Masuk“Bisakah kita buat hubungan ini berjalan meski terpisah jarak, Lana?” Tanya Jasper.
Jasper mengharapkan Lana mengangguk atau mengucapkan beberapa kalimat yang mendukungnya. Ia ingin bersama Lana. Lana mengedipkan matanya, berusaha menahan tangis. “Siapa yang bisa? Aku? Jelas tidak.” Jasper kini mendekat, ia berlutut di depan Lana sambil meremas jemari gadis itu yang begitu dingin. “Lana, percaya padaku. Sisanya biar aku yang urus.” “Jasper, bisakah kau berhenti berkata manis seolah kau benar-benar mencintaiku. J, hentikan sebelum aku percaya bahwa kita, memiliki sesuatu.” Darah dalam tubuh Jasper mendidih, ia tahu betapa sulitnya kehidupan percintaan Lana. Tapi bukan berarti perasaannya pantas disepelekan. Jasper tidak pernah bermain-main dengan Lana. “Kita bahkan belum mengenal satu sama lain. Kalau kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, apa hakku untuk menahanmu.” Lanjut Lana menepis tangan Jasper. Jasper kembali meraih tangan itu lalu menciumnya. Ia merasakan lembutnya jari Lana membelai bibirnya. “Larang aku pergi dan aku akan tinggal.” Geram Jasper. Ya, Lana ingin menahannya, ingin Jasper menemaninya seperti biasanya. Namun, disisi lain, ia tidak ingin Jasper merasakan perasaan putus asa yang pernah ia rasakan. Semua kesempatan pernah Lana buang hanya untuk demi tetap bersama Ethan. Dan sekarang dia sangat menyesalinya. Maka dari itulah, Lana sedang melarang dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama pada Jasper. “Pergilah, aku percaya pada takdir, J.” Lana mencondongkan tubuhnya. Mencium ujung kepala Jasper perlahan. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi, semoga kau tidak menyesal.” “Cium aku, Lana. Untuk terakhir kalinya.” Lana menangkup pipi Jasper dengan kedua tangannya. Ia mencium bibir pria yang masih berlutut di hadapannya. Ciuman itu penuh tuntutan dan gairah yang meluap. Bahkan ketika lidah Jasper menelusuri mulut Lana, gadis itu tak bergeming. Ia mengeluarkan jenis erangan yang tak akan pernah bisa Jasper lupakan. Tubuh Jasper makin mendekat, ia berhenti mencium bibir Lana. Menaruh keningnya di kening Lana. “Aku gila karenamu, Lana.” Napas Lana tersengal, ia masih mencari nafas sebanyak yang ia berikan untuk Jasper. “Suatu saat, bila kita bertemu, pastikan kau mengingatku, J.” Jasper mengangguk lalu menurunkan wajahnya ke leher Lana, mencium aroma tubuh Lana. Ia suka segalanya tentang wanita ini, bahkan cara Lana menggeliat karena bibirnya yang mencumbu leher jenjang Lana. “Aku ingin terus bersamamu, Lana.” Geram Jasper. Ia mengepalkan tangan di belakang punggung Lana. Lana mengantungkan tangannya di leher Jasper. Merasakan detak jantungnya sendiri yang semakin tak karuan. “Begitu juga aku, J.” “Lana…” Jasper mendesah ketika Lana meraih resleting celananya. Bukti gairah Jasper disentuh tangan Lana yang entah kenapa terlihat mungil. Ada desakan dalam tubuh Jasper yang menginginkan Lana seutuhnya, tapi ia sadar. Ia tidak pernah menyediakan pengaman di dompetnya dan sekarang dia menyesali keputusannya itu. Jasper mendongak panik, dia tidak biasa dipuaskan oleh orang lain. “Tenang, J.” Lana menepuk pundak Jasper yang tegang. “Ingat, aku juga payah.” Ada nada getir dalam suaranya. “Tidak, Queen. Sempurna, kau sempurna.” Jawab Jasper terbata-bata. Pria itu mengatur napasnya. Astaga, gadis ini luar