LOGINBerlanjut yaa...
Balang langsung terdiam di tempatnya berdiri, bahunya merosot turun seolah seluruh energi kekuatannya baru saja tersedot habis. Ia menoleh, menatap Samsi dengan pandangan cemas."Bang... g-gimana ini?" tanya Balang dengan suara yang kembali ke aslinya—gugup dan penuh kebingungan, khas mahasiswa perantauan.Samsi hanya menyunggingkan senyum kecil melihat perubahan drastis tersebut. Helaan napas lega lolos dari bibirnya.Ternyata dugaannya salah, roh pemuda gondrong itu masih tertanam di dalam raga Radin Shah, bukan roh asli sang bos yang mendadak kembali secara gaib."Akting lo asli bagus banget, Balang. Sumpah, gue tadi sampai pangling di sudut ruangan," cetus Samsi sambil menggeleng-gelengkan kepala takjub. "Gue sempet mikir kalau roh kalian berdua udah ketukar balik secara normal pas lo gebrak meja tadi."Balang tidak menyahut. Matanya menangkap sebuah kotak kayu berisi cerutu premium!Didorong rasa penasaran dan keinginan untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang, Balang nekat me
"Hmm... soal uang itu, gue... eh, aku butuh waktu buat mikir dulu, Safitri," sahut Balang akhirnya dengan nada datar sedingin es.Ia sengaja meralat gaya bicaranya, mencoba meniru persis pembawaan asli Radin Shah saat sedang menghadapi negosiasi bisnis yang alot dan menjengkelkan.Samsi yang mengawasi dari sudut ruangan mengembuskan napas lega yang sangat tipis dalam hati, merasa puas melihat raga bosnya berhasil menguasai keadaan dengan sangat tenang tanpa menunjukkan kepanikan sepeser pun.Namun, Safitri yang menangkap sinyal keraguan dan penolakan halus dari mantan suaminya itu mendadak mengubah raut wajah paniknya.Rasa bersalah yang sempat terpancar seketika lenyap, berganti dengan kilat sinis dan licik yang kembali naik ke permukaan. Ego perempuan serakah itu rupanya menolak untuk diabaikan begitu saja.Safitri diakui Samsi memiliki jiwa manipulatif yang hebat, entah belajar di mana?"Radin, aku tahu kamu pasti masih marah banget sama aku soal kejadian malam itu. Aku tahu kamu be
Pintu lift berdenting halus begitu tiba di lantai 17. Balang menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa gugup yang mendadak menyerang pundaknya.Mulai saat ini, dia harus total memainkan peran terbesarnya sebagai sang miliarder saham, Radin Shah, yang dikatakan Samsi orangnya tenang dan gayanya kalem...Di belakangnya, Samsi melangkah tegap, bersiaga penuh bagai bayangan yang siap menerkam kapan saja situasi bergeser menjadi berbahaya.'Beneran aneh banget. Sebenarnya apa sih hubungan antara Soraya sama Mbak Safitri ini? Kenapa wajah mereka berdua bisa mirip banget bak pinang dibelah dua? Walaupun cewek yang ini gayanya selangit dan angkuh banget,' batin Balang terheran-heran, berusaha keras menyembunyikan tatapan matanya yang terus menyelidik."Silakan masuk, Mbak Safitri," ceplos Balang tiba-tiba saat membukakan pintu ruangan kerja utama CEO.Mendengar kata panggilan itu, langkah kaki Samsi seketika tertahan di ambang pintu. Matanya melotot sempurna menat
'Gila... luar biasa banget hidup orang kaya. ART-nya aja ada tujuh orang, satpamnya tiga. Terus ini rumah apa istana? Mewah banget!' batin Balang berdecak kagum saat melangkah masuk menelusuri lantai marmer.Namun, pandangannya sempat terhenti di area garasi terbuka yang luas. 'Tapi kok di garasi cuma ada tiga biji mobil doang ya? Perasaan orang kaya di TV mobilnya berderet sampai belasan, bahkan kayak show room saja garasinya...?'Samsi yang peka melihat kebingungan di wajah raga bosnya itu langsung berbisik lirih. "Lo nggak usah heran. Pak Radin emang dari dulu nggak suka numpuk banyak mobil. Dia orangnya sangat praktis dan perfeksionis kalau soal fungsional barang. Tapi kalau udah urusan berhitung duit dan saham, otaknya jenius banget."Dan Samsi pun dengan bla-bla-bla jelaskan kebiasaan sang bos besarnya tersebut, yang langsung di pahami Balang.Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Balang langsung mengangguk paham. Malam pertamanya di rumah mewah tersebut berjalan sangat luar bi
Keesokan harinya...Raungan mesin molen dan ketukan palu bertalu-talu memenuhi area Asrama Borneo. Sembari duduk santai menikmati secangkir kopi hitam di teras depan, Radin terus memantau pergerakan para tukang bangunan yang mulai sibuk merombak total gedung asrama sesuai instruksinya.Namun, ketenangannya mendadak terusik saat ponsel barunya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Samsi membawa kabar yang seketika membuat Radin tersentak kaget.Samsi mengabarkan bahwa raga asli Radin Shah yang diisi oleh roh Balang Ardiansyah kini mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran setelah koma sekian lama."Lo terus pantau dia. Jaga ketat kamarnya dan selalu kasih info terbaru ke gue. Kabar ini bener-bener bikin situasi nggak baik-baik aja. Juga secepatnya bawa dia ke kantor, agar karyawan di sana tenang semua...!" perintah Radin lewat sambungan telepon dengan nada terkejut yang tertahan.Perkembangan raga asli Radin di ruang VVIP rumah sakit memang sukses mengejutkan tim dokter spesialis. Tepat
"Pernah, Balang. Aku sempat ketemu dia pas dia baru aja cerai sama suaminya yang namanya Radin Shah. Kak Safitri selalu nyebut mantan suaminya itu sebagai laki-laki pemalas yang nggak berguna," sahut Soraya polos.Deg!Hantaman kalimat itu bagaikan godam yang memukul telak dada Radin. Jiwanya terguncang hebat di dalam raga Balang.Berani-beraninya Safitri memutarbalikkan fakta dan mencapnya sebagai pria pemalas, padahal perempuan itulah yang serakah dan tega menjual kesetiaannya demi uang satu miliar.Namun, dengan kemampuan kontrol emosi tingkat tinggi yang ia miliki, secepat kilat Radin langsung mengubah raut wajahnya kembali datar dan biasa saja, menyembunyikan badai amarah yang bergemuruh di dalam kepalanya."Terus... dia ada ngomong apa lagi soal mantannya itu?" tanya Radin dengan nada suara yang sengaja dipertegas, sekuat tenaga menahan gejolak batinnya yang kian memanas.Soraya mengembuskan napas pendek, mencoba mengingat-ingat momen pertemuan itu."Dia cuma bilang kalau mereka







