Share

Bab 12

Penulis: XENA
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 08:08:24
"Leon!' bentak Manda dengan memperlihatkan ekspresi marahnya.

"Brengsek kamu, Glen!" seru Leon dari tempatnya. Tatapan matanya seolah ingin menghabisi sahabatnya saat itu juga.

Manda menangkap ekspresi bahagia Glen, senyumannya penuh kemenangan yang seolah memancing emosi Leon.

Rahang Leon mengeras. Ia melangkah dengan cepat menghampiri Glen.

Bugh!

Bogem mentah Leon mendarat dengan indah pada sahabatnya. Gerakannya begitu cepat, hingga Manda terperangah melihat Glen tidak sempat menghindar.

Manda berlari menghampiri mereka. Seketika ia terperangah melihat hasil bogeman tangan sang kakak tiri menghiasi wajah tampan Glen.

"Leon, apa yang kamu lakukan?!" tanyanya sembari berusaha menghentikan kakak tiri yang juga kekasihnya itu sedang melampiaskan amarahnya pada Glen.

"Hentikan, Leon!" 

"Jangan pakai kekerasan!"

"Bicarakan baik-baik!"

"Ingat, kalian bersahabat sudah sangat lama!" 

Semua perkataan Manda seolah menjadi backsound tersendiri bagi dua sahabat itu. Glen berusaha bangkit dan berusaha untuk membalas Leon. Namun, gerakannya sangat mudah ditebak oleh Leon. Manda tahu betul, Glen tidak pernah bisa mengalahkan Leon, bahkan sejak dulu.

Merasa suaranya tidak dianggap sama sekali oleh kedua sahabat tersebut, Manda tanpa berpikir panjang berlari ke sudut area kolam, dan mengambil sebuah ember kosong. 

Byur!

Ember kosong yang diisinya dengan air kolam disiramkan pada Leon dan Glen yang sedang saling tarik-menarik kerah baju. Seketika dua pemuda tampan tersebut melepaskan kerah lawannya. 

"Apa yang baru saja kamu lakukan?!" bentak Leon pada adik tirinya.

"Kalian seperti anak kecil yang sedang berebut mainan. Bagaimana aku bisa menghentikan kalian, jika suaraku saja tidak kalian dengar?!"

Leon mencebik kesal. Detik berikutnya, ia mengalihkan pandangannya pada Glen. "Semua ini karena dia!" ujarnya sembari menunjuk Glen. Tatapan tajamnya seolah menghunus, ingin menghabisinya.

"Aku?" celetuk Glen sambil menunjuk dirinya sendiri. Kemudian ia tertawa melihat ekspresi kekesalan Leon padanya. "Aku hanya datang untuk memberikan tagihan rumah sakit wanita itu padamu, Leon. Kenapa jadi aku yang kamu salahkan?" 

"Cukup!!!" bentak Manda dengan suara yang mampu membuat kedua pemuda itu diam seketika.

Manda melempar ember yang dipegangnya ke sembarang arah. Setelah itu, ia menyambar tangan kedua pemuda yang diam mematung saat ini. 

"Jika kalian memang benar orang yang berpendidikan, maka seharusnya kalian menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan duduk tenang," tuturnya seraya menarik kedua pemuda itu menuju kursi yang ada di area kolam renang.

Glen dan Leon duduk bersebelahan. Di depan mereka duduklah Manda yang sedang mengawasi dua sahabat tersebut dengan melipat kedua tangannya di depan dada. 

"Sekarang, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," perintahnya dengan tegas sembari menatap sang kakak tiri dan Glen secara bergantian.

'Ini kesempatanku,' batinnya bersorak kegirangan. Ia tersenyum miring melihat Leon yang menatapnya seolah memperingatkan untuk tidak berbicara.

Manda mendengarkan penjelasan Glen tentang pertemuan mereka di lift, tentang wanita itu, hingga bagaimana ia harus mengantar pulang dan menanggung biaya rumah sakitnya.

Kedua tangan Leon mengepal kuat. Ia menahan sekuat tenaga emosi dan amarahnya untuk tidak melampiaskannya pada Glen di depan Manda.

"Lalu, apa tujuanmu datang ke sini, Glen?" tanya Manda dengan tenang. Sebenarnya saat ini hatinya jauh dari kata tenang. Ia hanya berpura-pura tenang agar tidak memperkeruh suasana.

