Share

04

Author: silent-arl
last update Last Updated: 2025-12-15 22:04:29

Ternyata menjadi mantan pacar yang dicampakkan karena payah adalah hal paling menyedihkan yang bisa Lana alami. Ethan, sudah mencoba mendekati gadis lain di depan Lana.

Padahal gadis itu baru saja datang untuk bekerja. Lalu disuguhkan pemandangan itu.

Lana melewati Ethan, masuk ke dalam ruang ganti baju dan membuka lokernya. Terdengar suara wanita yang baru datang, mereka berdua tertawa lalu melirik Lana dengan sinis.

“Lana, apa benar kau diputuskan oleh dokter Ethan?” tanya wanita itu, yang ternyata sesama perawat juga.

Semua orang sudah tahu kalau Lana dan Ethan menjalin hubungan, tapi seharusnya mereka tidak perlu tahu soal putusnya hubungan itu.

“Begitu. Sepertinya.” jawab Lana seadanya.

Si wanita berambut pirang mendekati Lana, dan mengusa pundak gadis itu. “Jangan memohon padanya, kasihan sekali dokter Ethan. Aku tahu dia begitu mempesona, tapi tetap saja…” dia melihat Lana seperti wanita murahan yang perlu disingkirkan. “Kau tidak semenyedihkan itu, kan?”

Jadi ini kesialan Lana selanjutnya. Gadis itu tersenyum lalu melirik wanita disampingnya. “Sepertinya kau yang akan memohon padanya. Hentikan omong kosong itu sebelum aku…” Lana diam ketika Ethan mengetuk pintu kamar ganti wanita.

Dua gadis itu terdiam, memainkan ujung rambutnya sembari tersenyum pada Ethan yang berdiri di depan pintu.

Sumpah, kadang Lana mempertanyakan alasannya dia berpacaran dengan Ethan dulu.

“Bisa bicara sebentar, Lana?” Nada suara Ethan jelas dibuat-buat agar terdengar tersiksa.

Lana merapatkan bibirnya, ia menatap dua gadis yang tampak iba pada kondisi Ethan. “Bicara disini saja, dokter Ethan.”

Lana menutup lokler dan mengambil kunci miliknya. Dia memasukan tangannya ke saku seragam perawat berwarna biru.

Seperti prediksinya, Ethan tidak berani bicara sembarang ketika ada yang mengawasi mereka. Reputasinya sebagai dokter ramah tidak akan dia hancurkan dalam sehari.

Ethan meringis, menunjukan gigi rapi yang putih secara tidak wajar itu. “Aku janji ini urusan pekerjaan.”

Mau tak mau, Lana mengikuti Ethan.

***

Di bawah tangga dekat taman yang biasa menjadi tempat mereka saling bertemu ketika pacaran dulu. Ethan mengusap wajahnya dengan kasar.

“Aku ingin menawarkan sesuatu padamu, Lana. Ayahku akan datang besok lusa, dia mencarimu. Tentu saja.” Ethan menelengkan kepalanya, Ayah Ethan sangat terikat pada Lana.

Lana menepuk pundak Ethan yang penuh ketegangan. “Mantanmu yang payah ini terpaksa menolak semua tawaranmu, Ethan. Aku harap ini adalah perbincangan terakhir kita.”

Lana menghirup udara kemudian menghembuskannya dari mulut. “Seharusnya kau tahu, tidak mungkin aku sudi bicara padamu lagi. Sayangnya…” gadis itu terkekeh, menunduk melihat lantai yang basah karena tadi sempat hujan. Ia tidak melanjutkan ucapannya, Lana memilih untuk pergi meninggalkan Ethan yang entah mengapa kini menjadi orang pertama yang ia benci.

Lana kembali ke ruangan perawat, ia langsung mendapat panggilan. Baru saja terjadi kecelakaan dan IGD butuh banyak bantuan. Lana berlari kencang, dia tiba pertama dan sigap membantu pasien.

Lana mendorong brankar bersama satu pria yang memakai seragam pemadam kebakaran. Pria itu tampak panik dan linglung.

Jasper?