biasa. Seandainya hari ini adalah ajalku. Aku ingin mati di tangan Lana. Bisa saja Jasper melepaskan pekerjaannya sebagai pemadam kebakaran dan alih profesi menjadi seorang CEO di perusahaan orang tuanya. Sayangnya, hal itu tidak pernah terpikirkan oleh Jasper. Jasper mencintai pekerjaannya saat ini. Baginya, menjadi pemadam kebakaran bukan hanya sebagai sebuah profesi, melainkan panggilan hidup. Bisa dipastikan, pagi ini pagi terindah bagi Jasper. *** Lana keluar dari kamar mandi, dengan rambut basah yang terbungkus handuk putih. Jasper berada di belakang kompor sedang membuat sarapan. Dia memanggang sosis dan menggoreng telur untuk mereka. Lana tersenyum, menghampiri Jasper. “Sepertinya kau cocok tinggal disini.” Goda Lana, gadis itu menyangga tubuhnya dengan tangan yang menekan konter dapur. Jasper terkekeh, menoleh agar dapat melihat Lana. Dia menunduk mencium Lana singkat. “Tidak banyak makanan di kulkas. Dan Lana, aku pastikan hubungan…” Lana menggelengkan kepala membuat Jasper berhenti bicara. Hatinya terlalu sakit untuk memikirkan bahwa besok lusa pria yang begitu mengusiknya akan segera menghilang. Meski banyak teknologi yang bisa mempersatukan mereka, Lana tidak ingin mencoba untuk sesuatu yang belum jelas. Lana tidak mau sakit hati lagi, terutama itu dari Jasper. Jasper mematikan kompor, menghela napasnya sambil berkacak pinggang. “Dengar, tidak ada tekanan, Lana. Percaya pada takdir bukan gayaku. Aku mengusahakan sesuatu yang kuyakini.” Lana menarik tangan Jasper agar mengusap pipinya. “Anggap saja, aku memaksamu, J. Bagaimana kalau kita memaksakan namun berakhir saling menyakiti?” Jempol pria itu menekan bibir Lana, ia tahu Lana pasti kecewa dan belum sepenuhnya percaya padanya. “Baiklah, percaya pada takdir.” Aku akan paksa takdir itu agar terus menuntunku padamu, Lana.Dalam keadaan gundah gulana Sarah mendatangi Noah. Gadis itu mengetuk pintu kamar Noah, ada hal yang perlu ia luruskan sesegara mungkin.Tanpa mengetahui pria yang sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan gadis itu.Noah terperanjat dan menaruh kembali tas ranselnya ke meja. Sudah beberapa bulan ini dia tinggal di rumah Lana dan Jasper.Sarah menatap Noah yang tampak muram. Gadis itu berdeham pelan. “Kita perlu bicara.”“Tidak, Sarah.” Noah mengulurkan tangan untuk menutupi jalan masuk ke kamarnya. “Kita sudah selesai.”Sarah menghela napas panjang. “Kau ingin kita selesai? Apa artinya itu?” tanya Sarah pelan.Bibir Noa
Sarah menghilang setelah itu… atau lebih tepatnya, ia membatasi pertemuannya dengan Noah. Sebisa mungkin Sarah menjauh.Tapi hari ini tidak bisa, Lana dan Jasper akan kembali dari Rusia dan Sarah harus menyambutnya. Ia ingin mendengar cerita Lana, berharap itu dapat membantunya mengalihkan pikiran dari Noah.Sarah sudah menyiapkan beberapa makanan di rumah Lana, ia duduk di kursi makan sembari menatap jendela. Dari arah depan ia mendengar langkah kaki seseorang.Rupanya itu Noah, dengan jengot tipis yang belum di rapikan dan rambut yang terlihat lebih… berantakan.Sarah mengernyit ketika Noah bersandar di dekat pintu dapur. “Tamu mu sudah pulang?”“Sudah. Tapi dia akan kembali lagi.&rdquo
