Home / Romansa / Saudara Angkatku, Rivalku / Aku Cemburu, Apa Itu Salah?

Share

Aku Cemburu, Apa Itu Salah?

Author: DAUN MUDA
last update Last Updated: 2025-09-29 17:46:23

Kala itu .....

Di sebuah sore yang mendung, Elira menatap ayahnya, Tuan Hananta. Di sebelah kiri tubuhnya ada tas besar yang sedikit usang dan sedikit berdebu berisi semua pakaiannya.

Elira menerima undangan keluarga Hananta untuk kembali ke rumah ini. Rumah keluarga kandungnya yang mewah, setelah belasan tahun hidup di luar. Diasuh oleh keluarga yang seharusnya menjadi keluarga Isyana.

Setelah Elira kembali ke rumah keluarga Hananta, dia pikir Isyana akan kembali ke keluarganya. Rupanya, saudara angkatnya itu tetap tinggal di rumah mewah keluarga Hananta. Dan menikmati semua fasilitas yang ada.

Semua itu tidak masalah bagi Elira. Karena harapannya cukup sederhana, bahwa ia ingin mengenal ayah dan ibunya serta merasakan kasih sayang dari orang tua kandung.

Namun, seiring berjalannya waktu, kasih sayang itu tidak sepenuhnya tercurah untuk Elira. Karena kenyataannya, Isyana masih menjadi putri kecil yang amat mereka sayangi.

“Pa, apa aku boleh tanya?”

“Apa?!” Tanya papanya balik dengan sorot tidak ramah.

“Kenapa kasih sayang yang kalian berikan ke aku dan Isyana itu beda?”

“Itu cuma perasaanmu.”

“Aku akan berusaha menjadi anak yang kalian inginkan. Apapun yang kalian inginkan akan aku lakuin. Tapi jangan beda-bedakan sayang kalian ke aku.”

Hingga pada suatu malam, Elira dipanggil ke ruang kerja ayahnya.

"Elira, apa kamu mau diterima? Ingin merasakan keluarga?"

Mata Elira berbinar, mengira akhirnya ia akan mendapatkan ikatan batin itu. Namun, ayahnya kemudian melanjutkan, nadanya kembali ke mode bisnis yang dingin.

"Sahabat lama ayah, Tuan Sagala, melamar untuk putranya, Zayed. Niat kami adalah untuk menyatukan dua bisnis. Awalnya, dia melamar untuk Isyana," Tuan Hananta menggelengkan kepala. "Tapi Isyana bilang nggak mau. Ayah nggak mau maksa Isyana. Dia bilang Zayed terlalu tua dan nggak menarik."

Tuan Hananta begitu tidak bisa memaksa pada putri angkatnya. Namun lebih tega kepada Elira.

“Ayah nggak bisa nolak lamaran ini, El. Ini bukan hanya bisnis, ini soal kehormatan dan janji pertemanan. Ini adalah kesempatan emas untuk keluarga kita."

Tuan Hananta mencondongkan tubuh ke depan, nadanya kini persuasif, hampir memohon. "Papa dan Mama akan menyayangi kamu sepenuhnya. Dengan syarat kamu harus gantiin Isyana."

Elira terkejut. "Menggantikan?”

Tapi di dalam hati, Elira merasa tidak lebih dari kain lap yang jarang dilirik namun selalu dibutuhkan. Hatinya menangis pilu namun Elira selalu menunjukkan senyum demi kebahagiaan kedua orang tua kandungnya.

Lalu ayahnya kembali bertanya, “Apa kamu udah punya pacar?”

Kepala Elira buru-buru menggeleng.

“Zayed itu laki-laki baik, berpendidikan, cerdas, dan bisa ngasih status yang pantas untuk Putri Hananta, yaitu …. kamu. Kamu akan dipandang tinggi dan berkelas. Siapa yang nggak suka?"

Tuan Hananta menatap Elira intens, menawarkan kesepakatan yang terasa seperti menjual jiwa.

"Dengar janji Papa, El. Terima pinangan Zayed. Lakukan ini untuk Papa, demi bisnis keluarga kita. Kalau kamu bersedia, Papa bersumpah." Tuan Hananta menekankan setiap kata.

