Share

Satu Malam Lagi, Paman!
Satu Malam Lagi, Paman!
Author: Almiftiafay

Bab 1

Author: Almiftiafay
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-15 01:28:57

“Kamu steril aja, Mama nggak sudi punya cucu darimu!”

Mendengar kalimat yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Kaira mematung. Rasa lelah sepulang bekerja dan menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam kian bertumpuk, memberatkan bahunya.

Diliriknya sang suami—Mahesa—yang sedang duduk tenang menatap layar ponsel di samping ibunya, seolah tidak terbebani dengan permintaan itu.

Kaira meremas celemek kusut yang melindungi pakaiannya, dengan gugup berujar, “S-steril itu artinya saya nggak akan bisa punya anak, Ma.”

“Ya memang itu tujuannya! Kamu pikir aku bodoh?!” sahut ibu mertuanya, Sasmita, disertai dengusan sinis. “Adik iparmu bilang tadi pagi kamu muntah-muntah. Kamu nggak sedang hamil, ‘kan?”

“Nggak, Ma. Tadi pagi perut saya memang kurang enak.”

“Bagus. Sebelum hamil sebaiknya kamu cepat steril. Ini—” Sasmita menjeda kalimatnya sejenak, dilemparkannya sebuah amplop cokelat pada Kaira yang tak sempat menangkapnya sehingga amplop tersebut jatuh di kakinya.

“Formulir pendaftarannya. Datang ke dokter kandungan besok buat konsultasi!”

“Tapi, Ma—”

Sasmita beranjak pergi tanpa menoleh selain hanya ekor matanya yang melemparkan kebencian, meninggalkan Kaira dalam hening yang menyesakkan.

Kaira memandang Mahesa yang jemarinya masih lincah bergerak di layar ponsel.

“Mas,” panggilnya. “Mas Hesa setuju sama yang diminta Mama?”

Pria itu akhirnya mengangkat wajah, memasukkan ponsel ke dalam saku celana sembari bangun dari duduknya.

“Lakuin aja apa susahnya sih?” jawabnya dengan kesal. “Dari dulu kita emang nggak pernah berencana buat punya anak, ‘kan?”

“Aku nggak pernah bilang begitu—”

“Bisa dipikirkan sambil jalan, Kaira,” sela Mahesa. “Lagian juga masih konsultasi. Mama bisa berubah pikiran nanti.”

“Tapi—”

Kaira urung bicara saat Mahesa menyentuh lengannya. “Kamu tahu Mama nggak suka dibantah, jadi udahlah turutin aja. Oke?”

Mahesa pergi seolah tidak akan terjadi apapun terhadap masa depan istrinya.

Kaira membungkuk, tangannya kebas saat ia meraih amplop di kakinya. Ia buka sedikit isinya dan benar … ini adalah formulir pendaftaran ke dokter kandungan.

Benaknya tidak karuan, kepalanya dipenuhi tanya, benarkah ia tak akan menjadi seorang ibu?

“Kaira! Cepat ke sini!” teriak Sasmita dari arah ruang makan. “Kakak-kakakmu sudah mau datang kenapa kamu melamun di sana?!”

“B-baik, Ma.”

Ditutupnya kembali amplop itu, ia simpan di sudut dapur setelah berlari ke sana, berbaur dengan pelayan lain menyelesaikan persiapan makan malam untuk semua anggota keluarga.

Sudah lebih dari satu tahun Kaira menjadi bagian dari rumah ini. Sejak awal, pernikahannya memang tidak direstui oleh kedua orang tua Mahesa karena dirinya hanya anak sopir.

Dulu Mahesa bersikeras membawanya masuk ke keluarga Maharendra, pria hangat yang memberinya cinta sehingga Kaira bertahan di sampingnya seraya berharap dapat memenangkan hati ayah dan ibu mertuanya.

Kaira terus berupaya, dan sebagai satu-satunya menantu yang berasal dari kalangan biasa, ia mengalah dan tahu diri.

Tapi melewati satu tahun pernikahan, Mahesa mulai berubah. Meski tidak pernah bersikap kasar, suaminya kini terasa sangat jauh. Pria itu bahkan tidak pernah membelanya di depan keluarga.