Seketika Glen tercengang. "A-aku ... aku... seperti yang aku bilang tadi. Aku ke sini untuk meminta ganti rugi atas waktu, tenaga, uang dan juga ...." Ucapan Glen menggantung di udara.

Ia menatap Leon dan Manda secara bergantian, ucapannya menggantung, seolah ada sesuatu yang ia tahan.

"Kamu ingin mengklarifikasi hubungan wanita itu dengan Leon, bukan?" tanya Manda kembali dengan tenang.

"Bagaimana kamu tahu?" tanya balik Glen dengan sangat antusias.

Manda tersenyum miring. "Jka sudah tahu, kamu mau apa?" tanyanya menyelidik. Ia teringat akan ucapan Galen siang tadi di sekolah tentang Glen.

Seketika senyuman Glen musnah. Wajah Glen sempat melunak, seolah merasa dipahami, tapi hanya sesaat, kemudian wajahnya kembali kaku.

"Kamu mau menunjukkan padaku bahwa Leon seorang playboy?" Tanyanya kembali dengan santai. Bahkan ia tersenyum seolah tidak ada beban ketika mengatakannya.

Detik itu juga Leon menoleh ke arah adik tirinya. Ia menatap kekasihnya itu seolah banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan olehnya.

Manda tersenyum menanggapinya, seolah mengatakan pada sang kakak tiri bahwa ia baik-baik saja.

Glen mengangguk pelan. Sorot matanya berubah, seolah merasa dipahami. Ada kilatan kebahagiaan pada pasang matanya.

"Tapi. Glen. Apa kamu tahu jika aku juga playgirl?" 

Seketika sepasang mata yang berbinar itu membelalak. "A-apa maksudmu, Manda?" tanya Glen kemudian,

Leon tidak berkomentar. Ia menatap adik tirinya dengan seksama, ingin mencari tahu sendiri melalui pengamatannya.

"Apa yang bisa dilakukan seorang playboy pada seorang playgirl?" tanya Manda sembari menunjuk Leon, kemudian beralih menunjuk dirinya sendiri.

Leon menatapnya dengan cara yang berbeda. Ada sesuatu di matanya, seperti campuran kagum dan penasaran. Detik berikutnya, ia menahan senyumnya. 

"A-apa? Kamu playgirl?" tanya Glen sambil menunjuk Manda. 

Manda mengangguk. "Jadi, aku rasa kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku," tuturnya sambil tersenyum.

Seketika sudut bibir Leon terangkat. Ekspresi puasnya terlihat sangat jelas, seolah baru saja memenangkan sesuatu. Dari ekspresinya, Manda bisa melihat kemarahan Leon perlahan mereda.

"Untuk biaya rumah sakit, kenapa kamu tidak meminta dia membayarnya sendiri? Sebagai bos yang baik, aku sudah pernah membayar biaya rumah sakitnya waktu itu, karena aku juga yang membawanya ke rumah sakit. Sekarang, kamu minta dia untuk mengganti uangmu. Lagi pula perusahaan juga sudah menjamin kesehatan semua karyawan. Sudah jelas, bukan?" ujar Leon pada Glen dengan penuh percaya diri. 

Glen kalah telak. Ia tidak lagi punya alasan untuk berada di sana. Tanpa berkata-kata, ia pun beranjak dari duduknya, dan berjalan cepat menuju pintu. 

Leon terkekeh melihat sahabatnya yang sama sekali tidak bisa menjatuhkannya. Berbeda dengan Manda, ia menatap sang kakak tiri seolah sedang memendam sesuatu.

"Sudah puas tertawanya?" tanya Manda dengan serius.

Seketika tawa Leon lenyap. Ia menatap ragu pada adik tirinya. "Tanyakan. Apa saja yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja sekarang," tuturnya, pasrah.

"Ceritakan padaku semuanya. Tentang wanita itu dan tentang pernyataan Glen," ucap Manda dengan memperlihatkan ekspresi seriusnya. Tanpa ada senyuman ataupun terlihat santai sedikit pun.

Leon mengambil napas dalam-dalam. Setelah mengeluarkannya perlahan, ia pun siap menceritakan semuanya. Mulai dari malam itu, ketika ia menghindari janji temunya dengan manda di kolam renang, hingga kejadian hari ini ketika Glen menemuinya di kantor.

