ログインHampir tak ada makanan yang tersisa saat makan malam itu usai dengan Kaira yang tak menyuap sesendok pun. Kaira menumpuk piring-piring kotor dengan tangan yang terasa kebas.
Bersama pelayan lain, ia menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum masuk ke dalam kamar seraya membawa amplop dari ibu mertua. Di dalam, Mahesa sedang duduk di sofa. Dari posisi ponselnya saat ini, bisa dipastikan suaminya itu sedang bermain game. Kaira berjalan melewatinya, menelan keraguan saat bertanya, “Mas Hesa besok juga akan ikut ke dokter kandungan?” “Nggak, kamu aja yang pergi,” jawabnya tanpa menatap Kaira. “Mama minta aku buat antar belanja. Oh ya—” Mahesa mengangkat wajah, menoleh pada Kaira, “Besok Mas Kaisar udah balik dari luar kota. Laporan target penjualan dan promosi punyaku udah selesai, ‘kan?” Kaira mengangguk, “Udah.” “Habis dari rumah sakit, kamu aja yang presentasi.” Kaira menghela napas, tak menjawab selain hanya menggigit bibirnya. Melihatnya yang tak merespon, Mahesa bangkit dan mendekat ke arahnya. “Nanti aku belikan kamu sepatu baru. Yang penting kamu presentasi besok!” Mahesa keluar dari kamar dengan tanpa beban. Sementara Kaira sibuk menelaah rasa campur aduk yang ada di benaknya. Selalu seperti ini … dirinyalah yang menyelesaikan pekerjaan Mahesa dan pria itu akan memberinya hadiah. Terdengar manis memang, tapi justru membuat duri tumbuh di dalam hatinya. Dulu Kaira hanyalah staf biasa dan Mahesa adalah supervisornya. Mereka jatuh cinta karena sering bekerja bersama. Setelah menikah, Mahesa diangkat menjadi manager dan ia meminta Kaira menjadi asistennya. Kaira sangat antusias karena berpikir akan bisa belajar dari suaminya itu, tanpa tahu malah dirinya yang terus menerus menyelesaikan pekerjaan Mahesa seperti ini. Kaira mendengar ponselnya yang bergetar, ada sebuah pesan masuk di sana. Dari perawat ibunya. [Ibu dalam kondisi yang baik, Non. Semoga seperti ini terus sampai operasi ginjal dua minggu lagi.] Kaira terdiam cukup lama, pikirannya carut-marut mengingat ucapan ibu mertuanya yang menyebut bahwa tanpa keluarga Maharendra ia tidak bisa menutup biaya pengobatan ibunya. Ia duduk di depan meja, mengeluarkan formulir pendaftaran itu. Demi beliau, ia memang tidak memiliki pilihan lain. Kaira menggapai pena dan membubuhkan tanda tangannya. ** Bagi Kaira, pagi adalah rentetan tekanan yang setiap hari harus dihadapinya. Bangun yang paling awal dan menyiapkan sarapan. Dua kakak iparnya berangkat lebih dulu dan meninggalkan tanggung jawab merawat Ara padanya dari mandi sampai bersiap berangkat sekolah. Di ruang makan duduklah Sasmita bersama menantu bungsunya, Zia. Adik ipar yang kemarin mengatakan pada ibu mertua bahwa Kaira muntah-muntah. Perempuan itu menatap kedatangannya dan bertanya dengan khawatir, “Mbak Kaira udah baikan? Kemarin aku lihat Mbak muntah-muntah?” Kaira tak menjawab, ia meletakkan teh pesanan Sasmita dengan hati-hati ke atas meja. Seolah baru mengingat sesuatu, ibu mertua menoleh padanya dengan alis berkerut. “Kenapa kamu masih di sini, Kaira? Pergi sana! Awas kalau telat apalagi nggak datang!” “Iya, Ma.” Tatapan Zia terlihat bingung, “Mbak Kaira mau ke mana emangnya Ma?” Nadanya berubah lembut kala Sasmita menjawab, “Ke rumah sakit, Sayang.” “Baguslah, Mbak … mending diperiksa daripada kenapa-napa.” “Buat steril, Zia,” ralat sang Ibu. “Udah cukup Mama punya cucu dari kamu dan Monica aja, nggak perlu dari Kaira juga.” Mendengar betapa sinisnya kalimat itu, Kaira memilih menjauh seraya membawa nampan di tangannya. Tapi baru saja beranjak, Zia memanggilnya. “Mbak, nanti kalau pulang kantor belikan diapernya Starla ya?” pintanya. “Soalnya kalau nitip pelayan atau sopirku kadang suka nggak bener. Kalau nitip ke Mbak tuh nggak pernah salah.” “Memang udah bakatnya jadi pesuruh,” sahut Sasmita yang membuat Zia memaksakan senyumnya. Kaira meremas nampan di tangannya, ujung matanya melirik Mahesa yang menyesap jus, seperti tak peduli dengan semua hinaan