Dokter segera membantu pasien, Lana segera melepas seragam pria yang terbaring di brankar. Astaga, ini pasti temannya. Pikiran Lana langsung menjelajah ke Jasper yang tadi begitu kalut.

“Lana, pasang infusnya dan bersihkan lukanya.” dokter segera memberikan intruksi pada Lana, sebelum tiga orang ikut bergabung, salah satunya Ethan.

Ethan memasang stetoskopnya, menaruh ujung benda bulat itu ke dada pasien. “Apa yang terjadi?”

Rekan dokternya menjawab. “Dia terjatuh ketika menolong pengendara yang kecelakaan, seperti yang kita lihat, dada dan perutnya terbentur.”

Ethan mengangguk lalu mengulurkan tangannya pada Lana. “Ambilkan mesin USG.”

Lana segera memutar tubuhnya, mendorong alat itu tepat disebelah Ethan. Kelegaan memenuhi ruangan ketika Ethan menaruh transduser ke tempatnya. “Sepertinya hanya memar, kita bisa pindahkan dia ke ruangan.”

“Tidak perlu dibawa ke rumah sakit?” pertanyaan itu Lana lontarkan tanpa berpikir panjang.

Ethan menggeleng, melempar sarung tangannya. “Pasien selanjutnya.” ucapan itu ia tujukan pada semua koleganya kecuali Lana yang harus mengurus pasien ini.

Setelah Ethan menjelaskan pada Jasper barulah Lana mendekat.

“Hai, Mr. Attman akan aku pindahkan ke ruangan. Kau bisa ikut kalau mau.” Lana mengecek papan identitas pasien.

Terdengar geraman pelan dari Jasper, seketika ia mengendurkan bahunya dan… keningnya bersandar pada bahu Lana.

Lana mematung, ia kerap mendapatkan pelukan dari keluarga pasien, tapi tidak dengan hal yang seperti ini.

Jantung Jasper bisa terdengar jelas oleh Lana, gadis itu mengangkat tangan, mengusap lengan Jasper yang bergetar.

“Apa kau terluka?” tanya Lana khawatir.

Dari bahu Lana, ia bisa merasakan Jasper menggeleng.

“Kalau begitu, aku harus membawa rekanmu ke ruangan sekarang. Biar aku membersihkannya.”

“Kau membersihkan siapa?” suara Jasper yang berat terasa menusuk telinga Lana.

“Mr. Attman. Rekanmu.”

“Kenapa harus kau?”

Alis Lana berkedut, ia tidak mengerti kenapa pria ini begitu berang. “Karena itu salah satu tugas perawat.”

Akhirnya Jasper mengangkat keningnya, mata mereka bertemu, mata abu-abu terang milik Jasper kini tampak makin dekat. Mereka tidak menghiraukan bagaimana ributnya UGD kala itu. Jasper menarik tangan Lana, menutup diri mereka disamping tirai dalam bilik rekannya tadi.

“Biar aku yang bersihkan. Aku akan ikut ke kamar.”

“Ba-baiklah…” pikiran Lana sudah terlalu jauh, ia pikir, dia akan mendapat ciuman.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Say You Remember Me   Season 2 (53)

    Secara teknis, Lana dan Jasper tidak bekerja alias pengangguran. Tapi seolah kesibukan tidak ada habisnya.Jasper memilih dermaga. Bau asin laut dan suara kayu perahu yang berderit jauh lebih mudah ia hadapi daripada kemungkinan bertemu Noah atau Sarah. Ia membantu nelayan menarik jaring, memindahkan kotak ikan, membiarkan lengannya sibuk agar pikirannya tidak terlalu terpaku.Sementara itu, Lana berdiri di belakang meja kayu kecil di dalam barnya, menyusun beberapa botol bir ke dalam pendingin besar berisi es. Tangannya bergerak otomatis, ambil, celupkan, susun rapi.Ia tahu ada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya bahkan sebelum ia benar-benar mengangkat kepala.Pria itu adalah Noah.Pria itu berdiri bebera

  • Say You Remember Me   Season 2 (52)

