LOGINBola salju akan membesar ketika menggelinding, begitu pula dengan sebuah gosip. Dalam satu hari, Lana berubah menjadi wanita menyedihkan di mata para koleganya. Ucapan seorang dokter sangat dipertimbangkan di klinik ini. Akan sulit bagi Lana untuk merubah segalanya.
Sementara Ethan yang haus akan validasi sukses mendapatkan simpati dari sebagian wanita di klinik itu. Klinik Lana berasosiasi dengan rumah sakit besar dipusat California, yang berarti, dia juga akan menjadi buah bibir disana. Malam itu, Jasper membiarkan Lana meminum sisa champange yang ia buka sejam yang lalu. Lana mengalami hari yang buruk dan pria itu ingin ada di dekatnya. Memastikan Lana tidak sendiri dan aman. “Jadi, si breng- maksudku dokter itu mencarimu lagi setelah hari itu?” tanya Jasper memegang erat pinggang Lana yang hampir ambruk. Lana mengangguk, menutup wajahnya dengan rambut. “Aku ingin sembunyi. Bawa aku pergi.” ia mengapai Noah yang sibuk meracik minumnan. Bar Jasper terpaksa buka lebih cepat karena Lana membutuhkannya. Jasper meraih tangan Lana, menatap Noah yang tampak bingung. “Kau mau aku antar pulang? Sepertinya kau cukup mabuk.” “Jangan memerintahku, J. Tunggu…” Lana menempelkan jari telunjuknya kebibirnya. Panggilan J sudah melekat pada Jasper, gadis itu seenaknya memaggil Jasper dengan sebutan J. Tentu saja Jasper tidak marah, ia suka dipanggil apapun kecuali umpatan. Jasper melirik jam tangannya, sebentar lagi dia harus berangkat shiff malam. Dan ia tidak mau meninggalkan Lana sendirian. Jasper jadi sangat terikat pada Lana, ia melupakan sebagian idenya untuk bungee jumping di Nepal atau ski di pegunungan Alpen yang terjal. Semua untuk Lana, gadis itu adalah adrenalin paling Jasper inginkan saat ini. “Queen, sepertinya aku harus membawamu pulang.” ucap Jasper mengusap pipi Lana yang tertutup rambut. Lana mengangkat kepalanya, menyipitkan mata pada Jasper. “Sekarang aku jadi ratumu? Tidak buruk. Aku yakin seratus persen kau adalah playboy atau lebih parahnya kau adalah womanizer.” kepala Lana menggeleng ke kanan dan ke kiri. Jasper menahan senyumnya, dan juga keinginan untuk mencium wanita itu. Jasper tipe pria yang tidak mudah tertarik dengan lawan jenis, apalagi soal gairah. Ia hanya bergairah ketika melakukan hal ekstrem. Noah mengetuk meja di depan Jasper. “Dia terlalu mabuk, jam kerjamu dimulai setengah jam lagi.” “Aku tahu.” jawab Jasper cepat. “Biar aku yang mengantarnya. Bagaimana?” Jasper melirik Noah, rahangnya mengeras. Ia tidak berbagi Lana dengan siapapun, bahkan kalau wanita itu akhirnya tidak membalas cintanya. Ia akan menempel seperti ikan remora di atas kepala hiu. Noah mengangkat tangannya ke udara. “Hanya sebuah ide.” Jasper menggeleng, kemudian menepuk pundak Lana yang memeluk tasnya. “Hai, aku benar-benar harus pergi. Sebaiknya kita simpan sisa minuman ini dan pulang.” Sepertinya Lana sudah kehabisan tenaga, ia hanya mengangguk, membiarkan Jasper membantunya berdiri. Sebelum pergi, Lana melambaikan tangan pada Noah yang membalasnya dengan anggukan singkat. Jasper mendudukan Lana di kursi mobil pikapnya, ia bahkan memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu. Senyuman di wajah Jasper tidak memudar ketika sebuah dengkuran lembut keluar dari mulutnya. “Aku perlu tahu dimana kuncimu.” “Tas…” jawab Lana kembali tidur. Pria itu menggeleng. “Kau akan terkena masalah kalau sampai mabuk seperti ini dengan orang lain.” *** Setelah memastikan Lana aman, Jasper segera berangkat ke pos pemadam kebakaran. Ia menganti bajunya dengan pakaian yang siap dipakai untuk melakukan aksinya. Beberapa anak buahnya menegurnya secara bergantian. Jasper duduk di pojokan sambil membawa dumbbell dua puluh kilo. Ia melatih otot