untuknya itu. “Minta sopir aja buat antar kamu, Ra,” kata Mahesa. Kaira mengangguk, ia lebih dulu bersiap dan kembali ke ruang makan untuk berpamitan pada Sasmita. “Ma, saya berangkat dulu.” Bak angin lalu yang tak dianggap, Sasmita justru sibuk mengambilkan makanan untuk Zia. Kontras dengan perlakuan penuh kebencian yang dialamatkan padanya, beliau tampak sangat menyayangi Zia. “Makan yang banyak, Sayang. Butuh tenaga buat mengurus butik besar, ‘kan?” “Terima kasih, Ma.” Sasmita mengusap lembut lengan Zia sementara tangan Kaira dibiarkan terkatung-katung di sampingnya. “Berangkatlah, Ra ….” ujar Mahesa dari seberang meja. Matanya mengisyaratkan agar ia bergegas. Kaira meninggalkan rumah besar itu dan tiba di rumah sakit tak lama kemudian. Menuju ke poli kandungan dan duduk di ruang tunggunya. Di sekitarnya, pasien mulai berdatangan, berpasangan suami-istri untuk memeriksakan kehamilan. Ia dengar beberapa di antaranya juga sedang program hamil. Sementara dirinya? Kaira mengeratkan tangannya di atas paha hingga panggilan datang dari balik pintu. “Bu Kaira Arunaya.” Saat masuk ke dalam ruangan, ia terkejut karena Monica ada di dalam. Kakak iparnya itu menunggu dengan tangan bersedekap. “Mbak Monic … di sini?” “Mama yang nyuruh buat mastiin kamu sampai di sini,” jawabnya ketus. “Ini adik ipar yang kamu bicarakan kemarin?” tanya dokter pria yang ada di balik meja kerjanya. “Ya.” “Masih muda kenapa mau steril?” Monica berdecih, “Tanyakan sendiri padanya nanti. Merepotkan!” Wanita itu lalu pergi, menyisakan ruangan terisi oleh Kaira, dokter pria itu dan beberapa perawat yang ada di sana. Dokter menjelaskan prosedur, risiko dan sifat permanen tubektomi sebelum memintanya melakukan serangkaian tes. Memakan waktu yang tidak sebentar hingga pertemuan hari ini usai. Kaira berjalan tanpa tenaga di lorong rumah sakit, menahan rasa nyeri di sikunya akibat bekas jarum yang digunakan untuk mengambil darah. Ia harus pergi ke kantor. Sudah izin pada atasan tadi sebenarnya, tapi ada banyak hal yang harus ia lakukan termasuk laporan yang semalam disebutkan Mahesa. Maha Group, lobinya yang megah menyambut saat ia tiba di sana. Setelah meninggalkan lift, Kaira berjalan ke divisi pemasaran seraya mengintip dokumen yang tadi didapatkannya dari dokter kandungan. “Aku harus balik ke rumah sakit empat hari lagi,” gumamnya resah, tengkuknya berat. “Apa prosesnya akan dipercepat kalau Mbak Monic yang minta?” Kaira menutup kembali amplop itu dan berbelok ke persimpangan. Saat itu tiba-tiba …. Bruk! “Akh—” Kaira menjerit kecil, amplop yang dibawanya jatuh dan isinya berhamburan. “Maaf, maafkan saya.” Kaira membungkuk panik, tangannya gemetar memunguti berkasnya yang jatuh. Seorang pria yang ditabraknya itu ikut berjongkok, meraih selembar kertas yang tepat di dekat kakinya dan disodorkannya ke arah Kaira yang membeku seketika itu juga. Sebab itu adalah lembar prosedur steril yang ditulis kapital di mana namanya tertera di sana. Kaira mendongak, napasnya tercekat di pangkal tenggorokan. Matanya bersirobok dengan kelamnya manik pria itu. Kaisar Maharendra, paman muda suaminya.‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun. Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar. Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya. “M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.” “Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.” Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.” Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya. “Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.” Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas. “Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?” Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk. “Mas Kaisar tolong nggak usah ikut