"Papa akan ngasih kamu semua hal yang selama ini kamu dambakan. Bukan cuma uang untuk sekolah desain di Paris, tapi kasih sayang utuh sebagai anak kandung yang kamu inginkan. Kamu akan jadi kebanggaan Papa dan Mama, Elira. Akan Papa kasih semua perhatian, waktu, dan pengakuan kalau kamu adalah Putri Hananta yang sejati. Semua hal yang nggak pernah kamu dapatkan akan jadi milikmu. Kamu akan dapatin kembali keluarga ini, utuh."

Air mata Elira menetes. Itu adalah harga yang tidak main-main dengan ia dipaksa menikah dengan lelaki yang tidak pernah ia cintai sebelumnya.

Namun hatinya berbisik jika ia bisa mencintai Respati, bukankah ia juga bisa mencintai Zayed dengan pendekatan bertahap dan pelan-pelan? Sekaligus kesempatan dirinya untuk melupakan cintanya pada Respati.

Semua ini, Elira lakukan demi mendapatkan hati keluarga besarnya. Kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga Hananta, untuk diakui dan dicintai, terlalu besar untuk ditolak, apalagi setelah bertahun-tahun merindukannya.

Elira menarik napas gemetar. "Aku ... aku akan melakukannya, Pa. Aku akan menikah sama Zayed. Kayak yang Papa mau.”

Pada saat itu, Elira menandatangani kontrak emosional. Ia tidak hanya meninggalkan Respati, tetapi ia menjual satu-satunya cinta tulus yang ia miliki demi mendapatkan cinta dan pengakuan dari keluarga kandungnya, yang ternyata berharga sangat mahal.

Dan kini, semua berubah.

Zayed melukai hatinya dan rasanya sudah tidak tahan lagi ingin pergi dari rumah ini.

Elira mengunci pintu kamarnya. Punggungnya bersandar pada dinding yang dingin.

Kata-kata Zayed tentang 'klinik jiwa' dan tatapan ibunya masih terngiang, tetapi yang paling menyakitkan adalah gambaran ciuman Zayed pada Isyana. Ciuman yang tidak pernah ia dapatkan, diberikan di depannya, dengan dalih yang menjijikkan.

Dan lebih tega lagi, tidak ada yang simpati padanya. Ibunya tidak melipur dukanya. Juga tidak memenuhi janjinya untuk menyayanginya dengan tulus seperti janji malam itu.

Dia merasa tidak lebih dari boneka yang diperalat. Padahal, Elira adalah putri kandungnya.

Air mata membasahi wajah Elira. Ia tidak tahan lagi. Ia merasa ditipu, dihina, dan benar-benar sendirian. Satu-satunya orang yang mungkin mengerti betapa palsunya kehidupan yang ia pilih adalah Respati.

Dengan tangan yang gemetar, ia meraih ponsel dan menghubungi Respati.

“Res, aku butuh bicara. Tolong jawab ...” gumamnya dengan telfon menempel di telinga.

Di sebuah kedai kopi langganannya, Respati menghela nafas saat melihat panggilan dari nomer Elira yang sengaja tidak diberi nama. Ia hanya tidak mau menyimpan apapun tentang Elira selain kebencin dan balas dendam.

Belakangan ini, Respati sudah terbiasa dengan pesan-pesan Elira yang berisi keluhan singkat. Tetapi kali ini Elira menelfon.

Setelah mempertimbangkannya beberapa detik, Respati mengangkatnya.

"Apa?" tanyanya dingin, mengangkat panggilan itu.

"Res ... ini aku. Elira." Suara Elira bergetar dengan isakan yang teredam.

"Aku tahu. Kenapa nelfon? Ada masalah sama dekorasi pelaminan megahmu?" Respati melontarkan sindiran yang dimaksudkan untuk menyakiti. Sikap acuhnya adalah benteng yang ia bangun dari rasa sakit tiga tahun lalu.

Terdengar isakan keras dari seberang telepon.

"Zayed ... dia benar-benar keterlaluan, Res," Elira terisak, suaranya pecah. "Dia mencium Isyana di depanku pakai alasan nggak masuk akal. Aku … kayak orang bodoh. Aku nggak tahan lagi. Aku tahu aku salah sudah pergi darimu, tapi aku nggak tahu harus bersandar sama siapa lagi, Res. Hatiku hancur, Res. Aku cuma pengen lupain semuanya."

