Share

07

Penulis: silent-arl
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 07:07:26

“Bisakah kita buat hubungan ini berjalan meski terpisah jarak, Lana?” Tanya Jasper.

Jasper mengharapkan Lana mengangguk atau mengucapkan beberapa kalimat yang mendukungnya. Ia ingin bersama Lana.

Lana mengedipkan matanya, berusaha menahan tangis. “Siapa yang bisa? Aku? Jelas tidak.”

Jasper kini mendekat, ia berlutut di depan Lana sambil meremas jemari gadis itu yang begitu dingin. “Lana, percaya padaku. Sisanya biar aku yang urus.”

“Jasper, bisakah kau berhenti berkata manis seolah kau benar-benar mencintaiku. J, hentikan sebelum aku percaya bahwa kita, memiliki sesuatu.”

Darah dalam tubuh Jasper mendidih, ia tahu betapa sulitnya kehidupan percintaan Lana. Tapi bukan berarti perasaannya pantas disepelekan. Jasper tidak pernah bermain-main dengan Lana.

“Kita bahkan belum mengenal satu sama lain. Kalau kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, apa hakku untuk menahanmu.” Lanjut Lana menepis tangan Jasper.

Jasper kembali meraih tangan itu lalu menciumnya. Ia merasakan lembutnya jari Lana membelai bibirnya. “Larang aku pergi dan aku akan tinggal.” Geram Jasper.

Ya, Lana ingin menahannya, ingin Jasper menemaninya seperti biasanya. Namun, disisi lain, ia tidak ingin Jasper merasakan perasaan putus asa yang pernah ia rasakan. Semua kesempatan pernah Lana buang hanya untuk demi tetap bersama Ethan. Dan sekarang dia sangat menyesalinya. Maka dari itulah, Lana sedang melarang dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama pada Jasper.

“Pergilah, aku percaya pada takdir, J.” Lana mencondongkan tubuhnya. Mencium ujung kepala Jasper perlahan. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi, semoga kau tidak menyesal.”

“Cium aku, Lana. Untuk terakhir kalinya.”

Lana menangkup pipi Jasper dengan kedua tangannya. Ia mencium bibir pria yang masih berlutut di hadapannya. Ciuman itu penuh tuntutan dan gairah yang meluap. Bahkan ketika lidah Jasper menelusuri mulut Lana, gadis itu tak bergeming. Ia mengeluarkan jenis erangan yang tak akan pernah bisa Jasper lupakan. Tubuh Jasper makin mendekat, ia berhenti mencium bibir Lana. Menaruh keningnya di kening Lana. “Aku gila karenamu, Lana.”

Napas Lana tersengal, ia masih mencari nafas sebanyak yang ia berikan untuk Jasper. “Suatu saat, bila kita bertemu, pastikan kau mengingatku, J.”

Jasper mengangguk lalu menurunkan wajahnya ke leher Lana, mencium aroma tubuh Lana. Ia suka segalanya tentang wanita ini, bahkan cara Lana menggeliat karena bibirnya yang mencumbu leher jenjang Lana.

“Aku ingin terus bersamamu, Lana.” Geram Jasper. Ia mengepalkan tangan di belakang punggung Lana.

Lana mengantungkan tangannya di leher Jasper. Merasakan detak jantungnya sendiri yang semakin tak karuan. “Begitu juga aku, J.”

“Lana…” Jasper mendesah ketika Lana meraih resleting celananya. Bukti gairah Jasper disentuh tangan Lana yang entah kenapa terlihat mungil.

Ada desakan dalam tubuh Jasper yang menginginkan Lana seutuhnya, tapi ia sadar. Ia tidak pernah menyediakan pengaman di dompetnya dan sekarang dia menyesali keputusannya itu.

Jasper mendongak panik, dia tidak biasa dipuaskan oleh orang lain.

“Tenang, J.” Lana menepuk pundak Jasper yang tegang. “Ingat, aku juga payah.” Ada nada getir dalam suaranya.

“Tidak, Queen. Sempurna, kau sempurna.” Jawab Jasper terbata-bata. Pria itu mengatur napasnya. Astaga, gadis ini luar biasa. Seandainya hari ini adalah ajalku. Aku ingin mati di tangan Lana.

Bisa saja Jasper melepaskan pekerjaannya sebagai pemadam kebakaran dan alih profesi menjadi seorang CEO di perusahaan orang tuanya.

Sayangnya, hal itu tidak pernah terpikirkan oleh Jasper. Jasper mencintai pekerjaannya saat ini. Baginya, menjadi pemadam kebakaran bukan hanya sebagai sebuah profesi, melainkan panggilan hidup.