Sekalipun tidak ada yang bicara, Kaira bisa merasakan seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan penuh kebencian. Ia beranjak dengan kaku, melepas celemek dan menyimpannya di pangkuan. Suara kursi di samping Kaira berderak, Mahesa menyelesaikan makannya dan pergi dari sana tanpa menoleh. “Mulai hari ini jangan ribut lagi di depan makanan,” kata Kaisar tanpa ada yang menjawabnya. Sasmita tampak bergegas bangun dari duduknya padahal makanan di piringnya masih utuh. Disusul yang lain dan menyisakan Kaira serta Kaisar saja. Kaira bergerak tidak nyaman, merasa sungkan karena semua orang tak jadi makan sebab ada dirinya. Ia urung menyuap, diliriknya Kaisar yang tak terbebani dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. “Makanlah,” ucap pria itu, sepertinya sadar Kaira sedang mencuri pandang padanya. “I-iya.” “Kamu bukan pembantu, Kaira. Udah ada orang yang dibayar buat melakukan semua tugas itu. Jadi kamu nggak perlu sekeras itu ke dirimu sendiri.” Kaisar meraih gelas
Meski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor. Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk. Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih. “Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat. “B-bukan, Pak.” “Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?” “Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.” “Berusaha melindunginya karena dia suamimu?” Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?” Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesal
Dengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.” Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya. Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan. Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan. Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala. “Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka. Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya. “I-iya, Pak,” jawabnya. “Mahesa yang nyuruh?” Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar. “Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi. Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, a
Hampir tak ada makanan yang tersisa saat makan malam itu usai dengan Kaira yang tak menyuap sesendok pun. Kaira menumpuk piring-piring kotor dengan tangan yang terasa kebas.Bersama pelayan lain, ia menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum masuk ke dalam kamar seraya membawa amplop dari ibu mertua.Di dalam, Mahesa sedang duduk di sofa. Dari posisi ponselnya saat ini, bisa dipastikan suaminya itu sedang bermain game.Kaira berjalan melewatinya, menelan keraguan saat bertanya, “Mas Hesa besok juga akan ikut ke dokter kandungan?”“Nggak, kamu aja yang pergi,” jawabnya tanpa menatap Kaira. “Mama minta aku buat antar belanja. Oh ya—”Mahesa mengangkat wajah, menoleh pada Kaira, “Besok Mas Kaisar udah balik dari luar kota. Laporan target penjualan dan promosi punyaku udah selesai, ‘kan?”Kaira mengangguk, “Udah.”“Habis dari rumah sakit, kamu aja yang presentasi.”Kaira menghela napas, tak menjawab selain hanya menggigit bibirnya. Melihatnya yang tak merespon, Mahesa bangkit dan mendekat ke
“Kamu steril aja, Mama nggak sudi punya cucu darimu!”Mendengar kalimat yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Kaira mematung. Rasa lelah sepulang bekerja dan menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam kian bertumpuk, memberatkan bahunya.Diliriknya sang suami—Mahesa—yang sedang duduk tenang menatap layar ponsel di samping ibunya, seolah tidak terbebani dengan permintaan itu.Kaira meremas celemek kusut yang melindungi pakaiannya, dengan gugup berujar, “S-steril itu artinya saya nggak akan bisa punya anak, Ma.”“Ya memang itu tujuannya! Kamu pikir aku bodoh?!” sahut ibu mertuanya, Sasmita, disertai dengusan sinis. “Adik iparmu bilang tadi pagi kamu muntah-muntah. Kamu nggak sedang hamil, ‘kan?”“Nggak, Ma. Tadi pagi perut saya memang kurang enak.”“Bagus. Sebelum hamil sebaiknya kamu cepat steril. Ini—” Sasmita menjeda kalimatnya sejenak, dilemparkannya sebuah amplop cokelat pada Kaira yang tak sempat menangkapnya sehingga amplop tersebut jatuh di kakinya.“Formulir pen







