LOGINJeritan melengking Sasmita menggema. Wanita paruh baya itu sudah kehilangan kendali, mengamuk sejadi-jadinya seraya menyambar bantal dari atas ranjang dan melemparkannya ke arah Altair. “Keluar kamu dari sini, Altair! Keluar!” teriak Sasmita histeris, melangkah maju dengan tangan terkepal berniat melayangkan pukulan ke dada suaminya. Altair dengan sigap menangkap pergelangan tangan istrinya, lalu mendengus dingin. “Ya, aku keluar!” katanya seraya memutar bola mata malas. Pria itu memilih berbalik meninggalkan kamar, urung membaringkan tubuhnya dan membiarkan Sasmita berdiri seraya menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Begitu melangkah keluar, Altair turun ke lantai bawah. Di area dapur, ia berpapasan dengan Mahesa yang baru saja keluar membawa sebotol air dingin. Putra tengahnya itu menunduk saat melihat sang ayah mendekat. “Udah pada selesai makannya, Hesa?” tanya Altair. “Udah, Pa,” jawab Mahesa kaku. Altair berhenti tepat di hadapan putranya. “Kirim padaku spesifik
Kaira menundukkan kepalanya saat mengatakan, “Aku mohon bantuannya.” Alina spontan mengerutkan kening. Tangan gadis itu mengarah ke depan, merenggut dagu Kaira dan memintanya agar menegakkan kepala. “Kenapa mesti mohon sih, Ra? Kita ‘kan emang keluarga. Jangan gitu ih.” Kaira tersenyum mendengar itu. Rasa harunya menembus ke ulu hati. Saat Kaisar dikhianati oleh keluarganya sendiri, justru orang asing mengatakan bahwa mereka adalah ‘keluarga.’ Kaira mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. “Terima kasih. Aku … titip biar Pak Jevan buat terus perhatikan perkembangan di Maha Group. Alina, tolong bantu Pak Jevan buat soal kecelakaan itu sekalian siapin pengacara lain buat backup. Aku akan jaga Mas Kaisar di sini dan bantu kalian sebisaku dari rumah sakit.” Jevan dan Alina menjawab dengan kompak, “Baik.” Jevan menambahkan, “Nanti Alina bisa kerja sama dengan tim pengacara Pak Kaisar. Tadi saya udah sempat sampaikan ke mereka.” “Iya, beres,” sahut Alina mantap. Alina
Keheningan melingkupi ruangan. Suasana terasa begitu tegang, bahkan hanya untuk sekadar bergeser sedikit dari posisi duduk saja rasanya amat berat. Alina mengguncang lembut tangan pelan, merasa bersalah. “Maaf, Ra, aku nggak bermaksud bikin kamu makin kepikiran.” Kaira menggeleng, menyunggingkan senyumnya. “Nggak apa-apa, Lin … dari awal aku emang udah merasa kalau ada yang aneh kok.” Jevan memajukan posisi duduknya, menatap Kaira lebih serius. “Saya tadi sempat ikut ke lapangan sama kepolisian, Nona Kaira. Mobil kontainer itu seharusnya milik area gudang dari PT Mahakarya Logistik. Tapi menurut keterangan mereka, kendaraan itu udah dilaporkan hilang sejak satu bulan yang lalu. Plat nomor yang ada di sana juga plat palsu, jadi polisi kesulitan melacak siapa yang bawa kemarin.” Kaira terdiam cukup lama, meresapi setiap informasi yang baru saja ia dengar. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya, mengalihkan pandangannya pada Jevan. “Apa alur pembeliannya nggak bisa dic
Algara berbalik pergi, meninggalkan Kaira yang tertegun mematung di tempatnya. Segala potongan peristiwa seolah berputar dengan sangat cepat di dalam kepalanya. Pertemuannya dengan Algara kembali berkelebat di ingatan. Pada hari di mana Algara meminta Kaira agar membujuk Kaisar supaya mau membantu membebaskan Monica dari penjara, yang jika tidak ia lakukan, maka Algara akan membocorkan hubungan terlarang mereka kepada Altair agar Kaisar tidak bisa menjadi penerus tahta Maharendra. Namun, karena Kaisar mengabaikannya, sepertinya Algara memutuskan mengambil cara lain. Maka artinya … pertemuan Kaira dan Altair di lift di mana Altair mengatakan kalau Kaira lebih bahagia dengan suami barunya itu karena ia sudah tahu bahwa suami Kaira adalah Kaisar. Altair tidak sedang memancing Kaira, melainkan sengaja menikmati kemenangannya. Lalu … kenapa tadi Algara berbicara seolah-olah ia tahu bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa Kaisar? Mungkinkah … kecelakaan itu adalah sebuah kesengajaa
Altair tidak membalas. Ia hanya terus menatap Kaira. Entah apakah ucapan Kaira barusan akan mengena di hati pria paruh baya itu, Kaira sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin menumpahkan segala sesak di dadanya karena Altair bersikap seolah ia telah memenangkan segalanya dan tak akan menyia-nyiakan waktu yang paling tepat untuk menyingkirkan Kaisar. Altair menyunggingkan senyum tipis yang membuat Kaira menyadari bahwa ia tidak pernah menjadi pria bersahaja nan berwibawa. Ia pria yang licik. “Hubungi aku kalau dia bangun nanti, adik ipar.” Sasmita mendengus kesal, wajahnya menyiratkan kegeraman. “Kenapa kamu panggil dia adik ipar?!” Belum sempat Altair menjawab, suara langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah koridor. Kaira menoleh dan mendapati ibunya, Naomi, berjalan ke arah mereka. “Nak?” panggil Naomi penuh kecemasan. “Ibu?” Sasmita ikut menoleh. Manik wanita itu membelalak lebar, jauh lebih terkejut daripada saat ia mendapati kenyataan bahwa Kaira adalah istr
Sasmita tampak meraba tengkuknya, seolah benda tumpul baru saja menghantam tepat di sana tanpa aba-aba. Maniknya yang tadi nyalang kini terpejam rapat seakan ia menolak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dia sebelahnya, Altair mengangguk. “Ya, dia istrinya Kaisar. Mantan menantu kita sekarang resmi jadi adik ipar kita.” Sasmita menarik tangannya dari tengkuk dengan kasar, mendesis penuh kebencian. “Lelucon macam apa ini?” Wanita paruh baya itu lantas menunduk, menatap perut Kaira. “Artinya … itu anaknya Kaisar?” “Ya,” jawab Altair sekali lagi. Sasmita terperanjat. “Kaira, kamu—” “Ternyata pria yang kamu bilang bisa mencukupimu itu adalah Mas Kaisar?” sahut Mahesa dari belakang, raut di wajahnya tampak bercampur aduk antara amarah dan rasa tidak terima. Kaira mengangguk, menatap mantan suaminya dengan datar. “Ya.” Sasmita masih belum puas mencibir, “Jadi wanita yang dibilang Davina sebagai simpanan Kaisar itu … adalah kamu?” Kaira menghela napas panjang.







