Satu Malam, Mengikat Selamanya.
Wanita KuatCinta yang ManisDewasaPosesifBeraniManipulatifDiam-diam PerhatianCinta Satu MalamTantangan Pernikahan
Suara Sasa parau, hampir seperti bisikan yang dibawa angin. Ia menunduk, tangannya gemetar hebat saat meremas kain gaun di atas perutnya, seolah-olah ia sedang mencoba menghancurkan sesuatu yang tidak bisa ia sentuh.
“Ca... apa kamu tahu bidan atau dokter yang bisa untuk aborsi?”
Kalimat itu meluncur begitu saja, dingin dan penuh luka. Caca yang tadinya sedang menyiapkan segelas air, menjatuhkan gelas itu ke lantai. Pecahannya berhamburan, tak lebih hancur dari hati Sasa saat itu.
“Sa... lo ngomong apa?” Caca mematung, menatap Sasa dengan ngeri.
Sasa mendongak, matanya kosong namun air matanya terus mengalir. “Aku tidak mau bayi ini, Ca. Aku tidak mau dia ada. Aku... aku tidak kuat lagi.” Ia meremas perutnya, memohon pada dunia agar rasa sakit ini berhenti.
読む
Chapter: Bab. 6 Sasa Menumpang.Ryan terkejut dengan ucapan Sasa, wajahnya menegang. “Aku enggak mikir gitu,” ucapnya membela diri. Sasa hanya senyum tipis, lalu kembali melanjutkan suapan mienya. Merasa tidak enak hati, Ryan mencoba menjelaskan lagi. “Aku serius, Sasa. Aku menawarkan bantuan murni karena ingin menolong.” “Terima kasih, tapi tidak perlu sih,” jawab Sasa tanpa mengalihkan pandangannya. Ego Ryan mendadak tersentil. Kesal karena niat baiknya ditolak, ia memilih menyudahi makannya. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung, hingga Sasa selesai dan bersiap untuk pergi. Meski gengsinya tersisa sedikit, Ryan tetap bersuara saat melihat Sasa beranjak. “Kau yakin benar-benar tidak butuh bantuan?” Sasa menatap Ryan tajam, menyunggingkan senyum sinis yang tidak menyiratkan kebencian. “Sorry, aku tidak membisakan menerima bantuan dari pria asing.” Sasa melambaikan tangan. “Bye!” Ryan hanya terdiam di tempatnya, menatap punggung Sasa yang perlahan menjauh keluar dari resto
最終更新日: 2026-08-06
Chapter: Bab 5: Dua Orang Kalah BertemuMesin sedan mewah itu sudah mati. Ryan masih mencengkeram erat setirnya, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kemudi dengan irama. Ia parkir depan supermarket 24 jam. Suasana sudah sunyi. "Argh... sial!" gerutu Ryan, rahangnya mengeras hingga otot-otot wajahnya menonjol. "Persiapan pernikahan sudah hampir rampung, tapi wanita sialan itu beraninya berkhianat. Bodohnya aku." Kenangan tiga tahun bersama Tasya berkelebat cepat di kepalanya seperti film rusak. Ryan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Tasya, Banyu, lihat saja! Akan aku pastikan kalian mendapatkan balasan setimpal!" desis Ryan penuh dendam. Ryan keluar dari mobilnya dan gerakannya terhenti saat pintu geser supermarket terbuka. Seorang wanita keluar menenteng bungkusan plastik bening berisi dua cup mie instan dan sebotol air mineral. Langkahnya terlihat lelah, namun tegar. Wanita itu Sasa. Sasa melirik sekilas menatap tepat ke manik mata Ryan. "Kalau Anda berniat berdiri di situ terus samb
最終更新日: 2026-07-13
Chapter: Bab 4: Dingin dan PanasLaju kereta api ekonomi pelan, membelah hamparan sawah dan perkebunan hijau di balik jendela kaca. Sasa duduk di kursi kelas dekat jendela dengan gerbong yang cukup padat. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding kelegaan di dadanya. Ingatannya berputar pada kejadian ketika ia melarikan diri. Sasa berlari tanpa arah hingga hampir terjatuh di jalan setapak. Di sanalah ia diselamatkan oleh Bi Hanum, kerabat ayahnya. Melihat siku Sasa yang berdarah, wanita paruh baya itu langsung menariknya bersembunyi. "Masuk ke gerobak belakang, Sasa," bisik Bi Hanum dengan tangan gemetar. "Bibi tahu keluarga tiri kamu mau itu gila semua." "Ini, pakai!" Bi Hanum memberikan ponsel usang pada Sasa. "Enggak usah Bi," tolak Sasa. "Ambil! kabarin Bibi ya!" Mata Sasa berembun. Bi Hanum tidak hanya memberinya ponsel, uang simpanan dan jaket tebal, tetapi juga mengantar Sasa lewat jalan tikus persawahan menuju stasiun. "Pergi ke kota, Nak. Jangan pernah kembali lagi. Cari kehidupanmu se
