Share

Bab 83

Author: Almiftiafay
last update publish date: 2026-09-07 21:13:54
Kebas seluruh tubuh Kaira kala mendengar ucapan itu. Davina mengatakannya dengan jelas dan gamblang di hadapan semua keluarganya.

Rahang kecil Kaira mengetat saat ia mengerti alasan mengapa semalam Kaisar tidak datang seperti yang dijanjikannya.

‘Itu … karena Mas Kaisar sama Naya?’ batin Kaira.

Tapi jika memang benar begitu, mengapa Kaisar malah membuat janji dengannya jauh sebelum itu? Kaira mencoba berprasangka baik, tetapi tidak bisa.

Di saat seperti ini, semua kalimat yang pernah keluar
Almiftiafay

ini DIAAA 🤭✨✨

| 26
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
siakunseken
makin rumit gaes hahaaa
goodnovel comment avatar
Christy Lino
Mantulllll mas kai itu yg aq mauuuu,...wkwkkwk,..tinggalin ajj bini sint*ng modelan kayak gtu talak ajj lgsung mas kai trus cereein biar dia tau rasa hikz
goodnovel comment avatar
Historia°
wah, bener stress baca nya kalo part si Davina wkwk. Zia sama Mahesa mah masih bisa ditahan .
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 286

    Zia tertegun di tempatnya. Wanita itu mengerjap tak percaya mendapati penolakan mentah-mentah dari Mahesa. “Kenapa, Mas? Apa aku ada buat kesalahan?” tanyanya.Mahesa mendengus berat, memalingkan wajahnya sebelum menjawab, “Nggak. Aku lagi capek, lagi nggak ingin. Sana kamu balik ke kamarmu!”Zia melipat kedua tangannya di dada, maniknya menatap tajam, penuh tuntutan. “Mas Hesa tuh udah beberapa kali kayak gini loh belakangan ini. Mas kesal gara-gara Kaira sekarang jadi istrinya Kaisar? Mas nggak bisa terima kenyataan itu makanya kamu lampiaskan semuanya ke aku, hah?”“Nggak ada hubungannya sama—”“Mas cuma mau enaknya aja sama aku!” potong Zia sengit dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. “Giliran lagi kesal dan marah-marah begini, Mas malah nyuekin aku! Mas udah nggak sayang sama aku lagi, ‘kan?!”Zia melengos pergi dengan hentakan kaki penuh emosi.“Zia—” panggil Mahesa mencoba menahan kepergiannya.Tapi biar saja ….Merajuknya Zia hanya sebentar. Lagi pula ia tidak berniat mengeja

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 285

    Para tamu undangan dan para tetua dewan komisaris Maha Group beranjak pergi satu persatu. Mereka menundukkan kepala setelah menyampaikan ucapan selamat kepada Altair.Di ruang tamu utama kediaman yang mulai sepi itu, Altair menyilangkan kakinya di atas sofa.Pria itu lalu menoleh, menatap Sasmita yang duduk di sebelah kirinya dengan senyum kepuasan yang mengembang lebar di wajah wanita itu.Altair terkekeh kecil. “Nah, apa kamu masih mau marah-marah dan mogok makan lagi, Sasmita?”Sasmita mendengus, menyentuh selendang sutra di bahunya, tak menjawab.“Minta aja apa pun yang kamu mau, Sasmita. Sekarang semua ada di tangan kita. Aku bisa beliin apa aja yang kamu inginkan.”Sasmita bangkit dari duduknya sembari merapikan sanggulnya dengan anggun.“Nanti akan aku pikirkan daftar belanjanya.”Setelah Sasmita berlalu, pandangan Altair kembali menunduk pada map biru tebal berisi lembar surat wasiat mendiang sang ayah di atas meja.Dalam hitungan beberapa hari ke depan, seluruh berkas pengali

