แชร์

Part 169: Terlalu Lembek

ผู้เขียน: Titi Chu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-22 18:00:49

Nata mundur memberi ruang untukku agar membuka pintu.

Sementara aku melepas seatbelt, menghela napas panjang, kemudian turun menghadapi suamiku.

Aku segera menutup pintu mobil di belakang punggungku ketika keluar. Tatapan Nata sontak memicing curiga.

“Siapa yang kamu sembunyikan di dalam?“ tanyanya tajam.

Jantungku berdentam keras. “Bukan siapa-siapa Nat, ayo kita bicara.”

“Kamu selingkuh Lula?”

Aku mendelik. “Itu nggak benar!”

“T
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 172: Bujukan Maut

    “Lula, kenapa repot-repot? Mama kan, udah bilang kalau ke sini nggak usah bawa apa-apa cukup bawa badan. Anak Mama jauh lebih penting dari buah tangan.”Aku meringis. “Nggak repot sama sekali Ma. Halo Salsa, lagi ngapain?”“Mama, Salsa lagi mau mancing sama Opa, ini pancingan Salsa kecil.” Lantas anak itu cekikikan, memamerkan alat pancingnya yang mini, yang sepertinya sudah disesuaikan oleh Papa.“Ah, itu mau mancing di belakang La, di kolam. Papa nggak berani kalau ngajak Salsa ke pemancingan. Bapak-Bapak gitulah, banyak alasan. Takut Salsa jatuh lah, takut kepleset lah, takut ikannya dicekik lah. Bilang aja sebenarnya Papa pengen senang-sendiri sama teman- temannya,” sahut Mama julid.Aku tertawa.“Tapi pinter juga Papa ada akal buat bikin kolam pemancingan sendiri.”Salsa bahkan menggunakan vest dan topi bundar, seolah dia benar-benar akan memancing di tengah laut.Menggemaskan.“Sini La,” ajak Mama ke dapur

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 171: Alasan Tidak Masuk Akal

    Tubuhku seperti rontok.Aku tidak tahu berapa lama tepatnya ketiduran di kamar Salsa. Namun, saat terbangun hari sudah terang benderang.Kurasa aku melewatkan banyak hal.Begitu akan bangkit pandanganku berkunang-kunang, dan aku kesulitan untuk menstabilkan tubuh. Saat berdiri aku langsung sempoyongan.Aku berpegangan erat di nakas, sebisa mungkin tidak ambruk dan akhirnya kembali jatuh di atas tempat tidur.Suhu tubuhku sangat panas, aku merasa menggigil sekalipun ini masih pagi.Tenggorokanku tercekat saat akan memanggil suamiku. “Nat...”Hanya sunyi yang menjawab.Sepertinya dia tidak ada di rumah, keadaan sangat hening, saat aku meraba-raba tas di samping tempat tidur lalu membuka ponsel, di jadwal hari ini ada meeting untuk penentuan opening Joyday di lantai dua.Oke, Nata pasti sangat sibuk.Sambil berusaha untuk kembali memejamkan mata, aku teringat dengan pertengkaran kemarin. Wajah Nat

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 170: Tak Mampu Menghindar

    Kemarahan Nata membuatku lemas.Dengan bahu terkulai aku membuka pintu kamar. Menemukan Queen masih di posisi yang sama sejak kutinggalkan. Ia menggenggam toples cookies erat seakan itu adalah sekoci penyelamat.Aku mendekatinya, lalu berjongkok mensejajarkan tinggi tubuh kami. “Queen maaf ya, kamu nggak bisa tinggal di sini. Aunty akan kembaliin kamu ke rumah Frederika, nanti Aunty akan bantu kamu sekolah lagi, biar kamu tetap ada kegiatan. Ya?”“Aunty...” Pupil anak itu mengecil cemas, dan dia menolak saat kuajak berdiri.“Maaf Queen, Aunty nggak bisa... Nanti Aunty akan rutin jenguk kamu kok.” Aku mengusap pipiku kasar, berusaha keras menghapus air mataku yang mengalir. “Aunty juga punya keluarga Queen... Tolong ngertiin posisi Aunty ya.”Karena dibandingkan dengan dirinya, jelas aku akan memilih suamiku, anakku, dan rumahku. Lagipula benar kata Nata, aku tidak bisa menjadi pahlawan. Biarlah Queen tinggal bersama orang- orang yang deka

