Share

06

Penulis: silent-arl
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-15 22:06:17

Bola salju akan membesar ketika menggelinding, begitu pula dengan sebuah gosip. Dalam satu hari, Lana berubah menjadi wanita menyedihkan di mata para koleganya. Ucapan seorang dokter sangat dipertimbangkan di klinik ini. Akan sulit bagi Lana untuk merubah segalanya.

Sementara Ethan yang haus akan validasi sukses mendapatkan simpati dari sebagian wanita di klinik itu.

Klinik Lana berasosiasi dengan rumah sakit besar dipusat California, yang berarti, dia juga akan menjadi buah bibir disana.

Malam itu, Jasper membiarkan Lana meminum sisa champange yang ia buka sejam yang lalu. Lana mengalami hari yang buruk dan pria itu ingin ada di dekatnya. Memastikan Lana tidak sendiri dan aman.

“Jadi, si breng- maksudku dokter itu mencarimu lagi setelah hari itu?” tanya Jasper memegang erat pinggang Lana yang hampir ambruk.

Lana mengangguk, menutup wajahnya dengan rambut. “Aku ingin sembunyi. Bawa aku pergi.” ia mengapai Noah yang sibuk meracik minumnan.

Bar Jasper terpaksa buka lebih cepat karena Lana membutuhkannya.

Jasper meraih tangan Lana, menatap Noah yang tampak bingung.

“Kau mau aku antar pulang? Sepertinya kau cukup mabuk.”

“Jangan memerintahku, J. Tunggu…” Lana menempelkan jari telunjuknya kebibirnya.

Panggilan J sudah melekat pada Jasper, gadis itu seenaknya memaggil Jasper dengan sebutan J.

Tentu saja Jasper tidak marah, ia suka dipanggil apapun kecuali umpatan.

Jasper melirik jam tangannya, sebentar lagi dia harus berangkat shiff malam. Dan ia tidak mau meninggalkan Lana sendirian.

Jasper jadi sangat terikat pada Lana, ia melupakan sebagian idenya untuk bungee jumping di Nepal atau ski di pegunungan Alpen yang terjal. Semua untuk Lana, gadis itu adalah adrenalin paling Jasper inginkan saat ini.

“Queen, sepertinya aku harus membawamu pulang.” ucap Jasper mengusap pipi Lana yang tertutup rambut.

Lana mengangkat kepalanya, menyipitkan mata pada Jasper. “Sekarang aku jadi ratumu? Tidak buruk. Aku yakin seratus persen kau adalah playboy atau lebih parahnya kau adalah womanizer.” kepala Lana menggeleng ke kanan dan ke kiri.

Jasper menahan senyumnya, dan juga keinginan untuk mencium wanita itu. Jasper tipe pria yang tidak mudah tertarik dengan lawan jenis, apalagi soal gairah. Ia hanya bergairah ketika melakukan hal ekstrem.

Noah mengetuk meja di depan Jasper. “Dia terlalu mabuk, jam kerjamu dimulai setengah jam lagi.”

“Aku tahu.” jawab Jasper cepat.

“Biar aku yang mengantarnya. Bagaimana?”

Jasper melirik Noah, rahangnya mengeras. Ia tidak berbagi Lana dengan siapapun, bahkan kalau wanita itu akhirnya tidak membalas cintanya. Ia akan menempel seperti ikan remora di atas kepala hiu.

Noah mengangkat tangannya ke udara. “Hanya sebuah ide.”

Jasper menggeleng, kemudian menepuk pundak Lana yang memeluk tasnya. “Hai, aku benar-benar harus pergi. Sebaiknya kita simpan sisa minuman ini dan pulang.”

Sepertinya Lana sudah kehabisan tenaga, ia hanya mengangguk, membiarkan Jasper membantunya berdiri. Sebelum pergi, Lana melambaikan tangan pada Noah yang membalasnya dengan anggukan singkat.

