seakan itu adalah sekoci penyelamat.Aku mendekatinya, lalu berjongkok mensejajarkan tinggi tubuh kami. “Queen maaf ya, kamu nggak bisa tinggal di sini. Aunty akan kembaliin kamu ke rumah Frederika, nanti Aunty akan bantu kamu sekolah lagi, biar kamu tetap ada kegiatan. Ya?”“Aunty...” Pupil anak itu mengecil cemas, dan dia menolak saat kuajak berdiri.“Maaf Queen, Aunty nggak bisa... Nanti Aunty akan rutin jenguk kamu kok.” Aku mengusap pipiku kasar, berusaha keras menghapus air mataku yang mengalir. “Aunty juga punya keluarga Queen... Tolong ngertiin posisi Aunty ya.”Karena dibandingkan dengan dirinya, jelas aku akan memilih suamiku, anakku, dan rumahku. Lagipula benar kata Nata, aku tidak bisa menjadi pahlawan. Biarlah Queen tinggal bersama orang- orang yang deka
Nata mundur memberi ruang untukku agar membuka pintu.Sementara aku melepas seatbelt, menghela napas panjang, kemudian turun menghadapi suamiku.Aku segera menutup pintu mobil di belakang punggungku ketika keluar. Tatapan Nata sontak memicing curiga.“Siapa yang kamu sembunyikan di dalam?“ tanyanya tajam.Jantungku berdentam keras. “Bukan siapa-siapa Nat, ayo kita bicara.”“Kamu selingkuh Lula?”Aku mendelik. “Itu nggak benar!”“Terus kenapa seminggu terakhir ini kamu sembunyi-sembunyi?”Mataku mengerling saat Gio keluar dari mobil yang ditumpangi Nata.Ah, sial.Jadi ini atas laporan dari Gio? Jadi, dia bisa sampai di sini, bahkan membuntuti aku karena bisikan dari asistennya?Oke, aku kerap memuji loyalitas Gio yang luar biasa, tapi sangking patuhnya dia pada Nata, sampai-sampai sebagai istri Nata pun aku kena imbasnya!Tolong, kalau dalam situasi normal dan bukan aku yang t







