Share

Bab 142

Author: Almiftiafay
last update publish date: 2026-09-26 18:06:07

Langkah Kaira terus melambat sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Saat itu, Mahesa menoleh ke arahnya dengan senyum yang tersungging di bibir.

“Kaira,” sapanya lebih dulu.

Sang Ibu yang mendengar bereaksi, beliau menoleh, meraba sedang di mana Kaira berada.

“Kaira?” sebut Naomi. “Udah datang, Nak?” Wanita paruh baya itu tersenyum, tampak sangat bahagia.

Mungkin beliau berpikir bahwa sampai hari ini hubungannya dengan Mahesa baik-baik saja.

Dan Mahesa yang tidak ingin bercerai dari Kaira pun m
Almiftiafay

akan bagaimana hari ini terjadi?? 🫣 jangan lupa komen gems rating like vote 💋

| 16
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Eva
Singkat padat jelas
goodnovel comment avatar
Aya Melodi Agrifina
Bagus Kaira,jujur sma sma ibu klo kmu idh cerai sma manusia nggak tau diri itu
goodnovel comment avatar
Zendayaa
jujur aja Raa kalau emang cerai, ga perlu ditutupi, yg ada km nanti mlah trs dimanfaatkan sama si Mahoni ga tw diri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 146

    Kaira memasuki lobi dengan dada yang berdebar pagi ini. Untungnya ia tiba di rumah sang Ibu lebih awal setelah perjalanan dari desa kembali ke kota dini hari tadi.Nanti ia akan berterima kasih sekali lagi pada Kaisar karena sudah sudi meluangkan banyak waktunya dan bahkan menyetir menembus kegelapan dan batas kota agar Kaira tidak terlambat pada hari pertamanya menjadi senior manager.“Selamat pagi, wah … Bu Kaira cantik sekali,” puji salah seorang staf yang berjalan bersamanya.“Selamat pagi.”“Selamat ya, Bu Kaira.”“Selamat udah naik jabatan, semangat!”Silih berganti pujian dialamatkan untuknya, dan mendapat perhatian sebesar ini membuatnya malu karena tanpa ia duga ternyata banyak orang yang diam-diam memperhatikannya.“Terima kasih,” jawab Kaira seraya terus berlalu.Ia memasuki lift, hampir salah memencet tombol lantai karena kini ia telah berpindah ke lantai sepuluh.Saat sudah tiba, ia mendapati banyak buket bunga yang sudah berjajar rapi. Dari senior manager lain, dari dewa

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 145

    Seperginya dari rumah Suster Mila, Mahesa tidak langsung kembali ke rumah besar. Ia menemui teman-temannya sebentar, menyulut beberapa batang rokok seraya bermain biliar lalu setelah itu barulah ia pulang.Karena terlalu larut, sepertinya semua orang sudah tidur. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamarnya dan melempar coat yang baru aja ia lepas secara sembarangan.Meski sudah berusaha mengalihkan perhatian, tapi tetap saja tak membuatnya lupa pada apa yang terjadi petang tadi.Kemunculan Kaira yang diantar oleh Kaisar membuat jantungnya berdebar oleh rasa marah.Ini bukan pertama kalinya ia melihat Kaira sangat dekat dengan Kaisar.Bagaimana Mahesa menjelaskannya?Dulu ia selalu terbiasa dengan Kaira yang ada di sisinya, dan ia tidak suka itu karena ia pikir Kaira membuatnya risih sebab istrinya itu selalu banyak tanya, mencari perhatian agar selalu dilihat.Tapi, kini melihatnya sering ada di sisi Kaisar dan mendapat perhatian dari pamannya itu membuatnya merasa … sesuatu telah pergi d

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 144

    “Maaf, Bu … Kaira gagal menepati janji buat terus jaga pernikahan ini.”Kaira mengangkat wajah, menatap sang Ibu yang juga sama terisaknya.“Ibu jangan marah, aku bisa jelasin, jangan tinggalin Kaira, Bu ….”Kaira pikir, Naomi yang tadi beranjak pergi itu karena ia kecewa pada Kaira. Tapi rupanya dugaannya itu salah.Naomi menggeleng, untuk beberapa saat tangannya meraba udara sebelum perlahan turun, menyentuh puncak kepala Kaira dan diusapnya pipi Kaira yang basah.“Ibu nggak marah sama kamu,” lirihnya. “Ibu cuma … merasa nggak berguna karena nggak bisa melakukan apa-apa saat kamu kesulitan seperti itu dan menanggung semuanya sendirian. Ibu cuma jadi beban buat kamu.”Naomi pun sama berlinang air mata, garis di wajahnya dipenuhi oleh sesal.“Maaf, Kaira ….”Ada setitik kelegaan yang tumbuh di dada Kaira, setidaknya … Naomi tidak kecewa dengan keputusannya untuk bercerai dari Mahesa.“Ibu nggak salah, jangan menyalahkan diri Ibu begitu.”Kaira bangun dari berlututnya, memeluk Naomi da