Mereka berkendara setengah jam dan akhirnya pikap hitam itu menepi di sebuah pekarang rumah tua yang tampak tak terurus. Noah turun terlebih dahulu, ia mengitari mobil dan membuka pintu Sarah.“Turunlah.” Noah mengulurkan tangan.Sarah menatapnya penuh curiga, Noah tidak di rancang untuk bersifat manis serta lemah lembut. Ia ragu sejenak tapi tetap menerima bantuan Noah.“Ini…” Noah menunjuk rumah berwaarna coklat tua itu. “Rumah yang kubeli tiga hari lalu.”“Rumah!?” nada suara Sarah naik beberapa oktaf ketika mereka sampai di depan pintu gerbang. “Kau membeli rumah? Di Port Townsend?”Noah menghela napas panjang dan ia kembali meraih tangan Sarah, ia menaruh
Hujan turun sejak semalam dan membawa badai luar biasa ke Port Townsend. Sarah sudah selesai mengerjakan semua urusannya ketika ia ke bar untuk bertemu dengan Marcus.Rencananya pria itu akan kembali ke New York setelah gagal mendapat berita dari Noah.Rambut pirang Sarah lepek terkena hujan, bibirnya yang membiru karena dingin yang tadi ia terima.Noah segera melepas jaket jinsnya dan berjalan mendekati Sarah yang duduk di dekat jendela.“Pakai ini.” Noah memberikan jaket itu tepat di pundak Sarah.Gelenyar aneh yang panas ketika jari Noah menyentuh pundaknya membuat Sarah beregik. “Ba-baiklah.”“Dimana pria itu?”Sarah me
Sarah duduk dengan santai di kursinya sementara Marcus berhasil membujuk Noah untuk diajak wawancara. Noah hanya ingin Marcus segera pergi dari Port Townsend.Kedua pria itu duduk berhadapan tak jauh dari tempat Sarah menyesap jus jeruknya.Noah tidak melihat ke arah Marcus sama sekali ketika pria itu mengeluarkan laptop dan buku catatannya.“Jadi, kau tidak tertarik membuka barmu sendiri?” tanya Marcus serius.“Tidak.”“Emm… bagaimana dengan mematenkan menu yang kau buat? Banyak bartender yang melakukan hal itu.”“Aku seorang mixologist,” jawab Noah tidak antusias.Marcus berhenti mengetik dan mendongakan kepala untuk menatap No
Dua minggu kemudian…Setelah pernikahan Jasper dan Lana, mereka memutuskan untuk berbulan madu di Rusia. Lana bersikeras pergi kesana untuk menemani Ayah Jasper dan tentunya untuk melihat masa lalu Jasper.Sementara itu Sarah harus mengurus penginapan dan juga restoran yang kini menjadi tanggung jawabnya juga. Ia mau tak mau sering berkomunikasi dengan Noah untuk urusan pekerjaan karena mau bagaimana pun Sarah yang mendapat tanggung jawab.Sarah baru masuk ke penginapan ketika Noah hendak keluar menuju bar.Pria itu melirik Sarah yang memakai celemek merah muda. “Kau tidak berkerja sendiri, kan?” ada nada cemas yang begitu asing di telinga Sarah.Sarah tidak menatap pria yang memakai kemeja denim itu. “Jangan p
Lana dan Sarah sampai di bar, Lana melihat Sarah sedikit merengut ketika mereka ke gudang untuk mengambil minuman.Lana menghela napas panjang lalu mendekati Sarah. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak menyinggung s
Tidak ada yang bisa menjamin sebuah masa depan. Kepastian dalam hidup ini hanya ada dua: yaitu hidup dan mati. Selebihnya, semua tergantung apa yang manusia putuskan.Itulah yang membuat Lana pasrah, ia ingin keju
Hari festival tiba…Lana masih sangat terganggu dengan ucapan Daniel. Pada satu titik, Lana sadar kemisteriusan Jasper memang tidak dapat ia jelaskan. Kedatangan pria itu mampu merubah semuanya.
Merasa perlu menyembunyikan kehadiran Kayla. Jasper lantas menarik tangan Kayla dan membawanya ke belakang bar. Mereka berdiri di depan gudang dengan pencahayaan yang remang-remang. Keranjang bir itu tergeletak di tanah yang basah.







