MasukTernyata menjadi mantan pacar yang dicampakkan karena payah adalah hal paling menyedihkan yang bisa Lana alami. Ethan, sudah mencoba mendekati gadis lain di depan Lana.
Padahal gadis itu baru saja datang untuk bekerja. Lalu disuguhkan pemandangan itu. Lana melewati Ethan, masuk ke dalam ruang ganti baju dan membuka lokernya. Terdengar suara wanita yang baru datang, mereka berdua tertawa lalu melirik Lana dengan sinis. “Lana, apa benar kau diputuskan oleh dokter Ethan?” tanya wanita itu, yang ternyata sesama perawat juga. Semua orang sudah tahu kalau Lana dan Ethan menjalin hubungan, tapi seharusnya mereka tidak perlu tahu soal putusnya hubungan itu. “Begitu. Sepertinya.” jawab Lana seadanya. Si wanita berambut pirang mendekati Lana, dan mengusa pundak gadis itu. “Jangan memohon padanya, kasihan sekali dokter Ethan. Aku tahu dia begitu mempesona, tapi tetap saja…” dia melihat Lana seperti wanita murahan yang perlu disingkirkan. “Kau tidak semenyedihkan itu, kan?” Jadi ini kesialan Lana selanjutnya. Gadis itu tersenyum lalu melirik wanita disampingnya. “Sepertinya kau yang akan memohon padanya. Hentikan omong kosong itu sebelum aku…” Lana diam ketika Ethan mengetuk pintu kamar ganti wanita. Dua gadis itu terdiam, memainkan ujung rambutnya sembari tersenyum pada Ethan yang berdiri di depan pintu. Sumpah, kadang Lana mempertanyakan alasannya dia berpacaran dengan Ethan dulu. “Bisa bicara sebentar, Lana?” Nada suara Ethan jelas dibuat-buat agar terdengar tersiksa. Lana merapatkan bibirnya, ia menatap dua gadis yang tampak iba pada kondisi Ethan. “Bicara disini saja, dokter Ethan.” Lana menutup lokler dan mengambil kunci miliknya. Dia memasukan tangannya ke saku seragam perawat berwarna biru. Seperti prediksinya, Ethan tidak berani bicara sembarang ketika ada yang mengawasi mereka. Reputasinya sebagai dokter ramah tidak akan dia hancurkan dalam sehari. Ethan meringis, menunjukan gigi rapi yang putih secara tidak wajar itu. “Aku janji ini urusan pekerjaan.” Mau tak mau, Lana mengikuti Ethan. *** Di bawah tangga dekat taman yang biasa menjadi tempat mereka saling bertemu ketika pacaran dulu. Ethan mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku ingin menawarkan sesuatu padamu, Lana. Ayahku akan datang besok lusa, dia mencarimu. Tentu saja.” Ethan menelengkan kepalanya, Ayah Ethan sangat terikat pada Lana. Lana menepuk pundak Ethan yang penuh ketegangan. “Mantanmu yang payah ini terpaksa menolak semua tawaranmu, Ethan. Aku harap ini adalah perbincangan terakhir kita.” Lana menghirup udara kemudian menghembuskannya dari mulut. “Seharusnya kau tahu, tidak mungkin aku sudi bicara padamu lagi. Sayangnya…” gadis itu terkekeh, menunduk melihat lantai yang basah karena tadi sempat hujan. Ia tidak melanjutkan ucapannya, Lana memilih untuk pergi meninggalkan Ethan yang entah mengapa kini menjadi orang pertama yang ia benci. Lana kembali ke ruangan perawat, ia langsung mendapat panggilan. Baru saja terjadi kecelakaan dan IGD butuh banyak bantuan. Lana berlari kencang, dia tiba pertama dan sigap membantu pasien. Lana mendorong brankar bersama satu pria yang memakai seragam pemadam kebakaran. Pria itu tampak panik dan linglung. Jasper? Dokter segera membantu pasien, Lana segera melepas seragam pria yang terbaring di brankar. Astaga, ini pasti temannya. Pikiran Lana langsung menjelajah ke Jasper yang tadi begitu kalut. “Lana, pasang infusnya dan bersihkan lukanya.” dokter segera memberikan intruksi pada Lana, sebelum tiga orang ikut bergabung, salah satunya Ethan. Ethan memasang stetoskopnya, menaruh ujung benda bulat itu ke dada pasien. “Apa yang terjadi?” Rekan dokternya menjawab. “Dia terjatuh ketika menolong pengendara yang kecelakaan, seperti yang kita lihat, dada dan perutnya terbentur.” Ethan mengangguk lalu mengulurkan tangannya pada Lana. “Ambilkan mesin USG.” Lana segera memutar