tangannya secara bergantian. Seorang pria yang baru saja tiba langsung mengedarkan pandangannya mencari Jasper. “Jas, komandan memanggimu!” teriaknya. Jasper menaruh dumbbell itu lalu mengikuti pria yang memanggilnya. Meski ketua regu, Jasper memiliki kesan tidak mudah di dekati. Ia jarang bicara kecuali untuk urusan pekerjaan. Jasper menghadap ke komandannya. Pria itu berdiri tegak seolah tak tegoyahkan oleh apapun. “Jasper Nikolai, mulai lusa kau akan dipindahkan ke Portland, Oregon.” kalimat itu menghantam Jasper begitu keras. Sakit, tak terbayangkan. Mata Jasper goyah. “Portland?” “Ya, disana kekurangan orang, dan kau yang paling cocok karena handal dalam medan yang sulit.” ujar Komandan dengan singkat. “Tapi…” pikirannya melayang pada Lana. Gadis itu tidak di Portland, dan Jasper benci udara yang tidak ada Lana di dalamnya. “Ada yang memberatkanmu, Jasper?” Jasper menggeleng karena paham betul, apapun yang yang ia ucapkan, sang komandan tidak akan mempertimbangkan keputusannya. *** Lana terbangun pukul 8 pagi, dia shiff malam hari ini maka dari itu ia bisa bangun lebih siang dari biasanya. Belum seratus persen sadar, ponsel Lana berdering. Sebuah pesan dari Jasper. Jasper : Selamat pagi, apa kau baik-baik saja? Lana tersenyum, semenjak membiarkan Jasper dekat dengannya, Lana kembali merasa seperti wanita yang seutuhnya. Jasper memanjakannya dan membuat Lana berbunga setiap hari. Lana : Aku baru bangun. Kepalaku sakit, apa aku mabuk semalam? Tidak ada balasan. Namun seketika ponsel Lana kembali berdering. Kini panggilan dari Jasper. “Aku dibawah, turunlah.” suara Jasper terdengar begitu dalam. Lana mengangguk. “Tunggu sebentar.” Lana tidak bertanya kenapa sepagi ini Jasper ke apartemennya? Lana juga tidak merasa itu hal yang aneh. Lana masih mengenakan baju yang sama seperti semalam. Bedanya, kini wajahnya polos setelah cuci muka. Jasper duduk di sofa dekat Tv. Ia dan kaki panjangnya kesulitan menyesuaikan diri di tempat Lana. “Mau minum sesuatu?” tawar Lana, ia menyisir rambutnya dengan jari. “Ada sesuatu yang harus aku bicarakan.” Lana diam, dihadapan Jasper Lana bahkan tak sanggup membuka mulutnya saat ini. Jasper menceritakan soal rencana pindahnya. Lana mengerutkan kening ketika Jasper selesai bicara. Ia menunduk, menatap jarinya yang ingin sekali meraih Jasper saat ini. “Jadi, kau akan pergi? Ke Portland?” “Sedang aku usahakan untuk menunda, atau membatalkan kepindahanku. Tapi di sana musim turis dan beberapa petugas pemadam tidak bisa bertugas tahun ini. Sial.” Lana mengangkat kepala, memaksakan senyumannya. Setelah ia mencoba membuka hatinya, Lana harus kembali menelan kepedihan.Dalam keadaan gundah gulana Sarah mendatangi Noah. Gadis itu mengetuk pintu kamar Noah, ada hal yang perlu ia luruskan sesegara mungkin.Tanpa mengetahui pria yang sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan gadis itu.Noah terperanjat dan menaruh kembali tas ranselnya ke meja. Sudah beberapa bulan ini dia tinggal di rumah Lana dan Jasper.Sarah menatap Noah yang tampak muram. Gadis itu berdeham pelan. “Kita perlu bicara.”“Tidak, Sarah.” Noah mengulurkan tangan untuk menutupi jalan masuk ke kamarnya. “Kita sudah selesai.”Sarah menghela napas panjang. “Kau ingin kita selesai? Apa artinya itu?” tanya Sarah pelan.Bibir Noa
Sarah menghilang setelah itu… atau lebih tepatnya, ia membatasi pertemuannya dengan Noah. Sebisa mungkin Sarah menjauh.Tapi hari ini tidak bisa, Lana dan Jasper akan kembali dari Rusia dan Sarah harus menyambutnya. Ia ingin mendengar cerita Lana, berharap itu dapat membantunya mengalihkan pikiran dari Noah.Sarah sudah menyiapkan beberapa makanan di rumah Lana, ia duduk di kursi makan sembari menatap jendela. Dari arah depan ia mendengar langkah kaki seseorang.Rupanya itu Noah, dengan jengot tipis yang belum di rapikan dan rambut yang terlihat lebih… berantakan.Sarah mengernyit ketika Noah bersandar di dekat pintu dapur. “Tamu mu sudah pulang?”“Sudah. Tapi dia akan kembali lagi.&rdquo