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 143

    “KAIRA!”Suara Mahesa meninggi, kedua mata pria itu terbuka lebar tepat setelah Kaira selesai bicara.Naomi yang duduk di kursi rodanya tampak meremas dadanya, rautnya kebingungan. Beliau jelas dapat merasakan ketegangan yang terjadi di antara mereka.“Cerai?” ulang Naomi tak percaya.Suster Mila yang berdiri di dekatnya segera merangkul dan mengusap bahu Ibu.Kaira mengatupkan bibirnya. Padahal ia ingin memberi tahu Naomi soal ini dengan hati-hati agar tak melukainya.Tapi karena hal ini, kehati-hatian itu akhirnya harus ia singkirkan sebab jika tak ia putuskan sejak sekarang, maka akan memberi Mahesa celah sehingga pria itu terus memanfaatkan ibunya.Kaira sudah sejauh ini, ia tak akan membiarkan Mahesa menginjak-injaknya lagi.“Itu nggak benar, Bu!” sahut Mahesa lalu menoleh pada Kaira. “Sejak kapan aku setuju cerai? Aku nggak pernah bilang aku mau cerai dari kamu, Kaira!”“Percuma, Mas! Udah masuk proses, sebentar lagi juga udah jadi surat putusannya.”Mahesa tersenyum penuh kemen

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 142

    Langkah Kaira terus melambat sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Saat itu, Mahesa menoleh ke arahnya dengan senyum yang tersungging di bibir.“Kaira,” sapanya lebih dulu.Sang Ibu yang mendengar bereaksi, beliau menoleh, meraba sedang di mana Kaira berada.“Kaira?” sebut Naomi. “Udah datang, Nak?” Wanita paruh baya itu tersenyum, tampak sangat bahagia.Mungkin beliau berpikir bahwa sampai hari ini hubungannya dengan Mahesa baik-baik saja.Dan Mahesa yang tidak ingin bercerai dari Kaira pun mengusahakan segala cara. Pria itu tahu bahwa kelemahan Kaira adalah Naomi sehingga mengejar celah itu hingga ke tempat ini.“Kaira, Nak Mahesa ada di sini karena tadi dia tanya ke Suster Mila Ibu ada di mana, pas Ibu bilang kalau ada di sini dan kamu akan jemput Ibu, Nak Mahesa bilang mau datang juga.”Sang ibu bertutur dengan nada bicara yang senang. Seolah kedatangan mereka adalah kebetulan yang penuh anugerah.Tidak ….Sama sekali tidak demikian!Kaira menoleh ke belakang, hendak mencegah Kai

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 141

    Pagi ini, Zia sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya dan memandang Madhava yang sedang mengenakan kemeja, beberapa jarak di hadapannya.“Apa Mas Dhava beneran nggak ada waktu buat lebih lama di rumah?” tanya Zia.“Kamu ‘kan tahu kalau kerjaanku itu emang lebih banyak nggak di rumahnya, Zia,” balas pria itu. “Aku harus temani tamu dari Jepang hari ini. Kali ini nggak sebulan kayak yang sebelumnya kok. Paling cuma semingguan.”Zia mendesah tidak puas. Ia bangun dari duduknya dan menghampiri Madhava, membantunya mengenakan dasi.“Nanti pas pulang, Mas abaikan aku lagi nggak?” tanyanya, mengangkat pandangan pada Madhava. “Kenapa sih nggak mau nyentuh aku? Apa aku nggak cantik lagi? Mas nggak ada yang lain ‘kan di luar sana?”Madhava hanya tersenyum saat menepuk kepalanya.“Ngomong apa sih kamu?” balasnya. “Maaf, yang kemarin itu aku capek banget rasanya. Jadi maunya pas di rumah itu ya beneran istirahat.”Kedua bahu Zia jatuh mendengar itu. Ia selangkah mundur saat mengatakan, “U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status