tubuhnya, mendorong alat itu tepat disebelah Ethan. Kelegaan memenuhi ruangan ketika Ethan menaruh transduser ke tempatnya. “Sepertinya hanya memar, kita bisa pindahkan dia ke ruangan.” “Tidak perlu dibawa ke rumah sakit?” pertanyaan itu Lana lontarkan tanpa berpikir panjang. Ethan menggeleng, melempar sarung tangannya. “Pasien selanjutnya.” ucapan itu ia tujukan pada semua koleganya kecuali Lana yang harus mengurus pasien ini. Setelah Ethan menjelaskan pada Jasper barulah Lana mendekat. “Hai, Mr. Attman akan aku pindahkan ke ruangan. Kau bisa ikut kalau mau.” Lana mengecek papan identitas pasien. Terdengar geraman pelan dari Jasper, seketika ia mengendurkan bahunya dan… keningnya bersandar pada bahu Lana. Lana mematung, ia kerap mendapatkan pelukan dari keluarga pasien, tapi tidak dengan hal yang seperti ini. Jantung Jasper bisa terdengar jelas oleh Lana, gadis itu mengangkat tangan, mengusap lengan Jasper yang bergetar. “Apa kau terluka?” tanya Lana khawatir. Dari bahu Lana, ia bisa merasakan Jasper menggeleng. “Kalau begitu, aku harus membawa rekanmu ke ruangan sekarang. Biar aku membersihkannya.” “Kau membersihkan siapa?” suara Jasper yang berat terasa menusuk telinga Lana. “Mr. Attman. Rekanmu.” “Kenapa harus kau?” Alis Lana berkedut, ia tidak mengerti kenapa pria ini begitu berang. “Karena itu salah satu tugas perawat.” Akhirnya Jasper mengangkat keningnya, mata mereka bertemu, mata abu-abu terang milik Jasper kini tampak makin dekat. Mereka tidak menghiraukan bagaimana ributnya UGD kala itu. Jasper menarik tangan Lana, menutup diri mereka disamping tirai dalam bilik rekannya tadi. “Biar aku yang bersihkan. Aku akan ikut ke kamar.” “Ba-baiklah…” pikiran Lana sudah terlalu jauh, ia pikir, dia akan mendapat ciuman.Pengalaman mengajarkan segalanya, Jasper mengantar Lana untuk terakhir kalinya. Dia sudah mendapatkan tiket untuk ke Portland. Mata Jasper mengikuti langkah Lana yang masuk ke dalam klinik dengan wajah yang sembab.Rasanya tidak rela melepaskan gadis itu. Baru beberapa jam lalu Lana menangis di dalam pelukannya.Jasper mengusap wajahnya lalu mendesah kencang. “Sial, aku tidak ingin meninggalkannya.” gumamnya pada diri sendiri.Di tengah kegundahannya, Jasper tidak bisa mengabaikan betapa beratnya menanggung beban perasaan.Kerutan di wajahnya semakin dalam ketika ia melihat ponselnya, pangilan dari Lana.Lana menghela napas panjang. “Jasper… tolong…” ucapan itu langung membuat darah Jasper mendidih.“Dimana, Queen?” Jasper langsung melepas sabuk pengamannya, melompat keluar dari mobil pikap yang masih terparkir di depan klinik.Jasper berlari dan mendapati Lana tersungkur di lantai dengan ekspresi yang ketakutan. Tangan Jasper meraih wajah Lana, mencari sesuatu yang bisa membuatnya se
“Bisakah kita buat hubungan ini berjalan meski terpisah jarak, Lana?” Tanya Jasper. Jasper mengharapkan Lana mengangguk atau mengucapkan beberapa kalimat yang mendukungnya. Ia ingin bersama Lana. Lana mengedipkan matanya, berusaha menahan tangis. “Siapa yang bisa? Aku? Jelas tidak.” Jasper kini mendekat, ia berlutut di depan Lana sambil meremas jemari gadis itu yang begitu dingin. “Lana, percaya padaku. Sisanya biar aku yang urus.”“Jasper, bisakah kau berhenti berkata manis seolah kau benar-benar mencintaiku. J, hentikan sebelum aku percaya bahwa kita, memiliki sesuatu.” Darah dalam tubuh Jasper mendidih, ia tahu betapa sulitnya kehidupan percintaan Lana. Tapi bukan berarti perasaannya pantas disepelekan. Jasper tidak pernah bermain-main dengan Lana.“Kita bahkan belum mengenal satu sama lain. Kalau kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, apa hakku untuk menahanmu.” Lanjut Lana menepis tangan Jasper.Jasper kembali meraih tangan itu lalu menciumnya. Ia merasakan lembutnya jari