Respati terdiam. Sindirannya tiba-tiba terasa tumpul dan ada penyesalan. Karena ia bisa merasakan kehancuran total dalam suara Elira.

Ini bukan lagi soal gaun pengantin atau event organizer, tapi ini adalah trauma emosional.

"Dia malah nuduh aku cemburu buta dan butuh bantuan klinik jiwa. Dia pikir aku punya gangguan jiwa. Semua orang membela dia. Aku sendirian, Res. Papa dan Mama nggak pernah ada dipihakku. Aku cuma diperalat."

Respati menghela nafas karena tidak tega. Lalu berkata …

DAUN MUDA

:-0

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saudara Angkatku, Rivalku   Alasan Untuk Kembali

    Tiga tahun telah berlalu sejak Elira pergi. Respati, kini menjadi CEO Kanagara Group yang baru, memimpin perusahaan properti dan jaringan hotel mewah Ayahnya.Ia telah memindahkan seluruh kantornya kembali ke Jakarta, fokus mengelola aset besar yang tersebar di berbagai kota.Respati tidak pernah mendekati perempuan lain.Ia bekerja tanpa henti, membiarkan liontin cincin Elira tersembunyi di balik dasinya, menjadi satu-satunya ikatan yang tersisa dari pernikahan mereka.Ia telah mengutus Dion untuk secara diam-diam mencari tahu tentang perkembangan karir Elira, ingin memastikan bahwa Elira baik-baik saja dan aman, tetapi ia tidak pernah mencoba menghubunginya.Hatinya dipenuhi harapan yang mustahil bahwa suatu hari nanti, takdir akan membawa Elira kembali kepadanya.Pada awal tahun keempat, salah satu hotel termewah milik Kanagara Group di Jakarta Pusat terpilih menjadi venue utama untuk acara tahunan Grand Wedding Showcase—peragaan busana pengantin paling bergengsi.Respati secara pri

  • Saudara Angkatku, Rivalku   Cinta Yang Terlambat

    “Halo, Res. Kamu jadi pulang cepat?” tanya Ibunya.Berusaha keras tidak terdengar panik.“Aku lagi ngejar deadline, Bu. Kenapa? Apa Elira di rumah?”“Dia di rumah. Lagi sibuk sama benang-benangnya. Oh ya, Ibu pengen sesuatu, Res.”“Pengen apa, Bu?” Respati mendesah, jelas merasa terganggu tetapi tidak bisa menolak permintaan Ibunya.“Ibu pengen Martabak Pak Kumis yang di Jalan Bima itu, lho. Yang paling terkenal di Jogja, yang antreannya panjangnya setengah kilometer.”Respati terdiam.Ia tahu betul lokasi yang dimaksud Ibunya. Itu adalah salah satu martabak paling legendaris dan lokasinya cukup jauh dari rumah mereka, membutuhkan waktu minimal 45 menit perjalanan pergi dan pulang di jam sibuk ini.“Bu, itu jauh banget! Yang lain aja lah,” protes Respati.“Ibu maunya yang itu. Kalau kamu sayang Ibu, tolong belikan.” Ibunya menggunakan senjata pamungkas.Rasa bersalah.Respati menghela napas kasar. Tetapi permintaan Ibunya, meskipun aneh, tidak bisa ditolaknya. Lagipula, ia yakin Elira

  • Saudara Angkatku, Rivalku   Penjara Dingin

    Pagi menjelang, cahaya samar-samar mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Respati.Keheningan yang dingin tidak lagi ada.Respati memeluk Elira erat. Ia merasa lega dan cemas pada saat yang bersamaan. Ia telah melakukan tindakan yang sangat egois, tetapi ia merasa utuh kembali, seolah ia telah menemukan harta yang ia buang sendiri.Elira terbangun lebih dulu. Ia merasakan lengan Respati melingkari pinggangnya dengan kuat, seolah takut Elira akan menghilang jika pelukannya mengendur sedikit saja. Tubuh mereka bertautan, sisa-sisa keintiman malam itu masih terasa.Elira mencoba bergerak, berniat melepaskan diri dan kembali ke kamarnya.Seketika, pelukan Respati mengerat.“Jangan bergerak,” bisik Respati, suaranya dalam dan serak khas bangun tidur.“Aku harus kembali ke kamarku,” jawab Elira pelan, nadanya datar dan tanpa emosi.Ia tidak mau mengakui keintiman ini.“Nggak,” Respati menekan kata itu. Ia membuka matanya, menatap Elira dengan tatapan posesif yang dingin. “Kamu ngg

  • Saudara Angkatku, Rivalku   Kamu Milikku!!!

