LOGINSetelah rekannya sudah berganti pakaian, Lana mengecek aliran infus. Namun, sepasang bola mata abu-abu itu tidak berhenti menatapnya.
Pria itu tampak lebih bersih setelah membasuh wajahnya. “Aku sudah menghubungi walinya, tunangannya akan segera kesini.” Jasper berdehem, duduk di kursi yang kini terlihat amat kecil. Lana mengangguk, mendadak tangan Jasper memilin jari telunjuk Lana. “Kau mengganggu, babe.” gumam Jasper, awalnya untuk dirinya sendiri. Lana menarik tangannya, ia melotot pada Jasper. “Siapa yang menganggumu? Aku tidak…” Sedetik kemudian, bibir Lana sudah mendarat ke bibir Jasper. Pria itu menarik tengkuk leher Lana, dan menyesap bibir Lana. Sengatan sensasi aneh merayap dalam jantung Jasper. Ada kembang api yang meletus dalam sana dan ia suka. Ia menginginkan itu. Ketika lidah Jasper ingin menerobos, tiba-tiba Lana mendorong Jasper dan menarik diri. Ingatan soal betapa payahnya dia, dan pria yang diciumnya adalah Jasper. Seseorang yang hampir ia tidak kenal. Pandangan Jasper kembali ke bibir Lana. “Aku tidak ingin minta maaf, Lana.” Lana mengecap bibirnya, lalu membuang muka. “Apa aku lelucon untukmu?” Lana merasa seharusnya ia meledak dan marah besar, tapi tidak bisa dipungkiri, ciuman barusan begitu nikmat sampai ia sempat lupa kalau seharusnya ia tidak menerimanya. Jasper berdiri, mencondongkan dirinya lebih dekat dengan Lana, terutama bibirnya yang berada di telinga Lana. “Kau adalah adrenalin baruku, Lana. Sampai jumpa nanti sore.” Alih-alih menunggu jawaban dari Lana, pria itu keluar dari ruangan dengan wajah penuh senyum. Tangannya sibuk mengusap bibirnya yang masih menyisakan kelembaban milik Lana. *** Sore itu, Lana baru saja selesai shiffnya, ia berjalan keluar klinik. Hari ini cukup melelahkan karena insiden tadi. “Babe.” panggil suara berat dari pikap hitam. Pria jangkung itu melompat dan mendekati Lana yang tampak terkejut. Bibir Lana menganga. “Kau benar-benar datang?” Mata Jasper berbinar, diiringi dengan senyuman yang tidak terlihat natural. “Pria tidak berbohong.” “Biar aku lurusakan, aku tidak tertarik padamu.” bohong. Ucapan itu tidak membuat Jasper menjauh dari Lana. Jasper memajukan kepalanya, hidungnya mengendus udara. “Bau apa ini?” “Jangan alihkan pembicaraan. Sebenarnya apa yang kau inginkan?” “Kau. Tentu.” sahut Jasper cepat. “Aku suka aroma ini.” Hidung Lana berkerut, ia melipat tangannya di depan dada. Namun, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya berkali-kali. “Ethan?” Jasper ikut memutar bola matanya, melihat pria mendekat dengan wajah yang penuh kecemburuan. Lana menutup mulutnya, namun kakinya bergerak mendekat ke arah Jasper. Jasper yang sadar, langsung menaruh tangannya ke pundak gadis itu. Tidak pernah ada seorang pria yang menawarkan keamanan sebesar Jasper. “Sedang apa kau disini? Lana, kita harus bicara.” nada merendahkan itu membuat telinga Jasper memerah. Lana mendongak, menatap bola mata Jasper yang mengunci pada Ethan. “Ethan, hentikan.” Lana menarik lengan Jasper. “Ayo pergi.” Mereka berdua memutar tubuh bersamaan. “Ahh… inilah si payah yang akan membuat pria manapun kehilangan gairahnya. Lana, tidak ada pria yang ingin tidur dengan wanita yang pasif seperti mu.” ucapan Ethan cukup nyaring sampai membuat beberapa orang menoleh. Bahkan staff yang lewat langsung berbisik. Perasaan tidak pantas dan jengkel itu kini memenuhi Lana. Jasper mendekap Lana, pria itu menggerang. “Tutup matamu, babe.” Lana mengerjab namun mengikuti perintah Jasper. Ia menutup mata rapat-rapat, dalam hatinya menghitung sampai Jasper melepaskan tubuhnya. Pria itu mendekat, mencengkram kerah baju Ethan. Sambil penuh amarah, Jasper mengangkat tangannya. “Sebut dia payah dan tanganku akan segera mendarat ke wajah pucatmu.” desisan Jasper tidak terdengar oleh Lana. Ethan tidak bodoh sampai berani menantang pria yang tingginya melewati kepalanya. Ia menelan ludahnya susah payah, menghempaskan cengkraman