最終更新日: 2026-07-13
Chapter: Bab 3: Sasa Kabur"Bukan cuma tertarik, Bu! Katanya kalau Sasa mau dinikahi jadi istri keempatnya, Juragan Burhan enggak tanggung-tanggung kasih mahar yang mewah!" Nabila merapatkan duduknya di sofa usang itu. Ia membisikkan kalimat selanjutnya dengan penuh semangat membara. "Maharnya uang tunai puluhan juta, ditambah satu petak tanah ruko di pasar, dan jaminan fasilitas hidup buat keluarga kita!" imbuhnya penuh ambisi. Suasana di ruang tengah mendadak senyap. Angka puluhan juta dan tanah ruko di pasar adalah impian liar yang selama ini tidak berani mereka bayangkan dalam mimpi paling basah sekalipun. Gaji Nabila sebagai bidan honorer dan hasil ladang peninggalan almarhum ayahnya, juga gaji pansiun tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan yang ditawarkan oleh Juragan Burhan. Raka yang tadinya bersandar malas, kini ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya berbinar-binar penuh keserakahan yang nyata. "Wah... kalau Sasa jadi istrinya Juragan Burhan, kita enggak perlu pusing lagi mikirin cicil
最終更新日: 2026-07-13
Chapter: Bab 2: Ide Busuk Keluarga SasaTamparan tidak sempat mendarat di pipi Sasa. Tangan Ratih di tahan oleh Raka. "Jangan dipukul lagi, Bu," cegah Raka. "Kalau ditampar, dia enggak akan jera. Nanti dia malah kabur balik ke kota dan benaran lepas tangan. Kita kurung saja dia di gudang belakang sampai dia sadar diri dan mau nurut sama kita." "Lepaskan aku!" teriak Sasa saat Nabila langsung berdiri di sampingnya, mencengkeram kuat kedua lengan Sasa dengan kasar. "Diam, Mbak!" desis Nabila penuh kebencian. "Jangan sok berani lagi! Rasakan akibatnya kalau melawan Ibu!" Tanpa memedulikan jeritan Sasa, Ratih langsung menyambar kunci gantung dari atas meja bufet. Bersama Raka dan Nabila yang menarik paksa tubuh Sasa dengan kasar, mereka menyeret gadis itu melewati lorong sempit menuju bagian belakang rumah. "Kalian benar-benar sudah gila!" geram Sasa sambil terus meronta sekuat tenaga di antara lorong yang gelap. "Biar kamu tahu rasa, Mbak!" bentak Raka tanpa ampun. Mereka menyeret Sasa menuju sebuah gudang kecil peng
最終更新日: 2026-07-13
Chapter: Bab 1: Hati yang Dingin"Kamu lihat, kondisi rumah sekarang!" "Ayahmu sudah meninggal. Biaya kebutuhan rumah ini banyak, cicilan ini-itu, dan terutama biaya sekolah Raka, semuanya sekarang jadi tanggung jawab kamu." Sasa mengangkat kepalanya terkejut. Ia menatap Ratih, ibu tirinya. "Aku juga mau jual ladang ayahmu. Jadi aku butuh tanda tanganmu," "Maksud Ibu apa? tanggung jawab, tanda tangan?" "Enggak usah pura-pura bodoh deh kamu! Dengar, kamu harus tanda tangan persetujuan jual ladang ayahmu. Dasar, laki-laki tua tidak guna. Sampai mati pun dia tetap pilih kasih." "Enggak mau." "Sasa, jangan buat aku main kasar sama kamu ya!" Sasa tidak perduli ancama Ratih. "Aku juga enggak mau biayai kalian. Aku kan cuma anak yang sudah kalian buang dari dulu, harus ngekost di luar. Aku punya kehidupan sendiri." "Kehidupan apa?" Ratih mendengus sinis. Ia melipat tangan di dada dengan angkuh. "Aku tahu kamu sudah kerja. Kamu punya gaji tetap setiap bulan. Ayahmu mengirimmu ke kota, disekolahkan sampe s
最終更新日: 2026-07-13