Share

05

Penulis: silent-arl
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-15 22:05:07

Setelah rekannya sudah berganti pakaian, Lana mengecek aliran infus. Namun, sepasang bola mata abu-abu itu tidak berhenti menatapnya.

Pria itu tampak lebih bersih setelah membasuh wajahnya.

“Aku sudah menghubungi walinya, tunangannya akan segera kesini.” Jasper berdehem, duduk di kursi yang kini terlihat amat kecil.

Lana mengangguk, mendadak tangan Jasper memilin jari telunjuk Lana.

“Kau mengganggu, babe.” gumam Jasper, awalnya untuk dirinya sendiri.

Lana menarik tangannya, ia melotot pada Jasper. “Siapa yang menganggumu? Aku tidak…”

Sedetik kemudian, bibir Lana sudah mendarat ke bibir Jasper. Pria itu menarik tengkuk leher Lana, dan menyesap bibir Lana. Sengatan sensasi aneh merayap dalam jantung Jasper. Ada kembang api yang meletus dalam sana dan ia suka. Ia menginginkan itu.

Ketika lidah Jasper ingin menerobos, tiba-tiba Lana mendorong Jasper dan menarik diri. Ingatan soal betapa payahnya dia, dan pria yang diciumnya adalah Jasper. Seseorang yang hampir ia tidak kenal.

Pandangan Jasper kembali ke bibir Lana. “Aku tidak ingin minta maaf, Lana.”

Lana mengecap bibirnya, lalu membuang muka. “Apa aku lelucon untukmu?”

Lana merasa seharusnya ia meledak dan marah besar, tapi tidak bisa dipungkiri, ciuman barusan begitu nikmat sampai ia sempat lupa kalau seharusnya ia tidak menerimanya.

Jasper berdiri, mencondongkan dirinya lebih dekat dengan Lana, terutama bibirnya yang berada di telinga Lana. “Kau adalah adrenalin baruku, Lana. Sampai jumpa nanti sore.”

Alih-alih menunggu jawaban dari Lana, pria itu keluar dari ruangan dengan wajah penuh senyum.

Tangannya sibuk mengusap bibirnya yang masih menyisakan kelembaban milik Lana.

***

Sore itu, Lana baru saja selesai shiffnya, ia berjalan keluar klinik. Hari ini cukup melelahkan karena insiden tadi.

“Babe.” panggil suara berat dari pikap hitam.

Pria jangkung itu melompat dan mendekati Lana yang tampak terkejut.

Bibir Lana menganga. “Kau benar-benar datang?”

Mata Jasper berbinar, diiringi dengan senyuman yang tidak terlihat natural. “Pria tidak berbohong.”

“Biar aku lurusakan, aku tidak tertarik padamu.” bohong. Ucapan itu tidak membuat Jasper menjauh dari Lana.

Jasper memajukan kepalanya, hidungnya mengendus udara. “Bau apa ini?”

“Jangan alihkan pembicaraan. Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

“Kau. Tentu.” sahut Jasper cepat. “Aku suka aroma ini.”

Hidung Lana berkerut, ia melipat tangannya di depan dada. Namun, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya berkali-kali.

“Ethan?”

Jasper ikut memutar bola matanya, melihat pria mendekat dengan wajah yang penuh kecemburuan.

Lana menutup mulutnya, namun kakinya bergerak mendekat ke arah Jasper. Jasper yang sadar, langsung menaruh tangannya ke pundak gadis itu.

Tidak pernah ada seorang pria yang menawarkan keamanan sebesar Jasper.

“Sedang apa kau disini? Lana, kita harus bicara.” nada merendahkan itu membuat telinga Jasper memerah.

Lana mendongak, menatap bola mata Jasper yang mengunci pada Ethan. “Ethan, hentikan.” Lana menarik lengan Jasper. “Ayo pergi.”

Mereka berdua memutar tubuh bersamaan.

“Ahh… inilah si payah yang akan membuat pria manapun kehilangan gairahnya. Lana, tidak ada pria yang ingin tidur dengan wanita yang pasif seperti mu.” ucapan Ethan cukup nyaring sampai membuat beberapa orang menoleh. Bahkan staff yang lewat langsung berbisik.

Perasaan tidak pantas dan jengkel itu kini memenuhi Lana.

Jasper mendekap Lana, pria itu menggerang. “Tutup matamu, babe.”

Lana mengerjab namun mengikuti perintah Jasper. Ia menutup mata rapat-rapat, dalam hatinya menghitung sampai Jasper melepaskan tubuhnya.