Jasper. “Sepertinya kau belum mencicipinya.” seringai di wajah Ethan seketika hilang ketika tangan Jasper benar-benar memberikan ancamannya. Sudut bibir Ethan mengeluarkan darah, dan pria itu tersungkur ke tanah. Jasper hendak meraih Ethan lagi, sampai sebuah tangan kecil melingkari pinggangnya. “Jasper! Stop!” rintih Lana di balik tubuh Jasper. “Aku mohon, berhenti.” Seketika Jasper berhtni, dadanya naik turun. “Bawa aku pergi,” mohon Lana. *** Di dalam pikap milik Jasper, Lana menatap jendela, ia menangis dalam diam. Malu, marah dan apapun perasaan yang memiliki makna yang kecewa terngiang di kepalanya. Lana tidak ingin ada yang membelanya, ia ingin kedamaian setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ethan. Pikap Jasper berhenti di pinggir jalan, pria itu menarik tangan Lana yang mengepal kencang hingga keputihan. “Lana, dengarkan aku.” ucapnya lembut. “Aku tidak tahu apa cerita dibalik kelakuan pria itu. Yang ingin kuperjelas adalah, tidak ada wanita yang payah, hanya ada pria yang tidak pernah puas.” Mendengar ucapan itu tidak membuat perasaan Lana tenang. Ia masih memalingkan wajahnya. Lana mengusap pipinya, bibirnya bergetar. “Lihat aku, babe.” Akhirnya Lana menatap Jasper. Dada Jasper terasa sesak melihat gadis itu menangis. “Kenapa kau peduli dengan ucapannya? Kita baru kenal dan aku tidak memberikan kesan terbaik untukmu.” Jasper memutar bola matanya lalu mencondongkan wajahnya, dekat sekali ke wajah Lana. “Sebelumnya aku tidak berencana jatuh cinta. Aku tidak tidur dengan wanita lain, aku melakukan semuanya sendiri.” tarikan napas Jasper terdengar begitu berat. “Bertemu denganmu, melihatmu dan menciummu. Adalah hal yang ingin kulakukan kapanpun, dimanapun, selamanya.” Lana mencebik, bibirnya sedikit terangkat karena perasaan geli. “Gombalanmu sangat original, Jasper. Aku harus akui itu.” “Aku tidak bicara omong kosong, Lana. Kau tidak percaya padaku sekarang, oke. Tapi, aku akan mengejarmu sampai kau sendiri yang berlari padaku.” Baiklah, kini jantung Lana berdebar tak karuan karena pria itu terlihat begitu tulus. Tatapan Jasper tidak mengarah ke bibir, dada atau apapun yang membuat Lana salah paham. Pria itu dengan jelas menatap mata Lana, menunggu jawaban gadis itu. Jika ada sesuatu yang bisa mengambarkan perasaan Jasper saat ini adalah, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan rasa itu semakin dalam. Ia tidak peduli pada hal yang lain. Ia menginginkan Lana, dan itu kenyataanya. “Beri aku waktu,” “Sebanyak yang kau perlu babe.” “Berhenti panggil aku babe. Pria tadi juga memanggilku begitu.” Bibir Jasper langsung tertutup rapat, tampak kerutan di keningnya semakin dalam. Tangannya mengusap ujung mata Lana yang masih lembab. “Berhenti menangis, terutama untuk pria tadi.” Jasper mendekat, mencium mata Lana. Lana menutup matanya, merasakan tekanan itu malah membuatnya nyaman.Dalam keadaan gundah gulana Sarah mendatangi Noah. Gadis itu mengetuk pintu kamar Noah, ada hal yang perlu ia luruskan sesegara mungkin.Tanpa mengetahui pria yang sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan gadis itu.Noah terperanjat dan menaruh kembali tas ranselnya ke meja. Sudah beberapa bulan ini dia tinggal di rumah Lana dan Jasper.Sarah menatap Noah yang tampak muram. Gadis itu berdeham pelan. “Kita perlu bicara.”“Tidak, Sarah.” Noah mengulurkan tangan untuk menutupi jalan masuk ke kamarnya. “Kita sudah selesai.”Sarah menghela napas panjang. “Kau ingin kita selesai? Apa artinya itu?” tanya Sarah pelan.Bibir Noa
Sarah menghilang setelah itu… atau lebih tepatnya, ia membatasi pertemuannya dengan Noah. Sebisa mungkin Sarah menjauh.Tapi hari ini tidak bisa, Lana dan Jasper akan kembali dari Rusia dan Sarah harus menyambutnya. Ia ingin mendengar cerita Lana, berharap itu dapat membantunya mengalihkan pikiran dari Noah.Sarah sudah menyiapkan beberapa makanan di rumah Lana, ia duduk di kursi makan sembari menatap jendela. Dari arah depan ia mendengar langkah kaki seseorang.Rupanya itu Noah, dengan jengot tipis yang belum di rapikan dan rambut yang terlihat lebih… berantakan.Sarah mengernyit ketika Noah bersandar di dekat pintu dapur. “Tamu mu sudah pulang?”“Sudah. Tapi dia akan kembali lagi.&rdquo