Bisa dipastikan, pagi ini pagi terindah bagi Jasper.

***

Lana keluar dari kamar mandi, dengan rambut basah yang terbungkus handuk putih.

Jasper berada di belakang kompor sedang membuat sarapan. Dia memanggang sosis dan menggoreng telur untuk mereka.

Lana tersenyum, menghampiri Jasper.

“Sepertinya kau cocok tinggal disini.” Goda Lana, gadis itu menyangga tubuhnya dengan tangan yang menekan konter dapur.

Jasper terkekeh, menoleh agar dapat melihat Lana. Dia menunduk mencium Lana singkat. “Tidak banyak makanan di kulkas. Dan Lana, aku pastikan hubungan…”

Lana menggelengkan kepala membuat Jasper berhenti bicara. Hatinya terlalu sakit untuk memikirkan bahwa besok lusa pria yang begitu mengusiknya akan segera menghilang.

Meski banyak teknologi yang bisa mempersatukan mereka, Lana tidak ingin mencoba untuk sesuatu yang belum jelas. Lana tidak mau sakit hati lagi, terutama itu dari Jasper.

Jasper mematikan kompor, menghela napasnya sambil berkacak pinggang. “Dengar, tidak ada tekanan, Lana. Percaya pada takdir bukan gayaku. Aku mengusahakan sesuatu yang kuyakini.”

Lana menarik tangan Jasper agar mengusap pipinya. “Anggap saja, aku memaksamu, J. Bagaimana kalau kita memaksakan namun berakhir saling menyakiti?”

Jempol pria itu menekan bibir Lana, ia tahu Lana pasti kecewa dan belum sepenuhnya percaya padanya. “Baiklah, percaya pada takdir.”

Aku akan paksa takdir itu agar terus menuntunku padamu, Lana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Say You Remember Me   08

    Pengalaman mengajarkan segalanya, Jasper mengantar Lana untuk terakhir kalinya. Dia sudah mendapatkan tiket untuk ke Portland. Mata Jasper mengikuti langkah Lana yang masuk ke dalam klinik dengan wajah yang sembab.Rasanya tidak rela melepaskan gadis itu. Baru beberapa jam lalu Lana menangis di dalam pelukannya.Jasper mengusap wajahnya lalu mendesah kencang. “Sial, aku tidak ingin meninggalkannya.” gumamnya pada diri sendiri.Di tengah kegundahannya, Jasper tidak bisa mengabaikan betapa beratnya menanggung beban perasaan.Kerutan di wajahnya semakin dalam ketika ia melihat ponselnya, pangilan dari Lana.Lana menghela napas panjang. “Jasper… tolong…” ucapan itu langung membuat darah Jasper mendidih.“Dimana, Queen?” Jasper langsung melepas sabuk pengamannya, melompat keluar dari mobil pikap yang masih terparkir di depan klinik.Jasper berlari dan mendapati Lana tersungkur di lantai dengan ekspresi yang ketakutan. Tangan Jasper meraih wajah Lana, mencari sesuatu yang bisa membuatnya se

  • Say You Remember Me   07

    “Bisakah kita buat hubungan ini berjalan meski terpisah jarak, Lana?” Tanya Jasper. Jasper mengharapkan Lana mengangguk atau mengucapkan beberapa kalimat yang mendukungnya. Ia ingin bersama Lana. Lana mengedipkan matanya, berusaha menahan tangis. “Siapa yang bisa? Aku? Jelas tidak.” Jasper kini mendekat, ia berlutut di depan Lana sambil meremas jemari gadis itu yang begitu dingin. “Lana, percaya padaku. Sisanya biar aku yang urus.”“Jasper, bisakah kau berhenti berkata manis seolah kau benar-benar mencintaiku. J, hentikan sebelum aku percaya bahwa kita, memiliki sesuatu.” Darah dalam tubuh Jasper mendidih, ia tahu betapa sulitnya kehidupan percintaan Lana. Tapi bukan berarti perasaannya pantas disepelekan. Jasper tidak pernah bermain-main dengan Lana.“Kita bahkan belum mengenal satu sama lain. Kalau kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, apa hakku untuk menahanmu.” Lanjut Lana menepis tangan Jasper.Jasper kembali meraih tangan itu lalu menciumnya. Ia merasakan lembutnya jari