Pria itu mendekat, mencengkram kerah baju Ethan. Sambil penuh amarah, Jasper mengangkat tangannya.

“Sebut dia payah dan tanganku akan segera mendarat ke wajah pucatmu.” desisan Jasper tidak terdengar oleh Lana.

Ethan tidak bodoh sampai berani menantang pria yang tingginya melewati kepalanya. Ia menelan ludahnya susah payah, menghempaskan cengkraman Jasper.

“Sepertinya kau belum mencicipinya.” seringai di wajah Ethan seketika hilang ketika tangan Jasper benar-benar memberikan ancamannya. Sudut bibir Ethan mengeluarkan darah, dan pria itu tersungkur ke tanah.

Jasper hendak meraih Ethan lagi, sampai sebuah tangan kecil melingkari pinggangnya. “Jasper! Stop!” rintih Lana di balik tubuh Jasper. “Aku mohon, berhenti.”

Seketika Jasper berhtni, dadanya naik turun.

“Bawa aku pergi,” mohon Lana.

***

Di dalam pikap milik Jasper, Lana menatap jendela, ia menangis dalam diam. Malu, marah dan apapun perasaan yang memiliki makna yang kecewa terngiang di kepalanya.

Lana tidak ingin ada yang membelanya, ia ingin kedamaian setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ethan.

Pikap Jasper berhenti di pinggir jalan, pria itu menarik tangan Lana yang mengepal kencang hingga keputihan.

“Lana, dengarkan aku.” ucapnya lembut. “Aku tidak tahu apa cerita dibalik kelakuan pria itu. Yang ingin kuperjelas adalah, tidak ada wanita yang payah, hanya ada pria yang tidak pernah puas.”

Mendengar ucapan itu tidak membuat perasaan Lana tenang. Ia masih memalingkan wajahnya.

Lana mengusap pipinya, bibirnya bergetar.

“Lihat aku, babe.”

Akhirnya Lana menatap Jasper. Dada Jasper terasa sesak melihat gadis itu menangis.

“Kenapa kau peduli dengan ucapannya? Kita baru kenal dan aku tidak memberikan kesan terbaik untukmu.”

Jasper memutar bola matanya lalu mencondongkan wajahnya, dekat sekali ke wajah Lana. “Sebelumnya aku tidak berencana jatuh cinta. Aku tidak tidur dengan wanita lain, aku melakukan semuanya sendiri.” tarikan napas Jasper terdengar begitu berat. “Bertemu denganmu, melihatmu dan menciummu. Adalah hal yang ingin kulakukan kapanpun, dimanapun, selamanya.”

Lana mencebik, bibirnya sedikit terangkat karena perasaan geli. “Gombalanmu sangat original, Jasper. Aku harus akui itu.”

“Aku tidak bicara omong kosong, Lana. Kau tidak percaya padaku sekarang, oke. Tapi, aku akan mengejarmu sampai kau sendiri yang berlari padaku.”

Baiklah, kini jantung Lana berdebar tak karuan karena pria itu terlihat begitu tulus. Tatapan Jasper tidak mengarah ke bibir, dada atau apapun yang membuat Lana salah paham. Pria itu dengan jelas menatap mata Lana, menunggu jawaban gadis itu.

Jika ada sesuatu yang bisa mengambarkan perasaan Jasper saat ini adalah, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan rasa itu semakin dalam. Ia tidak peduli pada hal yang lain.

Ia menginginkan Lana, dan itu kenyataanya.

“Beri aku waktu,”

“Sebanyak yang kau perlu babe.”

“Berhenti panggil aku babe. Pria tadi juga memanggilku begitu.”

Bibir Jasper langsung tertutup rapat, tampak kerutan di keningnya semakin dalam. Tangannya mengusap ujung mata Lana yang masih lembab.

“Berhenti menangis, terutama untuk pria tadi.” Jasper mendekat, mencium mata Lana.

Lana menutup matanya, merasakan tekanan itu malah membuatnya nyaman.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Say You Remember Me   Season 2 (53)

    Secara teknis, Lana dan Jasper tidak bekerja alias pengangguran. Tapi seolah kesibukan tidak ada habisnya.Jasper memilih dermaga. Bau asin laut dan suara kayu perahu yang berderit jauh lebih mudah ia hadapi daripada kemungkinan bertemu Noah atau Sarah. Ia membantu nelayan menarik jaring, memindahkan kotak ikan, membiarkan lengannya sibuk agar pikirannya tidak terlalu terpaku.Sementara itu, Lana berdiri di belakang meja kayu kecil di dalam barnya, menyusun beberapa botol bir ke dalam pendingin besar berisi es. Tangannya bergerak otomatis, ambil, celupkan, susun rapi.Ia tahu ada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya bahkan sebelum ia benar-benar mengangkat kepala.Pria itu adalah Noah.Pria itu berdiri bebera