Mereka berkendara setengah jam dan akhirnya pikap hitam itu menepi di sebuah pekarang rumah tua yang tampak tak terurus. Noah turun terlebih dahulu, ia mengitari mobil dan membuka pintu Sarah.“Turunlah.” Noah mengulurkan tangan.Sarah menatapnya penuh curiga, Noah tidak di rancang untuk bersifat manis serta lemah lembut. Ia ragu sejenak tapi tetap menerima bantuan Noah.“Ini…” Noah menunjuk rumah berwaarna coklat tua itu. “Rumah yang kubeli tiga hari lalu.”“Rumah!?” nada suara Sarah naik beberapa oktaf ketika mereka sampai di depan pintu gerbang. “Kau membeli rumah? Di Port Townsend?”Noah menghela napas panjang dan ia kembali meraih tangan Sarah, ia menaruh
Hujan turun sejak semalam dan membawa badai luar biasa ke Port Townsend. Sarah sudah selesai mengerjakan semua urusannya ketika ia ke bar untuk bertemu dengan Marcus.Rencananya pria itu akan kembali ke New York setelah gagal mendapat berita dari Noah.Rambut pirang Sarah lepek terkena hujan, bibirnya yang membiru karena dingin yang tadi ia terima.Noah segera melepas jaket jinsnya dan berjalan mendekati Sarah yang duduk di dekat jendela.“Pakai ini.” Noah memberikan jaket itu tepat di pundak Sarah.Gelenyar aneh yang panas ketika jari Noah menyentuh pundaknya membuat Sarah beregik. “Ba-baiklah.”“Dimana pria itu?”Sarah me
Sarah duduk dengan santai di kursinya sementara Marcus berhasil membujuk Noah untuk diajak wawancara. Noah hanya ingin Marcus segera pergi dari Port Townsend.Kedua pria itu duduk berhadapan tak jauh dari tempat Sarah menyesap jus jeruknya.Noah tidak melihat ke arah Marcus sama sekali ketika pria itu mengeluarkan laptop dan buku catatannya.“Jadi, kau tidak tertarik membuka barmu sendiri?” tanya Marcus serius.“Tidak.”“Emm… bagaimana dengan mematenkan menu yang kau buat? Banyak bartender yang melakukan hal itu.”“Aku seorang mixologist,” jawab Noah tidak antusias.Marcus berhenti mengetik dan mendongakan kepala untuk menatap No
Dua minggu kemudian…Setelah pernikahan Jasper dan Lana, mereka memutuskan untuk berbulan madu di Rusia. Lana bersikeras pergi kesana untuk menemani Ayah Jasper dan tentunya untuk melihat masa lalu Jasper.Sementara itu Sarah harus mengurus penginapan dan juga restoran yang kini menjadi tanggung jawabnya juga. Ia mau tak mau sering berkomunikasi dengan Noah untuk urusan pekerjaan karena mau bagaimana pun Sarah yang mendapat tanggung jawab.Sarah baru masuk ke penginapan ketika Noah hendak keluar menuju bar.Pria itu melirik Sarah yang memakai celemek merah muda. “Kau tidak berkerja sendiri, kan?” ada nada cemas yang begitu asing di telinga Sarah.Sarah tidak menatap pria yang memakai kemeja denim itu. “Jangan p
Melepaskan diri dari belitan Grace tidak semudah yang ia kira. Gadis dengan tubuh yang lebih tinggi dari Lana itu memeluknya hampir sepuluh menit.Air mata Grace juga membasahi pundak Lana, tapi itulah yang membuat Lana
Lana mengambil persedian birnya dari gudang. Beberapa hari ini bar sangat ramai karena festival menyebalkan yang membuatnya bahkan sulit untuk duduk. Semua turis itu tidak berhenti mengetuk pintu bar padahal jelas-jelas Lana pura-pura tidak mendengarnya.
Jasper mengikuti Kayla ke sebuah hotel milik keluarga pria itu. Gadis itu terus berjalan, mengabaikan Jasper yang tampak acuh sambil mengikuti dari belakang.Sejenak Kayla bergeming dan memutar tubuhnya, tumit heels hit
Dua tahun kemudian…Kota Port Townsend yang dulunya hanya menjadi tempat pelarian bagi Lana kini menjadi tempat tinggal yang mengikatnya pada keluarganya yang meninggalkannya secara bersamaan.Gadis yang kini berusia 28 tahun itu melanjutkan hidup, atau lebih tepatnya memaksakan diri untuk terus men







