Mag-log inLanjut terus ya, jangan lupa novel best seller kami: Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua dan Terhimpit! Tante Tiri dan Pembantu Cantik, cikidot yaa!
Raungan mesin motor sport baru milik Radin akhirnya mereda, menyisakan kesunyian di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi.Radin menurunkan standar motornya, lalu melepas helm full-face mahal yang dikenakannya.Ia mendongak, menatap takjub ke arah bangunan rumah megah bertingkat dua yang berdiri kokoh di dalam salah satu kompleks perumahan paling elit di pusat Jakarta.'Hmm... Kaya raya banget ternyata si Tante Rista ini,' batin Radin sambil merapikan ikatan rambut gondrongnya.Ia melangkah mendekati pagar, lalu menekan tombol bel interkom yang terpasang di dinding marmer.Tak lama kemudian, sebuah suara lembut terdengar dari pelantang interkom, menyuruhnya untuk langsung masuk saja.Detik berikutnya, suara mekanisme motor listrik berdesing halus, dan pagar besi raksasa itu terbuka secara otomatis dengan gerakan yang sangat mulus.Radin menelusuri jalan setapak taman yang tertata rapi hingga akhirnya tiba di teras depan.Begitu ia berdiri di depan daun pintu utama yang terbuat
Radin jelas bukan Balang si mahasiswa pemalu yang bakal salah tingkah.Di dalam raga muda itu bersemayam jiwa seorang Radin Shah, pria matang yang sudah sangat kenyang asam garam kehidupan dan tahu betul bagaimana cara mengeksekusi pancingan asoi seperti ini."Ngelihat Tante itu... bisa bikin siapa pun mendadak lupa sama hal lain di dunia ini," sahut Radin dengan nada suara yang merendah, menatap lekat manik mata Tante Rista dengan senyuman nakal yang memikat. "Tante itu mahakarya yang terlalu indah. Rugi besar kalau sampai dilewatin gitu aja.""Aihhh... so sweet banget sih omongan kamu," sahut Tante Rista terkekeh manja, pipinya merona merah merespons serangan balik yang begitu berani dan dewasa dari mahasiswa gondrong di depannya.Tetesan keringat mulai membasahi leher jenjang Tante Rista yang putih mulus, mengalir perlahan melewati tulang selangkanya yang seksi, dan menyerap di belahan dadanya yang berbalut sport bra ketat.Embusan napasnya yang memburu berpadu dengan aroma parfum m
Kita tinggalkan dulu Balang yang kini harus memeras otak berlakon sebagai Radin Shah, menahan napas menghadapi pelukan agresif dari si denok Claudia, dan membuat Samsi terpaksa tahu diri membuang muka ke jendela.'Serba salah banget. Kalau gue tegur sekarang, yang ada penyamaran si Balang malah bisa kebongkar di depan Claudia. Ah, ya sudahlah, biarin aja. Anggap aja adil, keduanya lagi tukaran peran. Pak Bos Radin nyikat kekasih si Balang di asrama, dan sekarang sebaliknya,' batin Samsi sambil menahan tawa gelinya setengah mati di sudut ruangan, lalu diam-diam dia pergi dari sini membiarkan Balang dan Claudia saling berciuman dan...?!Sementara itu, berminggu-minggu telah berlalu di belahan Jakarta yang lain. Radin Shah—yang kini berada di dalam raga Balang—berdiri tegak di tepi halaman, menatap puas ke arah bangunan Asrama Borneo yang kini sudah 60 persen selesai dikerjakan.Sang kontraktor benar-benar memegang janjinya dengan sangat baik. Puluhan pekerja dan alat modern dikerahkan si
Balang langsung terdiam di tempatnya berdiri, bahunya merosot turun seolah seluruh energi kekuatannya baru saja tersedot habis. Ia menoleh, menatap Samsi dengan pandangan cemas."Bang... g-gimana ini?" tanya Balang dengan suara yang kembali ke aslinya—gugup dan penuh kebingungan, khas mahasiswa perantauan.Samsi hanya menyunggingkan senyum kecil melihat perubahan drastis tersebut. Helaan napas lega lolos dari bibirnya.Ternyata dugaannya salah, roh pemuda gondrong itu masih tertanam di dalam raga Radin Shah, bukan roh asli sang bos yang mendadak kembali secara gaib."Akting lo asli bagus banget, Balang. Sumpah, gue tadi sampai pangling di sudut ruangan," cetus Samsi sambil menggeleng-gelengkan kepala takjub. "Gue sempet mikir kalau roh kalian berdua udah ketukar balik secara normal pas lo gebrak meja tadi."Balang tidak menyahut. Matanya menangkap sebuah kotak kayu berisi cerutu premium!Didorong rasa penasaran dan keinginan untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang, Balang nekat me
"Hmm... soal uang itu, gue... eh, aku butuh waktu buat mikir dulu, Safitri," sahut Balang akhirnya dengan nada datar sedingin es.Ia sengaja meralat gaya bicaranya, mencoba meniru persis pembawaan asli Radin Shah saat sedang menghadapi negosiasi bisnis yang alot dan menjengkelkan.Samsi yang mengawasi dari sudut ruangan mengembuskan napas lega yang sangat tipis dalam hati, merasa puas melihat raga bosnya berhasil menguasai keadaan dengan sangat tenang tanpa menunjukkan kepanikan sepeser pun.Namun, Safitri yang menangkap sinyal keraguan dan penolakan halus dari mantan suaminya itu mendadak mengubah raut wajah paniknya.Rasa bersalah yang sempat terpancar seketika lenyap, berganti dengan kilat sinis dan licik yang kembali naik ke permukaan. Ego perempuan serakah itu rupanya menolak untuk diabaikan begitu saja.Safitri diakui Samsi memiliki jiwa manipulatif yang hebat, entah belajar di mana?"Radin, aku tahu kamu pasti masih marah banget sama aku soal kejadian malam itu. Aku tahu kamu be
Pintu lift berdenting halus begitu tiba di lantai 17. Balang menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa gugup yang mendadak menyerang pundaknya.Mulai saat ini, dia harus total memainkan peran terbesarnya sebagai sang miliarder saham, Radin Shah, yang dikatakan Samsi orangnya tenang dan gayanya kalem...Di belakangnya, Samsi melangkah tegap, bersiaga penuh bagai bayangan yang siap menerkam kapan saja situasi bergeser menjadi berbahaya.'Beneran aneh banget. Sebenarnya apa sih hubungan antara Soraya sama Mbak Safitri ini? Kenapa wajah mereka berdua bisa mirip banget bak pinang dibelah dua? Walaupun cewek yang ini gayanya selangit dan angkuh banget,' batin Balang terheran-heran, berusaha keras menyembunyikan tatapan matanya yang terus menyelidik."Silakan masuk, Mbak Safitri," ceplos Balang tiba-tiba saat membukakan pintu ruangan kerja utama CEO.Mendengar kata panggilan itu, langkah kaki Samsi seketika tertahan di ambang pintu. Matanya melotot sempurna menat