  • Say You Remember Me   Season 2 (52)

    Lana mengerucurkan bibir ketika Jasper melepas pelukannya. “Kau berhenti menciumku?” pertanyaan itu terdengar menggelikan bahkan untuk Lana sendiri.Jasper diam sejenak, menimbang-nimbang. “Kau ingin bercinta setelah menikah, Lana.”“Sialan mulutku.” Lana memukul mulutnya sendiri.Jasper menahan tawa melihat hal itu. “Jangan pukul dirimu,” ucap Jasper, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.“Karena aku membuat aturan bodoh,” gerutu Lana, wajahnya memerah. “Sekarang aku yang tersiksa.”Jasper menggerutkan keningnya dalam, sampai beberapa garis tampak dikeningnya. “Aku tidak suka melanggar aturan, Lana.”

  • Say You Remember Me   Season 2 (51)

    Jasper tidak terlalu peduli dengan drama antara Noah dan Sarah.Bagi Jasper, itu masalah dua orang dewasa yang membuat keputusan buruk lalu menanggung akibatnya sendiri.Yang ia pikirkan adalah Lana yang akan terus cemas ketika salah satu orang yang ia pedulikan mengalami kesusahan. Cara gadis itu merasa terus bertanggung jawab atas kebahagian orang lain.Entah mengapa hal itu lama-lama mengganggunya. Ia yakin Lana akan memikirkan masalah Sarah sepanjang hari. Lebih buruk lagi, Lana akan menyalahkan dirinya kalau masalah Sarah akan berakhir buruk.Dan ketenangan Lana adalah satu-satunya hal yang Jasper ingin jaga mati-matian.Ia memutuskan untuk membuatkan sarapan untuk gadis itu, jarang memang ia menyentuh dapur. Tapi,

  • Say You Remember Me   Season 2 (50)

    Pagi itu seperti biasa, Port Townsend diselimuti kabut tebal.Sarah mengendap-endap datang ke penginapan, ada hal yang harus ia selesaikan. Gadis itu tanpa sadar berhenti di depan kamar Noah. Kamar keramat yang seharusnya ia hindari.Bodoh.Belum sempat ia berbalik, pintu kamar Noah terbuka.Noah keluar dengan kaus gelap dan jaket tipis, rambutnya masih sedikit basah. Ia berhenti ketika melihat Sarah berdiri membeku beberapa meter darinya.Tatapan mereka bertemu, penuh kecanggungan, tanpa sapaan yang biasa mereka lontarkan sebagai bentuk basa-basi.“Ba-bagaimana wajahmu?”Noah mengedikan bahu singkat. “Bukan

  • Say You Remember Me   Season 2 (49)

    Sarah hanya terdiam, kepalanya tertunduk dengan tangisan yang terus menerus mengalir. Lana tahu ada yang Sarah sembunyikan.“Jasper, lepaskan Noah.” pinta Lana, suaranya tenang namun begitu tegas.Jasper yang tadi masih mencengkram kuat kerah baju Noah kini patuh. Ia melepaskan pria itu hingga terhuyung kebelang.“Bisa kita bicara berdua, Sarah?”Sarah mengangguk, namun kepalanya masih tertunduk.***Mereka berdua berjalan disepanjang dermaga.Lana memeluk tubuhnya dan menatap lautan yang dingin dan gelap.“Kau tahu, Daniel dan kau sudah seperti keluargaku.” suara Lana pecah kar

  • Say You Remember Me   Season 2 (48)

    Hari kepulangan Lana…Ekspresi geli menari-nari diwajah Lana ketika Jasper tak membiarkannya membereskan barang sama sekali. Bahkan para perawat lain memandangnya penuh heran.Lana menutup mulutnya waktu Jasper menggeser tubuhnya dengan mudah.Anehkah kalau gadis itu merasa tersipu hanya karena perhatian Jasper? Ada semacam perasaan senang yang tidak bisa ia jelaskan.“Sudah semua, kita hanya tinggal menunggu Noah.” Jasper bersandar di lemari sembari mengamati seisi kamar rumah sakit.“Kupikir Noah sudah kembali California?”Sesaat mereka hanya terdiam bersama, ada sesuatu yang Jasper tutupi selama dua hari Lana dirawat di ruamh sakit. Ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status