Jasper mendudukan Lana di kursi mobil pikapnya, ia bahkan memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu. Senyuman di wajah Jasper tidak memudar ketika sebuah dengkuran lembut keluar dari mulutnya.

“Aku perlu tahu dimana kuncimu.”

“Tas…” jawab Lana kembali tidur.

Pria itu menggeleng. “Kau akan terkena masalah kalau sampai mabuk seperti ini dengan orang lain.”

***

Setelah memastikan Lana aman, Jasper segera berangkat ke pos pemadam kebakaran. Ia menganti bajunya dengan pakaian yang siap dipakai untuk melakukan aksinya. Beberapa anak buahnya menegurnya secara bergantian.

Jasper duduk di pojokan sambil membawa dumbbell dua puluh kilo. Ia melatih otot tangannya secara bergantian.

Seorang pria yang baru saja tiba langsung mengedarkan pandangannya mencari Jasper.

“Jas, komandan memanggimu!” teriaknya.

Jasper menaruh dumbbell itu lalu mengikuti pria yang memanggilnya. Meski ketua regu, Jasper memiliki kesan tidak mudah di dekati. Ia jarang bicara kecuali untuk urusan pekerjaan.

Jasper menghadap ke komandannya. Pria itu berdiri tegak seolah tak tegoyahkan oleh apapun.

“Jasper Nikolai, mulai lusa kau akan dipindahkan ke Portland, Oregon.” kalimat itu menghantam Jasper begitu keras. Sakit, tak terbayangkan.

Mata Jasper goyah. “Portland?”

“Ya, disana kekurangan orang, dan kau yang paling cocok karena handal dalam medan yang sulit.” ujar Komandan dengan singkat.

“Tapi…” pikirannya melayang pada Lana. Gadis itu tidak di Portland, dan Jasper benci udara yang tidak ada Lana di dalamnya.

“Ada yang memberatkanmu, Jasper?”

Jasper menggeleng karena paham betul, apapun yang yang ia ucapkan, sang komandan tidak akan mempertimbangkan keputusannya.

***

Lana terbangun pukul 8 pagi, dia shiff malam hari ini maka dari itu ia bisa bangun lebih siang dari biasanya.

Belum seratus persen sadar, ponsel Lana berdering. Sebuah pesan dari Jasper.

Jasper : Selamat pagi, apa kau baik-baik saja?

Lana tersenyum, semenjak membiarkan Jasper dekat dengannya, Lana kembali merasa seperti wanita yang seutuhnya. Jasper memanjakannya dan membuat Lana berbunga setiap hari.

Lana : Aku baru bangun. Kepalaku sakit, apa aku mabuk semalam?

Tidak ada balasan. Namun seketika ponsel Lana kembali berdering. Kini panggilan dari Jasper.

“Aku dibawah, turunlah.” suara Jasper terdengar begitu dalam.

Lana mengangguk. “Tunggu sebentar.”

Lana tidak bertanya kenapa sepagi ini Jasper ke apartemennya? Lana juga tidak merasa itu hal yang aneh.

Lana masih mengenakan baju yang sama seperti semalam. Bedanya, kini wajahnya polos setelah cuci muka. Jasper duduk di sofa dekat Tv.

Ia dan kaki panjangnya kesulitan menyesuaikan diri di tempat Lana.

“Mau minum sesuatu?” tawar Lana, ia menyisir rambutnya dengan jari.

“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan.”

Lana diam, dihadapan Jasper Lana bahkan tak sanggup membuka mulutnya saat ini.

Jasper menceritakan soal rencana pindahnya. Lana mengerutkan kening ketika Jasper selesai bicara. Ia menunduk, menatap jarinya yang ingin sekali meraih Jasper saat ini.

“Jadi, kau akan pergi? Ke Portland?”

“Sedang aku usahakan untuk menunda, atau membatalkan kepindahanku. Tapi di sana musim turis dan beberapa petugas pemadam tidak bisa bertugas tahun ini. Sial.”

