FAZER LOGIN“Apa Anda sudah gila?!” suara Sasa menggema di ruangan kerja ber-AC dingin itu. “Saya ini karyawan baru, Pak! Kita baru kenal kemarin malam, dan sekarang Bapak menyuruh saya jadi pengantin pengganti? Ini gila. Saya menolak mentah-mentah!”Ryan tidak terkejut. Pria itu justru melangkah santai kembali ke balik mejanya, menyandarkan punggung dengan raut wajah setenang telaga.“Penolakan ditolak, Sasa,” ujar Ryan datar. “Kau pikir kau punya posisi untuk menolak?”“Tentu saja punya! Ini soal hidup saya!” tegas Sasa, dadanya naik turun menahan amarah. “Bapak tidak bisa menyalahgunakan wewenang hanya karena Bapak bos di sini!”Ryan menyunggingkan senyum tipis. Ia menarik sebuah dokumen tebal dari laci dan membukanya santai.“Mari kita bicara realita, Sasa Kirana,” potong Ryan tenang. “Kau karyawan kontrak dengan masa percobaan tiga bulan. Dalam klausul kontrak kerjamu, perusahaan berhak memutus hubungan kerja sewaktu-waktu jika karyawan dianggap tidak bisa bekerja sama."Sasa membela
Mobil Ryan berhenti di halaman rumahnya. Pria itu melangkah masuk dan merasa aneh tadi memeriksa CCTV melalui tabnya. Ia melihat Sasa masih berada di area dapur, berjalan canggung mengenakan jubah mandi tebal sebelum akhirnya menghilang ke dalam kamar lantai dua.Namun pagi ini, saat Ryan menginjakkan kaki di ruang utama, suasana rumah itu hening mencekam. Tidak ada aroma masakan, tidak ada denting cangkir, dan yang paling mencurigakan, tidak ada sosok wanita keras kepala itu.“Sasa?” panggil Ryan, suaranya memantul di dinding marmer yang dingin.Hening. Ryan melangkah cepat menaiki tangga jati menuju lantai dua. Pintu kamar ujung—tempat Sasa menginap—terbuka sedikit. Ia mendorong pintu tersebut dan mendapati ruangan sudah tertata rapi. Ranjang king size yang semalam berantakan kini kembali mulus tanpa kerutan, seolah tak pernah ditiduri. Di atas meja nakas, tergeletak sebuah kertas catatan kecil bergaris yang diindih oleh kunci rumah.Ryan memungut kertas itu dan membaca tulisan
Paginya atmosfer di ruang tamu keluarga Ryan mendadak mencekam. Tasya duduk tegak di sofa kulit, menatap Pak Bagas dan Bu Rina—orang tua Ryan—dengan senyum manis yang dipaksakan. Dia memikirkan apakah Ryan sudah cerita kejadian di apartemen. Tapi melihat ekspresi mereka sepertinya tidak. Mereka masih tetap ramah padanya. Di atas meja, beberapa brosur katering dan contoh undangan sudah tersebar rapi.“Ma, Pa, menurut Tasya lebih baik tanggal pernikahannya di percepat minggu depan,” ujar Tasya tanpa ragu. Tangannya menggenggam jemari Bu Rina erat. “Persiapan kita sudah delapan puluh persen. Tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda.”Bu Rina saling pandang dengan suaminya, menyiratkan keraguan. “Tapi Tasya, bukankah kesepakatan awal kita adalah akhir bulan? Ryan juga sedang sibuk-sibuknya mengurus proyek baru di kantor.”“Ryan bisa membagi waktu, Ma,” potong Tasya cepat, nadanya mulai terdengar menuntut. “Tasya hanya tidak ingin ada spekulasi liar di luar sana. Lagipula, semakin cepa
Ryan terkejut dengan ucapan Sasa, wajahnya menegang. “Aku enggak mikir gitu,” ucapnya membela diri. Sasa hanya senyum tipis, lalu kembali melanjutkan suapan mienya. Merasa tidak enak hati, Ryan mencoba menjelaskan lagi. “Aku serius, Sasa. Aku menawarkan bantuan murni karena ingin menolong.” “Terima kasih, tapi tidak perlu sih,” jawab Sasa tanpa mengalihkan pandangannya. Ego Ryan mendadak tersentil. Kesal karena niat baiknya ditolak, ia memilih menyudahi makannya. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung, hingga Sasa selesai dan bersiap untuk pergi. Meski gengsinya tersisa sedikit, Ryan tetap bersuara saat melihat Sasa beranjak. “Kau yakin benar-benar tidak butuh bantuan?” Sasa menatap Ryan tajam, menyunggingkan senyum sinis yang tidak menyiratkan kebencian. “Sorry, aku tidak membisakan menerima bantuan dari pria asing.” Sasa melambaikan tangan. “Bye!” Ryan hanya terdiam di tempatnya, menatap punggung Sasa yang perlahan menjauh keluar dari resto
Mesin sedan mewah itu sudah mati. Ryan masih mencengkeram erat setirnya, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kemudi dengan irama. Ia parkir depan supermarket 24 jam. Suasana sudah sunyi. "Argh... sial!" gerutu Ryan, rahangnya mengeras hingga otot-otot wajahnya menonjol. "Persiapan pernikahan sudah hampir rampung, tapi wanita sialan itu beraninya berkhianat. Bodohnya aku." Kenangan tiga tahun bersama Tasya berkelebat cepat di kepalanya seperti film rusak. Ryan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Tasya, Banyu, lihat saja! Akan aku pastikan kalian mendapatkan balasan setimpal!" desis Ryan penuh dendam. Ryan keluar dari mobilnya dan gerakannya terhenti saat pintu geser supermarket terbuka. Seorang wanita keluar menenteng bungkusan plastik bening berisi dua cup mie instan dan sebotol air mineral. Langkahnya terlihat lelah, namun tegar. Wanita itu Sasa. Sasa melirik sekilas menatap tepat ke manik mata Ryan. "Kalau Anda berniat berdiri di situ terus samb
Laju kereta api ekonomi pelan, membelah hamparan sawah dan perkebunan hijau di balik jendela kaca. Sasa duduk di kursi kelas dekat jendela dengan gerbong yang cukup padat. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding kelegaan di dadanya. Ingatannya berputar pada kejadian ketika ia melarikan diri. Sasa berlari tanpa arah hingga hampir terjatuh di jalan setapak. Di sanalah ia diselamatkan oleh Bi Hanum, kerabat ayahnya. Melihat siku Sasa yang berdarah, wanita paruh baya itu langsung menariknya bersembunyi. "Masuk ke gerobak belakang, Sasa," bisik Bi Hanum dengan tangan gemetar. "Bibi tahu keluarga tiri kamu mau itu gila semua." "Ini, pakai!" Bi Hanum memberikan ponsel usang pada Sasa. "Enggak usah Bi," tolak Sasa. "Ambil! kabarin Bibi ya!" Mata Sasa berembun. Bi Hanum tidak hanya memberinya ponsel, uang simpanan dan jaket tebal, tetapi juga mengantar Sasa lewat jalan tikus persawahan menuju stasiun. "Pergi ke kota, Nak. Jangan pernah kembali lagi. Cari kehidupanmu se







