เข้าสู่ระบบAaaaahhhh ....Alvaro meringis menahan rasa sakit ketika tangan Manda menyentuh luka di sudut bibirnya."Pelan-pelan," rengek pemuda itu.Manda mencebik. "Cuma begini saja, sakit," omelnya sambil mengoles salep pada sudut bibir Alvaro. "Seperti anak kecil saja."Seketika Alvaro mengubah ekspresi wajahnya. Ia menegakkan badannya sehingga posisi duduknya tidak lagi membungkuk."Siapa bilang aku kesakitan?" sanggahnya dengan tegas.Manda menatap sinis padanya. Ia tidak membalas omongan saudara tirinya, tapi tangannya yang bertindak. Alvaro kembali berteriak ketika tangan Manda menyentuhnya dengan sangat kasar. Manda sengaja mengoleskan salep pada pipinya yang memerah terkena bogeman mentah dari bodyguard Leon."Katanya gak sakit?" sindir Manda sambil menutup salep yang dipegangnya."Kamu yang kasar," protes Alvaro. Ia kembali meringis sambil memegang pipinya.Manda berdiri dari duduknya, dan melempar salep yang dipegangnya pada Alvaro. "Pakai sendiri!" perintahnya ketus.Tanpa menoleh l
Alvaro mencengkeram erat kerah baju Leon. Dengan gerakan cepat tinjunya pun melesat ke arah wajah tampan sang pewaris Moreno. Bugh!Wajah Alvaro terkena bogeman mentah seseorang yang menyerangnya dari arah samping. Badannya terhuyung hingga tinjunya pun gagal melayang ke wajah Leon. "Berengsek!" umpat si penyerang. "Beraninya kamu menyerang Tuan kami!" Sepasang matanya yang melotot membuat wajah bengis pria itu semakin menakutkan.Leon terkesiap menyaksikan apa yang terjadi tepat di depan kedua matanya. Dalam waktu sepersekian detik yang begitu cepat, pemuda itu jatuh tersungkur di tanah.Alvaro menatap marah pada pria yang menghantam wajahnya. Ia meringis menahan nyeri yang disertai rasa panas pada sisi kanan wajahnya. Sudut bibirnya pun mengelupas hingga sobek mengeluarkan darah.Eric memegang lengan putra tirinya. "Bangunlah," tuturnya sambil membantunya berdiri. "Lebih baik kita pulang saja sekarang.""Cepat pergi!" usir pria yang memberikan bogeman mentah padanya. "Jangan perna
Orang-orang Daniel yang sedang berjaga di depan gerbang pagar rumahnya sebagai penjaga keamanan malam ini sedang ribut dengan Eric dan Alvaro. Suara mereka terdengar hingga ke area halaman rumah. Keributan itu sampai di telinga Sang Tuan Besar dan Nyonya Besar rumah yang sedang berbincang sambil menunggu anak-anak mereka di taman.Daniel Moreno bergegas menuju depan rumahnya dengan diikuti oleh Marina yang mengikutinya di belakang."Kenapa ribut sekali?!"Suara berat dan terkesan sangat tegas mengagetkan semua orang yang ada di sana.Seketika Marina membelalak melihat sosok pria yang pernah menjadi masa lalunya. Ia berdiri mematung di sebelah suaminya."Siapa mereka berdua?!" tanya Daniel kembali. Sorot matanya tajam menetap pria paruh baya dan pemuda seusia putranya yang sedang berdiri tidak jauh darinya."Maaf, Tuan. Mereka sudah kami usir sejak tadi, tapi pria itu mengatakan jika dia adalah--""Ayah kandung Manda!" sahut Eric."Tidak!" sahut Marina bersamaan. Suaranya bersahutan d
Eric menerobos istri dan juga anak tirinya yang sedang menghadangnya. Belinda dan Eric berdiri di depan Eric untuk menghalanginya pergi dari rumah. Pria paruh baya yang merupakan ayah kandung dari Manda membawa sebuah pisau lipat yang biasanya dibawa ketika sedang betugas di daerah rawan bahaya."Sayang!" panggil Belinda. "Eric, jangan gegabah!" serunya memohon. "Ingatlah siapa mereka!"Sayangnya pria yang sudah beberapa tahun menjadi suaminya itu tidak mendengarkannya. Eric berjalan cepat mengambil motornya yang diparkir di depan rumah."Pa!" seru Alvaro dari tempatnya berdiri. "Lebih baik papa tunggu di rumah saja bersama dengan Mama. Biar aku saja yang mencarinya!"Eric tetap menulikan pendengarannya. Alih-alih ia merespon seruan istri dan putranya, pria paruh baya yang sedang dikuasai emosinya itu terburu-buru memakai helmnya."Alvaro, cepat ikuti dia!" perintah Belinda sambil mendorong tubuh putranya.Pemuda itu bergegas menuju motornya. "Ma!" panggilnya ketika sudah menunggangi
Manda tidak bisa berkelit lagi. Ia terjebak oleh janjinya sendiri. Senyuman kemenangan Leon membuatnya bertambah kesal. "Jika Kak Manda gak pulang bersamaku, lalu aku akan tidur sama siapa?" rengek Lily. "Aku gak mau pulang." Lily kembali merajuk. "Aku takut di sana sendirian." Air matanya jatuh membasahi pipi.Dengan sigap Manda membawa tubuh gadis kecil itu dalam pelukannya. Ia mengusap lembut rambut adik tirinya dengan penuh kasih sayang."Sepertinya kamu gak punya pilihan lain," ujar Leon sambil tersenyum miring.Seketika perhatian Manda beralih pada kakak tirinya yang sedang duduk tidak jauh darinya. 'Semuanya gara-gara kamu, Leon!' batinnya sambil menatap tajam pada kakak tirinya.Lily mengurai pelukan Manda. "Aku ikut Kakak saja," pintanya dengan tatapan memohon. "Aku gak mau kembali ke sana. Aku takut sama--""Gak akan ada yang menyakitimu, Lily," sahut Leon. Ekspresi wajahnya kini sangat serius.Manda memejamkan kedua matanya sembari menghirup napas dalam-dalam dan mengelua
Manda menjadi sedikit pendiam setelah mendengar penjelasan dari Leon tentang Lily. Pandangannya tidak pernah lepas dari gadis kecil yang sedang lahap memakan makananan kesukaannya. "Kenapa gak makan?" tanya Leon menyelidik. Ia menatap serius pada sang adik tiri yang duduk di hadapannya.Seketika Manda terkesiap. Detik berikutnya ia memaksakan senyumnya. "Aku hanya merasa bersalah pada Lily," ucapnya lirih sambil mengaduk-aduk makanannya.Leon memegang tangan Manda, dan meletakkan sendok yang dipegangnya. "Lihatlah aku," perintahnya dengan lembut. Setelah Manda mengalihkan pandangannya padanya, ia pun kembali meneruskan ucapannya. "Sekarang dengarkan aku. Ini semua bukan salahmu. Semua yang terjadi gak ada hubungannya denganmu. Jadi, stop merasa bersalah pada siapa pun." Pandangan mereka berdua saling bertemu. Sepasang mata Manda berkaca-kaca. Ada banyak hal yang membuatnya ingin bertemu dengan Leon. Ia merindukan berada dalam kenyamanan pelukan kakak tirinya, dan juga cara Leon mene







