LOGIN
Malam ini, Tavira akan bertemu tunangannya – Darian, putra tunggal keluarga Haryodipura.
Beberapa jam sebelum pertemuan itu, Tavira berdiri di depan cermin, mematut diri dengan saksama. Gaun merah muda selutut membalut tubuh langsingnya dengan sempurna. Rambut panjang bergelombang ditata rapi, sebagian disingkap jepit mungil yang memperlihatkan pelipis halusnya. Semuanya sudah tampak sempurna. Hanya riasan tipis yang akan ia poleskan menjelang pertemuan nanti malam, pukul delapan. Mama ikut mengintip di depan cermin. Melihat detail gaun dari atas kepala sampai ujung kaki. Semua sudah dipersiapkan Mama dari jauh hari. Baru kali ini Mama bisa berdecak kagum setelah dikenakan putri semata wayangnya itu. Tavira sudah sangat sempurna, tapi gadis itu menghela napas panjang. Cemas pada sesuatu yang tidak Mama ketahui. “Darian akan menerimaku kan, Ma?” cemas Tavira kentara di wajah cemberutnya. Mama mengulas senyum sembari mengelus pundak anaknya. “Tentu saja. Enggak ada yang bisa menolak kamu, Sayang. Kamu cantik, dewasa, wanita baik-baik dan berprestasi. Bukan cuma pewaris Haryodipura saja yang ingin menjadikanmu istri, tapi seluruh lelaki di dunia ini.” Oke, Tavira merasa ucapan Mama terlalu berlebihan. Tapi itu sukses membuat kecemasannya menguap di udara. Setidaknya itu meningkatkan kepercayaan diri Tavira. Meski sedikit. “Tavira, kamu nggak menyesal dengan perjodohan ini, kan?” Sekarang Mama yang cemas. Entah sudah berapa kali Mama menanyakan hal serupa di setiap kesempatan. Mama takut kalau perjodohan yang dilangsungkan sedari kecil itu tidak disukai Tavira. Dan selalu pula Tavira memberikan jawaban yang sama. “Enggak, Ma. Aku suka perjodohan ini, kok. Aku sudah memerhatikan Darian dari jauh. Dia benar-benar tipe kesukaanku.” Dua puluh lima tahun lalu, di usianya yang baru lahir, Tavira Lintang Saka dijodohkan dengan Darian Alastra Haryodipura. Lelaki yang lima tahun lebih tua darinya. Terjadi kesepakatan di masa lalu hingga kedua orang tua memutuskan perjodohan. Tavira resmi bertunangan dengan Darian di usia keduanya yang terbilang belia. Hanya tunangan. Sedangkan pernikahannya sendiri akan dilaksanakan ketika Tavira genap berusia 25 tahun. Tepat hari ini. Malam kemarin Tavira baru saja merayakan pesta kecil bersama teman-teman modelnya. Malam itu sekaligus jadi pesta lajang terakhir Tavira. Esoknya, Tavira diberitahu Mama kalau dirinya akan dipertemukan dengan tunangannya – Darian, bersama orang tuanya untuk membicarakan pernikahan. Tavira sangat antusias. Dia bahkan sengaja berdiet, perawatan wajah, perawatan rambut dan kuku. Dia ingin terlihat sempurna di mata Darian. Sebab itu kali pertama mereka dipertemukan setelah dewasa. Kenapa Tavira sebegitu antusiasnya? Karena Darian – calon mempelainya, bukan orang sembarangan. Selain karena dia berasal dari keluarga konglomerat, CEO yang sukses, Darian juga tampan, kharismatik dan pernah sesekali muncul di majalah bisnis sebagai salah satu dari deretan orang-orang tersukses di dunia. Tavira sudah jadi penggemar Darian sedari dulu. Bukan saja karena mereka ditunangkan sejak kecil, tapi karena pesona Darian sendiri memang patut dijadikan idola oleh Tavira. “Terima kasih, Tavira. Kamu sudah menjaga diri dari laki-laki lain dan mempersiapkan jadi istri yang baik.” Ada butir air mata di sudut tatapan Mama. “Iya, Ma. Tavira nggak mau terlihat memalukan bagi Mama dan almarhum Papa. Tavira ingin jadi wanita yang pantas untuk Darian.” Mama memeluk Tavira. Anak gadisnya sudah dewasa. Rasanya Mama ingin mengatakan pada nisan Papa kalau dia berhasil mendidik anak gadisnya dengan baik. Mama tidak ingin apa pun selain melihat Tavira bahagia dengan lelaki yang dicintainya. “Ah, sebaiknya Mama juga bersiap dengan baju Mama. Jangan sampai anaknya sudah cantik, Mama malah terlihat memalukan dan buat kamu minder.” Tavira tersenyum bersamaan dengan Mama menuju ke kamarnya. Memastikan tidak ada kekurangan apa pun di baju maupun sepatu untuk pertemuan nanti malam. Tiba-tiba saja ponsel Tavira berdering. Dengan cekatan Tavira menekan tombol terima dan melakukan sapaan lumrah pada si penelepon. “Halo?” “Tavira Lintang Saka. Aku memintamu datang ke Palais Hotel sekarang juga.” Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. Tahu-tahu orang di seberang telepon sana meminta Tavira datang ke hotel yang terkenal elit di kawasannya. “Siapa ini?” Wajar saja Tavira bertanya. Mana mau dia menanggapi telepon iseng, apalagi di hari sepenting ini. “Darian." Tavira tercekat. Lebih tidak percaya pada apa yang baru didengarnya itu. “Jangan bercanda. Mana mungkin kamu Da-“ “Cepatlah! Jangan beritahu siapa pun kamu kemari. Dan datanglah sebelum pertemuan nanti malam.” Tavira berusaha tidak percaya, tapi ia menyebut tentang pertemuan nanti malam. Hanya dia, Mama dan keluarga Darian saja yang tahu. Mustahil yang meneleponnya ini Darian sungguhan. Untuk apa? “Beritahu aku kalau sudah sampai lobi hotel. Nanti kuberitahu nomor kamarnya.” Udara mendadak dingin sebab panggilan terputus menyisakan keheningan di kamar Tavira. Dia mematung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Darian memintanya datang ke hotel. Untuk apa? Bukankah nanti malam mereka akan bertemu. Kenapa harus sekarang. Kenapa pula harus di hotel. Tavira tidak mendapatkan jawaban hanya dengan berdiam diri. Dia lepaskan gaun juga hiasan jepit di kepala yang akan dikenakan nanti malam. Tidak ingin Darian tahu bagaimana luar biasanya gaun itu setelah dia merias diri nanti. Bergantilah Tavira menggunakan pakaian yang biasa ia kenakan sehari-hari. Blouse longgar dan celana jeans. Entah apa yang diinginkan Darian memanggilnya sebelum pertemuan nanti malam. Hanya saja Tavira tergoda curi start untuk melihat sang pujaan hati. Mungkin ini kesempatannya melihat Darian dari dekat sebelum malam nanti direcoki para orang tua. Pada akhirnya Tavira bertolak ke hotel setelah mengatakan akan keluar sebentar pada Mama. Menggunakan taksi online Tavira hanya butuh dua puluh menit ke depan hotel bintang lima yang biasa didatangi artis ataupun kalangan elit. Tavira jalan pelan ke lobi sesuai perintah Darian. Kemudian mengirimkan pesan bahwa ia sudah sampai di sana. Tak lama, muncul seorang resepsionis yang menyebutkan nama Tavira dengan fasih. “Nona Tavira?” pertanyaannya mendapat anggukan kepala dari Tavira. “Saya akan antarkan Anda ke ruangan Pak Darian.” Tavira mengikuti karena tak punya banyak pilihan. Mereka naik lift menuju lantai 39. Tavira mulai waswas. Apakah yang dilakukannya ini benar. Intuisinya berkata ada hal yang tidak menyenangkan. Terutama ketika lift berhenti di lantai 39. Begitu lift terbuka, dunia seakan berubah. Marmer putih, aroma kopi mahal dan ruangan yang hening seperti kuburan eksekutif. Tavira menggenggam erat ujung bajunya saat resepsionis membimbingnya masuk ke ruangan kamar suite. Dan di sanalah dia. Darian Alastra Haryodipura. BERSAMBUNGMatahari sore merambat masuk lewat jendela besar rumah Darian dan Tavira, menciptakan garis-garis keemasan di lantai marmer yang menghangatkan ruangan.Dari balik sofa, suara lembut bayi terdengar. Bukan tangisan, melainkan gumaman kecil yang seolah menciptakan melodi baru dalam rumah yang sebelumnya sunyi.Darian duduk di kursi goyang, menggendong bayi mereka di dadanya. Bayi itu tertidur pulas, kedua tangannya yang mungil menggenggam kuat jari ayahnya. Napasnya kecil-kecil, teratur, damai.Darian tidak pernah merasa hidupnya setenang ini.Ia membungkuk, mengecup ubun-ubun bayinya.“Astra,” bisiknya lembut. “Pangeran kecil Papa.”Ya, setelah melalui perdebatan panjang, atau lebih tepatnya, Tavira menangis haru ketika mendengar nama itu. Mereka menamai putra mereka Astra Darrel Haryodipura.Astra, berarti cahaya bintang. Darrel, berasal dari nama Darian. Haryodipura, berasal dari keluarga besar Darian.Nama itu seolah merangkum
Suasana ruang rapat lantai dua puluh hari itu penuh suara kertas dibalik, denting gelas kopi, dan diskusi serius tentang ekspansi cabang baru.Darian duduk di ujung meja panjang, wajahnya setajam biasa, tatapannya fokus pada data proyeksi yang ditampilkan di layar. Tangannya menekan pena, sesekali mencatat poin penting, sementara peserta rapat menunggu keputusan finalnya.Namun baru lima menit setelah manajer pemasaran selesai mempresentasikan bab terakhir, pintu ruang rapat diketuk pelan.Eshan, yang seharusnya berada di luar menangani agenda lain, masuk dengan raut wajah pucat.“Pak,” bisik Eshan sambil membungkuk mendekati telinga Darian. “Tavira… dia sudah dibawa ke rumah sakit karena kontraksi. Dokter bilang sepertinya dia akan lahiran hari ini.”Darian langsung membeku.Pena di tangannya terlepas begitu saja, jatuh berputar di atas meja. Semua orang di ruangan menoleh, bingung.Darian berdiri, kursinya sampai bergeser keras ke b