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 284

    Kaira menggeleng cepat, air matanya kembali menitik. “Aku tanya begitu bukan karena nggak mau bareng Mas Kaisar. Tapi … karena aku tahu Mas Kaisar udah terbiasa hidup serba berkecukupan, berbeda denganku yang dari awal emang terbiasa kekurangan. Kehilangan sesuatu yang sebelumnya Mas tahu udah seharusnya menjadi milikmu, pasti rasanya menyakitkan.”Kaisar tersenyum, menatap Kaira, sorotnya teduh dan menenangkan.“Apa pun yang jadi milik kita nggak akan pernah tertukar kapasitas takdirnya, Kaira. Jadi, kalau emang Altair mau mengambilnya, silakan aja. Kita lihat seberapa lama semua itu bisa bertahan di tangannya.”Mendengar jawaban itu, Kaira tertegun. Rasanya seluruh beban berat di dadanya seolah terangkat saat Kaisar melanjutkan kalimatnya dengan lembut.“Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Kehilangan warisan itu sama sekali bukan masalah besar buatku. Aku bisa memulainya di tempat yang lain. Yang paling penting bagiku adalah kamu dan anak-anak kita, kan sama mereka harus baik-baik

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 283

    Kaira tidak kuasa menahan air matanya. Begitu mendengar suara serak itu memanggil namanya, ia menerjang maju dan mendekap tubuh Kaisar erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaisar, membiarkan isak tangisnya pecah, sejadi-jadinya.Kaisar mengangkat tangannya, membalas pelukan Kaira. Jemarinya mengusap punggung gadisnya itu dengan lembut.“Sayang … kenapa nangis begini, hm?” bisik Kaisar, masih lirih seperti sebelumnya.Kaira mendongak, menatap manik sayu pria itu dengan hidung yang memerah. “Mas nggak bangun-bangun … aku kangen.”“Maaf ya bikin kamu takut … gimana keadaan kamu sekarang? Kamu sama si kecil baik-baik aja, kan?”Mendengar pertanyaan itu, air mata Kaira justru semakin deras. Bagaimana bisa … pria yang baru saja siuman, yang bahkan masih terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya, justru mengkhawatirkan keadaan Kaira dan bayi mereka? Seolah-olah, bahkan dalam ketidaksadarannya pun, satu-satunya hal yang memenuhi pikiran Kaisar adalah keselamatan

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 282

    Jeritan melengking Sasmita menggema. Wanita paruh baya itu sudah kehilangan kendali, mengamuk sejadi-jadinya seraya menyambar bantal dari atas ranjang dan melemparkannya ke arah Altair. “Keluar kamu dari sini, Altair! Keluar!” teriak Sasmita histeris, melangkah maju dengan tangan terkepal berniat melayangkan pukulan ke dada suaminya. Altair dengan sigap menangkap pergelangan tangan istrinya, lalu mendengus dingin. “Ya, aku keluar!” katanya seraya memutar bola mata malas. Pria itu memilih berbalik meninggalkan kamar, urung membaringkan tubuhnya dan membiarkan Sasmita berdiri seraya menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Begitu melangkah keluar, Altair turun ke lantai bawah. Di area dapur, ia berpapasan dengan Mahesa yang baru saja keluar membawa sebotol air dingin. Putra tengahnya itu menunduk saat melihat sang ayah mendekat. “Udah pada selesai makannya, Hesa?” tanya Altair. “Udah, Pa,” jawab Mahesa kaku. Altair berhenti tepat di hadapan putranya. “Kirim padaku spesifik

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 281

    Kaira menundukkan kepalanya saat mengatakan, “Aku mohon bantuannya.” Alina spontan mengerutkan kening. Tangan gadis itu mengarah ke depan, merenggut dagu Kaira dan memintanya agar menegakkan kepala. “Kenapa mesti mohon sih, Ra? Kita ‘kan emang keluarga. Jangan gitu ih.” Kaira tersenyum mendengar itu. Rasa harunya menembus ke ulu hati. Saat Kaisar dikhianati oleh keluarganya sendiri, justru orang asing mengatakan bahwa mereka adalah ‘keluarga.’ Kaira mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. “Terima kasih. Aku … titip biar Pak Jevan buat terus perhatikan perkembangan di Maha Group. Alina, tolong bantu Pak Jevan buat soal kecelakaan itu sekalian siapin pengacara lain buat backup. Aku akan jaga Mas Kaisar di sini dan bantu kalian sebisaku dari rumah sakit.” Jevan dan Alina menjawab dengan kompak, “Baik.” Jevan menambahkan, “Nanti Alina bisa kerja sama dengan tim pengacara Pak Kaisar. Tadi saya udah sempat sampaikan ke mereka.” “Iya, beres,” sahut Alina mantap. Alina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status