Lana mengangkat kepala, memaksakan senyumannya. Setelah ia mencoba membuka hatinya, Lana harus kembali menelan kepedihan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Say You Remember Me   08

    Pengalaman mengajarkan segalanya, Jasper mengantar Lana untuk terakhir kalinya. Dia sudah mendapatkan tiket untuk ke Portland. Mata Jasper mengikuti langkah Lana yang masuk ke dalam klinik dengan wajah yang sembab.Rasanya tidak rela melepaskan gadis itu. Baru beberapa jam lalu Lana menangis di dalam pelukannya.Jasper mengusap wajahnya lalu mendesah kencang. “Sial, aku tidak ingin meninggalkannya.” gumamnya pada diri sendiri.Di tengah kegundahannya, Jasper tidak bisa mengabaikan betapa beratnya menanggung beban perasaan.Kerutan di wajahnya semakin dalam ketika ia melihat ponselnya, pangilan dari Lana.Lana menghela napas panjang. “Jasper… tolong…” ucapan itu langung membuat darah Jasper mendidih.“Dimana, Queen?” Jasper langsung melepas sabuk pengamannya, melompat keluar dari mobil pikap yang masih terparkir di depan klinik.Jasper berlari dan mendapati Lana tersungkur di lantai dengan ekspresi yang ketakutan. Tangan Jasper meraih wajah Lana, mencari sesuatu yang bisa membuatnya se

  • Say You Remember Me   07

    “Bisakah kita buat hubungan ini berjalan meski terpisah jarak, Lana?” Tanya Jasper. Jasper mengharapkan Lana mengangguk atau mengucapkan beberapa kalimat yang mendukungnya. Ia ingin bersama Lana. Lana mengedipkan matanya, berusaha menahan tangis. “Siapa yang bisa? Aku? Jelas tidak.” Jasper kini mendekat, ia berlutut di depan Lana sambil meremas jemari gadis itu yang begitu dingin. “Lana, percaya padaku. Sisanya biar aku yang urus.”“Jasper, bisakah kau berhenti berkata manis seolah kau benar-benar mencintaiku. J, hentikan sebelum aku percaya bahwa kita, memiliki sesuatu.” Darah dalam tubuh Jasper mendidih, ia tahu betapa sulitnya kehidupan percintaan Lana. Tapi bukan berarti perasaannya pantas disepelekan. Jasper tidak pernah bermain-main dengan Lana.“Kita bahkan belum mengenal satu sama lain. Kalau kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, apa hakku untuk menahanmu.” Lanjut Lana menepis tangan Jasper.Jasper kembali meraih tangan itu lalu menciumnya. Ia merasakan lembutnya jari

  • Say You Remember Me   06

    Bola salju akan membesar ketika menggelinding, begitu pula dengan sebuah gosip. Dalam satu hari, Lana berubah menjadi wanita menyedihkan di mata para koleganya. Ucapan seorang dokter sangat dipertimbangkan di klinik ini. Akan sulit bagi Lana untuk merubah segalanya. Sementara Ethan yang haus akan validasi sukses mendapatkan simpati dari sebagian wanita di klinik itu. Klinik Lana berasosiasi dengan rumah sakit besar dipusat California, yang berarti, dia juga akan menjadi buah bibir disana. Malam itu, Jasper membiarkan Lana meminum sisa champange yang ia buka sejam yang lalu. Lana mengalami hari yang buruk dan pria itu ingin ada di dekatnya. Memastikan Lana tidak sendiri dan aman. “Jadi, si breng- maksudku dokter itu mencarimu lagi setelah hari itu?” tanya Jasper memegang erat pinggang Lana yang hampir ambruk. Lana mengangguk, menutup wajahnya dengan rambut. “Aku ingin sembunyi. Bawa aku pergi.” ia mengapai Noah yang sibuk meracik minumnan. Bar Jasper terpaksa buka lebih cepat kar

