ログインLanjut terussss yaa...mohon maaf pembaca tercinta, ada editan kecil dari bab 8 sd bab 13, biar kisahnya makin asoii...
Kedua tangan Radin mulai bergerak liar di atas permukaan kulit mulus Lisa, menyingkap daster satin tipis yang dikenakan wanita itu hingga terlepas dan luruh ke atas lantai marmer.Tanpa basa-basi, ia merobek celana dalam Lisa dengan sekali tarikan, membuat wanita itu tersentak lagi.Radin langsung lumat apem lebat ini sampai berbunyi kericupan. “Aaagghh..aku k-keluar sayaaaaanggg..?” seru Lisa, padahal ini baru adegan pembukaa, belum ke adegan aduhai nya.Gimana nggak keluar cepat Lisa, selama ini dia hanya di genjot singkat dengan Braman Wijaya, tapi tak pernah dia mencapai kenikmatan.Tapi dengan Balang alias Radin, baru lidah yang bermain, dia sudah mencapai awan...“Gantian sayang, isapan belalai kekar ini!” Radin bangkit dan sodorkan pelatuk berurat kekar dan kokoh, hingga mata Lisa membelalak.“Gilaaaa...milikmu mirip milik si Radin, eh dasar, kurus-kurus belalainya bisa sehebat ini sihh, hihihi,” seru Lisa dan....hap, mulutnya yang kecil dengan ganas gantian melumat es krim ist
"Hemm... emangnya kamu kuat berapa ronde, brondong?" pancing Lisa blak-blakan. Sepasang matanya yang dilapisi eyeliner tajam itu menatap meremehkan ke arah celana jins yang dikenakan Radin, seolah meragukan kapasitas kejantanan mahasiswa hukum di depannya.Radin sempat tersentak kaget mendapat tembakan sesensual itu, namun sedetik kemudian jiwa bos besarnya langsung mengambil alih kendali raga Balang.Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan jarak hingga aroma napasnya yang berbau kopi beradu dengan aroma rokok menthol Lisa."Gue... eh, aku mampu bikin kamu jalan ngesot keluar dari kamar nanti, Lisa. Pastinya, 'milik' aku jauh lebih kekar dan perkasa dibandingkan si tua bangka Braman Wijaya itu," bisik Radin dengan nada suara bariton yang rendah, berat, dan sarat akan penekanan yang teramat jantan, tapi bikin Lisa sesaat melongo.Wuihh Radin hampir saja mana tahaaannn lihat bibir Lisa yang seksoi tersebut.Lisa seketika terkekeh renyah, merasa tertantang dengan keangkuhan pemud
Radin yang otaknya dipenuhi asam garam dunia malam langsung teringat satu hal krusial, Lisa ini rekam jejaknya pernah 'nakal' sebagai mantan simpanan kelas atas.Jadi jelas tidak heran kalau seleranya adalah tempat-tempat privat yang teduh, bukannya nongkrong di warung kopi pinggir jalan yang berdebu dan bising.Akhirnya, Radin menyebutkan sebuah nama kafe eksklusif yang letaknya tidak begitu jauh dari area asrama.Ke sanalah mereka berdua meluncur membelah jalanan, tentu saja dengan menaiki mobil mewah milik Lisa.Sesampainya di kafe, Radin sengaja memesan sebuah bilik privat VIP (private booth), jenis ruangan tertutup yang tidak bisa dimasuki sembarangan orang tanpa izin khusus.Lisa awalnya sempat melempar pandangan heran dan agak curiga, namun dasar mentalnya sudah terbiasa dengan kemewahan, ia akhirnya melangkah anggun mengikuti instruksi Radin masuk ke dalam bilik bertirai tebal tersebut."Ehem... Kamu agaknya udah pro banget ya soal urusan beginian? Masa baru pertama ketemu uda
Radin hanya mengangguk pelan seraya melambaikan tangannya santai. Sandi dan mahasiswa lainnya sadar diri dan tahu aturan.Mereka sangat paham, jika orang kepercayaan seorang miliarder sekelas Pak Radin sampai rela datang jauh-jauh menemui ketuanya ke asrama, itu artinya ada urusan bisnis atau masalah hukum yang teramat penting dan rahasia yang sedang ingin mereka bicarakan."Jadi... si Balang sekarang lagi guling-gulingan mesra sama Claudia?" tanya Radin sambil menahan senyum gelinya setelah mendengar laporan terperinci dari Samsi."Gimana ya, Bos? Gue kan kagak enak mau negur. Kalau gue sela aktivitas mereka di apartemen, yang ada penyamaran kita malah bisa bikin heboh satu kantor kan?" sahut Samsi ikut menahan tawa mengingat wajah melongo Balang di kursi CEO tempo hari."Ya sudahlah, biarin aja," Radin mengibaskan tangannya enteng, seolah masalah itu cuma urusan sepele. "Si Claudia itu kalau seminggu aja nggak dikelonin pasti pusing dan rewel dia. Nggak apa-apa deh badan legal gue d
"Kali ini lo masih gue kasih ampun. Tapi kalau sekali lagi lo berani petentang-petenteng bawa pasukan ke sini, leher lo yang penuh daki tato ini yang bakal gue penggal sampai lepas! Paham?!" bentak Radin dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh ancaman.Tentu saja si ketua bertato ini ketakutan setengah mati hingga wajah garangnya berubah pucat pasi.Nyalinya benar-benar sudah ciut, apalagi saat matanya melirik ke arah belakang dan melihat Samsi yang dengan santainya menendang sana-sini sisa anak buah Geng Clurit yang masih berkaok-kaok kesakitan di atas aspal setelah dihajar habis-habisan tadi."P-pasti, Balang... G-gue nggak bakalan berani nge-ganggu lo lagi seumur hidup. M-maafkan gue, ampun!" ratap si ketua Geng Clurit dengan tubuh gemetaran, ketakutan setengah mampus menatap sepasang mata Radin yang sedingin es.Plakkk...!Sebuah tamparan keras bermuatan tenaga dalam langsung dilayangkan oleh tangan kokoh Radin, telak mengenai pipi si ketua geng.Hantaman tangan kurus itu b
Radin melirik pria itu dan senyumnya makin lebar, Samsi, sang bodyguardnya barusan datang... Saatnya si Samsi ku ajak olahraga saat ini, batin Radin.Kini, mendengar omongan si ketua geng bertato ini sangat nyaring dan menggelegar di sepanjang lorong kompleks, hingga bikin warga sekitar yang sedang melintas langsung kaget, putar balik, dan lari ketakutan masuk ke dalam rumah masing-masing."Emang! Duitnya kan secara legal masih ada di lo, Bangsat!" bentak si tato, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter.Embusan napasnya yang bau naga mengarah tepat ke wajah Radin. "Kan pas kita taruhan malam itu, uangnya belum sempat disandingkan di meja sirkuit, terus lo malah keok duluan setelah nekat nabrak mobil mewah di jalan raya! Nah, sekarang nggak mau tahu, mana duitnya?! Bayar dua puluh juta sekarang juga secara tunai, atau sebagai gantinya... sepasang kaki kurus lo itu bakal gue patahkan di tempat!"Mendengar gertakan murahan yang disertai nominal dua puluh juta rup