"Jadi, Glen setuju tanpa tahu jika itu Cindy?" tanya Manda dengan sangat antusias.

Leon mengangguk. Detik kemudian, mereka tertawa bersama. Bagi Manda, situasi itu terasa ironis, cukup untuk membuatnya ikut tertawa.

"Kamu jahat, Leon," ujar Manda sambil berdiri dari duduknya. Kemudian ia berlari kecil untuk menjauhi kakak tirinya.

Saat itu juga Leon mengejarnya. Mereka berdua berkejar-kejaran di area kolam renang layaknya sepasang kekasih yang sedang bermain kejar-kejaran di tepi pantai. 

Tanpa mereka sadari, Daniel dan Marina pulang dari acara pertemuan penting malam itu. Sepasang suami istri paruh baya tersebut menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri betapa dekat dan intimnya anak-anak mereka. 

Leon berhasil menangkap Manda, dan memeluknya dengan erat. "Kamu tidak akan bisa lagi lepas dariku, Sayang," ujarnya sambil menatap sepasang mata indah wanitanya.

Detik berikutnya, bibir Leon pun mendarat pada bibir adik tirinya. Seketika napas Manda tertahan saat bibir Leon menyentuh bibirnya. Dunia di sekitarnya seolah menghilang, hanya menyisakan detak jantungnya yang semakin tidak terkendali.

"Leon!"

"Manda!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 133 Malam Panas

    Alvaro menelan ludahnya. Jakunnya naik turun melihat bentuk tubuh Manda yang begitu indah hingga membangkitkan sesuatu miliknya yang ada di bawah sana."Ke-kenapa kamu lepas pakaianmu, Sayang?" Seketika Manda menatap ke arahnya. "Leon." Suaranya sangat sensual. Ia melihat sosok Leon pada pemuda yang ada di hadapannya. Bibirnya melengkung ke atas mendengar suara Leon memanggilnya dengan sebutan "Sayang", panggilan yang selama ini diberikan oleh Leon padanya.Dahi Alvaro mengernyit. "Apa?!" Ia menghampiri Manda. "Kamu panggil aku apa tadi?!" Suaranya meninggi.Tiba-tiba tubuh Alvaro berada di bawah Manda. Sepasang mata Alvaro membelalak."Aku merasakan punyamu sudah mengeras," ucap Manda sambil terkekeh. Pipinya bersemu merah.Alvaro terbaring tidak berdaya. Pandangan matanya tertuju pada kedua gundukan besar milik Manda yang terpampang jelas di hadapannya."Kenapa kamu jahat sekali padaku, Leon," rengeknya. "Kenapa kamu lebih memilih Vania untuk menikah denganmu?" Tubuh Manda bergera

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 132 Skandal Dalam Motel

    Seorang waiter ditemani seorang pria berbadan kekar dengan wajah sangar menghampiri mereka.Alvaro berhenti setelah mereka berteriak memanggilnya. "Sial!" umpatnya. "Mereka membuatku malu.""Oh?!" Manda kaget melihat dua pria yang berdiri di hadapannya. "Kalian." Ia terkekeh sambil menunjuk pada mereka berdua. "Mau ikut aku ronde ke dua? Kita minum di sana!" Jarinya menunjuk ke sembarang arah."Diamlah!" Suara Alvaro lirih, tapi tegas membentak Manda yang sedang digendongnya."Bayar dulu, baru pergi," ujar waiter kesal. Ia memperlihatkan sebuah kertas yang bertuliskan tagihan meja mereka.Alvaro melihat jumlah total tagihan yang ada di bagian bawah. Sepasang matanya membelalak kaget."Cepat bayar!" gertak pria botak yang menjadi keamanan klub malam tersebut. Manda berjingkat kaget. Ia kembali terkekeh menertawakan pria berwajah bengis itu. Alvaro menurunkan Manda dari gendongannya. "Diam di sini," perintahnya. "Jangan pergi ke mana-mana." "Cepat!" bentak pria itu ketika melihat Al