Restoran kecil itu dipenuhi cahaya kuning temaram yang memantul di permukaan meja kayu. Di sudut ruangan, Tavira dan Darian duduk berhadapan, menikmati makan malam pertama mereka di luar rumah setelah dokter menyatakan kehamilan Tavira memasuki trimester terakhir.Perut Tavira sudah membuncit manis, membuatnya harus duduk sedikit lebih tegak karena mudah merasa sesak jika terlalu membungkuk.Darian memastikan kursi Tavira nyaman, memesan sup yang tidak terlalu asin, bahkan menyingkirkan lilin aromaterapi karena ia khawatir bau tajamnya membuat Tavira mual.Ia memang berubah sejak Tavira hamil. Lebih perhatian, lebih berhati-hati, seakan satu gerakan kecil salah saja bisa membuat istrinya tidak nyaman.“Makan pelan-pelan,” ujar Darian, menatap Tavira dengan campuran geli dan sayang ketika melihat istrinya menikmati hidangan dengan mata berbinar.“Aku lapar,” jawab Tavira sambil tertawa kecil. “Katanya normal kalau trimester tiga begini.”“Tet
Tiga hari setelah kondisi Darian benar-benar stabil, dokter akhirnya mengizinkannya pulang.Tavira hampir tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengar kabar itu. Setelah semua bulan yang mereka lewati. Trauma, penculikan, kecelakaan. Mimpi bisa membawa Darian pulang terasa seperti hadiah besar dari Tuhan.Pagi itu, Tavira sibuk menyiapkan rumah. Ia menyusun ulang bantal-bantal di kamar utama, memastikan suhu AC tidak terlalu dingin, memilih piyama lembut untuk Darian, sampai mengecek pantry apakah ada teh herbal favorit Darian.Semua itu ia lakukan sambil menahan mual yang masih sering datang. Tubuhnya mudah lemas tapi wajahnya memancarkan sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya. Cahaya kecil seorang calon ibu yang baru menemukan harapan.Bunda Darian datang pagi-pagi sekali, seperti sudah tahu Tavira tidak boleh terlalu banyak kerja. Bunda membawa sekantung besar buah, roti hangat, serta sup ayam yang aromanya menyebar ke seluruh dapur.“Tavi
Hari–hari setelah Darian sadar berjalan penuh lalu-lalang. Kamar VIP itu tak pernah benar-benar sepi. Para direktur, rekan bisnis, sahabat lama, bahkan beberapa keluarga jauh datang bergantian. Semuanya menanyakan keadaan Darian, memberikan bunga, buah, dan ucapan syukur.Tavira selalu berada di sisi ranjang, menerima mereka dengan senyum ramah meskipun tubuhnya kelelahan dan mualnya sering kambuh.Darian, meski belum bisa bicara banyak, selalu menggenggam tangan Tavira seakan ia ingin mengingatkan semua orang bahwa istrinya adalah jangkar hidupnya.Suatu sore yang tenang, setelah kunjungan terakhir dari kolega kantor selesai. Tavira berdiri di samping jendela sambil merapikan rangkaian bunga yang mulai memenuhi ruangan.Eshan baru saja pergi untuk makan sebentar. Leisa ke apotek rumah sakit. Darian tertidur, lega dan damai.Pintu kamar diketuk.Tavira menoleh, tersenyum kecil. “Silakan masuk.”Pintu terbuka pelan. Dan seseorang yang
Udara pagi di ruang VIP rumah sakit masih mengandung aroma steril yang menusuk. Namun bagi Tavira, semuanya terasa berbeda hari itu. Lebih hangat, lebih berwarna, seolah dunia tiba-tiba mengembalikan denyutnya.Darian sudah bangun. Ia masih lemah, masih terbaring dengan infus menempel dan napas yang sesekali tersengal kecil, tetapi suaminya hidup. Mata itu terbuka. Menatapnya. Memanggil namanya.Sejak pelukan panjang dan isakan kegembiraan mereka, Tavira duduk hampir tanpa bergerak di kursi samping ranjang. Jemarinya masih menggenggam tangan Darian, seakan ia takut melepaskan akan membuat semua ini terbukti sekadar mimpi.Darian sesekali memejam, lelah karena tubuhnya baru melewati badai panjang. Tapi setiap kali ia membuka mata, hal pertama yang dicari adalah wajah Tavira.“Duduk saja, Sayang. Kamu pasti capek,” Darian berbisik pelan, suaranya serak, nyaris tak terdengar.Tavira menggeleng keras. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana,” katanya deng