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 169: Terlalu Lembek

    Nata mundur memberi ruang untukku agar membuka pintu.Sementara aku melepas seatbelt, menghela napas panjang, kemudian turun menghadapi suamiku.Aku segera menutup pintu mobil di belakang punggungku ketika keluar. Tatapan Nata sontak memicing curiga.“Siapa yang kamu sembunyikan di dalam?“ tanyanya tajam.Jantungku berdentam keras. “Bukan siapa-siapa Nat, ayo kita bicara.”“Kamu selingkuh Lula?”Aku mendelik. “Itu nggak benar!”“Terus kenapa seminggu terakhir ini kamu sembunyi-sembunyi?”Mataku mengerling saat Gio keluar dari mobil yang ditumpangi Nata.Ah, sial.Jadi ini atas laporan dari Gio? Jadi, dia bisa sampai di sini, bahkan membuntuti aku karena bisikan dari asistennya?Oke, aku kerap memuji loyalitas Gio yang luar biasa, tapi sangking patuhnya dia pada Nata, sampai-sampai sebagai istri Nata pun aku kena imbasnya!Tolong, kalau dalam situasi normal dan bukan aku yang t

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 168: Kelumpuhan Sementara

    Bibi terjatuh di kamar mandi.Pagi sebelum musibah itu terjadi, ia sempat mengeluh pada Queen kalau kepalanya sakit dan meminta anak itu membelikan minyak kayu putih di warung. Tapi karena tidak kuat, tubuh Bibi lumbang dan akhirnya ambruk.Begitulah informasi yang berhasil kukorek dari Queen, dengan segala kerja keras tentu saja sebab dia sulit sekali bicara panjang. Queen kesulitan mencari kata yang tepat untuk menunjukkan bagaimana situasinya saat itu.“Terus kamu kepikiran Aunty?” tanyaku, mengeratkan sweater di tubuh anak itu. Dia tampak habis menangis, mungkin histeris karena Neneknya pingsan.Queen mengangguk. “Aunty bilang harus hubungin kalau butuh sesuatu.”“Bagus.” Kutepuk-tepuk kepalanya sebagai apresiasi. “Berapa lama Nenek pingsan di toiletnya, lama?”Dia mengangguk.Sepertinya kepala Bibi terbentur kuat di lantai hingga menyebabkan luka dalam dan membuatnya hilang kesadaran. Tapi kami masih menunggu analis

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 167: Silent Treatment

    Nata tidak pernah meninggikan suara. Kalau pun marah, ia tidak akan membentak, dan lebih senang melakukan silent treatment.Tapi Nata yang kali ini kulihat jelas berbeda dari keduanya. Aku setengah menduga dia tahu apa yang sebenarnya kulakukan di luar kalau melihat tatapannya itu. Di sisi lain, aku percaya, bahwa Nata hanya kecewa karena aku tidak mengangkat telepon darinya.Aku menunduk, meskipun kebohonganku masih tersimpan rapi. Namun, tetap saja aku tidak berani berkontak mata. “Kamu ngapain...”Kurasakan Nata berdiri, tubuhnya yang menjulang menaungiku. Aku menahan napas saat dia mendekat, praktis memblok pandanganku dari satu- satunya cahaya di living room dari sebuah stand lamp di pojok ruangan.Mendadak semuanya gelap.“Mau alasan apa?” tanyanya, tahu betul bahwa aku selalu mencari celah.“Macet,” jawabku, lebih seperti mencicit. “Aku udah berusaha lebih cepat Nat, tapi aku benar-benar nggak bisa.”“Kalau gitu k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status