Kaira menoleh ke arah datangnya suara yang memasuki ruang makan. Dua kakak iparnya datang bersama anak perempuan mereka, menanyakan keberadaan ayah Mahesa yang belum pulang dari luar kota.

Kaira melayani mereka dengan cekatan, meski ada pelayan, dirinyalah yang selalu dipanggil untuk hal-hal sepele.

“Formulir steril buat Kaira tadi udah aku kirim, udah Mama terima?” tanya Monica, si kakak sulung yang memang seorang dokter. Rumah sakit yang akan dikunjungi Kaira besok adalah tempat Monica bekerja.

“Udah, Sayang,” jawab Sasmita. “Udah Mama kasih ke Kaira.”

Sasmita melirik pada Kaira yang baru datang dari arah dapur dengan semangkuk nasi panas.

“Awas ya kalau kamu nggak datang!” ancam Monica. “Aku udah susah-susah daftarin biar kamu dapat urutan satu!”

Langkah Kaira terasa berat saat ia tiba di samping Sasmita, digenggamnya mangkuk keramik itu dengan erat. “Iya, Mbak ….”

“Kamu harus berterima kasih loh! Kalau bukan karena aku, mana mau temanku itu memprioritaskan kamu.”

Kaira mengangguk, menahan air mata saat mengambilkan nasi ke piring Sasmita. Maniknya yang sedikit berkabut dan tangannya yang gemetar membuatnya tak sengaja menjatuhkan nasi panas itu di tangan ibu mertuanya.

“Ahh—!” Sasmita menjerit, menepis tangan Kaira sehingga sendok nasinya terpelanting dan terhempas di kejauhan.

“Kamu nggak punya mata?!”

“M-maaf, Ma ….”

Mendengar bentakan ibunya menggema di ruang makan, Monica menertawakan Kaira yang buru-buru mengusap punggung tangan Sasmita.

“Udah, nggak usah!” tepisnya sekali lagi.

Di samping Monica, Algara—suaminya—memindai Kaira dari ujung kaki hingga ke kepala, penuh penilaian dan membuat Kaira merasa kotor.

Pria itu menoleh pada Mahesa dan berujar, “Mahesa, wah ... lumayan juga kalau istrimu steril. Nggak perlu repot mikirin biaya anak. Soalnya tanggunganmu buat biayain keluarganya aja udah banyak, ‘kan? Berapa tiap bulan?”

“Ah, itu nggak perlu diomongin lah. Mas Gara ‘kan tahu sendiri,” jawab Mahesa, terkekeh selayaknya itu memang candaan yang bebas ditertawakan.

Di ruang makan mereka membicarakan masalah steril Kaira seolah bukan suatu hal besar. Kaira hanya terdiam saat Mahesa tidak banyak merespon dua kakak iparnya yang saling bersahutan.

Ia baru saja duduk setelah ke sana kemari melayani mereka. Tapi baru sedetik meraih sendoknya, anak perempuan Monica mengeluh dari seberang meja.

“Mami … perut Ara mules.”

“Kaira, tuh kamu antar Ara ke kamar mandi,” perintah Monica seraya mengedikkan dagunya.

“Baik, Mbak.”

“Yang bersih ya!”

“Iya.” Kaira mengisyaratkan pada gadis kecil itu agar mengikutinya, baru saja menjauh, panggilan Algara menghentikannya.

“Sebelum lupa, habis ini ambilin baju kotor aku di bagasi mobil, Ra!”

Kaira mengangguk, “Iya, Mas Gara.”

“Kaira, jus aku mana?” pinta Mahesa tanpa beranjak dari meja makan.

Kaira menoleh, ulu hatinya melilit dan kepalanya sudah hampir pecah saat permintaan semua orang menyerangnya dari segala penjuru. Melihat alis Mahesa yang berkerut membuatnya mengangguk agar suaminya itu lega dan mau menunggu sejenak.

“Iya, Mas. Sebentar.”

“Tante ….” rengek Ara yang membuat Kaira bergegas menyusulnya.

Ditemaninya si keponakannya itu ke toilet hingga usai. Membantunya mencuci tangan, mengeringkannya sekalian sebelum bocah itu kembali ke ruang makan.

Di dapur, Kaira menyiapkan buah untuk jus Mahesa.