  • Say You Remember Me   06

    Bola salju akan membesar ketika menggelinding, begitu pula dengan sebuah gosip. Dalam satu hari, Lana berubah menjadi wanita menyedihkan di mata para koleganya. Ucapan seorang dokter sangat dipertimbangkan di klinik ini. Akan sulit bagi Lana untuk merubah segalanya. Sementara Ethan yang haus akan validasi sukses mendapatkan simpati dari sebagian wanita di klinik itu. Klinik Lana berasosiasi dengan rumah sakit besar dipusat California, yang berarti, dia juga akan menjadi buah bibir disana. Malam itu, Jasper membiarkan Lana meminum sisa champange yang ia buka sejam yang lalu. Lana mengalami hari yang buruk dan pria itu ingin ada di dekatnya. Memastikan Lana tidak sendiri dan aman. “Jadi, si breng- maksudku dokter itu mencarimu lagi setelah hari itu?” tanya Jasper memegang erat pinggang Lana yang hampir ambruk. Lana mengangguk, menutup wajahnya dengan rambut. “Aku ingin sembunyi. Bawa aku pergi.” ia mengapai Noah yang sibuk meracik minumnan. Bar Jasper terpaksa buka lebih cepat kar

  • Say You Remember Me   05

    Setelah rekannya sudah berganti pakaian, Lana mengecek aliran infus. Namun, sepasang bola mata abu-abu itu tidak berhenti menatapnya.Pria itu tampak lebih bersih setelah membasuh wajahnya.“Aku sudah menghubungi walinya, tunangannya akan segera kesini.” Jasper berdehem, duduk di kursi yang kini terlihat amat kecil.Lana mengangguk, mendadak tangan Jasper memilin jari telunjuk Lana.“Kau mengganggu, babe.” gumam Jasper, awalnya untuk dirinya sendiri.Lana menarik tangannya, ia melotot pada Jasper. “Siapa yang menganggumu? Aku tidak…”Sedetik kemudian, bibir Lana sudah mendarat ke bibir Jasper. Pria itu menarik tengkuk leher Lana, dan menyesap bibir Lana. Sengatan sensasi aneh merayap dalam jantung Jasper. Ada kembang api yang meletus dalam sana dan ia suka. Ia menginginkan itu. Ketika lidah Jasper ingin menerobos, tiba-tiba Lana mendorong Jasper dan menarik diri. Ingatan soal betapa payahnya dia, dan pria yang diciumnya adalah Jasper. Seseorang yang hampir ia tidak kenal.Pandangan J

  • Say You Remember Me   04

    Ternyata menjadi mantan pacar yang dicampakkan karena payah adalah hal paling menyedihkan yang bisa Lana alami. Ethan, sudah mencoba mendekati gadis lain di depan Lana. Padahal gadis itu baru saja datang untuk bekerja. Lalu disuguhkan pemandangan itu.Lana melewati Ethan, masuk ke dalam ruang ganti baju dan membuka lokernya. Terdengar suara wanita yang baru datang, mereka berdua tertawa lalu melirik Lana dengan sinis.“Lana, apa benar kau diputuskan oleh dokter Ethan?” tanya wanita itu, yang ternyata sesama perawat juga.Semua orang sudah tahu kalau Lana dan Ethan menjalin hubungan, tapi seharusnya mereka tidak perlu tahu soal putusnya hubungan itu.“Begitu. Sepertinya.” jawab Lana seadanya.Si wanita berambut pirang mendekati Lana, dan mengusa pundak gadis itu. “Jangan memohon padanya, kasihan sekali dokter Ethan. Aku tahu dia begitu mempesona, tapi tetap saja…” dia melihat Lana seperti wanita murahan yang perlu disingkirkan. “Kau tidak semenyedihkan itu, kan?”Jadi ini kesialan Lan

  • Say You Remember Me   03

    Jesper Nikolai adalah ketua regu pemadam kebakaran yang terkenal perfeksionis, disiplin dan tanpa emosi. Jesper mempunyai reputasi sebagai singa es. Sebutan itu datang ketika pria 34 tahun itu pertama kali datang ke California dan membantu kebun binatang mencari singa yang hilang di pinggiran kota. Padahal kala itu, California sedang musim dingin.Hebatnya, Jesper berhasil menangkap singa itu bersama yang lainnya. Namun sayangnya, karena insiden itu, Jesper mendapatkan luka yang cukup serius di sepanjang punggungnya.Jesper memiliki wajah yang memiliki kesan tidak mungkin menjadi seorang pemadam kebakaran. Tubuhnya tinggi sekali, terkahir dia mengukur, tingginya sudah 198 cm. Tubuhnya kekar karena latihan yang intens. Wajahnya juga seperti pahatan porselen, pria itu campuran Rusia-Amerika. Dia lahir di Rusia sampai usai 23 tahun memilih untuk tinggal sendiri di Amerika.*** Jesper mengenakan kemeja polos hitam dengan celana jins yang tampak begitu pas ditubuhnya. Ia memarkir pikapnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status