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 131

    "Kenapa?" tanya pemuda yang mengajak mereka. "Kalian takut?" Ia tersenyum miring seolah mengejek semua temannya, termasuk Manda.Manda beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya seru juga." Pandangan matanya tertuju pada sebuah bangunan yang ditunjuk oleh pemuda itu.Alvaro ikut berdiri. Ia memegang tangan Manda. "Apa kamu gak takut jika masuk ke dalam sana?" tanyanya ragu-ragu.Seketika semua pasang mata yang ada di sekitar mereka tertuju pada Manda. "Takut?" Dahi Manda mengernyit. "Kenapa takut?" Ia terkekeh. "Apa di dalam sana banyak hantunya?" tanyanya sambil terkekeh. "Atau mungkin ... ada binatang buasnya?"Tawa mereka semua mengiringi kekehan Manda. Alvaro menatap kesal padanya. "Banyak buaya darat di dalam sana!" sahutnya sinis.Satu per satu dari mereka berdiri, dan menyatakan setuju untuk masuk ke tempat tersebut."Tunggu!" Alvaro menghentikan mereka. "Kalian semua sudah dewasa, kan?" tanyanya serius. "Sudah punya kartu identitas, kan?" Ia menatap satu per satu dari temanny

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 130

    "Cepat antar saya sekarang juga!" perintah Manda pada seorang sopir yang sedang mengelap mobil di halaman rumah keluarga Moreno.Sopir itu terhenyak, hingga melongo melihat Manda yang sedang membuka pintu mobil bagian belakang dan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Ia tersadar setelah mendengar suara pintu yang ditutup lumayan keras. Detik itu juga masuk ke dalam mobil, dan bersiap mengemudi. "Kita akan ke mana, Nona?" tanyanya sembari menyalakan mesin mobil."Jalan saja dulu." Manda meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam, mencoba menenangkan diri. 'Aku baik-baik saja. Aku bisa melewati semua ini. Kebahagiaanku yang utama,' batinnya mengulang mantra yang pernah diberikan dokter psikiater padanya.Mobil berjalan keluar dari area rumah besar itu. Terlihat dari kaca spion mobil, Lily berlari sambil menangis mengejarnya. Di sampingnya ada Leon yang sedari tadi mengejarnya seraya memanggil namanya. Air mata Manda menetes melihat Leon yang terlihat bingung antar

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 129

    Lily mendongak, menatap wajah Manda yang baru saja bergumam. "Siapa yang akan menikah?" tanyanya dengan menampakkan wajah bingung. Seketika semua orang yang ada di dalam ruang makan menoleh ke arah sumber suara. Di luar ruang makan, tepatnya di dekat pintu, Manda berdiri sambil menggendong Lily. Ia bersembunyi di tembok dekat pintu ruangan. "Lily?!" Leon memanggil adiknya yang tidak terlihat di sana. "Kamu kah itu?" tanyanya. Manda menghela napas. Ia tersenyum tipis menatap gadis kecil yang digendongnya sedang menatap dirinya. "Lily mau turun, Kak," ucapnya. Saat itu juga Manda menurunkannya. Gadis kecil itu menggandeng tangannya. "Katanya mau makan, Kak?" tanyanya dengan wajah polos. Manda kembali menghela napas berat. Detik kemudian ia memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan. Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari persembunyian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang makan. "Kalian--" "Lily baru saja bangun. Dia merengek lapar. Kebetulan aku juga sangat

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 128

    Sepasang mata Manda terbuka. Reflek ia melihat ke arah sumber suara. Matanya seketika membelalak. "Mama?!" lirihnya.Detik berikutnya, Leon membuka kedua matanya. "Kenapa berisik sekali?" Suaranya tegas menegur si pemilik suara yang mengganggu istirahatnya."Apa yang sedang kalian lakukan?!" Marina mengulang kembali pertanyaannya. Ada kegugupan yang terdengar dari suara tegasnya.Dahi Manda mengernyit. "Apa maksud Mama?" tanyanya sembari merapikan rambutnya."Berhenti membuat keributan. Kita butuh ketenangan." Leon kembali menegaskan kekesalannya. Kedua matanya kembali terpejam.Tatapan kemarahan Marina yang tertuju pada putrinya, kini beralih pada putra tirinya. "Leon!" panggilnya dengan tegas. "Bukankah Daniel memerintahmu untuk menemuinya?!" Tidak ada reaksi dari Leon. Sang ahli waris keluarga tersebut terlihat kembali terlelap dalam tidurnya. "Cepatlah bangun, Leon!" bentak wanita paruh baya itu kembali. "Jangan membuat Daniel marah padamu!" Manda menatap saudara tirinya yang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status