Hatinya mengetat kala mendengar mereka yang bercengkerama dari ruang makan, seperti potret keluarga yang sempurna.

Telinga Kaira berdengung saat mendengar bahwa yang sedang mereka bicarakan itu ternyata adalah dirinya.

“Emangnya kamu udah bujuk istrimu, Hesa?” tanya Monica. “Kok dia nurut aja disuruh steril sama Mama?”

“Kalau nggak nurut emangnya Kaira mau ambil risiko?” balas ibu mertua meremehkan. “Kalau bukan karena bantuan keluarga Maharendra, mana sanggup dia merawat ibunya yang buta?!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (9)
goodnovel comment avatar
wiji anto
kaira kuat hebat
goodnovel comment avatar
Leah von herhardt
anjir skit bgt kalau jd kaira mah 🥲
goodnovel comment avatar
Ika Sulistyowati
sakit banget di rumah yg penuh dengan orangorang jahat
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 95

    “Kaira sama cowok lain?” ulang Monica dengan sinis.“I-iya, Mbak Monica,” jawab Zia gugup, beralih melirik Sasmita. “Waktu itu aku baru ketemu klienku, terus nggak sengaja lihat Mbak Kaira sama laki-laki itu dan … mereka kelihatan deket banget.”Sasmita mendengus kasar, tatapannya menghujam Kaira dengan begitu tajam. “Benar begitu, Kaira? Hari Minggu kemarin kamu emang pergi seharian, ‘kan? Jadi ini alasan kamu kelayapan?”Semua orang di ruangan itu mulai bergejolak. Monica bersedekap dada sambil melemparkan senyum mengejek, sementara Algara hanya memperhatikan dengan pandangan menilai yang penuh cemoohan.Mereka semua mempercayai ucapan Zia tanpa ragu sedikit pun.Kaira membeku. Ia tidak bisa berkutik dan terdesak begitu hebat di posisinya saat ini.Mau membantah pun suaranya seolah lenyap di pangkal tenggorokan. Pikirannya carut-marut menyusun kata yang tepat karena apa yang diucapkan Zia memang benar terjadi.Ia dan Kaisar memang pernah pergi ke sana.Melihat diamnya Kaira, Mahesa

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 94

    Kaira beberapa langkah menjauhi meja Kaisar saat pria itu menghela dalam napasnya dan dengan ketenangan yang terkendali seperti biasanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Dav?”“Kamu nggak pulang—”“Bukannya aku udah bilang kalau kamu mau datang ke sini harus bikin janji dulu denganku?” sela Kaisar.“Gimana caranya bikin janji sama kamu kalau kamu nggak mau jawab teleponku, Mas?!” balas Davina dengan nada meninggi.Kaira mencoba mencari celah untuk bicara, “Pak Kaisar maaf—”“Tunggu di sini sebentar, Kaira,” kata Kaisar. Pria itu seperti sedang mengisyaratkan bahwa urusan dengan Davina tak akan lama.Dan itu membuat Davina menoleh pada Kaira, menatapnya selama beberapa detik sebelum bersedekap.“Terpaksa aku lakuin, Mas. Coba aja kamu nggak bersikap begini! Jangan egois dong!”Kaisar tampak memperdengarkan tawa lirihnya saat mengulangi, “Egois?”“Emang begitu, ‘kan?”Pria itu mengangguk pelan, “Terserah. Jadi kamu mau apa?”“Nanti di Gala Tahunan aku mau Naya kamu masukin ke d

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 93

    Kaira keluar dari kamar belakang setelah bersiap pagi ini, dan menuju ke dapur. Mengambil minuman dingin dari dalam kulkas lalu menerima sekotak buah potong yang telah dikemas oleh Sari.Baru saja mengatakan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Zia datang untuk meletakkan botol susu Zia ke wastafel.“Udah mau berangkat, Mbak?” tanya Zia, menahan langkah Kaira yang sudah hendak pergi.“Iya,” jawab Kaira singkat, tak ingin memperpanjangnya.“Mbak nggak bareng Mas Hesa, ‘kan? Soalnya aku yang mau bareng sama dia.”Kaira menoleh, memasang senyumnya sebagai balasan wajah lugu Zia.“Aku bareng Mas Hesa, Zi,” katanya.“Loh? Bukannya Mbak Kaira biasanya naik taksi?”Nada bicara Zia sedikit meninggi meski wajahnya masih sama polosnya.Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka perlahan menjauh, atau yang sebagian bertahan di sana berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan keduanya.“Kamu ‘kan ada sopir? Lagian kalau bareng Mas Hesa bukannya kamu nggak searah ya?”“Dimintain tolong gitu