  • Say You Remember Me   05

    Setelah rekannya sudah berganti pakaian, Lana mengecek aliran infus. Namun, sepasang bola mata abu-abu itu tidak berhenti menatapnya.Pria itu tampak lebih bersih setelah membasuh wajahnya.“Aku sudah menghubungi walinya, tunangannya akan segera kesini.” Jasper berdehem, duduk di kursi yang kini terlihat amat kecil.Lana mengangguk, mendadak tangan Jasper memilin jari telunjuk Lana.“Kau mengganggu, babe.” gumam Jasper, awalnya untuk dirinya sendiri.Lana menarik tangannya, ia melotot pada Jasper. “Siapa yang menganggumu? Aku tidak…”Sedetik kemudian, bibir Lana sudah mendarat ke bibir Jasper. Pria itu menarik tengkuk leher Lana, dan menyesap bibir Lana. Sengatan sensasi aneh merayap dalam jantung Jasper. Ada kembang api yang meletus dalam sana dan ia suka. Ia menginginkan itu. Ketika lidah Jasper ingin menerobos, tiba-tiba Lana mendorong Jasper dan menarik diri. Ingatan soal betapa payahnya dia, dan pria yang diciumnya adalah Jasper. Seseorang yang hampir ia tidak kenal.Pandangan J

  • Say You Remember Me   04

    Ternyata menjadi mantan pacar yang dicampakkan karena payah adalah hal paling menyedihkan yang bisa Lana alami. Ethan, sudah mencoba mendekati gadis lain di depan Lana. Padahal gadis itu baru saja datang untuk bekerja. Lalu disuguhkan pemandangan itu.Lana melewati Ethan, masuk ke dalam ruang ganti baju dan membuka lokernya. Terdengar suara wanita yang baru datang, mereka berdua tertawa lalu melirik Lana dengan sinis.“Lana, apa benar kau diputuskan oleh dokter Ethan?” tanya wanita itu, yang ternyata sesama perawat juga.Semua orang sudah tahu kalau Lana dan Ethan menjalin hubungan, tapi seharusnya mereka tidak perlu tahu soal putusnya hubungan itu.“Begitu. Sepertinya.” jawab Lana seadanya.Si wanita berambut pirang mendekati Lana, dan mengusa pundak gadis itu. “Jangan memohon padanya, kasihan sekali dokter Ethan. Aku tahu dia begitu mempesona, tapi tetap saja…” dia melihat Lana seperti wanita murahan yang perlu disingkirkan. “Kau tidak semenyedihkan itu, kan?”Jadi ini kesialan Lan

  • Say You Remember Me   03

    Jesper Nikolai adalah ketua regu pemadam kebakaran yang terkenal perfeksionis, disiplin dan tanpa emosi. Jesper mempunyai reputasi sebagai singa es. Sebutan itu datang ketika pria 34 tahun itu pertama kali datang ke California dan membantu kebun binatang mencari singa yang hilang di pinggiran kota. Padahal kala itu, California sedang musim dingin.Hebatnya, Jesper berhasil menangkap singa itu bersama yang lainnya. Namun sayangnya, karena insiden itu, Jesper mendapatkan luka yang cukup serius di sepanjang punggungnya.Jesper memiliki wajah yang memiliki kesan tidak mungkin menjadi seorang pemadam kebakaran. Tubuhnya tinggi sekali, terkahir dia mengukur, tingginya sudah 198 cm. Tubuhnya kekar karena latihan yang intens. Wajahnya juga seperti pahatan porselen, pria itu campuran Rusia-Amerika. Dia lahir di Rusia sampai usai 23 tahun memilih untuk tinggal sendiri di Amerika.*** Jesper mengenakan kemeja polos hitam dengan celana jins yang tampak begitu pas ditubuhnya. Ia memarkir pikapnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status