    Lana mengerucurkan bibir ketika Jasper melepas pelukannya. “Kau berhenti menciumku?” pertanyaan itu terdengar menggelikan bahkan untuk Lana sendiri.Jasper diam sejenak, menimbang-nimbang. “Kau ingin bercinta setelah menikah, Lana.”“Sialan mulutku.” Lana memukul mulutnya sendiri.Jasper menahan tawa melihat hal itu. “Jangan pukul dirimu,” ucap Jasper, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.“Karena aku membuat aturan bodoh,” gerutu Lana, wajahnya memerah. “Sekarang aku yang tersiksa.”Jasper menggerutkan keningnya dalam, sampai beberapa garis tampak dikeningnya. “Aku tidak suka melanggar aturan, Lana.”

  • Say You Remember Me   Season 2 (51)

    Jasper tidak terlalu peduli dengan drama antara Noah dan Sarah.Bagi Jasper, itu masalah dua orang dewasa yang membuat keputusan buruk lalu menanggung akibatnya sendiri.Yang ia pikirkan adalah Lana yang akan terus cemas ketika salah satu orang yang ia pedulikan mengalami kesusahan. Cara gadis itu merasa terus bertanggung jawab atas kebahagian orang lain.Entah mengapa hal itu lama-lama mengganggunya. Ia yakin Lana akan memikirkan masalah Sarah sepanjang hari. Lebih buruk lagi, Lana akan menyalahkan dirinya kalau masalah Sarah akan berakhir buruk.Dan ketenangan Lana adalah satu-satunya hal yang Jasper ingin jaga mati-matian.Ia memutuskan untuk membuatkan sarapan untuk gadis itu, jarang memang ia menyentuh dapur. Tapi,

  • Say You Remember Me   Season 2 (50)

    Pagi itu seperti biasa, Port Townsend diselimuti kabut tebal.Sarah mengendap-endap datang ke penginapan, ada hal yang harus ia selesaikan. Gadis itu tanpa sadar berhenti di depan kamar Noah. Kamar keramat yang seharusnya ia hindari.Bodoh.Belum sempat ia berbalik, pintu kamar Noah terbuka.Noah keluar dengan kaus gelap dan jaket tipis, rambutnya masih sedikit basah. Ia berhenti ketika melihat Sarah berdiri membeku beberapa meter darinya.Tatapan mereka bertemu, penuh kecanggungan, tanpa sapaan yang biasa mereka lontarkan sebagai bentuk basa-basi.“Ba-bagaimana wajahmu?”Noah mengedikan bahu singkat. “Bukan

  • Say You Remember Me   Season 2 (49)

    Sarah hanya terdiam, kepalanya tertunduk dengan tangisan yang terus menerus mengalir. Lana tahu ada yang Sarah sembunyikan.“Jasper, lepaskan Noah.” pinta Lana, suaranya tenang namun begitu tegas.Jasper yang tadi masih mencengkram kuat kerah baju Noah kini patuh. Ia melepaskan pria itu hingga terhuyung kebelang.“Bisa kita bicara berdua, Sarah?”Sarah mengangguk, namun kepalanya masih tertunduk.***Mereka berdua berjalan disepanjang dermaga.Lana memeluk tubuhnya dan menatap lautan yang dingin dan gelap.“Kau tahu, Daniel dan kau sudah seperti keluargaku.” suara Lana pecah kar

  • Say You Remember Me   Season 2 (48)

    Hari kepulangan Lana…Ekspresi geli menari-nari diwajah Lana ketika Jasper tak membiarkannya membereskan barang sama sekali. Bahkan para perawat lain memandangnya penuh heran.Lana menutup mulutnya waktu Jasper menggeser tubuhnya dengan mudah.Anehkah kalau gadis itu merasa tersipu hanya karena perhatian Jasper? Ada semacam perasaan senang yang tidak bisa ia jelaskan.“Sudah semua, kita hanya tinggal menunggu Noah.” Jasper bersandar di lemari sembari mengamati seisi kamar rumah sakit.“Kupikir Noah sudah kembali California?”Sesaat mereka hanya terdiam bersama, ada sesuatu yang Jasper tutupi selama dua hari Lana dirawat di ruamh sakit. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status