Mereka berkendara setengah jam dan akhirnya pikap hitam itu menepi di sebuah pekarang rumah tua yang tampak tak terurus. Noah turun terlebih dahulu, ia mengitari mobil dan membuka pintu Sarah.“Turunlah.” Noah mengulurkan tangan.Sarah menatapnya penuh curiga, Noah tidak di rancang untuk bersifat manis serta lemah lembut. Ia ragu sejenak tapi tetap menerima bantuan Noah.“Ini…” Noah menunjuk rumah berwaarna coklat tua itu. “Rumah yang kubeli tiga hari lalu.”“Rumah!?” nada suara Sarah naik beberapa oktaf ketika mereka sampai di depan pintu gerbang. “Kau membeli rumah? Di Port Townsend?”Noah menghela napas panjang dan ia kembali meraih tangan Sarah, ia menaruh
Hujan turun sejak semalam dan membawa badai luar biasa ke Port Townsend. Sarah sudah selesai mengerjakan semua urusannya ketika ia ke bar untuk bertemu dengan Marcus.Rencananya pria itu akan kembali ke New York setelah gagal mendapat berita dari Noah.Rambut pirang Sarah lepek terkena hujan, bibirnya yang membiru karena dingin yang tadi ia terima.Noah segera melepas jaket jinsnya dan berjalan mendekati Sarah yang duduk di dekat jendela.“Pakai ini.” Noah memberikan jaket itu tepat di pundak Sarah.Gelenyar aneh yang panas ketika jari Noah menyentuh pundaknya membuat Sarah beregik. “Ba-baiklah.”“Dimana pria itu?”Sarah me
Sarah duduk dengan santai di kursinya sementara Marcus berhasil membujuk Noah untuk diajak wawancara. Noah hanya ingin Marcus segera pergi dari Port Townsend.Kedua pria itu duduk berhadapan tak jauh dari tempat Sarah menyesap jus jeruknya.Noah tidak melihat ke arah Marcus sama sekali ketika pria itu mengeluarkan laptop dan buku catatannya.“Jadi, kau tidak tertarik membuka barmu sendiri?” tanya Marcus serius.“Tidak.”“Emm… bagaimana dengan mematenkan menu yang kau buat? Banyak bartender yang melakukan hal itu.”“Aku seorang mixologist,” jawab Noah tidak antusias.Marcus berhenti mengetik dan mendongakan kepala untuk menatap No
Dua minggu kemudian…Setelah pernikahan Jasper dan Lana, mereka memutuskan untuk berbulan madu di Rusia. Lana bersikeras pergi kesana untuk menemani Ayah Jasper dan tentunya untuk melihat masa lalu Jasper.Sementara itu Sarah harus mengurus penginapan dan juga restoran yang kini menjadi tanggung jawabnya juga. Ia mau tak mau sering berkomunikasi dengan Noah untuk urusan pekerjaan karena mau bagaimana pun Sarah yang mendapat tanggung jawab.Sarah baru masuk ke penginapan ketika Noah hendak keluar menuju bar.Pria itu melirik Sarah yang memakai celemek merah muda. “Kau tidak berkerja sendiri, kan?” ada nada cemas yang begitu asing di telinga Sarah.Sarah tidak menatap pria yang memakai kemeja denim itu. “Jangan p
Lana mengerucurkan bibir ketika Jasper melepas pelukannya. “Kau berhenti menciumku?” pertanyaan itu terdengar menggelikan bahkan untuk Lana sendiri.Jasper diam sejenak, menimbang-nimbang. “Kau ingin b
Jasper tidak terlalu peduli dengan drama antara Noah dan Sarah.Bagi Jasper, itu masalah dua orang dewasa yang membuat keputusan buruk lalu menanggung akibatnya sendiri.Yan
Pagi itu seperti biasa, Port Townsend diselimuti kabut tebal.Sarah mengendap-endap datang ke penginapan, ada hal yang harus ia selesaikan. Gadis itu tanpa sadar berhenti di depan kamar Noah. Kamar keramat yang seharusn
Sarah hanya terdiam, kepalanya tertunduk dengan tangisan yang terus menerus mengalir. Lana tahu ada yang Sarah sembunyikan.“Jasper, lepaskan Noah.” pinta Lana, suaranya tenang namun begitu tegas.