    Pukul dua dini hari. Keheningan total menyelimuti rumah itu.Respati terbangun dengan rasa haus yang luar biasa. Ia menyalakan lampu kecil di kamarnya. Pikirannya masih dipenuhi kata-kata Ibunya dan tatapan tenang Elira di Malioboro. Ia memutuskan untuk mandi agar pikirannya jernih.Respati keluar dari kamarnya, hanya mengenakan celana pendek. Langkah kakinya pelan menuju kamar mandi.Tepat pada saat yang sama, pintu kamar Elira terbuka pelan. Elira keluar. Ia juga haus. Di bawah cahaya remang-remang, terlihat jelas mata Elira sedikit sembab, bekas sisa tangis yang ia tahan setelah kembali dari Malioboro.Ia bergerak perlahan menuju dapur, tidak menyadari Respati ada di lorong.Kemudian mereka berpapasan tepat di depan kamar Respati.Elira tersentak kaget. Ia melihat Respati yang berdiri di sana, bertelanjang dada.Elira dengan cepat mengendalikan diri, wajahnya kembali datar, dan ia berusaha untuk melewatinya begitu saja, tidak peduli dengan kehadiran suaminya.“Permisi,” gumam Elira

  • Saudara Angkatku, Rivalku   Suami Tidak Tahu Diri

    Elira mempertahankan senyum tenangnya, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya, namun cukup untuk membuat Respati dan Risa merasa canggung.Ia mengabaikan tatapan panik Respati dan menoleh ke arah Risa.“Halo, Risa. Ternyata kita bertemu lagi, ya,” sapa Elira ramah, seolah mereka hanyalah dua orang kenalan biasa. “Senang melihat kalian berdua menikmati festival ini. Kalian tampak … sangat cocok sebagai rekan kerja.”Risa terlihat sangat tidak nyaman.“Eh, iya. Kami hanya … hanya research kostum untuk event mendatang, kok.”Respati, yang masih tergagap dan bingung harus berkata apa setelah berbohong kepada Ibunya, hanya bisa diam menatap Elira. Tatapan Elira begitu tenang, begitu tidak menuduh, sehingga justru membuat Respati semakin merasa bersalah.Elira kembali menatap Respati.“Festivalnya pasti akan berlanjut sampai malam. Silakan kalian berdua lanjutkan melihat peragaan busana atau bunga-bunga ini. Tadi Ibuku bilang dia kelelahan. Aku harus segera mengantarnya pulang.”Elir

  • Saudara Angkatku, Rivalku   Kalian Terlihat Akrab

    “El, kamu menang,” seru mertuanya nyaris berteriak. “Kamu juara pertama! Juara Pertama Kontes Desain Pakaian Daerah!”Elira membeku sejenak. Kemudian, rasa gembira yang luar biasa meluap. Ia bangkit dan memeluk mertuanya erat-erat, air mata kebahagiaan akhirnya tumpah setelah sekian lama ia hanya menangis dalam diam.“Aku menang, Bu! Aku berhasil!” Elira tertawa dan menangis bersamaan. Ia merasa diakui, bukan sebagai istri pelarian, tetapi sebagai seorang desainer berbakat.“Ibu tahu kamu berbakat, El!”Kemenangan ini adalah penawar untuk semua rasa sakit dan pengabaian yang ia rasakan. Elira merasa bahwa kini ia benar-benar siap untuk menghadapi perpisahan dengan Respati, karena ia punya masa depan yang bisa ia genggam dengan tangannya sendiri.Namun, di tengah luapan kebahagiaan itu, ia teringat satu hal.Respati.“Bu, Respati nggak boleh tahu aku melanggar aturannya,” kata Elira, kembali pada kewaspadaan.Mertuanya mengangguk cepat.“Jangan khawatir, El. Kita akan atur semuanya. Sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status