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 92

    “A-aku cuma mau ambil mainannya Starla aja kok,” jawab Zia dengan cepat. Nada bicaranya terdengar panik. “Oh ….” Kaira mengangguk. “Kenapa mainannya Starla ada di sini?” “Mas Hesa kemarin ngajak Starla ke sini, dan mainannya lupa nggak aku ambil, Mbak!” “Aku ‘kan cuma tanya, Zi ….” tanggap Kaira. “Kenapa kamu marah?” Zia membenarkan raut wajahnya, memaksa agar senyum itu terkembang di sudut bibir. Pintu kamar di dekat Kaira terbuka, Mahesa muncul dan menatap mereka bergantian. “Kamu mau ambil bajumu sekarang, Ra?” tanya Mahesa. “Iya, Mas.” “Tadi ribut kenapa?” “Nggak kok,” jawab Kaira. “Tadi penasaran aja kenapa Zia ke sini, katanya mau ambil mainannya Starla.” Saat Kaira menoleh pada Zia, wajah adik iparnya itu terlihat gusar dan menatap Mahesa cukup lama sebelum ia pergi tanpa mengatakan apapun. “Masuklah,” kata Mahesa seraya membuka lebar pintu. Begitu Kaira melangkah ke dalam kamar, Mahesa yang tadinya tampak bingung lalu turut pergi setelah mengatakan, “Aku

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 91

    “Lakuin aja,” balas Kaira seraya menoleh. “Aku juga mau tahu apa yang akan dilakuin Mas Kaisar buat menyelesaikan ini.” Stiletto yang dikenakan Kaira nyaris kembali menggema di ruangan luas itu sebelum Kaisar meraih pergelangan tangannya. Suaranya begitu memohon kala pria itu memanggil, “Kaira?” “Aku harus pulang sekarang, Mas. Maaf ….” Kaira menimpakan tangannya ke punggung tangan Kaisar, memaksa pria itu agar melepasnya. Kedua bahu Kaisar merosot saat Kaira berbalik dan menghilang di balik pintu lift. Melihat raut frustrasinya, sepertinya jarak yang dibuat oleh Kaira ini berhasil. ‘Aku ingin tahu perasaan Mas Kaisar,’ batinnya, menatap pantulan dirinya yang ada di pintu lift. Kaira ingin memastikan, setelah yang mereka lakukan selama ini … apakah semuanya akan berakhir hanya sebagai pelampiasan nafsu saja, atau karena Kaisar memang … mencintainya? …. Dengan menaiki taksi yang melaju di bawah muramnya langit sore ini, Kaira akhirnya sampai di rumah. Menjejakkan k

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 90

    “Mas?” sapa Mahesa seraya selangkah maju dan berdiri di samping Kaisar. “Ada apa?” Kaisar tak menjawab. Sepasang iris gelap pria itu terarah pada leher Kaira, sebelum berpindah turun ke arah jari manisnya yang kosong padahal seharusnya cincin dari Kaisar melingkar di sana seperti semalam. Kaisar mendengus lirih, sepasang telinganya memerah saat ia menatap Mahesa dan mengembalikan tanya, “Apa yang kalian lakukan?” Mahesa mengangkat sekilas kedua bahunya, “Bukan apa-apa kok. Cuma mau kasih sesuatu aja ke Kaira.” “Lain kali jangan di kantor!” tegurnya dingin. “Iya ….” Mahesa hampir enggan menjawabnya. “Baru kali ini juga, Mas. Masa langsung dimarahin sih?” “Sekali dua kali, lama-kelamaan ada yang lihat dan ditiru sama yang lain.” “Iya maaf.” Mahesa lalu mengisyaratkan pada Kaira agar terus berjalan. Kaira mengangguk lirih, maniknya bertemu dengan iris gelap Kaisar sebelum mengikuti Mahesa yang melangkah memasuki ruang meeting setelah menundukkan kepalanya dengan sopan. Sembari b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status