Bola salju akan membesar ketika menggelinding, begitu pula dengan sebuah gosip. Dalam satu hari, Lana berubah menjadi wanita menyedihkan di mata para koleganya. Ucapan seorang dokter sangat dipertimbangkan di klinik ini. Akan sulit bagi Lana untuk merubah segalanya. Sementara Ethan yang haus akan validasi sukses mendapatkan simpati dari sebagian wanita di klinik itu. Klinik Lana berasosiasi dengan rumah sakit besar dipusat California, yang berarti, dia juga akan menjadi buah bibir disana. Malam itu, Jasper membiarkan Lana meminum sisa champange yang ia buka sejam yang lalu. Lana mengalami hari yang buruk dan pria itu ingin ada di dekatnya. Memastikan Lana tidak sendiri dan aman. “Jadi, si breng- maksudku dokter itu mencarimu lagi setelah hari itu?” tanya Jasper memegang erat pinggang Lana yang hampir ambruk. Lana mengangguk, menutup wajahnya dengan rambut. “Aku ingin sembunyi. Bawa aku pergi.” ia mengapai Noah yang sibuk meracik minumnan. Bar Jasper terpaksa buka lebih cepat kar
Setelah rekannya sudah berganti pakaian, Lana mengecek aliran infus. Namun, sepasang bola mata abu-abu itu tidak berhenti menatapnya.Pria itu tampak lebih bersih setelah membasuh wajahnya.“Aku sudah menghubungi walinya, tunangannya akan segera kesini.” Jasper berdehem, duduk di kursi yang kini terlihat amat kecil.Lana mengangguk, mendadak tangan Jasper memilin jari telunjuk Lana.“Kau mengganggu, babe.” gumam Jasper, awalnya untuk dirinya sendiri.Lana menarik tangannya, ia melotot pada Jasper. “Siapa yang menganggumu? Aku tidak…”Sedetik kemudian, bibir Lana sudah mendarat ke bibir Jasper. Pria itu menarik tengkuk leher Lana, dan menyesap bibir Lana. Sengatan sensasi aneh merayap dalam jantung Jasper. Ada kembang api yang meletus dalam sana dan ia suka. Ia menginginkan itu. Ketika lidah Jasper ingin menerobos, tiba-tiba Lana mendorong Jasper dan menarik diri. Ingatan soal betapa payahnya dia, dan pria yang diciumnya adalah Jasper. Seseorang yang hampir ia tidak kenal.Pandangan J
Ternyata menjadi mantan pacar yang dicampakkan karena payah adalah hal paling menyedihkan yang bisa Lana alami. Ethan, sudah mencoba mendekati gadis lain di depan Lana. Padahal gadis itu baru saja datang untuk bekerja. Lalu disuguhkan pemandangan itu.Lana melewati Ethan, masuk ke dalam ruang ganti baju dan membuka lokernya. Terdengar suara wanita yang baru datang, mereka berdua tertawa lalu melirik Lana dengan sinis.“Lana, apa benar kau diputuskan oleh dokter Ethan?” tanya wanita itu, yang ternyata sesama perawat juga.Semua orang sudah tahu kalau Lana dan Ethan menjalin hubungan, tapi seharusnya mereka tidak perlu tahu soal putusnya hubungan itu.“Begitu. Sepertinya.” jawab Lana seadanya.Si wanita berambut pirang mendekati Lana, dan mengusa pundak gadis itu. “Jangan memohon padanya, kasihan sekali dokter Ethan. Aku tahu dia begitu mempesona, tapi tetap saja…” dia melihat Lana seperti wanita murahan yang perlu disingkirkan. “Kau tidak semenyedihkan itu, kan?”Jadi ini kesialan Lan
Jesper Nikolai adalah ketua regu pemadam kebakaran yang terkenal perfeksionis, disiplin dan tanpa emosi. Jesper mempunyai reputasi sebagai singa es. Sebutan itu datang ketika pria 34 tahun itu pertama kali datang ke California dan membantu kebun binatang mencari singa yang hilang di pinggiran kota. Padahal kala itu, California sedang musim dingin.Hebatnya, Jesper berhasil menangkap singa itu bersama yang lainnya. Namun sayangnya, karena insiden itu, Jesper mendapatkan luka yang cukup serius di sepanjang punggungnya.Jesper memiliki wajah yang memiliki kesan tidak mungkin menjadi seorang pemadam kebakaran. Tubuhnya tinggi sekali, terkahir dia mengukur, tingginya sudah 198 cm. Tubuhnya kekar karena latihan yang intens. Wajahnya juga seperti pahatan porselen, pria itu campuran Rusia-Amerika. Dia lahir di Rusia sampai usai 23 tahun memilih untuk tinggal sendiri di Amerika.*** Jesper mengenakan kemeja polos hitam dengan celana jins yang tampak begitu pas ditubuhnya. Ia memarkir pikapnya







